Pewaris Asli

Pewaris Asli
34 Emosi Steffanie


__ADS_3

Naiki dan Darel makan malam dengan canggung. Mereka sama-sama malu untuk memulai obrolan lebih dulu. Hingga makan malam usai, Darel akhirnya bersuara.


"Biar aku saja yang membereskannya." Ucap Darel pada Naiki.


Malam ini para pelayan kembali lebih awal ke kediaman Gerandra. Tidak seperti hari sebelumnya, mereka menunggu Tuan dan Nyonya mereka selesai makan malam terlebih dahulu, baru kembali. Jadi kali ini Darel berinisiatif untuk membereskan meja makan dan membasuh piring di dapur.


"Kau yakin bisa melakukannya?" Tanya Naiki.


"Kau terlalu meremehkanku, Nyonya." Sahut Darel sambil membereskan perlengkapan makan di atas meja makan.


Darel memang terlahir dari keluarga kaya. Bahkan ia tidak pernah merasa kekurangan selama hidupnya. Namun, setiap pekerjaan rumah tangga harus Darel pelajari. Dia bahkan sudah bisa mencuci piring sendiri saat berumur 6 tahun. Itu semua adalah didikan mama Vanya yang tidak ingin anak-anaknya menjadi manja. Ia ingin anak-anaknya menjadi sosok yang dapat bertahan walaupun tanpa pelayan di sisi mereka.


Naiki lalu mengikuti Darel yang membawa piring-piring kotor ke dapur. Ia lalu bersandar di tembok, memperhatikan pekerjaan Darel.


"Apa butuh bantuan?" Tanya Naiki kemudian. Darel tersenyum mendengarnya.


"Tidak usah." Sahut Darel.


Naiki tetap tidak beranjak dari tempatnya. Entah mengapa ia tertarik melihat Darel yang mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti saat ini.


"Kau suka makan apa?" Tanya Naiki dengan muka datar.


Darel menghentikan pekerjaannya lalu menoleh ke arah Naiki. "Kenapa? Aku suka apa saja dan tidak ada alergi apa pun." Jawab Darel.


"Besok biar aku yang masak untuk makan malam." Ucap Naiki lalu berlalu pergi.


Darel tersenyum mendengar perkataan Naiki. Ia merasa sudah tidak sabar untuk menunggu hari esok. "Tapi...apa dia benar-benar bisa masak?"


**********


Pagi pun menyapa. Hari ini, Ivan berencana mendiskusikan kerjasama kepada Brata Corp dan ia telah melaporkan hal itu kepada Naiki via pesan teks sehari sebelumnya.


Naiki sebenarnya sangat ingin muncul di hadapan Brata sebagai Rhea. Namun, Darel mencegahnya. Alasan Darel, ini hanya permulaan. Naiki dapat muncul disaat yang lebih tepat nantinya.


Jadi, hari ini Naiki menjalani hari seperti biasa sambil menunggu kabar dari Ivan. Ia mengerjakan pekerjaannya dengan santai. Sesekali ia juga mencoba membuka CCTV Brata Corp dan melihat pergerakan Niko, Sonya, serta Steffanie yang memang tidak ikut dalam pertemuan dengan Caraka Corp. Tidak ada yang aneh dari ketiga orang itu. Jadi Naiki berhenti mengawasi mereka.


Drrtt...


Handphone Naiki bergetar. Satu pesan dari Ivan dibukanya.


[Nona, berkas itu sudah di tangan Brata sekarang. Ia datang bersama Direktur Brata Corp dan asistennya. Mereka meminta waktu untuk mempelajari dokumen itu. Karena menurut mereka, permintaan Nona sedikit rumit.]

__ADS_1


Naiki tersenyum dingin membaca pesan dari Ivan. Ia lalu membalas pesan tersebut.


[Jadi, berapa lama kau memberi mereka waktu?]


[Tiga hari, Nona.]


[Ok baik. Adakan meeting dengannya akhir pekan ini. Aku akan datang.]


Naiki menaruh handphonenya kembali ke atas meja. Ia lalu melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba handphonenya kembali bergetar. Ternyata ada panggilan masuk dari Elis.


"Hhhmm..." Ucap Naiki malas.


"Adik ipar durhaka. Haruskah seperti itu caramu mengangkat telepon?" Semprot Elis.


"Ada apa? Aku sedang bekerja. Nanti atasanku marah." Ucap Naiki memberikan alasan.


"Hahaha...kau terdengar lucu, manusia salju. Bagaimana rasanya jadi bawahan?"


Naiki mencebikkan bibirnya. "Hiiisssh...Ayolah Elis! Apa yang ingin kau katakan?"


"Ada Darel kemari. Dia bilang kau berjanji akan melakukan terapi akhir pekan ini. Dia membuat janji padaku, mewakilimu. Sepertinya dia tahu kau tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Benar kan yang aku katakan?"


"Aku serius. Tidak usah khawatir. Atur saja jadwalnya. Eh, tapi jangan sore atau malam. Aku ada jadwal meeting hari itu." Sahut Naiki.


Naiki menghela nafasnya. "Hampir saja aku lupa masalah terapi itu".


