
Brata dan Steffanie panik melihat reaksi Niko. 'Dia seperti kehilangan kewarasannya.' Pikir Brata. Kedua security pun tidak kalah bingung. Mereka tidak tahu harus melakukan apa, karena Niko benar-benar ketakutan setiap didekati oleh mereka, namun hanya diam saat ibunya yang mendekat.
Brata kemudian memerintahkan security tersebut untuk menghubungi ambulans. Security itu pun dengan sigap kembali ke post-nya dan menghubungi ambulans melalui telepon di sana. Beberapa menit kemudian, tibalah ambulans di kediaman Brata.
Mereka bahu membahu mengangkat tubuh Niko ke atas brankar darurat. Sedikit kesulitan karena Niko terus-menerus menggerakkan tubuhnya sambil berteriak. Untung saja ikatan di tangan dan kakinya belum dilepas, kalau tidak, entah bagaimana mereka dapat membawa Niko naik ke ambulans.
Brata dan Steffanie menyusul menggunakan mobil pribadi. Mereka akhirnya tiba di depan IGD rumah sakit setelah melakukan perjalanan kurang dari setengah jam. Steffanie turun dari mobil dengan tergesa-gesa dan masuk ke dalam IGD untuk melihat keadaan putranya. Namun seorang perawat mencegahnya dan meminta Steffanie untuk menunggu di luar karena dokter sedang melakukan tindakan.
Perawat dan dokter sungguh dibuat repot oleh Niko yang terus-terusan berteriak histeris tanpa tahu penyebabnya. Mereka terpaksa menyuntikkan obat penenang agar dapat memeriksa keadaan Niko dengan baik. Tangan dan Kaki Niko terpaksa kembali diikat. Namun kali ini diikat di besi brankar untuk jaga-jaga apabila Niko kembali histeris. Setelah menyelesaikan pemeriksaan dan melakukan tindakan atas penyakit yang diderita Niko, seorang dokter keluar dan meminta seorang perawat untuk memanggil keluarga pasien.
Steffanie pun masuk dan menghampiri dokter pria itu. Dokter itu lalu membawa Steffanie ke sebuah ruangan untuk menyampaikan diagnosanya.
"Apa yang terjadi pada anak saya, Dok?" Tanya Steffanie masih panik.
"Dari segi fisik, ia hanya mengalami demam biasa, Nyonya. Terjadi infeksi pada lukanya yang mengakibatkan suhu tubuhnya menjadi naik. Menurut hasil pemeriksaan kami, dia sepertinya baru saja mengalami tindakan kekerasan secara fisik maupun s**sual." Sahut dokter itu perlahan. "Yang saya khawatirkan adalah mentalnya, Nyonya." Ujar Dokter muda itu dengan sangat hati-hati.
"Maksud dokter, anak saya gila?" Celetuk Steffanie.
"Bukan, Nyonya. Maaf sebelumnya. Saya hanya bisa menyarankan agar anak Nyonya segera dirujuk ke rumah sakit khusus kejiwaan biar kita tahu diagnosanya." Dokter itu menghela nafasnya. "Sekali lagi, maafkan saya, Nyonya. Tapi kita benar-benar harus melakukan itu demi kesehatannya." Lanjut Dokter itu dengan wajah pias.
Steffanie terdiam. Airmatanya mulai jatuh ke pipinya. Dadanya terasa sesak memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi pada anaknya itu. Dia bisa menebak siapa dalang dari semuanya. Ada dua nama di pikirannya saat ini, yang tanpa ia ketahui, dua nama itu adalah satu orang yang sama. Namun, dengan keterbatasannya Steffanie hanya bisa kesal tanpa pelampiasan.
Brata hanya melihat Niko dan menemui Steffanie sebentar. Ia lalu kembali ke kediamannya tanpa ada rasa peduli sedikit pun. Padahal Steffanie-lah yang selama ini membantunya. Baik itu untuk hal baik, maupun yg buruk.
*********
Darel dan Naiki telah tiba di kediaman besar Gerandra. Ternyata, kakek sedang berada di halaman depan. Dia mungkin merasa bosan hingga tampak menata taman yang sebenarnya sudah ditata rapi dan indah oleh tukang kebun mereka. Wajahnya tampak memerah karena panas matahari mulai menyengat.
Tangannya menggunakan sarung tangan karet dan sedang memegang sebuah gunting tanaman. Keringat membasahi pelipisnya. Mendengar suara mobil Darel memasuki pekarangan rumahnya, Kakek Gerandra langsung saja menghentikan kegiatannya dan melempar senyuman ke arah cucu dan cucumantunya.
"Siang, Kek." Sapa Naiki lalu berjalan mendekat dan mengulur tangannya, hendak menyalami tangan kakek dari suaminya itu.
__ADS_1
Kakek Gerandra heran. Ia menatap uluran tangan Naiki dan Darel bergantian. Darel pun mengangguk, memberi kode agar kakek menyambut uluran tangan Naiki. Kakek Gerandra pun menaruh gunting tanaman di tangannya dan melepas sarung tangan khususnya. Ia lalu menyambut tangan Naiki dengan wajah penuh haru.
