Pewaris Asli

Pewaris Asli
61 Honeymoon


__ADS_3

Naiki pasrah di bawah kungkungan suaminya itu. Tidak ada salahnya mereka kembali mencobanya malam ini, pikirnya. Ia juga sadar karena sudah berkali-kali memancing Darel hari ini. Akan tidak adil bagi Darel, jika ia kembali ditolak Naiki malam ini. Naiki lalu melingkarkan tangannya di leher Darel.


"Lakukanlah! Aku akan berusaha menahannya." Ucap Naiki kemudian tersenyum.


Mendengar ucapan istrinya, Darel langsung mencium wajah Naiki bertubi-tubi. Bibir mereka lalu kembali bertaut, saling ******* dan menyes*p. Darel tersenyum disela-sela aksinya karena merasa Naiki sudah cukup pandai mengikuti permainannya sekarang.


Darel lalu mulai menelusuri leher jenjang Naiki. Tangannya mulai bergerilya di balik baju tidur tipis yang dikenakan Naiki. Ia juga memainkan dengan lembut bukit sintal milik istrinya itu. Naiki mulai menggeliat, tidak tahan dengan sentuhan inci demi inci Darel di tubuhnya.


Nafas Darel mulai memburu. Sentuhannya mulai semakin menuntut. Hingga ia pun melepaskan satu per satu kain yang menutupi tubuh Naiki dan juga melepas jubah mandinya.


Darel merasa semakin bergairah saat matanya menatap tubuh polos Naiki yang sudah lemas di bawahnya itu. Benar-benar makan malam yang spesial, pikirnya. Ia pun langsung ******* puncak bukit sintal Naiki yang sudah menjadi favoritnya.


Tangan Darel mulai bermain-main di bawah sana. Tubuh Naiki pun mulai menggelinjang saat mendapat sentuhan dari Darel di daerah sensitifnya itu.


"Ah, Darel..." Lirih Naiki. Tanpa sadar, suara-suara seksi itu lolos begitu saja dari mulut Naiki. Membuat Darel semakin panas dan bersemangat untuk menuntaskan misinya.


Darel kembali mengecek area bawah yang menjadi tujuan akhirnya. Merasa sudah siap, ia lalu mulai membidik target dengan pusakanya.


Darel kemudian melum*at bibir Naiki untuk mengurangi rasa sakit di daerah intinya. Air mata Naiki pun mulai mengalir seiring dengan pusaka Darel yang berusaha masuk sedikit demi sedikit.


"Aaakkkhhh sakiiitttt..." Rintih Naiki dalam hati. Tanpa sadar ia pun menggigit bibir Darel. Namun Darel tidak merasakan sakit di bibirnya itu. Ia sangat fokus pada misi utamanya saat ini.


Darel merasa sedikit susah menembus segel pertahanan Naiki itu. Pria itu berusaha menerobos berkali-kali, namun tetap tidak berhasil. Ia lalu menghentakkan pinggulnya lagi hingga benar-benar menembus dinding yang kuat itu dan membenamkan pusakanya di sana, yang diiringi rintihan Naiki tentunya. Darel pun diam sejenak sambil menatap wajah istrinya yang sudah basah dengan keringat dan airmata. Ia lalu mencium wajah Naiki kembali dengan sangat lembut.


"Maaf Sayang. Maafkan aku. Itu pasti sakit sekali. Maafkan aku Sayang. I love you." Ucap Darel sambil terus menciumi wajah Naiki.


Naiki hanya tersenyum dengan wajah basahnya. Sakit memang, tapi ia merasa bahagia sudah memberikan mahkotanya pada pria yang tepat seperti Darel.


Melihat istrinya sudah tenang, Darel pun mulai menggerakkan pinggulnya kembali naik dan turun dengan perlahan. Darel merasa tubuh Naiki bakal menjadi candu baginya. Pria itu memimpin permainan dengan sangat lembut dan hati-hati, karena ini merupakan kali pertama untuk mereka.


Naiki pun mulai terlihat terbiasa walaupun masih terasa sedikit perih. Tidak ada aksi-aksi panas yang berlebihan di atas ranjang mereka malam ini. Karena sekali lagi, ini adalah yang pertama bagi Naiki maupun Darel. Darel memperlakukan Naiki dengan sangat lembut dan berusaha untuk menikmati ritual itu bersama, tanpa ada pihak yang dirugikan. Hingga akhirnya Darel melakukan pelepasan pertamanya dan ambruk di atas tubuh Naiki.


Nafas Darel dan Naiki tersengal. Kamar yang dingin terasa panas di tubuh mereka. Darel lalu kembali mencium dahi dan bibir Naiki. Dengan perlahan Darel bangkit dan mengeluarkan pusakanya dari goa gelap itu kemudian membaringkan tubuhnya di samping Naiki.

