Pewaris Asli

Pewaris Asli
79 Menuju Kediaman Brata


__ADS_3

Darel menatap heran pada Rhean dan Naiki yang keluar dari ruang rahasia itu sambil cekikan dan rangkulan.


"Ehem..." Darel berdehem.


Naiki dan Rhean pun menghentikan langkah mereka dan dengan reflek melepas rangkulan tangan mereka masing-masing.


"Lah, kenapa aku jadi merasa tepergok selingkuh? Situasi apa ini?" Gumam Naiki dalam hati. Ia menggaruk-garuk kepalanya bingung. Begitu pun dengan Rhean.


"Kenapa adik ipar lebih menyeramkan daripada kakak ipar ini?" Batin Rhean yang menjadi canggung karena tatapan tajam Darel.


Naiki lalu maju mendekati Darel yang menunjukkan ekspresi dingin. Naiki tersenyum lebar lalu meraih tangan Darel dan menggenggamnya.


"Ayo jalan!" Seru Naiki kemudian.


Mereka lalu bergegas menuju ruang Kepala Panti Asuhan, berpamitan, dan segera pulang ke kediaman Caraka. Perjalanan mereka tempuh kurang lebih satu jam. Naiki tampak lelah, karena hari sudah lewat tengah hari. Ia pun tertidur di lengan Darel dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan suaminya itu.


Saat tiba di kediaman Caraka, kakek Caraka mempersilahkan Wisnu untuk beristirahat dan makan siang terlebih dahulu. Bahkan, kakek Caraka juga meminta Wisnu untuk menginap satu malam lagi. Namun, Wisnu yang merasa urusannya kali ini sudah selesai, segera berpamitan untuk kembali ke villanya.


Sepertinya Kakek Caraka dan Rhean tidak dapat menahan Wisnu lebih lama. Sedangkan Naiki sendiri masih terlelap dan sudah digendong Darel menuju kamar mereka. Wisnu pun berlalu pergi.


Sementara itu, Darel menggendong istrinya ke kamar mereka yang terletak di lantai 2. Ia lalu merebahkan tubuh istrinya itu dengan hati-hati ke atas ranjang. Darel melepas sepatu yang Naiki kenakan, melepaskan jaket Naiki, dan mencium kening Naiki dengan penuh kasih.


Darel lalu pergi keluar kamar dan menuju ruang tengah untuk mengobrol dengan Kakek Caraka sambil menunggu para pelayan menyelesaikan hidangan makan siang mereka.


"Apa Nai masih tidur?" Tanya Kakek Caraka.


"Iya, Kek." Sahut Darel sembari duduk di sofa tidak jauh dari Kakek Caraka.


"Bisa-bisanya dia tertidur di mobil dan tidak sadar sudah di angkat sampai ke kamar." Tukas Kakek Caraka sambil geleng-geleng kepala. Darel tertawa kecil mendengar umpatan Kakek Caraka.


"Nai memang sering seperti itu, Kek!" Ucap Darel.


"Benarkah? Bukankah dia sangat menggemaskan?" Seru Kakek Caraka dengan mata berbinar.


"Hahaha...iya, Kek. Nai memang sangat menggemaskan." Ucap Darel dan tersipu.


"Ih, bucin!" Umpat Rhean yang tiba-tiba lewat dan tidak sengaja mendengar obrolan Darel dan Kakek Caraka.


"Hei, Cucu tengik! Mau ke mana?" Ucap Kakek Caraka yang memang selalu seenaknya saat memanggil Rhean, begitupun dengan Naiki.


Kalau Naiki gadis tengil, sedangkan Rhean biasanya akan disebutnya Bocah Tengik. Namun, kasih sayang kakek terhadap Rhean dan Naiki memang tak terhingga.

__ADS_1


"Aku mau ketemu istri dan anakku, Kek! Memangnya mereka saja apa yang bisa mesra-mesraan." Sungut Rhean yang masih kesal karena ditatap dengan dingin oleh Darel saat di Panti Asuhan tadi.


"Sini sebentar!" Panggil Kakek Caraka.


Rhean pun menuruti perkataan Kakek lalu duduk di sofa panjang yang sama dengan Kakek Caraka.


"Kenapa, Kek?" Tanya Rhean.


"Apa yang kalian rencanakan tadi?" Tanya Kakek Caraka yang mulai penasaran dengan sikap cucu-cucunya.


"Oh itu, Si Nai mau ngerjain Si Tua Bangka Brata, Kek!" Ucap Rhean santai.


"Hei, dia Bapakmu, Bocah Tengik!" Protes Kakek Caraka.


