Pewaris Asli

Pewaris Asli
98 Penyelesaian 3


__ADS_3

Naiki menemui Darel kembali setelah puas bermain dengan Steffanie. Darel menyambutnya dengan senyuman dan pelukan.


"Apa kau lelah?" Tanya Darel penuh perhatian. Naiki menggeleng.


"Aku masih bisa menghajar orang sebanyak 10 orang." Jawab Naiki asal.


"Kalau begitu ayo kita pulang. Kau cukup melawanku saja malam ini, tidak perlu yang lain." Ucap Darel sembari merangkul Naiki dan membawanya keluar dari gedung itu.


"Kau benar-benar makin mesum, Tuan Muda!" Cetus Naiki yang terlihat pasrah dibawa Darel kembali ke rumah.


Darel dan Naiki pun kembali ke kediaman pribadi mereka. Darel bertanya banyak hal pada Naiki selama di perjalanan pulang. Ia juga bertanya mengapa Naiki tidak membiarkan Mike melepaskan ikatan tangan dan kaki Steffanie saja? Toh, Steffanie juga tidak mungkin dapat pergi jauh karena tidak ada kendaraan umum yang lewat di sekitar gedung itu. Karena letak gedung yang sedikit di pinggiran kota dan bukan jalan lintas, melainkan jalan menuju kawasan industri, maka jalanan di sana pun hanya di lewati kendaraan-kendaraan angkutan seperti truk untuk mengangkut beberapa bahan baku industri.


Naiki memikirkan kalimat Darel berkali-kali. Lagipula dengan kondisi fisik Steffanie yang sudah lemah itu, sangat tidak mungkin dia dapat kabur terlalu jauh. Terlebih lagi daerah itu adalah kawasan industri milik Gerandra Corp.


"Apa kau bisa menelepon Mike, dan meminta ia melepaskan ikatan Steffanie, Sayang? Dan juga katakan pada mereka,wanita tua itu tidak perlu diawasi." Pinta Naiki.


Darel tersenyum dan mengusap kepala istrinya dengan tangan kirinya. Ia lalu menghubungi Mike dan menyampaikan pesan Naiki kepada pengawalnya itu.


"Ok, beres." Ucap Darel setelah menutup panggilannya pada Mike.


************

__ADS_1


Sementara itu di markas, Steffanie telah dibawa beberapa pengawal menuju belakang gedung misterius itu. Ia diletakkan 50 meter di belakang. Di sebuah tempat yang tidak ada pepohonan untuk berteduh baik itu dari hujan, maupun dari terik matahari. Ikatan di tangan dan kakinya telah dilepaskan seperti perintah Naiki. Steffanie masih pingsan saat para pengawal meninggalkannya di sana. Entah hewan apa saja yang dapat ditemui Steffanie di sana. Naiki, bahkan para pengawal itu pun tidak perduli.


Waktu terus bergulir. Saat dini hari, Steffanie akhirnya membuka matanya yang berat. Ia terbangun karena hujan mulai turun dan membasahi tubuh serta wajahnya. Steffanie bertanya-tanya di manakah ia berada sekarang. Ia berusaha untuk duduk dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Di mana ini?" Lirihnya bingung.


Ia lau menatap ke sekelilingnya. Hanya terdapat rerumputan di sekitarnya yang sudah mulai tinggi. Ia laku jauh memandang ke depan, tampaklah sebuah gedung tinggi yang tidak lain adalah markas para pengawal Gerandra, namun Steffanie tidak tahu itu. Ia lalu berusaha untuk bangkit dengan kaki gemetar. Matanya seolah-olah mencari apakah ada yang dapat menolongnya untuk kabur dari sana.


Dengan perlahan ia mulai melangkahkan kakinya. Hujan turun semakin deras. Membuat pandangan Steffanie semakin buram. Ia terus berjalan tak tentu arah. Wanita itu merasa dapat mendengar suara kendaraan yang sesekali lewat tidak jauh dari sana. Ia mulai mencari-cari jalan untuk menemukan jalan raya, berharap bila bertemu jalan raya, ia dapat meminta tolong pada orang yang lewat.


Steffanie terus melangkah dengan tertatih. Sesekali tubuhnya terjatuh karena tidak sengaja menyandung batu. Terkadang, sambil melangkah mulutnya juga tidak lupa melontarkan kalimat-kalimat kotor yang ditujukan untuk Naiki. Sungguh, tidak ada kata menyesal dalam kamus Steffanie.


Steffanie sudah berjalan lebih dari tiga puluh menit, namun ia tak kunjung sampai ke pinggir jalan raya yang diharapkannya. Padahal, ia merasa sudah sangat jauh berjalan. Kenyataannya, Steffanie baru saja berjalan sejauh dua puluh meter saja.


"Aku yakin tadi mendengar suara kendaraan dan sinar lampu kendaraan di ujung sana." Ucap Steffanie yang kembali terduduk di tanah yang basah dengan air hujan.


"Naiki BRENGSEEKKKK!" Jeritnya di tengah hujan deras. Rasa bencinya pada keponakannya itu semakin menjadi-jadi.


Nafas Steffanie tersengal, karena berteriak sambil menyumpahi Naiki. Beberapa saat kemudian, terdengar suara gemuruh di langit yang membuat malam itu semakin mencekam untuk Steffanie. Petir mulai menyambar, hujan pun semakin deras, membuat kulit Steffanie yang penuh luka semakin terasa sakit karena terkena tetesannya.


Steffanie kembali bangkit. Tubuh yang lemah, tidak menjadi penghalang baginya. Menurutnya, hujan deras itu adalah satu-satunya cara agar dapat kabur dengan leluasa, karena tidak akan ada yang dapat melihatnya dengan jelas.

__ADS_1


Steffanie berjalan dan terus berjalan dengan pelan. Hingga tiga puluh menit pun kembali berlalu. Steffanie semakin dekat dengan jalan raya yang ditujunya, namun sayang, kesadarannya mulai berkurang. Ia terus melangkah dengan pandangan kabur dan tidak menyadari bahwa kakinya mulai menginjak jalan aspal. Steffanie melangkah dengan gontai, dengan mata setengah terbuka. Hingga ia tidak sadar, sebuah dump truk melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.


BRAAAAKKKK...


Tubuh lemah Steffanie tertabrak truk dengan sangat keras lalu terpental sejauh sepuluh meter dan terbanting ke aspal. Darah menyembur sangat banyak dari kepalanya saat itu. Darah itu lalu mengalir bercampur dengan derasnya hujan malam itu. Steffanie tewas di tempat. Tanpa ada yang menemani dan tanpa ada yang peduli dengannya. Juga tanpa sepeser pun harta di tubuhnya.


Steffanie meregang nyawa dengan cara yang tidak jauh berbeda dengan Alya. Kakak iparnya yang dengan tanpa perasaan telah ia bunuh demi mendapatkan harta. Tubuh Steffanie bahkan sudah sulit untuk dikenali, karena wajahnya yang hancur akibat benturan keras pada truk dan juga aspal.


**********


💙💙💙💙💙


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2