
Daniela masih disekap di gudang tua tersebut hingga hari mulai beranjak gelap. Namun, tidak ada rasa khawatir sedikit pun di hatinya walaupun kaki dan tangannya diikat dengan kuat saat ini. Satu lagi keuntungan Daniela setelah menggunakan masker adalah ia dapat tertidur di lantai gudang yang kotor tanpa harus khawatir menghirup debu dari lantai tersebut. Saat ia sudah hampir tertidur di lantai gudang yang kotor itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari beberapa orang sedang berjalan masuk ke gudang. Daniela pun terbangun. Ternyata, mereka adalah Brata, Marco, dan Steffanie.
Daniela tersenyum sinis di balik maskernya. Ketiga orang yang baru saja datang itu diikuti beberapa orang preman di belakang mereka. Daniela terus memerhatikan hingga ketiga orang tadi berhenti tiga meter dari dirinya.
"Akhirnya tupai yang pandai melompat itu terjatuh juga. Apa kau sudah tahu rasanya sakit?" Ucap Brata sambil melipat tangannya dengan angkuh. "Sebentar lagi kau akan merasakan sakitnya meregang nyawa, lalu membusuk di gudang tua ini." Imbuh Brata.
Ingin sekali rasanya Daniela meludahi wajah Brata, bahkan memukul-mukul wajahnya yang angkuh itu. Namun ia ingat pesan Nonanya untuk berpura-pura lemah. Padahal ia dapat dengan mudah melepas ikatan di tangan dan kakinya saat ini.
"Apa rasanya harta keluarga Caraka? Kau dan kakakmu benar-benar beruntung ternyata." Hina Brata lagi. "Tapi sayangnya, keberuntunganmu hanya sampai hari ini saja."
"Cukup basa-basinya, Kak. Segera paksa dia tandatangan surat pengalihan harta itu, lalu habisi dia." Celetuk Steffanie sembari melangkah maju mendekati Daniela.
Semakin Steffanie mendekat, semakin ia merasa ada yang salah. Diperhatikannya wajah Daniela dengan lekat. Ia lalu mengulurkan tangannya hendak membuka masker Daniela. Namun Daniela mengelak sebisa mungkin hingga terdengar suara pintu gudang terbuka dengan keras.
BRAKKKK...
Naiki dan Darel muncul dari balik pintu gudang tua yang telah rusak karena diterjang oleh Darel. Brata, Marco, dan Steffanie tersentak bukan main. Ekspresi mereka seakan tidak percaya saat melihat Naiki yang muncul dari balik pintu gudang. Ditatapnya Naiki dan Daniela secara bergantian. Steffanie pun bergegas membuka paksa masker Daniela.
"BRENGSEKKK... DASAR ANAK SIAL! KAU MENIPU KAMI!" Maki Steffanie.
Naiki hanya tersenyum sinis. Begitu pun dengan Daniela yang diam-diam sudah melepaskan ikatan di tangannya dan dengan cekatan melepas ikatan di kakinya pula selagi orang-orang jahat itu tidak fokus padanya.
"Apa rasanya berada di atas angin, Tuan Brata yang terhormat?" Hardik Naiki yang masih berdiri dengan tatapan dinginnya. "Apa kau begitu bahagia sudah berhasil menangkapku? Tapi sayang, itu hanya angan-angan kosongmu saja." Hina Naiki.
Brata terdiam, Marco terlihat panik, dan Steffanie tampak kesal bukan main. Mereka tidak percaya bahwa yang mereka culik bukanlah Naiki, melainkan Daniela. Brata menatap tajam ke arah Marco, seakan melempar seluruh kesalahan pada pria kekar itu.
"Aku harus membunuhnya, kalau tidak, aku harus segera kabur dari sini." Batin Brata.
Marco mengeluarkan pistolnya dan siap membidik Naiki, namun Daniela yang cekatan langsung menerjang dengan cepat ke arah tangan Marco. Senjata api yang dipegang Marco pun terlempar jauh. Hati Marco mulai panas, tanpa pikir panjang, ia pun menyerang Daniela. Perkelahian antara Daniela dan Marco pun tidak dapat dihindari.
