Pewaris Asli

Pewaris Asli
39 Bocah Roti Isi


__ADS_3

Naiki lalu pamit ke kamarnya. Ia ingin menyimpan senjatanya dengan aman dan membersihkan tubuh terlebih dahulu. Selepas Naiki pergi, Darel lalu duduk bersama Mama Vanya dan Killa.


"Jadi apa yang sebenarnya terjadi, Darel? Katakan pada Mama." Ucap Vanya serius.


"Oh, itu tadi habis adegan di film-film action gitu, Ma." Jawab Darel sambil meraih toples kerupuk di meja.


"Dasar anak tengil ini." Vanya memukul punggung Darel pelan. Darel pun cengengesan. "Cerita sama Mama!" Perintah Vanya dengan sorot mata menyeramkan. Ia tidak mau sesuatu terjadi pada anak dan menantunya.


"Hiissh Mama ini." Rutuk Darel. "Tadi ada enam orang yang membuntuti kami di jalan. Dia mengincar Nai, Ma. Untung saja Nai ada persiapan." Cerita Darel, sambil mengunyah kerupuknya.


Vanya dan Killa geram melihat Darel yang cerita kejadian itu dengan sangat santai. Mereka berpikir, Darel tidak cemas sedikit pun dengan keselamatan istrinya itu.


"Kau ini... Apa tidak khawatir dengan istrimu?" Omel Vanya.


Darel berhenti mengunyah. Ia letakkan kembali toples yang dipegangnya sedari tadi. Ia lalu menatap Vanya dengan serius dan menggenggam tangan mamanya itu dengan lembut.


"Ma, kejadian seperti hari ini sudah pasti akan menghampiri Naiki kapan saja. Bahkan sebelum menikah juga sudah beberapa kali ini terjadi. Pelakunya juga sama saja. Mama tidak perlu khawatir. Aku pasti melindunginya." Ujar Darel. Vanya akhirnya bernafas lega.


"Istriku itu bukan wanita biasa, Ma." Ucap Darel sambil beralih ke toples cemilan yang lain.


"Kakak, jangan terlalu banyak makan makanan ringan seperti itu. Perutmu nanti sakit." Celetuk Killa.


"Kalau aku sakit, biar istriku yang merawatku." Tukas Darel.


"Hisssh...Dasar tengil!" Ejek Killa sembari berdiri dari duduknya.


"Mau ke mana?" Tanya Darel.


"Mau ngobrol dengan kakakku yang cantik dan baik hati." Sahut Killa sambil berjalan meninggalkan Darel dan Vanya.


"Mama, dia mau ngambil istriku." Rengek Darel pada Vanya.


Cletaaaakkk...


Vanya menyentil dahi Darel dengan keras.


"Awwww..." Jerit Darel.


"Manjalah dengan istrimu. Jangan sama Mama!" Ketus Vanya membuang muka. "Kalau begini terus, kapan aku punya cucu, Yaa Tuhan..."


Darel terkikik mendengar perkataan mamanya. Dengan cuek, ia lalu menghabiskan cemilan dalam toples yang dipegangnya.


*********


Tok tok tok....


"Kak, Nai... Kak Nai... Ini Killa, boleh aku masuk?" Ucap Killa di depan pintu kamar Naiki dan Darel.


Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar. Killa lalu mendekatkan telinganya ke pintu. Tetap tidak terdengar suara apa pun di sana.


"Kak Nai, aku masuk, ya!" Ucap Killa lalu membuka pintu kamar.


"Hiiisssh...sejak kapan pria tengil itu memasang pengedap suara di dinding kamarnya? Pantas saja tidak terdengar apa pun tadi." Umpat Killa sambil terus berjalan masuk ke dalam.

__ADS_1


Terdengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Ternyata Naiki belum selesai mandi. Killa lalu duduk di sofa yang ada di kamar itu sambil memainkan ponselnya. Beberapa menit kemudian Naiki keluar dari kamar mandi.


"Kak Nai!" Sapa Killa dengan wajah sumringah. "Maaf aku masuk tanpa permisi."


Naiki tersenyum pada Killa. "Iya tidak apa, Killa. Kak Nai berpakaian dulu, ya!" Ucap Naiki. Killa pun mengangguk.


Beberapa menit kemudian, Naiki telah selesai berpakaian. Rambutnya juga sudah ia keringkan. Ia lalu bergabung dengan Killa di sofa kamar itu.


"Kak Nai baik-baik saja?" Tanya Killa tiba-tiba.