__ADS_1


"Apa kau tidur, Sayang?" Tanya Darel sambil memejamkan matanya. Dipeluknya tubuh Naiki dari belakang dengan erat.


"Tidak." Sahut Naiki.


"Apakah sangat perih?" Tanya Darel penasaran tanpa tahu bahwa Naiki sungguh malu saat ini. Naiki pun hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari suaminya itu.


Seluruh adegan pergumulan mereka berdua tadi terlintas kembali di benak Naiki. Wajahnya kian memerah.


"Kenapa kau diam saja?" Tanya Darel kembali.


"Aku mau ke kamar mandi." Sahut Naiki lalu beranjak dari ranjang sambil menahan perih di daerah sensitifnya.


Darel hanya tersenyum kemudian menatap ke arah pusakanya. "Ah...sepertinya kau juga butuh dibersihkan." Batin Darel saat melihat ada noda darah di sekitar pusaka miliknya.


***********


Pagi menjelang, Darel yang bangun lebih dulu dari Naiki hanya menatap Naiki di sampingnya tanpa ada niat untuk membangunkannya. Alasannya simple saja, karena Darel takut pagi yang indah akan menjelma menjadi pagi yang bergairah. Jujur saja, Darel menginginkan adegan seperti tadi malam terulang lagi. Namun, dia tidak tega pada istrinya karena sepertinya Naiki masih merasakan perih di antara dua kakinya itu. Darel juga tidak ingin Naiki kecewa karena liburannya ke Oia hanya dihabiskan di dalam kamar saja.


Jadi di sinilah Darel, memiringkan tubuhnya yang terbaring di samping Naiki yang masih terlelap tidur. Sesekali Darel menyelipkan rambut Naiki di balik telinga wanita itu. Ia juga menyentuh hidung mancung Naiki dengan telunjuknya dengan lembut dan sangat hati-hati.


"Tapi...kapan kau akan memanggilku dengan sebutan Sayang? Kau tahu, aku selalu mengharapkan itu." Ucap Darel dengan bibir yang mengerucut.


"Apa kau belum mau bangun juga, Sayang? Aku mau mandi berdua denganmu." Ucap Darel menggoda.


Tiba-tiba dahi Naiki mengernyit. Mata Darel menyipit melihatnya. Ia pun tersenyum miring dan bersiap-siap menyentil dahi Naiki.


Pletaaakkk....


"Aaaww...." Jerit Naiki saat Darel menyentil keningnya gemas.


"Kau sudah bangun ternyata, gadis tengil!" Cetus Darel geregetan.


"Hei, aku tidak gadis lagi sejak semalam karna ulahmu!" Tukas Naiki.

__ADS_1


"Hmmm?" Darel mengangkat satu alisnya.


"Benar kan kataku?" Lirih Naiki sambil menarik selimut dan menyembunyikan wajah di bawahnya.


"Sepertinya kita terpaksa mengubah pagi yang cerah ini menjadi pagi yang bergairah, Sayang." Ucap Darel lalu langsung menerkam Naiki dengan buas.


"Hwaaaaa....Darel berhenti! Please! Aku mau mandi." Teriak Naiki sambil terus meronta-ronta di dalam pelukan Darel.


Darel pun terkekeh melihat tingkah istri dinginnya yang ternyata sangat menggemaskan. Ia lalu mengangkat tubuh Naiki dan membawanya menuju kamar mandi.


"Ok, turunkan saja aku di sini." Ucap Naiki.


"No. Kita akan mandi bersama, Sayang. Bukankah akan lebih menghemat waktu?" Tukas Darel sambil terus berjalan masuk ke kamar mandi dan menaruh Naiki ke dalam bathtub.


Naiki hanya diam tidak berkomentar apa pun saat Darel mulai mengisi bathtub dan menuang sabun cair ke dalamnya. Ia juga membuka semua penutup tubuhnya dan beralih masuk ke bathtub yang memang didesain untuk pasangan itu.


"Kenapa kau diam saja, Sayang? Apa menungguku membuka pakaianmu?" Goda Darel sambil mengerlingkan matanya.


Naiki pun menggeleng cepat. Ia lalu membuka dengan perlahan baju tidurnya dan tidak menyadari kalau Darel makin lama makin menempelkan tubuhnya di belakang Naiki. Darel pun mulai beraksi saat Naiki benar-benar sudah menanggalkan seluruh kain yang menutupi tubuhnya. Hingga akhirnya, pagi yang cerah pun berubah menjadi pagi yang bergairah. Ritual mandi yang menyegarkan pun berubah menjadi adegan panas yang cukup mendebarkan bagi mereka.


**********


💙💙💙💙💙


Wah...maaf yaa... 😔 Akhir-akhir ini jadi ngga bisa up tiap hari karna ada kesibukan lain. Jadi makin tertunda deh, buat lihat penderitaan Brata 😂 Mana si Darel ama Nai lagi honeymoon sekarang. Bikin panas aja.


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...

__ADS_1


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2