Pewaris Asli

Pewaris Asli
91 Gudang Tua


__ADS_3

Hari menjelang sore. Jam kantor memang belum usai. Namun mobil sport milik Rhean telah keluar dari gerbang Caraka Corp. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalanan dari ramai, hingga sepi seperti saat ini.


DOOORRR....


Suara tembakan berkali-kali terdengar di jalanan yang sepi itu. Sebuah jalan menuju kediaman Caraka yang memang terletak paling ujung setelah melewati jalur hijau dan perumahan elite.


"SIAL! Mereka terus mengejarku."


Mobil sport milik Rhean itu kemudian mengerem dan banting setir ke arah berlawan hingga berputar dan menghantam kedua motor yang mengikutinya. Wanita berparas dingin serta mengenakan masker pun turun dari mobil dengan menggenggam sebuah senjata api di tangannya dan langsung membidik keempat orang yang mengikutinya.


Tiba-tiba dia berlari dengan kencang dan menerjang ke arah kedua pria yang berusaha berdiri kembali. Kedua pria itu pun kembali tersungkur ke aspal. Wanita itu lalu mengambil senjata api kedua pria tadi dan menyelipkan di pinggangnya sambil menginjak salah satu kepala pria yang mengejarnya tadi.


Matanya kemudian dengan cepat beralih pada dua orang di sisi berlawan yang sudah kembali berdiri dan siap membidiknya kembali dengan pistolnya. Ia lalu dengan cepat menunduk dan menarik tubuh pria di dekatnya kemudian menjadikan tubuh pria itu sebagai tamengnya.


DOOORRR... DOOORRR.... DOOORRRR...


Beberapa timah panas dengan cepat melesat dan mengenai tubuh rekannya sendiri. Wanita itu menyeringai di balik maskernya, kemudian membalas dengan beberapa tembakan ke arah dua pria yang menyerangnya dan tepat sasaran. Satu peluru menembus perut kanan pria yang menembak ke arahnya, sedangkan satu lagi menembus paha kirinya. Wanita itu kembali menembak dan tepat mengenai tangan pria yang memegang pistol. Hingga pistol itu pun terlepas dari tangannya.


Wanita itu lalu menyingkirkan tubuh pria yang ia jadikan tameng dan dengan cepat bergerak ke arah kedua pria yang ditembaknya tadi. Ia lalu menendang senjata milik pria itu hingga terlempar ke bawah mobil sport yang digunakannya. Tidak sampai di situ, ia juga melayangkan tinjuan ke wajah pria yang sudah tidak berdaya di hadapannya.


"BRENGSEK! KAU PASTI MATI HARI INI!" Teriak pria yang tertembak di bagian paha.


Wanita itu lalu maju beberapa langkah dan menarik kerah baju pria yang meneriakinya.


"Katakan, siapa yang mengirim kalian?" Gertak wanita itu.


Belum sempat pria itu menjawab, tiba-tiba sebuah pistol menempel di pelipis wanita itu.

__ADS_1


"Jangan macam-macam jika kau tidak ingin mati di sini!" Ancam pria yang tidak lain adalah Marco.


Wanita itu menyeringai di balik maskernya. "Bingo! Yang ditunggu akhirnya tiba." Batinnya.


Ia lalu melepaskan kerah yang digenggamnya, kemudian melepaskan pistol di tangan kanannya. Ia pun berdiri sambil mengangkat tangannya.


"Bagus, ternyata kau penurut juga, Nyonya muda Gerandra. Atau aku bisa menyebutmu Nona Muda Caraka?" Ucap Marco dengan seringai liciknya.


"Katakan, apa maumu?"


"Aku? Aku akan menghabisimu. Tapi bukan di sini." Jawab Marco. "Ikat dia!" Perintah Marco pada beberapa anak buahnya.