Sisi menoleh ke arah Naiki. Penasaran, ia lalu bertanya kepada Naiki.


"Akhir pekan meeting, Nai? Dengan siapa?" Tanya Sisi ingin tahu. Ia adalah sekretaris Naiki saat ini, namun ia belum dapat informasi masalah meeting yang akan dilakukan Naiki akhir pekan nanti.


"Dengan Brata." Ucap Naiki sedikit berbisik.


"Apa? Kau yakin? Bukankah Nona Rhea tidak pernah melakukan meeting langsung?" Balas Sisi dengan berbisik juga.


"Tenang saja. Aku tahu yang aku lakukan." Jawab Naiki yang membuat Sisi langsung diam dan tidak berani berkomentar apa pun lagi.


Beberapa menit berlalu. Brata akhirnya tiba kembali di perusahaannya. Ia bergegas menuju ruangannya dan memanggil Steffanie untuk membicarakan masalah permintaan Nona Rhea Caraka padanya.


Steffanie buru-buru pergi ke ruangan kakaknya. Terdengar suara heels yang mengetuk-ngetuk lantai ketika ia berjalan. Walaupun sudah kepala lima, Steffanie masih sanggup berjalan jauh menggunakan highheelsnya.


"Ada apa, Kak?" Tanya Steffanie setelah melewati pintu ruangan Brata dan menutupnya kembali.

__ADS_1


"Baca dokumen ini." Ucap Brata sambil menyodorkan dokumen Caraka Corp kepada Steffanie.


Steffanie lalu membaca isi dokumen tersebut dengan serius. Dibukanya halaman demi halaman. Keningnya semakin berkerut saat membaca dokumen itu lebih dalam.


"Bukankah ini sama saja dengan ingin memiliki perusahaan ini, Kak?" Cetus Steffanie. Darahnya mendadak mendidih.


"Pembagian hasilnya juga tidak adil menurutku." Steffanie lalu melempar dokumen itu ke atas meja.


"Tapi mereka bersedia berinvestasi lebih besar dari yang kita ajukan." Ucap Brata. Steffanie terdiam.


Dalam proposal sebelumnya, Brata Corp mengajukan kerjasama dengan meminta Caraka Corp berinvestasi sebesar 70 milyar. Ternyata Caraka Corp bersedia berinvestasi sebesar 100 milyar dengan syarat, pembagian keuntungan adalah 75% untuk Caraka Corp, dan 25% untuk Brata Corp.


Mereka juga mengusulkan agar Brata menjual 30% saham Brata Corp kepada CEO Caraka Corp. Hal ini lah yang membuat Steffanie protes. Brata saat ini memiliki 40% saham, Steffanie 20%, Niko 5%, Sonya 5%, dan sisa 30%-nya terbagi menjadi bagian-bagian kecil yang dimiliki beberapa orang pemegang saham.


Brata harus memikirkan keputusan terbaik untuk situasi saat ini. Jika memang Nona Rhea Caraka menginginkan saham 30%, ia harus memikirkan saham siapa saja yang akan dipaksanya untuk dijual kepada Nona Rhea Caraka.


"Tapiiii....aku tidak mau menjual sahamku." Ucap Steffanie ketus.


"Aku yang mengambil keputusan di sini. Bukan kau." Bentak Brata.


Steffanie tersentak. Ingin sekali ia melampiaskan kemarahannya pada Brata, namun ia lebih memilih diam.


"Bantu aku memikirkan jalan keluarnya dalam tiga hari ini. Jika kita menolak permintaan mereka, kau tahu apa yang akan perusahaan ini alami." Ucap Brata.


"Ok baiklah." Lirih Steffanie lalu bergegas meninggalkan ruangan Brata.


Di lain tempat, tampak Naiki tersenyum dingin di kursinya. Ternyata ia memerhatikan Brata dan Steffanie melalui CCTV sejak tadi. Tidak ada suara yang Naiki dengar, namun ia tahu, Brata dan Steffanie sedang kebingungan saat ini.


"Akan aku tambah beban pikiranmu, Steffanie." Batin Naiki sambil tersenyum licik.


Ia lalu mengotak-atik laptopnya. Mengatur agar tidak ada yang dapat melacak keberadaannya. Lalu Naiki mengirimkan salah satu video tidak bermoral Niko ke ponsel Steffanie dengan keterangan, "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Layak menjadi anak dari wanita j4lang."


Steffanie yang sudah tiba di ruangannya pun melihat ada satu pesan masuk ke ponselnya. Ia lalu membuka pesan itu. Matanya melotot dan tangannya bergetar saat melihat pesan yang dikirim seseorang kepadanya. Tanpa sadar, ia lalu melempar ponselnya ke lantai hingga hancur. "Aaaarrrrrgghhh" Teriak Steffanie histeris.


Naiki tertawa melihat respon Steffanie melalui CCTV. Seperti dugaannya, emosi Steffanie sangat mudah untuk dipermainkan. Naiki jadi semakin bersemangat dan mendapatkan ide-ide lain untuk mengerjai Steffanie lain hari nanti.


**********


makasih yaa, udah mampir baca.


jangan lupa like, komen, dan vote author yaa guys...

__ADS_1


💙💙💙💙💙


__ADS_2