Pewaris Asli

Pewaris Asli
47 Hadiah


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju kediaman besar Caraka, Naiki maju mundur ingin bertanya pada Darel mengenai saham 10% yang tiba-tiba jadi miliknya. Saham itu dibeli atas namanya, namun dia sama sekali tidak merasa telah membayarnya.


Awalnya Naiki pikir bahwa saham tersebut menunggu transaksi jual-beli di antara dirinya dan para pemegang saham sebelumnya. Namun ternyata, 10% saham tersebut sudah resmi jadi miliknya karena jual-beli sudah dilaksanakan oleh pihak lain sebagai perwakilan dirinya.


"Uhuuuk..." Naiki pura-pura terbatuk. Sungguh awal pembicaraan yang sangat klise.


"Kenapa, Nai?" Tanya Darel sambil terus mengemudikan mobilnya.


"Pagi ini aku mendapat kabar kalau 10% saham Brata Corp sudah menjadi milikku. Apa kau tahu sesuatu?" Selidik Naiki.


Darel tersenyum. "Oh, itu hadiah untukmu, Sayang." Ujar Darel.


"Hadiah?" Tanya Naiki heran. "Eh, jadi memang suamiku ini yang sudah membeli saham itu atas namaku?" Naiki mengganti pertanyaannya.


Darel mengangguk. Ia tersenyum lebar. Terasa bunga-bunga bermekaran di dalam hatinya karena mendengar Naiki menyebutnya dengan sebutan "suamiku".


"Sudah ku bilang, itu hadiah untukmu. Walaupun sedikit, setidaknya aku bisa membantumu untuk menghancurkan Tuan Brata." Ujar Darel. Dia bingung menyebut mertuanya dengan sebutan apa di depan istrinya itu.


"Terima kasih." Ucap Naiki sembari tersenyum. Dia merasa sangat bahagia dengan apa yang sudah dilakukan Darel untuknya. Darel pun membalas perkataan Naiki dengan belaian lembut di kepala Naiki.


Beberapa menit kemudian mereka pun tiba di kediaman besar Caraka. Naiki bergegas turun, disusul oleh Darel. Sepertinya Naiki sudah sangat rindu dengan kakeknya. Ia lalu membuka pintu dan menerobos masuk ke dalam.


"Kakek di mana, ya? Oh, mungkin di taman belakang." Batin Naiki. Ia lalu bergegas menuju ke taman belakang. Darel yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum dan menyusul dari belakang.


"Kakek... Kakek..." Panggil Naiki saat tiba di taman belakang. Ia heran, ke mana perginya si kakek. Padahal biasanya kakek Caraka selalu menjadi orang pertama yang keluar jika ia kembali.


"Maaf Nona. Kakek Caraka sedang keluar sebentar." Ucap seseorang yang tidak lain adalah Wilson, kepala pelayan di sana.


"Lho, ke mana?" Tanya Naiki penasaran.


"Ke Depot bunga yang ada di persimpangan jalan, Nona. Tuan Besar ingin melihat koleksi tanaman hias terbaru di sana." Ujar Wilson.


"Oh, baiklah. Terima kasih, Paman Wilson." Ucap Naiki ramah. Wilson pun mengangguk dan tersenyum pada Naiki.


Naiki lalu kembali ke dalam dan melihat Darel sudah mengobrol dengan Elis di ruang keluarga.


"Nah, itu dia. Manusia Salju, cepat sini!" Panggil Elis. Naiki mencebik dan Darel terkikik mendengarnya.


"Untung kakak ipar, kalau bukan..." Sungut Naiki namun langsung dipotong Elis.

__ADS_1


"Kalau bukan apa? Dasar gadis tengil." Ledek Elis. "Eh, sepertinya bukan gadis lagi." Kikik Elis kemudian.


Naiki merona mendengar kalimat terakhir Elis. Sedangkan Darel berpura-pura tidak mendengarnya dan melirik ke arah lain.


"Ayo ikut aku ke ruang kerja! Darel, kau tunggu di sini, ya! Istrimu aku bawa." Ucap Elis sambil berlalu ke ruang kerjanya, diikuti oleh Naiki.


Elis lalu meminta Naiki untuk merebahkan dirinya di sebuah sofa. Ia juga sudah menyiapkan bantal di sana. Terkadang Rhean juga sering menggunakan ruangan itu untuk terapinya bersama Elis.


"Beberapa tahun ini kita sudah mencoba beberapa macam psikoterapi untuk membantumu sembuh. Namun sepertinya kemajuannya sangat lambat. Bagaimana kalau hari ini kita coba hipnoterapi? Apa kau mau?" Celoteh Elis yang duduk di kursi lain, di samping Naiki.


"Bukankah kita juga sudah pernah mencobanya? Dan aku tidak dapat mengontrol diriku saat itu." Ucap Naiki.


Elis mengangguk. "Kita baru mencobanya satu kali, Nai. Dan itu sudah lebih dari satu tahun yang lalu. Kita coba lagi, ya?" Bujuk Elis. "Tenang saja, aku tahu obat mujarab agar kau tidak sampai kehilangan kontrol dirimu nanti."


Naiki diam. Memikirkan kalimat Elis lebih dalam. "Hhmmm...ok baiklah."


Elis lalu memulai sesi hipnoterapinya. Naiki lalu dibawa ke alam bawah sadarnya. Dalam beberapa menit, otak Naiki seakan sudah dibawa dari gelombang alpha (otak dalam kondisi sadar), menuju ke gelombang theta (otak berada di frekuensi 3hz-8hz, kondisi setengah tertidur).


