
Sonya dan Steffanie sangat penasaran dengan orang yang telah mereka sewa untuk menghabiskan Naiki. Namun, hingga pagi menjelang, mereka tak kunjung mendapatkan kabar dari orang-orang itu.
Sonya tampak gelisah duduk di kursi tamu yang terletak di lobby perusahaan sejak pagi sekali. Ia ingin memastikan sesuatu pagi ini. Waktu terus bergulir. Akhirnya yang ditunggu-tunggu Sonya pun muncul. Naiki melangkah masuk ke lobby dengan anggun. Tidak terdapat luka sedikit pun di tubuhnya yang membuat Sonya kesal setengah mati di tempat duduknya.
Sonya bergegas mengejar Naiki dan menghadangnya saat ingin memasuki lift.
"Hei ******!" Teriak Sonya kasar.
Naiki memicingkan matanya. Ia lalu menatap Sonya dingin.
"Ada apa?" Tanya Naiki tenang.
Para karyawan yang baru saja datang langsung menjauh dari Sonya dan Naiki. Mereka tidak ingin terciprat api amarah dari Sonya yang terkenal seenaknya.
"Ternyata nyawamu sangat banyak." Sindir Sonya. "Tapi sayang, ini hari terakhirmu di sini."
Naiki tersenyum, menunjukkan seringai di wajahnya.
"Kau pikir aku sangat ingin bekerja di perusahaan kecil seperti ini?" Ejek Naiki. Ia sengaja memancing emosi Sonya yang sudah membara sejak awal.
"Kau bahkan tidak pantas bekerja di sini. Sampai kapan pun, kau hanya akan menjadi sampah. Tidak berguna, dan dibuang." Ketus Sonya. Naiki hanya tersenyum mendengarnya. Hatinya sudah tidak merasa sakit saat menerima kata-kata seperti itu
"Tersenyum dan tertawalah selagi kau masih bisa, Sonya." Ucap Naiki dingin. Sonya geram, ia sudah tidak bisa menahan emosinya yang membuncah.
Sonya lalu mengangkat tangannya, hendak menampar wajah Naiki. Namun dengan sigap Naiki menangkap tangan Sonya, lalu memelintirnya ke belakang. Sonya terpekik.
"Aaaarrrggghhh...Lepaskan aku, Anak Sial!" Jerit Sonya kesakitan.
Ting...
Pintu lift terbuka, Naiki menyeringai. Ia lalu membalikkan tubuh Sonya hingga menghadap pintu lift yang terbuka. Naiki kemudian menendang bok0ng Sonya dan melepaskan tangan Sonya bersamaan hingga Sonya tersungkur di dalam lift.
"Arrrrggghhh...tolooong!" Pekik Sonya.
__ADS_1
Naiki lalu menepuk-nepuk tangannya sambil menatap tajam ke arah Sonya yang merintih kesakitan.
"Berani menghalangi jalanku? Kau akan tahu akibatnya!" Ucap Naiki sembari menekan tombol lift agar tertutup kembali.
Naiki lalu melambaikan tangannya pada Sonya yang menatap dengan penuh kebencian. Tampilannya telah kacau. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya berantakan, dan kakinya sakit karena ditendang Naiki hingga tersungkur. Ia juga merasa malu karena kejadian tadi dilihat oleh banyak mata. Seketika, kebenciannya pada Naiki meningkat berkali-kali lipat.
"Aku akan membunuhmu, ANAK SIALLLL...." Teriak Sonya di dalam lift.
Sementara itu, Naiki yang masih berdiri di depan pintu lift mulai merasa jijik dengan tangannya yang telah menyentuh Sonya. Ia lalu bergegas menuju toilet dan mencuci tangannya berkali-kali. Merasa tidak cukup, Naiki lalu masuk ke sebuah toilet dan mengeluarkan handsanitizernya. Ia lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
Naiki berhasil mengontrol dirinya kembali tanpa obat antidepresan yang selalu ada di tasnya. Sudah beberapa bulan terakhir Naiki tidak pernah menyentuh benda itu, apalagi mengonsumsinya. Naiki merasa kondisinya sudah jauh lebih baik saat ini.
Ponsel Naiki tiba-tiba bergetar. Ada satu panggilan masuk yang ternyata dari Sisi.
"Ya, Sisi." Sahut Naiki.
"Kau di mana, Nai?" Tanya Sisi panik. "Aku dengar dari karyawan lain, kau dan Sonya sempat ribut di lantai bawah. Di mana kau sekarang? Apa kau baik-baik saja?" Sisi sungguh tampak khawatir memikirkan Naiki.
"Ok Nai." Ucap Sisi lalu mematikan panggilannya.