"Tentu saja. Kenapa, La?" Sahut Naiki.


"Tidak apa. Hee..." Ucap Killa menampakkan deretan gigi putihnya. "Kak Nai, ayo ikut aku. Kak Nai belum pernah lihat foto-foto Kak Darel waktu masih kecil, kan?"


Naiki akhirnya mengikuti Killa dengan patuh. Mereka berjalan keluar kamar lalu memasuki sebuah ruangan yang cukup besar. Mungkin bisa dikatakan itu adalah ruang baca keluarga Gerandra. Banyak terdapat rak-rak buku di sana. Di tembok ruangan tersebut juga banyak terdapat foto-foto keluarga yang terbingkai dengan rapi.


Killa lalu membawa Naiki ke sebuah lemari yang tergolong berukuran kecil. Terdapat beberapa pintu di lemari itu. Setiap pintu telah ditempel label tahun dengan periode 5 tahun setiap pintunya. Killa membuka satu pintu. Ternyata di dalamnya terdapat beberapa album foto yang terawat dengan baik. Itu adalah album-album foto yang menyimpan kenangan masa kecil Darel dan Killa.


Killa lalu membawa beberapa album dan mengajak Naiki untuk duduk di sofa dalam ruangan itu. Mereka lalu mulai membuka sebuah album. Naiki tampak antusias membuka album foto itu. Terlebih lagi saat ia melihat wajah Darel semasa kecil. Entah mengapa, ada perasaan aneh di dalam hatinya.


Killa yang duduk di sampingnya juga bersemangat untuk menjelaskan kepada Naiki tentang memori dari foto-foto di dalam album itu. Mata Naiki lalu melihat sebuah foto yang menurutnya tidak asing dalam ingatannya. Baik itu dua orang anak yang berada di dalam foto, maupun latar dari foto tersebut.


Seketika Naiki tersentak. "Killa, apakah ini juga Darel?" Tanya Naiki. Killa pun mengangguk.


"Kenapa Kak Nai?" Tanya Killa heran.


"Tapi kenapa dia bisa berfoto denganku di sana?" Tanya Naiki kemudian. Killa terbelalak.


"I-itu Kak Nai? Itu serius Kak Nai?" Tanya Killa terbata. Naiki mengangguk dengan cepat.


Killa bingung apa yang terjadi dengan kakak iparnya. Ia lalu membereskan album-album tadi lalu menyimpannya kembali ke dalam lemari.


Sementara itu, Naiki terus berjalan dengan cepat mencari Darel. Ia bahkan sesekali berlari karena tidak sabar untuk bertemu suaminya itu. Ada sesuatu yang harus ia pastikan saat itu juga.


Naiki berlari ke ruang keluarga, ternyata tidak ada siapa pun di sana. Naiki bingung harus mencari Darel ke mana, karena kediaman Gerandra memang sangat luas. Naiki lalu berinisiatif untuk mencari Darel ke kamar. Mungkin saja dia lelah dan ingin beristirahat di sana, pikirnya.


Ceklek...


"Darel..." Panggil Naiki saat tiba di kamarnya. Tidak ada sahutan di sana.


Tiba-tiba Darel muncul dari dalam kamar mandi. Tubuhnya hanya terbalut handuk dari pinggang ke lutut. Tangan kirinya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Rambutnya yang terjatuh dan basah menambah ketampanan di wajahnya. Naiki terpana dan menelan salivanya perlahan.


"Ah, dia pasti menggodaku lagi nanti." Batin Naiki. Jantungnya mulai berdegup dengan kencang.


"Ada apa, Nai? Apa kau mencariku?" Tanya Darel sambil berjalan mendekati Naiki yang berdiri tidak jauh dari pintu kamar.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu." Sahut Naiki. "Ber-berpakaianlah terlebih dahulu." Perintah Naiki dengan wajah meronanya.


Darel tersenyum. "Ok baiklah, Nyonya." Ucapnya lalu membalikkan badan dan menuju ke ruang ganti pakaian.


Naiki menghela nafasnya lega. Ia lalu duduk di sofa menunggu Darel. Beberapa saat kemudian Darel pun keluar dari ruang ganti pakaian dan berjalan menuju sofa. Ia lalu duduk di sebelah Naiki.


"Ada apa?" Tanya Darel dengan suara beratnya.

__ADS_1


"Hiissshh...Bahkan suaramu pun memiliki daya tarik yang berbeda." Batin Naiki. Ia tidak berani menatap Darel.