"Siang juga, Cucu Kakek." Sahut Kakek Gerandra sambil tersenyum dan menepuk-nepuk punggung tangan Naiki dengan lembut.
Naiki tersenyum lebar. Bukan hanya senang karena dapat menyapa Kakek Gerandra dengan uluran tangan, ia juga senang karena kakek Gerandra terlihat sangat menyayanginya. Darel dan Naiki paham, kakek Gerandra pasti meminta penjelasan mengenai Naiki yang terlihat ada perubahan.
"Nanti kita ngobrol ya, Kek! Nai sama Darel ke dalam dulu. Nai rindu sama Killa dan Mama Vanya." Ucap Naiki dengan senyum renyah.
Wanita itu lalu berlari masuk ke dalam dan Darel mengikutinya dari belakang. Naiki melangkah dengan riang sambil mencari Killa. Sedikit berbeda dengan Naiki biasanya. Darel tidak menyangka, istri dinginnya dapat bertingkah menggemaskan seperti itu.
Naiki berjalan menuju dapur. Karena sebentar lagi adalah jam makan siang, jadi Naiki berpikir akan bertemu Mama Vanya di sana. Benar saja, dugaan Naiki sangat tepat. Ia lihat Mama Vanya sedang mengupas buah di sana. Naiki lalu menghampirinya. Ia langsung memeluk mertuanya itu dari belakang. Vanya terlonjak dan langsung menoleh ke belakang.
"Nai?" Ucap Vanya penuh tanya.
Naiki dan Darel yang menyusul di belakang hanya tersenyum. Tidak ada kalimat penjelasan dari mereka.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Tanya Vanya lagi.
"Apa Mama sehat?" Tanya Naiki. Vanya mengangguk dan tersenyum.
"Istirahatlah dahulu, sebentar lagi kita akan makan siang bersama." Ucap Vanya.
"Baik, Ma. Nai mau cari Killa dahulu." Sahut Naiki.
Ia lalu pergi meninggalkan dapur, dan bergegas ke kamar Killa. Siang hari panas seperti ini Killa memang lebih suka berada di kamarnya daripada di luar. Ia lebih memilih membaca buku, mengerjakan tugas kuliahnya, ataupun menonton drama kesayangannya.
Naiki berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua. Darel khawatir melihatnya.
"Hati-hati, Sayang!" Teriak Darel dari bawah.
"Iyaaaa..." Sahut Naiki sambil menaiki anak tangga.
__ADS_1
Ia berjalan menuju kamar Killa dan mengetuk pintu kamar Killa. Adik iparnya itu lalu menyahut dari dalam kamar. Beberapa saat kemudian, muncullah Killa dari balik pintu yang langsung dipeluk oleh Naiki. Killa yang mendapat serangan dadakan dari kakak iparnya hanya bisa menatap bingung ke depan. Sungguh Killa dibuat kaget oleh sikap kakak iparnya yang begitu tiba-tiba itu.
"Kak Nai?" Lirih Killa di tengah keterkejutannya.
Naiki lalu melonggarkan pelukannya dan tersenyum lebar pada Killa. Killa semakin heran.
"Kenapa?" Tanya Naiki.
"Nnngg...Itu..." Killa menggaruk-garuk tengkuknya. "Kak Nai sudah sembuh?" Imbuhnya kemudian.
Naiki menggeleng. "Tapi kakak janji akan secepatnya sembuh." Ucap Naiki yakin.
Killa tidak memperpanjang pertanyaannya. Toh, dia juga pasti mendapatkan penjelasan nanti dari kakak dan kakak iparnya itu. Killa lalu menarik Naiki masuk ke kamarnya.
Sedangkan di ruangan lain, tampak Darel sedang berbicara serius dengan seseorang melalui sambungan telepon. Dia adalah salah satu pengawal terbaik Darel yang bertugas untuk menyelidiki kasus-kasus yang dipinta oleh Darel. Ternyata, diam-diam Darel meminta orang kepercayaannya itu untuk menyelidiki kasus kematian Nyonya Alya, ibunda Naiki dan Rhean.
"Tidak ada data pasien atas nama Alya Putri Caraka di tahun ia itu, Tuan. Saya sudah mengecek ke setiap rumah sakit di kita ini. Jadi, berita kalau Nyonya Alya meninggal karena menderita kanker pankreas stadium akhir terbukti tidak benar. Tidak ada rekam medis yang mengatakan Nyonya Alya menderita kanker." Ujar pengawal itu.
"Jadi, dugaan istriku kemungkinan benar, bahwa ibunya meninggal karena Brata atau Steffanie?" Ucap Darel seraya bertanya pada pengawal itu.
"Benar, Tuan."
Mendengar jawaban pengawalnya itu, membuat Darel geram. Brata dan Steffanie bukanlah manusia, pikirnya. Naiki dan Rhean bahkan belum menemukan kuburan ibunya itu hingga saat ini. Darel mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Selidiki dengan cepat. Aku yakin ada yang mereka sembunyikan." Perintah Darel kemudian langsung menutup teleponnya.
"Brata, hari terakhirmu akan segera tiba." Gumam Darel sambil menggemerutukan giginya.
*********
💙💙💙💙💙
__ADS_1