Naiki lalu keluar dari toilet dan bergegas menuju ruang Tim Pemasaran. Ia berjalan dengan santai tanpa ada beban sedikit pun. Padahal setiap karyawan sedang membicarakannya. Membicarakan nyalinya yang luar biasa karena berani mendorong Sonya hingga tersungkur di dalam lift. Mereka juga mengomentari masalah perkataan Sonya yang mengatakan bahwa hari ini adalah hari terakhir Naiki bekerja.
Naiki duduk di kursinya dengan tenang. Sisi langsung menghujani Naiki dengan berbagai pertanyaan. Termasuk masalah hari kerja yang katanya hari ini adalah hari terakhir Naiki bekerja di sana. Naiki hanya tertawa mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Sisi. Ia tidak menjawab satu pertanyaan pun yang Sisi lontarkan.
Naiki malah sibuk membuka ponselnya dan memantau CCTV perusahaan, terutama ruangan Brata, Steffanie, Niko, dan Sonya. Ia lalu tersenyum dingin saat melihat Brata, Steffanie, Sonya, dan Niko berada dalam satu ruangan saat ini, yaitu ruangan Brata.
"Kalau bisa dengar percakapan mereka pasti lebih seru." Gumam Naiki.
Ternyata, Steffanie dan Sonya datang ke ruangan Brata adalah untuk melaporkan identitas Naiki Si Karyawan Baru. Niko yang belum mengetahui informasi itu karena jarang pulang ke rumah merasa sangat terkejut. Ia juga sedang perang dingin dengan ibu dan adiknya karena masalah kemarin.
Braaaakkkkk....
Brata menggebrak meja kerjanya dengan sangat keras. Nafasnya menderu kasar, rahangnya mengeras. Ia sungguh tidak percaya jika anak kandungnya masih hidup hingga saat ini. Bahkan muncul dengan status karyawan baru di perusahaannya.
__ADS_1
"Apa kau yakin?" Tanya Brata entah sudah ke berapa kali.
"Aku sangat yakin, Paman." Ucap Sonya dengan ekspresi takut.
"Terus, apa yang kalian lakukan di sini? Segera singkirkan dia. Aku tidak ingin melihatnya di perusahaan ini lagi. Bila perlu, bunuh dia!" Brata melontarkan kalimat yang kejam. Padahal jelas-jelas Naiki adalah darah dagingnya sendiri.
Sonya tidak mengira, Pamannya sungguh sangat kejam. Dia benar-benar dibutakan oleh harta.
"Paman, biarkan aku mencoba menyingkirkannya kali ini. Akan aku buat dia mengakhiri hidupnya sendiri." Ucap Niko percaya diri. Darah licik ternyata mengalir di tubuhnya.
"Ok baiklah. Aku serahkan padamu." Ucap Brata kemudian.
Steffanie, Sonya, dan Niko lalu pergi meninggalkan ruangan Brata. Mereka kembali ke ruangan mereka masing-masing. Sedangkan Niko, mulai menyusun rencana untuk menjebak Naiki.
***********
Hari mulai beranjak sore. Jam kerja sudah hampir berakhir. Tiba-tiba Niko mengirim pesan kepada Naiki.
[Kalau kau masih ingin bekerja di sini, maka datanglah ke Bar QWERTY malam ini, pukul 20.00.]
Naiki menyeringai membaca pesan dari Niko. Ia tidak menyangka ada orang sebodoh Niko di dunia ini. Niko berpikir Naiki sangat menginginkan bekerja di Brata Corp agar dapat merebut kembali perusahaan itu dari tangan Brata. Ia juga mengira kalau kehidupan Naiki pas-pasan, jadi pasti sangat membutuhkan pekerjaan saat ini.
[Ok.] Jawab Naiki singkat.
Jika Niko ada rencana, begitu pun dengan Naiki. Ia tidak akan melepaskan mangsa yang dengan rela menyerahkan diri sendiri seperti Niko.
Di lain tempat, saat para karyawan belum banyak yang keluar dari ruangannya untuk pulang, Sonya sudah terlebih dahulu melangkahkan kaki ke basement perusahaan. Dia tidak menyadari ada beberapa orang yang menantinya di sana. Sonya melangkah dengan gayanya yang sensual dan dibuat-buat.
Greeepppp...
Tiba-tiba seseorang muncul di belakangnya lalu menutup hidung dan mulut Sonya dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius. Seketika Sonya terkulai lemah dan pingsan. Sebuah mobil van hitam pun muncul beberapa detik kemudian. Tubuh Sonya lalu di naikkan ke mobil van tersebut dan dibawa pergi entah ke mana.
**********
__ADS_1