Pewaris Asli

Pewaris Asli
13 Target Selanjutnya


__ADS_3

Naiki telah tiba di Brata Corp. Sesaat setelah memarkirkan motornya, Naiki mendapat panggilan telepon dari Ivan. Ivan memberitahu Naiki siapa dalang di balik penyerangannya kemarin sore. Ivan jg memberitahu Naiki bahwa pertemuannya dengan Sisi sudah diaturnya. Naiki lalu menyimpan kembali ponselnya dan berjalan menuju lobby.


Di lobby, ia melihat orang yang dimaksud oleh Ivan.


"Benar-benar nyali yang luar biasa untuk j4l4ng seperti dia." Batin Naiki sambil tersenyum dingin. Naiki lalu mensejajarkan jalannya dengan wanita itu.


"Apakah kau sudah membeli baju dan sepatu yang baru, Helen?" Tanya Naiki dengan pandangan lurus ke depan dan terus berjalan.


"Cih...mana cukup uangmu untuk aku beli pakaian baru. Kau kira pakaianku murahan? Lihatlah pakaianmu. Hanya berbeda warna dengan yang kemarin kau pakai. Kau pasti membelinya setengah lusin di toko grosiran kan?" Celoteh wanita itu dengan angkuh. Ia menatap Naiki dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu memandang dengan tatapan jijik ke arah Naiki.


"Hahaha...setidaknya pakaianku tidak serapuh pakaianmu Helen. Apa kau mau aku mencobanya lagi? Oh, atau jangan-jangan uang receh kemarin dipakai untuk membayar orang suruhanmu? Hhhmmm...?" Ucap Naiki mengintimidasi.


Ia lalu berjalan meninggalkan Helen yang terlihat kesal dan tidak melanjutkan jalannya. Naiki tersenyum tipis melihat Helen yang mulai gemetar di tempatnya.


"Dia pasti punya sugar daddy. Kalau tidak, tidak mungkin dia bisa mengirim orang untuk menyelidiki ku dan memberiku uang satu juta seperti kemarin." Gumam Helen.


Naiki mulai memasuki ruang Tim Pemasaran tempat ia ditempatkan saat ini. Beberapa karyawan tengah sibuk membahas perihal pengajuan kerjasama Brata Corp yang telah ditolak Gerandra Corp kemarin. Sebuah kerjasama yang dinanti Brata untuk membantu perusahaannya agar bertahan dan tidak bangkrut. Namun ternyata gagal dalam sehari, dan itu disebabkan oleh Sonya, Manager HRD di perusahaan itu.


Karyawan-karyawan di sana terus berdesas-desus hingga Naiki mendengarnya dengan jelas.


"Tuan Brata marah besar pada Nona Sonya kemarin sore. Aku mendapat informasi dari orang tepercaya. Percayalah." Ucap salah seorang karyawan.


"Apa yang telah dilakukan Nona Sonya? Dan apa hubungannya dengan kerjasama itu?" Tanya yang lain penasaran.


Karyawan yang mendengarkan terlihat sangat antusias. Termasuk Naiki yang berpura-pura sibuk membereskan meja kerjanya, namun telinganya dalam mode menguping.


"Nona Sonya datang ke kantor Gerandra mencoba merayu Tuan Muda Gerandra, dan itu memancing amarah Tuan Muda Gerandra guys." Bisik Si Biang gosip di Tim itu.


"Kalian pernah dengar gosip kalau Tuan Muda Gerandra adalah orang yang dingin, kejam, dan tidak menyukai wanita mana pun mendekatinya?" Lanjut Si Biang gosip itu lagi. Ada yang mengangguk dan ada juga yang menggeleng.


Naiki tersenyum mendengar ucapan Si Biang gosip tadi. Entah mengapa, hatinya merasa lega mendengar Sonya diperlakukan seperti itu oleh Darel, Tuan Muda Gerandra. Terlihat seringai di wajahnya.


"Karna kejadian kemarin, Tuan Brata ingin mencoba mengajukan kerjasama ke perusahaan lain. Tapi maaf guys, aku tidak tahu perusahaan apa itu." Ucapnya sambil cengir.


