
Brata terbelalak mendengar perkataan Naiki yang memanggilnya dengan sebutan papa. Tubuhnya bergetar, keringatnya bercucuran di kanan dan kiri pelipisnya.
"Si-siapa kau? SIAPA?" Emosi Brata semakin meluap.
Naiki menatapnya dengan tajam, dingin, dan penuh amarah. Perasaan yang telah lama ia tahan di dalam hatinya. Rasa yang lambat laun menggerogoti mentalnya hingga ia harus menjalani hari berdampingan dengan phobia yang dideritanya.
Dan benar saja, Naiki mulai menunjukkan gejalanya sekarang. Keringat dingin membasahi wajahnya. Tampak jelas di mata Darel, Naiki mencoba menahan sakitnya. Darel panik di dalam mobil. Ia bergegas keluar dari mobil dengan diiringi teriakan dari kedua sahabatnya.
"Darel..." Teriak Antony dan Jonathan. Namun Darel tak mendengar.
"Mau ngapain dia?" Ucap Antony.
"Entahlah." Lirih Jonathan.
Darel terus berlari dengan kencang ke arah Naiki sambil memberi kode kepada para pengawalnya yang bersembunyi di sekitar sana melalui earphone-nya. Dengan cepat ia menyelusup masuk di antara tubuh kekar bawahan Brata yang memang berjarak cukup berjauhan karena jumlahnya yang terbilang sedikit. Darel meraih tubuh Naiki dan menyembunyikan wajah Naiki di dadanya.
"Tuan Muda Gerandra?" Batin Brata dan Steffanie saat melihat pria tampan bertubuh tinggi dan tegap tiba-tiba menerobos masuk ke tengah benteng pertahanan Brata dan kawanannya.
Brata kembali berdiri dengan tegap, menyembunyikan rasa sakitnya.
"Tuan muda, apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Brata dengan ekspresi yang langsung berubah. Dengan wajah yang terlihat ramah. Entah bagaimana cara dia mengubah ekspresi wajahnya yang mengerikan tadi.
Darel bergeming. Dia hanya memandang Brata dengan tatapan tajam dan dingin. Ada kebencian dalam sorot matanya. