Pewaris Asli

Pewaris Asli
96 Penyelesaian 1


__ADS_3

"Paman, bolehkah kami memanggilmu Papa?" Tanya Naiki tiba-tiba.


Wisnu tersenyum. Terlihat bulir airmata di ujung pelupuk matanya. Wisnu sangat terharu mendengar kalimat dari Naiki. Namun kemudian Wisnu menggeleng.


"Kenapa?" Tanya Naiki.


"Karena Papa kalian tetap dia." Jawab Wisnu sambil tersenyum. "Tapi, kalian bisa memanggilku dengan sebutan Ayah." Imbuh pria paruh baya itu.


Naiki dan Rhean tersenyum lebar mendengarnya. Mereka terlihat bahagia karena mendapatkan sosok ayah yang mereka idamkan. Darel pun ikut tersenyum melihat kebahagiaan mereka.


Mereka mengobrol cukup lama dan dilanjutkan dengan makan siang bersama. Setelah makan siang, Naiki, Darel, dan Rhean pamit untuk pulang dan berjanji akan sering mengunjungi ayah angkat mereka itu.


"Apakah kita langsung pulang ke rumah?" Tanya Darel yang kali ini gantian menyetir karena saat perjalanan pergi, Rhean lah yang menyetir.


"Ya, aku sangat lelah." Sahut Naiki yang duduk di belakang.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam, mereka pun tiba di kediaman besar Caraka. Saat mereka tiba, Kakek Caraka sedang menata tanamannya di halaman depan. Karena hari sudah mulai sore, Kakek Caraka pasti melakukan rutinitasnya untuk mengurus tanaman-tanaman hiasnya.


"Sore, Kek!" Sapa Darel lalu mencium punggung tangan Kakek Caraka.


Kakek Caraka tersenyum. Pandangannya lalu beralih ke dua orang cucunya yang berjalan ke arahnya. Mereka berdua lalu mencium tangan kakek Caraka bergantian.


"Darimana saja?" Tanya Kakek Caraka.


"Dari rumah ayah." Jawab Naiki.


"Ayah?" Tanya Kakek Caraka heran.


"Mulai hari ini, kami punya ayah angkat, Kek." Celetuk Rhean.


"Benarkah? Siapa?" Kakek Caraka terlihat penasaran.


"Ayah Wisnu." Sahut Rhean dan Naiki serentak.


Mereka lalu menyeritakan perjalanan mereka ke vila Wisnu di daerah pegunungan hingga apa saja yang mereka obrolkan. Kakek pun tersenyum. Ia ikut bahagia melihat kedua cucunya memiliki sosok ayah sekarang, walaupun tidak sedarah.


Saat sedang mengobrol, tiba-tiba ponsel Darel berbunyi. Darel laku meraih ponselnya di kantong celana. Ternyata Mike yang menelepon. Darel pun berjalan sedikit menjauh dari yang lain.


"Ada apa, Mike?" Tanya Darel.


"Tuan, wanita tua ini menggila. Sejak tadi dia berteriak-teriak dan menyumpahi Nyonya yang tidak tidak. Dia juga berkata ingin sekali bertemu dengan Nyonya dan.....membunuhnya. Apa yang harus kami lakukan?" Ujar Mike.

__ADS_1


"Kalian tutup saja mulutnya dengan lakban atau sejenisnya. Selebihnya, akan aku kabari lagi nanti." Ucap Darel. Mike pun memutuskan panggilan teleponnya.


"Ada apa?" Tanya Naiki yang sudah berada di belakang Darel. Darel pun menoleh dan meraih bahu Naiki lalu merangkulnya.


"Wanita tua itu berulah. Sepertinya dia sudah tidak sabar bertemu denganmu." Sahut Darel.


"Nanti malam kita ke markas. Aku mau istirahat sebentar sekarang." Jawab Naiki. Darel pun mengangguk.


***********


Naiki dan Darel telah selesai makan malam bersama Kakek Caraka, Rhean, dan Elis. Malam ini mereka berencana berkunjung ke markas pengawal Gerandra. Naiki berencana mengajak Rhean, namun diurungkannya karena waktu tidak akan cukup apabila dia juga menemui Brata setelah menemui Steffanie. Jadi, Naiki memutuskan untuk mengunjungi Brata dilain hari.


Naiki telah siap, begitu pun dengan Darel. Sebelum berangkat, tampak Rhean menyusul mereka hingga ke pintu depan.


"Hei, bocah tengil! Apa yang kau lakukan dengan mobil baruku?" Teriak Rhean dari ambang pintu.