__ADS_1
Sementara itu di sisi lain, Naiki telah berjalan mendekati Brata dan Steffanie. Ia lalu berhenti dua meter di depan Brata dan berdiri dengan tatapan dinginnya. Darel hanya melihat istrinya dari kejauhan. Tidak ada rasa khawatir di hatinya, karena para preman yang berjaga di depan sudah dilumpuhkan semua oleh pengawal Gerandra.
"Jadi, kau bermaksud mengancamku agar aku bersedia menandatangani surat tidak berguna itu, lalu membunuhku? Ck!" Ucap Naiki. "Teruslah bermimpi Brata!"
"Dasar j4l4ng! Kau sama seperti ibumu! Perempuan j4l4ng yang tidak berguna dan memiliki anak bersama orang lain." Hina Brata menjadi-jadi padahal ia mulai tersudut saat ini.
"JANGAN HINA MAMAKU!" Teriak Naiki. "Kau bahkan tidak pantas disebut manusia!"
"Hahaha...Apa kau tidak percaya? Kau dan kakakmu bukanlah anakku!" Tukas Brata.
BUUUUGGHH...
"Aaakkkh..." Rintih Brata saat Naiki meninju ulu hatinya.
Brata meringkuk kesakitan di lantai gudang tua itu. Ia tidak menyangka, hanya sebuah tinjuan dari seorang wanita dapat membuat ia merasakan sakit yang berlebihan seperti saat ini.
"Anak sial! Anak tidak berguna!" Caci Brata berkali-kali.
Naiki mulai geram, ia kembali menarik kerah baju Brata dan mencengkram kuat rahang pria tua itu. Tangan kirinya mulai mengambil pisau lipat yang tersimpan di sabuk yang ia pakai. Darel terkejut melihat istrinya yang semakin agresif itu. "Dia benar-benar akan merobek mulut pria tua itu." Pikir Darel.
Darel yang melihat langsung berlari menuju Naiki dan menahan tangan istrinya itu. Kalau tidak, mungkin Naiki akan benar-bemar merobek mulut Brata. Bukankah itu sangat mengerikan.
"Ayah lakn*t! Kau sudah berhasil membangunkan monster di hati istriku." Umpat Darel dalam hati.
"Jangan Nai, lebih baik kita bawa dia ke markas. Kita akan mengorek semua fakta darinya." Bujuk Darel. Naiki pun menyimpan kembali pisau di tangannya.
"Lepaskan kakakku, atau aku akan menyebarkan berita tentang anak-anakku yang menderita karena perlakuan darimu. Aku yakin, dalam satu malam, industrimu akan segera jatuh." Ancam Steffanie yang sudah memegang sebuah pistol yang tidak lain adalah pistol milik Marco yang terlempar cukup jauh tadi.
Tangan Steffanie bergetar. Membuat Naiki dan Darel menahan tawanya. Naiki lalu bertepuktangan dengan sangat keras untuk mengapresiasi keberanian Steffanie.
__ADS_1
"Kau bahkan berani mengancamku seperti itu? Kau ingin aku hancur di mata para netizen? Kau harus berusaha 100 tahun lagi, Steffanie." Ucap Naiki tidak kalah angkuh.
Beberapa detik setelah itu, sepuluh orang pengawal Gerandra pun masuk. Mereka membentuk lingkaran dan memblokir jalan keluar untuk Brata maupun Steffanie. Naiki pun melepaskan Brata dan berjalan mundur mendekati suaminya.
"Tangkap mereka! Bawa ke markas!" Perintah wanita berparas dingin tersebut.
Steffanie meronta-ronta tidak ingin dibawa oleh para pengawal. Dia tidak dapat membiarkan dirinya ditangkap dan disiksa sebagaimana yang dialami kedua anaknya.
"Aku tidak mauuu... Pergiiii!!!" Teriak Steffanie pada kedua orang pengawal yang sedikit kewalahan.
Brata dan Steffanie pun berhasil dibawa oleh pengawal untuk disekap di markas mereka.
"Aku akan melepaskanmu sementara ini, Brata. Tapi tidak untuk lain kali." Gumam Naiki.
**********
💙💙💙💙💙
Hari sabtu aku ngga up guys, karena sedang kurang sehat. Happy reading yaa...
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙
__ADS_1