Tap tap tap


Tiba-tiba Niko muncul. Karyawan-karyawan yang sedang berkumpul tadi sontak langsung bubar. Mereka langsung berpura-pura mengerjakan sesuatu.


Di mejanya, Naiki tiba-tiba mendapatkan pesan dari Wisnu.

__ADS_1


[Nona, sepertinya mereka akan mengincarmu. Maksudku, mereka akan mengincar Nona Rhea, jadi berhati-hatilah.]


Naiki mengernyitkan dahinya. "Apa yang akan mereka lakukan?" Batinnya.


[Baik Paman. Aku akan berhati-hati. Terima kasih.]


Naiki melanjutkan pekerjaannya. Untuk saat ini Naiki masih mengikuti pelatihan untuk menjadi staff di Tim Pemasaran. Bulan berikutnya, kemungkinan ia akan mengikuti pelatihan di lapangan.


"Pagi Nai." Sapa seseorang yang mengagetkannya. Ternyata itu Sisi. Ia terlihat jauh lebih baik pagi ini.


"Oh, pagi Sisi." Sahut Naiki. "Bagaimana kabarmu?" Naiki terlihat perhatian di mata Sisi, walaupun ekspresi gadis itu terlihat sangat datar dan dingin.


"Aku baik-baik saja Nai. Tidak usah khawatir." Jawab Sisi.


Mereka lalu mulai bekerja. Naiki terlihat fokus walaupun ia tahu ia hanya berpura-pura mencari nafkah di sini. Begitupun dengan Sisi. Ia terlihat lebih santai mengerjakan pekerjaannya. Dia sungguh gadis yang cerdas dan cepat mengerti dengan pekerjaannya. Namun, tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap tajam dan penuh dendam pada mereka.


Ting...


Ponsel Naiki menerima sebuah pesan dengan nada dering khusus untuk Ivan. Sebuah pesan yang dianggapnya adalah level SS. Selalu penting kalau itu adalah pesan dari Ivan. Karena pesan dari Ivan biasanya akan menyangkut tentang perusahaan dan dirinya secara pribadi.


[Nona, Brata Corp mulai bergerak. Mereka mengajukan kerjasama kepada kita. Dokumen kerjasama sudah saya email ke Nona.]


[Selidiki apa rencana busuk mereka padaku.]


Naiki membalas pesan Ivan dengan cepat. Ia sangat penasaran dengan rencana Brata dan Steffanie. Benar-benar kakak adik berhati ib*is.


Ternyata kabar bahwa Brata Corp mengajukan kerjasama pada Caraka Corp, sudah diketahui oleh Darel. Dengan kekuasaan dan kekuatan yang dia miliki, Darel dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang diinginkannya. Termasuk itu dengan meretas jaringan komputer musuhnya.


Darel dibuat geram dengan kebusukan Brata dan keluarganya. "Mereka pasti mengincar singa kecilku sekarang." Pikir Darel.


"Tambah orang untuk mengawasi calon istriku dari jauh. Jangan sampai ia tahu kalau ia diawasi. Karena setahuku, kakek Caraka juga sudah menempatkan orang untuk mengawasinya." Perintah Darel pada Berry.


Berry pun undur diri dan langsung memberi perintah kepada orang-orangnya, salah satu Tim Keamanan terbaik di antara tim keamanan perusahaan lain. Tim Keamanan yang Darel sendiri pun jarang membawanya ketika dia pergi.


Darel menebak, kejadian tempo hari yang dialaminya kemungkinan besar akan dialami juga oleh Naiki. Makin dipikirkan, ia malah makin khawatir hingga tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya saat ini. Padahal ia tahu, Naiki memiliki kemampuan perlindungan diri yang hebat. Belum lagi dengan orang-orang tersembunyi di sekitarnya yang juga memiliki kemampuan luar biasa.


