
Darel meneruskan pekerjaannya seperti biasa di Gerandra Corp dengan Berry yang setia mendampinginya. Mereka tampak semakin sibuk karena pekerjaan yang seharusnya Darel kerjakan setelah tiba dari bulan madunya, malah terundur kembali karena peristiwa penyerangan istrinya.
"Apa bisa selesai sebelum jam makan siang?" Tanya Darel pada Berry saat meminta laporan untuk meetingnya sore nanti.
"Saya usahakan, Tuan." Sahut Berry.
Alis Darel bertaut mendengar jawaban Berry yang tidak biasa menurutnya. Ia lalu tersenyum dingin ke arah Berry.
"Apa kau lebih suka bekerja dengan Tuan Besar dibandingkan denganku sekarang?" Tanya Darel dengan wajah dinginnya.
"Tidak Tuan." Jawab Berry cepat. "Aku mohon jangan biarkan Tuan Besar mengambil alih pekerjaanmu lagi, Tuan." Batin Berry.
Bekerja dengan Darel memang menuntut kecepatan dan ketelitian. Namun menurut Berry, bekerja dengan Tuan Besar Gerandra, lebih terasa seperti bekerja di bawah tekanan yang membuat dirinya merasa sedikit tersiksa secara batin.
"Ya sudah, sana kembali ke ruanganmu. Kerjakan yang aku minta tadi dengan cepat." Perintah Darel dengan serius.
Berry pun kembali ke ruang kerjanya. Darel kemudian beralih ke ponselnya. Kebiasaannya setelah menikah adalah menyempatkan diri untuk menanyakan kabar istrinya.
"Hmmm..." Sahut Naiki di seberang sana.
"Ck!" Sungut Darel. "Apa kau baik-baik saja, Sayang?" Tanya Darel kemudian.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Hari ini aku akan pulang terlambat karena ada meeting sore nanti. Bila sudah lapar, makanlah lebih dulu, tidak usah menungguku." Ujar Darel.
"Aku juga tidak berencana menunggu ataupun makan malam bersamamu, Sayang." Tukas Naiki dingin, namun membuat Darel merona karena dipanggil 'Sayang' oleh Naiki.
Darel tertawa kecil mendengar perkataan istrinya itu. "Ok baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu lelah. I love you." Darel lalu mematikan panggilannya.
Ia lalu melanjutkan pekerjaannya yang begitu banyak. Menyelesaikan dokumen-dokumen penting yang harus ditandatanganinya yang sudah menumpuk di meja kerja.
**********
__ADS_1
Hari pun berlalu, hasil identifikasi jenazah Grace pun telah keluar, dan jenazahnya akan dikebumikan hari ini. Keluarga Miller tampak terpukul, namun tidak dapat menyalahkan pihak lain atas apa yang terjadi. Tuan Miller paham, semua terjadi karena kesalahan anaknya hingga anaknya tewas dalam sebuah kecelakaan.
Jika saja para pengawal tetap mengejar Grace saat itu, mungkin masalah yang timbul akan lebih besar lagi saat ini. Darel dan Naiki memutuskan untuk melayat ke kediaman Miller di pagi hari dan melanjutkan kegiatan mereka yang lain selepas itu.
"Kami turut berduka cita, Tuan Miller." Ucap Darel mewakili keluarga Gerandra dan istrinya.
Naiki mendampingi Darel dengan pakaian serba hitam dan kacamata hitamnya. Ia tidak menggunakan maskernya saat ini. Karena tidak ingin publik cepat menyimpulkan bahwa Rhea Caraka lah istri dari Darel Adelard Gerandra.
"Terima kasih, Tuan Darel." Sahut Tuan Miller. Ia tampak ikhlas akan kepergian putri sematawayangnya itu.
Darel dan Naiki hanya beberapa menit saja di sana, mereka kemudian pamit kepada Tuan Miller. Darel lalu mengantar Naiki pulang ke kediaman Caraka.
"Kau yakin, akan ke sana hari ini?" Tanya Darel sebelum Naiki turun dari mobil.
"Ya, aku ingin mengunjungi pak tua itu dan mengusilinya sedikit." Sahut Naiki lalu mengerlingkan matanya.
"Baiklah, hati-hati, Sayang. Jangan lupa memberi kabar padaku." Ucap Darel lalu mengecup kening istrinya.
Mereka pun berpisah. Darel kembali ke perusahaannya dan Naiki segera masuk ke kediaman Caraka untuk mengganti pakaiannya dan lanjut pergi ke Brata Corp.
Naiki memarkirkan mobilnya dan bergegas menuju lobby. Kali ini Naiki tetap menutupi wajahnya dengan masker. Ia ingin mencari moment yang pas saat menunjukkan dirinya yang sebenarnya di hadapan Brata.
