
"Apa mesti diopname seperti ini? Aku sungguh tidak apa, Darel." Protes Naiki yang telah dibawa ke ruang rawat inap khusus di rumah sakit miliknya.
"Lebam di punggungmu sangat parah, Sayang. Apa itu yang kau katakan tidak apa?" Tukas Darel sambil memperbaiki selimut Naiki.
Naiki menekuk wajahnya. Ia merasa tidak betah jika harus bermalam di rumah sakit itu. Sekalipun itu adalah rumah sakit miliknya, dan ia memiliki kamar khusus untuk keluarga Caraka di sana. Darel hanya tersenyum gemas melihat tingkah istrinya itu. Ia lalu mendekati Naiki dan ikut naik ke ranjang pasien yang berukuran besar itu.
"Kau tenang saja, aku akan selalu menemanimu di sini. Kau juga tetap bisa tidur sambil memelukku jika kau mau." Goda Darel sambil membelai rambut Naiki.
Mendengar perkataan Darel itu, Naiki hanya menghela nafasnya kasar.
"Apa sudah ada kabar siapa mereka sebenarnya?" Tanya Naiki sembari memperbaiki posisinya setengah duduk.
Darel lalu merangkul bahu Naiki dan menyandarkannya di tubuhnya.
"Sedikit sulit menginterogasi mereka, karena mereka adalah anggota Gang King Cobra, Sayang." Sahut Darel. "Anggota King Cobra akan memegang rahasia klien mereka sampai akhir." Imbuh Darel.
"Apa tidak ada cara lain?" Tanya Naiki.
"Hhhmmm...mungkin kita harus menyelidiki satu per satu orang yang kita curigai, Sayang." Ujar Darel. "Kau istirahat saja, biar aku dan para pengawal yang menyelidikinya." Ucap Darel sambil mengusap kepala Naiki.
Darel lalu membantu Naiki untuk kembali berbaring dan menyelimuti tubuh istrinya itu dengan benar. Darel lalu menatap wajah Naiki lekat. Alisnya tiba-tiba bertaut.
"Apa kau tidak merasakan sakit sama sekali, Sayang?" Tanya Darel heran.
"Kan sudah aku bilang tadi. Aku tidak perlu dirawat seperti ini, Tuan. Aku sungguh baik-baik saja." Cetus Naiki.
"Ini, ini, ini, ini, ini, ini, dan ini, kau bilang tidak apa-apa?" Tukas Darel sambil menunjuk beberapa luka di tangan Naiki.
Naiki hanya memutar bola matanya jengkel. Ia lalu menarik selimut hingga menutupi setengah wajahnya.
"Pulang, sana! Aku mau sendiri." Ketus Naiki dingin.
"Kau bisa kehabisan oksigen bila menutupi muka dengan selimut seperti itu. Patuhlah, Sayang!" Darel kembali memperbaiki selimut Naiki kemudian mengecup kening istrinya itu.
__ADS_1
"Selamat malam, Sayang. Tidurlah! Aku janji, besok kita akan pulang ke rumah." Ucap Darel lalu pergi menuju markas pengawal Gerandra.
********
Di sebuah rumah mewah, tampak seorang pria paruh baya terlihat panik. Ia mendengar kabar bahwa telah terjadi ledakan tiga unit mobil di Jalan Cendrawasih, jalan menuju kediaman besar Gerandra. Salah satu dari ketiga mobil tersebut ternyata adalah mobil mewah milik Rhea Caraka. Deg... Jantung pria yang tidak lain adalah Tuan Miller itu mendadak berdegup dengan kencang. Terlebih lagi ketika mengetahui bahwa putrinya telah menghilang sejak siang hari itu.
Tuan Miller tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi bila kejadian itu benar-benar berkaitan dengan putri semata wayangnya. Ia terus mengusap wajahnya dengan kasar. Nyonya Miller yang hanya bisa berfoya-foya itu hanya bisa duduk diam di samping suaminya. Yang ia khawatirkan hanya bagaimana bila pelaku utama adalah putrinya? Apakah dia akan kehilangan semua kemewahan miliknya ini? Sungguh, istri yang tidak dapat diandalkan.
"Bagaimana? Apa belum ada kabar dari Grace?" Tanya Miller di tengah-tengah keputusasaannya. Nyonya Miller hanya menggeleng.
Hari sudah menunjukkan Pukul 21.00 wib, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Tuan Miller tersentak. Keringatnya bercucuran di pelipis kanan dan kirinya. Ia takut, yang datang adalah orang-orang dari Caraka Corp. Seorang ART pun berlari untuk membuka pintu.