Naiki dibuat setengah mengantuk, rileks, namun tetap dalam keadaan sadar agar mempermudah Elis memberikan sugesti pada Naiki.


Elis pun memulai hipnosisnya. Ia lalu menuntun alam bawah sadar Naiki menuju masa lalunya. Di mana bibit phobia itu mulai dipupuk Naiki dalam dirinya. Kalimat-kalimat Elis membuat Naiki merasakan berada di sekitar orang-orang yang jahat padanya dan menyentuhnya hanya untuk menyakitinya saja. Naiki mulai berkeringat dingin.


Elis mencoba menggunakan kalimat lain yang dapat menenangkan Naiki agar tidak keluar dari gelombang tetha. Ia mengingatkan Naiki pada orang-orang yang sayang padanya saat ia kecil dan selalu menyentuhnya dengan lembut. Perlahan Naiki mulai tenang.


Elis pun melanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu memberikan sugesti kepada Naiki. Elis tidak ingin memaksakan adik iparnya itu untuk sembuh dalam waktu singkat. Jadi, Elis memasukkan sugesti dengan perlahan dan tidak banyak. Ia ingin, Naiki menyembuhkan phobia-nya dengan perlahan namun pasti.


Satu jam telah berlalu, Elis menyudahi hipnosisnya, lalu menuntun Naiki untuk kembali ke alam sadarnya dengan menggunakan kalimat-kalimat yang indah. Perlahan, Naiki pun tersadar dan membuka matanya perlahan. Elis meminta Naiki untuk menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Bagaimana perasaanmu, Nai?" Tanya Elis.


Naiki menoleh ke arah Elis. "Tadi aku merasa berada di masa laluku, El." Lirih Naiki. Elis tersenyum mendengarnya.


"Bukankah masih ada orang-orang yang menyayangimu dan menyentuhmu dengan lembut waktu itu?" Tanya Elis.


Naiki mengangguk. "Mereka tidak menyakitiku, bahkan mereka menyentuhku dengan kasih sayang." Ucap Naiki.


"Jadi, apa kau akan mencobanya?" Pancing Elis.


Naiki mengernyitkan dahinya. "Maksudmu?"

__ADS_1


"Mencoba menyentuh orang-orang yang kau sayangi." Jawab Elis.


"Apa aku bisa?" Tanya Naiki.


"Kita tidak bakal tahu kalau tidak dicoba." Ucap Elis meyakinkan Naiki.


Naiki mengubah posisinya menjadi duduk. Ia lalu memikirkan kalimat Elis. Beberapa saat ia terdiam memaku dan akhirnya ia menyetujui saran dari Elis. Tapi, orang pertama yang akan dicobanya adalah Kakek Caraka.


Elis pun mengangguk. Mereka pun keluar dari ruang kerja, menuju ke ruang keluarga, tempat Darel menunggu. Ternyata sudah ada Kakek Caraka di sana.


"Kakek, dari mana saja?" Tanya Naiki sambil mengambil posisi duduk di sebelah kakeknya. "Nai mencari Kakek dari tadi." Ucap Naiki.


Perlahan Naiki mencoba meraih tangan renta kakek Caraka dan menggenggamnya. Kakek Caraka terdiam. Ada perasaan bahagia yang ia rasakan saat ini. Naiki menggenggam tangan rentanya dengan hangat. Tampak bulir airmata mulai muncul di sudut mata Kakek Caraka.


"Apa kau sudah sembuh, Cucuku?" Tanya Kakek Caraka dengan suara yang tidak seperti biasanya. Terdengar parau khas orang menahan tangis.


"Nai tidak apa, Kakek. Nai pasti sembuh." Ucap Naiki sambil tersenyum ke arah kakeknya. Elis pun tersenyum melihat kemajuan Naiki.


"Bagaimana, Nai? Apakah kau baik-baik saja sekarang?" Tanya Elis.


Naiki mengangguk. Karena memang dia tidak merasakan gejala-gejala seperti phobia-nya akan segera kambuh. "Ajaib!" Kagum Naiki.


"Kita akan melakukan terapi itu beberapa kali, Nai. Jadi, dengarin aku, kau pasti sembuh dengan sempurna." Ujar Elis dengan serius.


Naiki pun mengangguk. Ia sangat bahagia bisa menyentuh kakeknya. Namun, seperti kata Elis, pengobatannya harus dilakukan dengan bertahap. Jadi, Naiki masih membatasi untuk tidak menyentuh orang lain lagi, selain yang benar-benar ia percayai akan aman bila ia sentuh.


Darel pun sangat bahagia melihat kemajuan yang ditunjukkan Naiki. Ia berharap, istri dinginnya itu segera sembuh dari phobianya.


"Oh iya, kata Darel kalian akan pergi bulan madu? Benarkah?" Tanya Kakek Caraka sangat antusias.


Wajah Naiki memerah. Dia tidak habis pikir dengan topik pembicaraan Darel dan kakeknya saat dia tidak ada. 'Benar-benar kakek dan cucumantu yang kompak dan penuh siasat.' Umpat Naiki dalam hati.


"Jadi, apa lagi yang pria-pria ini rencanakan?" Batin Naiki lagi.


Naiki menoleh ke arah Darel yang berpura-pura tidak tahu apa pun di sana. Ia hanya mengangkat bahu dan kedua tangannya bersamaan.


"Kalau belum tahu mau ke mana, biar Kakek yang menentukan." Ucap Kakek Caraka sambil tersenyum licik dan melirik ke arah Darel. Darel pun diam-diam memberi kode "OK" pada kakek Caraka.


*********

__ADS_1


💙💙💙💙💙


__ADS_2