"Iya iya, tapi kan benar dia sudah tua." Tukas Rhean tidak mau kalah. Kakek Caraka hanya menghela nafasnya dalam.


"Lalu, ngerjain bagaimana maksudmu?" Tanya Kakek penasaran.


"Aku sama Nai mau jadiin dia dan adiknya tunawisma sore nanti." Ucap Rhean yang telah berdiri dan ingin beranjak pergi.


Ia pusing menjawab pertanyaan-pertanyaan Kakek Caraka. Namun, Kakek Caraka kembali mencegahnya.


"Maksudmu, mau ngusir Brata dan adiknya ke luar dari rumah?" Serbu Kakek Caraka yang semakin penasaran.


"Kenapa tidak ajak kakek?" Tanya Kakek Caraka yang kemudian membuat Rhean dan Darel terkejut.


"Kakek di rumah saja ya, biar anak muda yang beraksi." Cetus Rhean yang bingung mesti bagaimana menenangkan Kakek yang suka punya keinginan aneh itu.


Rhean lalu bergegas pergi meninggalkan ruang tengah. Tiba-tiba dari arah tangga tampak sosok Naiki yang mengucek-ucek matanya karena habis bangun tidur. Ia berjalan gontai mendekati Darel dan Kakek.


"Kakek, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Naiki polos sambil sesekali menguap.


"Oh, tidak ada Sayang Kakek. Itu tadi ada cucu tengik dan cucu tengil mau berbuat onar di rumah orang lain, tapi tidak mau ajak kakek." Cetus Kakek Caraka manyun.


Naiki yang memang belum sadar 100%, memandang ke suaminya seakan bertanya apa yang dialami kakek sebelum ia terbangun dari tidur siangnya. Namun Darel hanya mengangkat tangan dan bahunya seolah berkata tidak tahu, kemudian ia pun tertawa.


"Permisi, Tuan. Makan siang telah siap." Ucap Wilson yang datang dari arah dapur.


"Oh iya,. terima kasih Wilson. Hhhhm, oh ya, tolong kau panggilkan Rhean dan Elis di kamar mereka. Katakan kita akan makan siang bersama sekarang." Perintah Kakek Caraka pada Wilson.


"Baik, Tuan." Sahut Wilson lalu beranjak pergi.

__ADS_1


Keluarga itu pun akhirnya makan siang bersama walaupun sedikit telat. Setelah menyelesaikan makan siang mereka, dan bersiap-siap dengan pakaian serba hitamnya serta sepatu ketsnya, Naiki, Rhean, dan Darel pun pergi menuju kediaman Brata.


Beberapa menit kemudian, mereka bertiga pun tiba di kediaman Brata, tidak lupa mereka membawa beberapa bukti pendukung.


Dengan mudah Naiki melewati staff keamanan yang terdiri dari empat orang security di depan rumah Brata. Mereka semua terkapar karena diberi pelajaran oleh Naiki, Rhean, dan Darel.


Naiki sedikit heran, mengapa kediaman Brata tidak seketat dahulu, pada saat ia, Rhean, dan Alya masih berada di sana. Mereka bertiga dengan mudah sudah menginjakkan kaki di dalam rumah yang diklaim Brata adalah miliknya tersebut.


Tiba-tiba salah seorang ART datang dengan tergopoh-gopoh ke ruang tengah mereka


"A-ada yang bi-bisa bantu, Nyonya, Tuan?" Sapa ART tersebut dengan sedikit gemetar.


"Apakah Tuanmu belum kembali?" Tanya Naiki dingin.


"Be-belum." Jawab ART tersebut.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Segera kemas semua pakaiannya dan lemparkan keluar dari rumah ini. Kau tahu kenapa?" Tanya Naiki yang sengaja terlihat sadis di depan ART itu.


"Maaf, a-aku t-idak tahu, Nona." Jawab pelayan itu gemetaran.


"Karena rumah ini bukanlah rumahnya. Paham?" Ucap Naiki sembari duduk di atas sofa dan mengangkat kakinya ke atas meja tamu.


"Heh, Tua Bangka itu tidak ada di sini. Awas kau, kalau ketemu denganku!" Ancam Naiki sambil tersenyum smirk.


**********


💙💙💙💙💙


Wah...hampir aja ngga up hari ini.


Hari minggu sudah puasa kan, ya? Maafin kalo ada salah-salah kata ya guys.


Kurangin baca novel atau komik yang bikin "panas" yaa, biar puasanya ngga batal, hayoo loooo ngaku... 🤭🤭


Selamat berpuasa yaa buat yang menjalani...


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...

__ADS_1


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2