"Selamat malam, apakah Tuan Miller ada?" Tanya pria berpakaian serba hitam yang tidak lain adalah Mike.
"Maaf, kalau boleh tahu, Tuan ini siapa?" Tanya ART tersebut.
"Saya perwakilan dari Gerandra dan Caraka Corp." Sahut Mike.
ART tersebut lalu minta izin untuk mengecek ke dalam sebentar. Ia lalu menemui Miller yang semakin panik di tempat duduknya.
"Perwakilan dari Gerandra dan Caraka Corp, Tuan." Sahut ART tersebut.
Tubuh Miller seakan langsung menjadi lemas. Ia berpikir beberapa saat, lalu mengizinkan ART untuk membawa masuk tamunya. Mike pun masuk dengan seorang pria lagi di belakangnya.
"Selamat malam, Tuan Miller. Maaf mengganggu waktumu malam-malam." Sapa Mike saat bertemu dengan Miller di ruang tamu rumah tersebut.
"Se-selamat malam." Ucap Miller, membalas salam Mike. "Tu-Tuan Darel, apa kabar?" Ucapnya tiba-tiba terbata saat Darel muncul dari balik tubuh Mike. Auranya benar-benar dingin. Tidak ada sedikitpun senyuman di wajahnya.
"Ada apa denganmu, Tuan Miller? Apa kau sakit? Kau terlihat tidak baik-baik saja sekarang." Tanya Darel sambil berjalan mendekat.
"Eee...Aku baik-baik saja, Tuan. Silahkan duduk!" Sahut Miller. Sedangkan Nyonya Miller hanya bisa tertunduk di samping suaminya itu.
"Di mana putrimu?" Tanya Darel to the point.
__ADS_1
"Sa-saya ti-ti..."
"Dia baru saja berangkat liburan ke luar negeri tadi siang, Tuan." Celetuk Nyonya Miller memotong perkataan suaminya yang terbata-bata.
Mata Darel memicing tajam ke arah pasutri itu, seolah berkata "Jangan coba-coba membohongiku jika kau masih ingin hidup!"
Glek...
Tuan Miller menelan salivanya kasar. Jantungnya semakin berdegup dengan kencang. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi. Darel adalah Tuan Muda keluarga kaya yang sangat berbahaya bila ia sudah marah. Miller tahu batasannya. Ia tidak akan bisa menghindar dari cengkeraman Darel bagaimana pun caranya.
"Tu-Tuan, maafkan saya. Saya sungguh tidak tahu apa yang sudah terjadi. Saya juga tidak tahu di mana putri saya berada. Anda bisa mengecek semua property yang kami miliki, atau pun mengecek seluruh hotel di kota ini. Tapi saya mohon, lepaskan saya. saya sungguh tidak tahu apapun, Tuan." Ucap Miller sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Ia sungguh panik saat ini.
"Anda tahu saya kan, Tuan Miller? Saya tidak akan melepaskan orang yang sudah mengusik saya. Tapi, apa kau tahu istri saya, Tuan?" Ucap Darel sambil berdiri dan mendekat ke arah Miller. "Dia berkali-kali lipat lebih berbahaya dari saya." Imbuhnya dengan ekspresi datar.
Miller semakin lemas. Hampir saja tubuhnya terjatuh ke lantai. Ia tidak menyangka, apa yang diperingatkan oleh Asisten Darel tempo hari benar adanya.
"Saya beri waktu 24 jam kepada anda untuk mencari tahu keberadaan putri anda dan membawanya pulang. Kalau selama waktu itu anda tidak menemukannya, jangan salahkan saya bila 48 jam dari sekarang, Pearl Company hanya akan tinggal nama saja. Selamat malam."
Miller terduduk lemas di lantai rumahnya seiring dengan kepergian Darel dan Mike dari rumah itu. Ia menatap nanar ke arah punggung Darel hingga sosok itu menghilang di kegelapan malam. Miller berteriak, menyesali apa yang sudah ia lakukan hingga memiliki putri keras kepala dan egois seperti Grace. Sedangkan Nyonya Miller hanya tertegun di atas sofa sambil menggigiti ujung kukunya.
"Apa yang kau lakukan di sana? Cepat pergi cari putri brengsekmu itu!" Perintah Miller sambil berteriak.
**********
💙💙💙💙💙
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
__ADS_1
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