"Selamat siang, Nona Rhea." Sapa Ivan yang langsung menyambut Naiki saat wanita itu muncul di pintu masuk Brata Corp.
"Apa mereka tahu tentang kedatanganku?" Tanya Naiki.
"Belum, Nona. Manajemen perusahaan ini sedang kacau setelah dua orang manager mereka sudah tidak aktif kembali di perusahaan. Setelah saya telusuri, ternyata Tuan Brata belum mengambil sikap untuk menempatkan dua orang baru pada posisi yang kosong itu." Ujar Ivan panjang lebar sambil mengikuti Naiki berjalan menuju lift.
Beberapa karyawan yang melihat Naiki dan Ivan menyimpan pertanyaan di benak mereka. Ada yang merasa pernah melihat mereka, ada yang yakin kalau Naiki adalah pemegang saham terbesar Brata Corp, dan ada yang sangat yakin kalau dua orang asing tersebut adalah Rhea Caraka dan asistennya.
Dengan cepat informasi kedatangan Naiki ke perusahaan itu tersebar ke setiap divisi yang ada. Namun, info tersebut tidak sampai ke telinga Brata, Steffanie, atau pun Justin yang berada di ruangan mereka masing-masing.
Naiki terus berjalan menuju ruang Direktur Utama perusahaan tersebut. Ivan sendiri sebenarnya heran, apa yang akan dilakukan Naiki di sini. Padahal terakhir kali bertemu Brata, nyawanya sudah terancam melayang.
__ADS_1
Tibalah Naiki dan Ivan di depan pintu ruangan Brata dan berbicara pada sekretaris Brata yang mejanya berada di depan ruangan tersebut. Sekretaris itu lalu menghubungi Brata dan memberitahu tentang kedatangan Naiki. Sesaat kemudian ia menutup teleponnya dan mempersilahkan Naiki dan Ivan untuk masuk.
"Selamat siang, Tuan Brata." Sapa Naiki saat Ivan membuka pintu untuknya dan ia melangkah masuk ke ruangan Brata. Brata tidak menjawab. Ia hanya menatap Naiki sinis dari balik meja kerjanya.
"Apakah seperti ini sikap seorang Direktur Utama perusahaan kepada tamunya?" Sarkas Naiki sambil duduk ke sofa tanpa dipersilahkan. "Oh maaf, saya duduk tanpa dipersilahkan." Imbuhnya. Sedangkan Ivan tetap setia berdiri di samping Naiki.
"Cepat katakan apa maksud kedatanganmu ke sini?" Tanya Brata dingin.
Naiki hanya tersenyum dingin. Ia lalu berdiri dan berjalan ke depan meja kerja Brata dan menaruh kedua tangannya di pinggiran meja Brata. Tanpa Brata ketahui, salah satu tangan Naiki sedang bekerja menempelkan alat perekam mini di bawah meja kerja Brata. Naiki sangat terampil dan tenang melakukan hal itu. Ia juga sangat hafal dengan blind spot CCTV ruangan Brata hingga pergerakannya saat menempelkan benda mungil itu tidak akan tampak melalui CCTV ruangan tersebut.
"Aku dengar kau memiliki istri kedua? Lalu, di mana istri pertamamu?" Tanya Naiki dengan wajah polos.
"Heh, apa urusannya denganmu? Itu adalah masalah pribadiku." Sahut Brata sinis.
"Bukankah perusahaan ini milik istrimu? Aku hanya tertarik dengan historinya saja. Jadi aku penasaran, ke mana perginya istri dan anak-anakmu? Apakah mereka tidak mendampingimu dimasa tuamu ini, Tuan Brata?" Sindir Naiki.
Wajah Brata mulai memerah menahan emosi di dadanya. Ia merasa Rhea Caraka di depannya ini sudah melewati batasannya sebagai Pemegang Saham Mayoritas Brata Corp. Namun, mulutnya kaku, tidak tahu akan menjawab apa. Ia takut, Rhea Caraka akan semakin curiga apabila mendengar jawaban dari mulutnya.
"Baiklah kalau Tuan tidak ingin menjawabnya. Namun, bagaimana dengan posisi dua manager yang masih kosong itu, Tuan? Mengapa kau tidak segera mengambil tindakan? Aku tidak ingin perusahaan yang telah aku investasikan ini rugi banyak ke depannya. Kau harus ingat, aku berhak mengajukan gugatan derivatif kepadamu atas kinerja burukmu ini." Ancam Naiki lalu berbalik dan melangkah menuju pintu.
"Jadi, aku tunggu kabar baik darimu, Tuan Brata." Ucap Naiki lalu pergi meninggalkan Brata sambil tersenyum misterius di balik maskernya.
*********
💙💙💙💙💙
Ngga up sehari, terus besoknya up telat lagi. Maafkanlah guys. Ternyata sakit hati lebih baik daripada sakit gigi ðŸ¤ðŸ¤
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
__ADS_1
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