Pewaris Asli

Pewaris Asli
07 H+1


__ADS_3

Darel terlihat menikmati paginya di sebuah gazebo yang terletak di halaman belakang kediaman Garendra. Terdapat sebuah kolam renang yang cukup luas di depan gazebo itu.


Hari ini adalah hari minggu. Tidak seperti biasa, Darel tidak sibuk di ruang kerjanya. Darel duduk di sebuah kursi panjang berbahan kayu jati dengan ukiran yang terlihat indah. Ia menatap ponselnya lekat. Darel terus saja memainkan ponselnya di gazebo taman belakang itu.


Ternyata, beberapa menit yang lalu, Berry baru saja mengirimkan foto-foto pertunangan Darel dan Naiki. Darel senyum-senyum sendiri melihat hasil jepretan fotografer yang disewanya kemarin.


"Bagus." Gumamnya.


"Sepertinya hari ini aku harus mengundang mereka makan malam di sini." Darel berbicara sendiri.


"Siapa yang mau kau undang, Bocah?" Selidik Tuan Gerandra yang tiba-tiba muncul membawa sebuah papan catur.


Tuan Gerandra memang sangat suka bermain catur. Ia biasanya ditemani oleh Kepala Pelayan di mansion itu. Namun terkadang tukang kebun pun juga pernah ia jadikan teman bermainnya. Tuan Gerandra tidak pernah membeda-bedakan orang dari sisi harta dan kedudukan. Ia selalu memperlakukan setiap orang dengan tulus dan hangat.


Darel langsung salah tingkah mendengar pertanyaan Kakeknya.


"Itu lho Kek, calon istri aku." Jawab Darel cengengesan.


Begitulah Darel bila di depan kakeknya. Terkadang ia bisa terlihat seperti bocah, kadang kala ia juga bisa terlihat serius dan dingin, terlebih lagi jika membicarakan hal-hal yang bersangkutan dengan perusahaan.


"Ooooo...Itu mah kecil. Serahkan pada Kakek." Ucap Tuan Gerandra sambil menepuk dadanya. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


************


Di waktu yang sama, di kediaman Caraka. Di sebuah ruangan tampak berjejer beberapa peralatan olahraga. Di antaranya ada treadmill, power squat, spin bike, sit up bench, bola gym, dan lain-lain.


Naiki baru saja selesai melakukan olahraga pagi. Olahraga menurutnya tidak hanya bagus untuk kesehatan fisik, tetapi juga sangat baik untuk kesehatan hati dan pikiran. Jadi, Naiki selalu menyempatkan diri untuk berolahraga dengan teratur, minimal tiga kali dalam satu minggu.


Naiki duduk di atas lantai di ruang gym tersebut. Ia mengusap mukanya yang berkeringat dengan sebuah handuk kecil. Ia lalu mengambil ponselnya kemudian membuka pesan dari seseorang.


[Nona kecil, berhati-hatilah besok di sana. Jangan sampai identitas Nona langsung terbongkar. Berhati-hatilah dengan pria bernama Niko dan perempuan bernama Sonya. Kepribadian mereka sangatlah buruk.]

__ADS_1


Naiki tersenyum tipis membaca pesan itu. Sebuah pesan dari orang kepercayaan mendiang mamanya, Wisnu. Orang yang sangat berjasa menyelamatkan ia dan kakaknya. Usia Wisnu mungkin tidak lagi muda. Namun, ia masih bekerja dengan Naiki hingga saat ini walaupun hanya di balik layar. Ia juga yang membantu Naiki menyelidiki setiap pergerakan keluarga Brata. Termasuk keluarga besarnya ataupun istri keduanya.


[Terima kasih Paman. Tidak usah khawatir. Aku akan berhati-hati.]


Naiki membalas pesan itu dengan cepat. Ia kemudian bergegas keluar dari ruangan itu dan menuju kamarnya.


"Nai..." Panggil Kakek Caraka.