Mereka lalu pergi menuju markas rahasia Brata dan Marco yang terletak cukup jauh dari kota. Markas yang merupakan sebuah gudang kosong yang sudah tidak digunakan lagi. Di sana terdapat puluhan anak buah Marco yang sudah menunggu. Mereka terdiri dari preman-preman pinggir jalan yang ditawarkan pekerjaan sampingan oleh Marco dan dibayar lumayan besar daripada penghasilan mereka dari hasil memalak di jalanan.


Marco lalu menyuruh beberapa anak buahnya memasukkan tangkapannya itu ke dalam gudang. Tidak lupa mereka mengikat kaki wanita itu dengan kuat. Wajah wanita itu masih menggunakan masker. Marco dan anak buahnya tidak menutup mulut wanita itu dengan lakban atau sejenisnya karena menurut mereka, tidak akan ada yang mendengar teriakan wanita itu saat ini. Mereka kemudian melempar tubuh wanita itu begitu saja ke lantai gudang yang berdebu dan meninggalkannya.


"Preman-preman brengsek! Awas kau nanti!"


"Jangan kau bunuh dulu dia. Karena aku harus memaksanya menandatangani beberapa surat kuasa dan pengalihan harta." Ucap Brata.


"Baik, Tuan." Jawab Marco.


Marco pun menutup teleponnya dan kembali menemui beberapa anak buah dadakannya itu. Mereka lalu memberi tugas untuk berjaga di sekitar gudang. Tidak lupa Marco memperingatkan kepada preman-preman tersebut agar tidak menyentuh wanita yang diculiknya.


***********


Di Gerandra Corp, Darel tampak sibuk dengan beberapa proposal kerjasama yang masuk ke perusahaannya. Ia mengecek satu per satu proposal itu. Hingga tidak terasa, hari sudah sore.

__ADS_1


Darel baru sadar jika sang istri tidak mengabarinya sejak jam makan siang. Darel tampak khawatir dengan keadaan istrinya saat itu. Ia takut, firasat buruk benar-benar akan terjadi. Ia lalu berinisiatif menelepon Naiki. Namun tidak ada jawaban dari istrinya itu. Darel semakin khawatir. Ia lalu melacak keberadaan Naiki melalui GPS yang ia beri sehari sebelumnya.


"Di mana dia?" Lirih Darel dengan kening yang berkerut. Ia lalu mengecek dengan detail lokasi keberadaan GPS tersebut.


BRAKKKK...


Darel menggebrak mejanya. Wajahnya tampak merah padam. Tangannya mengepal dengan erat. Darel lalu langsung menghubungi Mike untuk memastikan posisi GPS yang dilacaknya. Ternyata benar, lokasi itu terdapat di pinggiran kota, sedikit masuk ke daerah industri. Tepatnya, GPS tersebut berada di sebuah gudang tua yang sudah ditinggalkan.


Darel panik, walaupun Mike sudah berusaha menenangkannya dari seberang. Darel lalu memerintahkan para pengawal Gerandra untuk pergi menuju lokasi GPS tersebut. Mike sebenarnya sedikit ragu, karena sejujurnya ia tidak percaya bahwa istri Tuan Mudanya dapat diculik begitu saja oleh Marco dan anak buahnya. Pasti ada sesuatu, pikirnya.


Darel tidak dapat berpikir jernih saat ini, mengingat ia terlalu khawatir dengan keselamatan istrinya. Konsentrasinya telah buyar. Proposal dan dokumen yang menumpuk di atas mejanya, diabaikannya begitu saja. Ia memijat pelipisnya dan mencoba berpikir dengan logikanya.


"Aku yakin Nai selamat, tapi hatiku kenapa merasa tidak tenang?" Gumam Darel.


Ia lalu memutuskan untuk ikut bersama Mike dan para pengawal yang berjumlah puluhan orang. Darel lalu pergi meninggalkan ruangannya. Baru saja melewati pintu ruang CEO tersebut, ponsel Darel berbunyi. Mata Darel membulat saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya. Dengan cepat ia pun menerima panggilan itu.


"Halo Sayang, kau tadi menelponku? Ada apa? Aku ketiduran tadi."


**********


💙💙💙💙💙


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...

__ADS_1


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2