Naiki pun tertawa renyah. Ia ingat, kemarin ia meminta Daniela membawa mobil Rhean dan terjadilah insiden penculikan tersebut. Namun ternyata, Daniela membuat mobil sport yang baru Rhean beli itu menjadi rusak di beberapa bagian akibat menabrak dua unit motor preman yang mengejarnya.


"Hiiish...pasti mahal biaya perbaikannya." Rutuk Naiki sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Darel pun tertawa melihat tingkah istri dan kakak iparnya itu. Ia lalu mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya pada Rhean. Naiki yang melihat Darel memberikan sebuah kartu pada kakaknya pun tersenyum sumringah.


"Hahaha...Ok baiklah. Hati-hati di jalan." Sahut Rhean sambil melambaikan tangannya lalu berlalu masuk ke dalam rumah.


"Heiii...aku pikir kau akan menanggung semua biayanya!" Protes Naiki. Darel tidak menggubrisnya dan langsung berjalan menuju mobil.


"Daareeellll..." Teriak Naiki kesal.


"Ayo, Sayang! Hari semakin larut. Jangan buang-buang waktu lagi!" Teriak Darel dari dalam mobil. Naiki pun berjalan dengan malas menuju mobil dan duduk di samping suaminya. Mereka pun berangkat menuju markas pengawal Gerandra.


Empat puluh menit berlalu, mereka akhirnya tiba di markas. Darel dan Naiki bergegas masuk ke gedung misterius itu. Mereka disambut oleh Mike dan diantar menuju ruang penyekapan Steffanie.


Di dalam ruangan 9 meter persegi itu, Steffanie diikat tangan dan kakinya. Mulutnya ditutup oleh lakban yang sangat erat. Tampak lingkaran hitam sudah menghiasi wajahnya.


Naiki berhenti di depan pintu ruangan itu. Ia lalu menoleh ke arah Darel kemudian ke Mike.


"Ada apa?" Tanya Darel.


"Bagaimana suhu di ruangan tersebut?" Tanya Naiki.


"Ruangan itu menggunakan AC central seperti ruangan lainnya, Nyonya. Saat ini suhu di ruangan itu adalah 27 derajat celcius." Jawab Mike.

__ADS_1


"Apakah bisa diturunkan lagi menjadi 16 derajat celcius?" Tanya Naiki lagi. "Dan juga, tolong siapkan seember air dingin untukku."


Mike lalu melaksanakan perintah Nyonya Mudanya, dibantu oleh salah satu bawahannya. Tidak sampai lima menit, apa yang dipinta Naiki pun sudah siap.


Naiki lalu membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Ia kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan itu dengan sangat hati-hati sambil membawa seember air dingin di tangan kirinya. Ia melangkah tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Dilihatnya, Steffanie sedang meringkuk di sudut ruangan dengan mata yang tertutup. Naiki pun tersenyum licik. Ia lalu merasakan suhu ruangan yang sudah semakin dingin. Naiki kemudian berjalan semakin dekat dengan Steffanie dan... BYUUUURRRR... Naiki mengguyur tubuh Steffanie dengan air dingin yang dibawanya.


Steffanie meronta. Ia berusaha berteriak, namun mulutnya dibekap. Naiki lalu menarik lakban yang menutupi mulut Steffanie dengan kasar.


"AAAKKHHH...Brengsek kau, anak sial!" Caci Steffanie yang merasakan sakit dikulit wajahnya. Naiki hanya tersenyum sinis ke arah Steffanie yang sudah basah kuyup.


Tubuh Steffanie mulai bergetar karena menahan dingin. Suhu ruangan yang rendah, membuat tubuhnya yang basah semakin menderita.


"Apakah dingin?" Tanya Naiki.


Steffanie tidak menjawab. Bibirnya mulai bergetar, giginya pun sudah mulai gemerutuk karena dingin.


"Apa kau ingat, aku dan Rhean pernah kau biarkan hujan-hujanan dan tidak kau kasih makan?" Hardik Naiki. "Kau tahu, cuaca saat itu benar-benar dingin. Aku dan Rhean menggigil, berharap kau menolong kami, tapi kau bahkan tidak melirik sedikit pun kepada kami saat itu." Ujar Naiki, mengenang masa lalunya yang pahit.


"Kalian harusnya mati waktu itu!" Hina Steffanie.


PLAAAKKKK...


Satu tamparan mendarat di pipi Steffanie. Tamparan Naiki sangat keras hingga menyebabkan hidung Steffanie mengeluarkan darah.


"Aaakkkhhh...Dasar anak sial! Anak Si j4l4ang Alya. Kau pantas mati!" Teriak Steffanie.


**********


💙💙💙💙💙


Ciiieeee....yang senyum-senyum sendiri karna THR udah caiiirrr... Nantik nangis lho! THRnya mampir doang 🤭🤭🤭


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2