***********


Naiki bergegas memacu motornya ketika jam kantor usai. Sisi pun sudah pergi lebih dulu naik angkutan umum. Mereka berdua terlihat sangat terburu-buru. Naiki melaju menuju kediaman Caraka. Ia bergegas mandi, dan bersiap-siap untuk memenuhi janji bersama Sisi sebagai Nona Rhea. Naiki selalu menggunakan make up tipis di wajahnya dan itu membuat kecantikannya terlihat alami di wajahnya yang dingin.

__ADS_1


Naiki berharap, Sisi tidak takut ketika bertemu dengannya nanti. Jadi Naiki memutuskan untuk mengenakan pakaian kasual yang membuatnya tampak imut malam ini. Rambutnya ia kepang dan ditariknya ke bahu kiri. Tampilan yang jarang sekali ia perlihatkan. Tidak lupa ia membawa masker dan topi untuk menutupi wajahnya saat turun dari mobil nanti. Setelah semuanya siap, Naiki mengenakan sneakersnya lalu pamit dengan kakek Caraka dan memacu mobil sport putihnya menuju Cafe CBA.



Di depan Cafe CBA terlihat Sisi maju mundur antara ingin masuk ke cafe atau tidak. Ia sebenarnya takut ada seseorang yang menipunya, dan mengaku sebagai asisten Nona Rhea yang terkenal dingin itu. Sisi sama sekali tidak percaya diri untuk memasukkan lamaran kerjanya ke Caraka Corp. Namun, apa yang terjadi sekarang? Asisten pribadi Nona Rhea tiba-tiba menelponnya dan mengatakan bahwa Nona Rhea ingin bertemu dengannya secara pribadi. Sungguh sangat sulit dipercaya, seorang Sisi dapat perhatian sebesar itu dari seorang CEO hebat yang bahkan tidak saling kenal dengannya.


"Bagaimana kalau aku dijebak, lalu aku diculik dan dijual?" Batin Sisi. Otaknya benar-benar traveling ke mana-mana sekarang.


Tiba-tiba seorang pria mendekatinya. Ia lalu memperhatikan Sisi dengan seksama.


"Selamat malam Nona Sisi." Sapa pria itu.


Sisi mematung. Ditatapnya pria yang berpakaian formal di depannya. Pria tinggi dengan kharisma yang tidak biasa. Matanya terlihat teduh, dan senyum tersungging di wajahnya.


"Nona Sisi?" Tegur pria itu lagi.


"Eh iya, saya Sisi." Ucap Sisi kikuk.


"Perkenalkan, saya Ivan. Asisten pribadi Nona Rhea." Ucap Ivan sambil mengulurkan tangan. Sisi menyambut tangan Ivan dengan ragu.


"Mari ikuti saya ke dalam. Sebentar lagi Nona Rhea akan tiba."


Sisi mengangguk pelan. Ia lalu berjalan mengikuti langkah kaki Ivan yang terbilang sangat cepat. Sisi terlihat kesusahan mengejar Ivan yang kemudian masuk ke sebuah ruangan VVIP di cafe itu.


Tubuh Sisi mulai gemetaran. Ia takut. Pikirannya tetap saja tidak bersahabat dengannya. Hatinya mengatakan percaya bahwa yang datang nanti benar-benar Nona Rhea, namun pikirannya selalu saja kebalikannya. Sisi lalu duduk di sofa yang telah disiapkan di ruangan itu.


Ceklek... Sebuah suara memecah lamunan Sisi. Tampaklah satu sosok wanita yang berjalan masuk dengan masker di wajahnya. Sisi terdiam.


"Imut. Eh tidak, dia elegan. Eh bukan, dia wanita yang keren walaupun masker menutupi wajahnya." Batin Sisi saat itu.


Ia terus memperhatikan wanita yang baru saja masuk dan belum melepas maskernya itu.


"Oh Tuhan....Dari bahasa tubuhnya, ini benar-benar Nona Rhea. Aku pernah beberapa kali melihatnya di TV." Sisi menutup mulutnya tidak percaya.


"Apakah ini jawaban atas doa-doaku selama ini?" Sisi semakin menggila di benaknya.


*************


Jangan lupa dukung author terus yaa... Thanks

__ADS_1


__ADS_2