"Iya ada apa Kek?" Sahut Naiki beringsut mendekati kakeknya.


"Malam ini apakah kau ada acara? Kakek ingin mengajakmu makan malam." Ucap Kakek Caraka.


Naiki melemparkan tatapan seperti menyelidiki sesuatu. Ia heran, mengapa tiba-tiba kakeknya mengajaknya untuk makan malam. Apakah kakek tidak lelah, habis acara tadi malam? Pikir Naiki.


"Hmmm... Ok baiklah." Jawab Naiki akhirnya.


Kakek Caraka tersenyum mendengarnya. Ia kemudian bergegas ke taman belakang. Melakukan hobinya dengan tanaman-tanaman kesayangannya.


***********


Naiki dan kakeknya kemudian memasuki mobil lalu pergi menuju di mana mereka akan makan malam. Naiki benar-benar penasaran dibuatnya. Ia tidak tahu akan dibawa ke mana dirinya oleh Kakek dan supirnya itu.


45 menit berlalu. Naiki dan kakeknya telah tiba di sebuah mansion yang sangat mewah. Naiki akhirnya mendapatkan jawabannya. Siapa lagi keluarga yang memiliki mansion semewah ini kalau bukan keluarga Gerandra.


Naiki dan Kakek Caraka disambut langsung oleh Tuan Gerandra. Ia lalu langsung membawa Naiki dan Kakek Caraka menuju ruang makan. Beberapa pelayan dengan sigap melayani tuan dan tamunya.


Tampak Darel dan Vanya sudah menunggu di meja makan. Vanya menyambut kedatangan calon menantunya.


"Apa kabar calon menantu Mama?" Ucap Vanya ramah.


"Baik Nyonya." Sahut Naiki.

__ADS_1


Vanya geleng-geleng mendengar jawaban Naiki. "Mama dong, masa nyonya." Protes Vanya pada Naiki. Naiki pun tersenyum mendengar perkataan Vanya.


"Kenapa ia manis sekali?" Batin Darel. Ia tersipu melihat senyuman Naiki untuk Vanya.


Tuan Gerandra kemudian mempersilahkan Naiki dan Kakek Caraka untuk duduk. Naiki duduk berhadapan dengan Darel. Benar-benar membuat jantung Darel ingin melompat saking groginya. Mereka lalu menyantap makan malam mereka dengan tenang.


Setelah selesai makan malam, Darel mengajak Naiki duduk di gazebo pinggir kolam renang. Sedangkan Kakek mereka mengobrol di ruang keluarga, dan Vanya kembali ke kamarnya. Ia mengerti apa yang dipikirkan anaknya dan tidak berniat mengganggu.


"Bagaimana lenganmu?" Tanya Naiki dingin. Ia berdiri di pinggir kolam renang dan Darel duduk di gazebo.


"Baik. Untung saja lukanya tidak dalam." Jawab Darel. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke samping Naiki.


"Bagaimana bisa seorang gadis cantik sepertimu mengalahkan lima orang preman dalam satu menit?" Tanya Darel. Ia mencuri pandang pada Naiki.


Naiki tersenyum tipis.


"Apa kau ingin mencobanya?" Goda Naiki dengan seringainya. Ia langsung ke posisi siap tarung dengan mengepalkan tinjunya.


Darel tertawa melihatnya.


"Ternyata kau benar-benar wanita badas, Nai..." Ucap Darel. Ia gemas dengan tingkah calon istrinya.


Mereka terlihat semakin akrab. Beberapa waktu yang lalu, mereka juga saling bertukar nomor hape. Yang sebenarnya sudah mereka miliki dari asisten mereka masing-masing.


Diam-diam, Kakek Caraka dan Tuan Gerandra memperhatikan cucu mereka dari kejauhan. Hingga muncul lah misi baru di otak mereka, yaitu mempercepat hari pernikahan cucu mereka.


**********


Tolong dukung author terus yaa...


Terima kasih 🥰

__ADS_1


__ADS_2