"Nai...katanya mau nanya sesuatu." Ucap Darel lagi. Naiki tersentak.


"Eh, iya. Tadi aku diajak Killa melihat album foto. Di sana ada sebuah foto yang familiar menurutku." Ujar Naiki.


"Foto apa?" Tanya Darel.


"Fotoku dengan seorang anak laki-laki dengan latar kediaman Brata." Lirih Naiki.


Darel terkejut. Ia mengingat foto itu. Satu-satunya foto kenangannya bersama Naiki. Saat mereka akan berpisah, setelah Darel dan Vanya menemukannya di sebuah taman. Vanya sempat memotret mereka saat itu karena ia selalu membawa kamera ke mana pun ia pergi.


"Apakah itu kau, Darel?" Tanya Naiki. Darel mengangguk.


"Jadi, kau adalah bocah roti isi itu?" Tanya Naiki kembali.


Matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengingat setiap kejadian hari itu. Namun sayangnya, Naiki tidak mengingat nama dari orang-orang yang telah menolongnya. Pikiran Naiki seakan dipenuhi oleh kilas balik pengalaman pahitnya hari itu, hingga akhirnya ia bertemu dengan Darel dan diselamatkan. Airmata yang telah menggenang di matanya pun tumpah begitu saja.


"Iya, itu aku." Sahut Darel lirih.


Greppp....


Naiki memeluk Darel dengan erat. Darel tersentak.


"Terima kasih." Ucap Naiki pelan. "Dulu aku tidak sempat mengucapkan terima kasih padamu. Maafkan aku."


Darel mengangguk. Ia membalas pelukan Naiki dan nenepuk-nepuk punggung Naiki dengan pelan.


"Maafkan aku karena terlalu lama menemuimu." Lirih Darel.


Naiki melepaskan pelukannya. Ia lalu mengusap airmata di wajahnya. "Apa kau sungguh datang kembali ke rumah itu untuk mencariku?" Tanya Naiki. Darel mengangguk.


"Aku dan mama selalu mencarimu, Nai. Kau tahu, mama Vanya adalah teman dekat mamamu."


"Benarkah?" Mata Naiki berbinar. Darel mengangguk sambil menyelipkan rambut Naiki ke belakang telinga.


"Mama selalu mengawasimu dari jauh setelah ia tahu keberadaanmu. Hingga akhirnya mama memutuskan untuk menjodohkan kita berdua dengan bantuan kakek Caraka dan Kakek Gerandra." Jelas Darel.


"Kenapa kau tidak menemuiku saat tahu keberadaanku?" Tanya Naiki.


"Karena mama melarangku. Ia tidak ingin kau mengingat masa lalumu lagi, Nai. Termasuk hari itu. Karena hari itu adalah salah satu hari terburukmu, walaupun kami akhirnya datang dan menolongmu saat itu." Ujar Darel.


Naiki tertegun. Ia tidak menyangka, anak laki-laki yang memberinya roti isi kala itu, sekarang telah menjadi suaminya. Satu-satunya orang yang dapat ia sentuh sesuka hatinya. Seseorang yang sebenarnya selalu ditunggu kehadirannya oleh Naiki.


Naiki lalu mencium bibir Darel sekilas. Darel terkejut melihat Naiki berinisiatif menciumnya lebih dulu. Darel pun terpancing. Ia lalu menarik tubuh Naiki, menahan belakang kepala Naiki, dan mencium bibir istrinya itu dengan lembut. Tidak disangka Naiki membalas kecupan suaminya. Darel kemudian berhenti sejenak, memberi waktu kepada Naiki untuk menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Nafas Darel terdengar menderu kasar. Ia sepertinya sudah tidak sabar untuk melanjutkan latihan pernafasannya itu.


Setelah merasa cukup, Darel kembali melancarkan aksinya. Ia kembali menyesap bibir Naiki cukup lama, lalu beralih turun ke leher jenjang istrinya. Naiki hampir menggeliat karena ulah Darel. Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Naiki di depan pintu.


"Kak Naaaiii... Kau di mana? Apakah di kamar? Aku masuk, ya?" Killa berteriak dari depan pintu.


Darel dan Naiki tersentak. Mereka menghentikan aktifitas panas mereka dengan cepat. Darel dan Naiki lalu saling tatap dan dengan kompak menjawab perkataan Killa.


"JANGAAANNN!"

__ADS_1


**********


__ADS_2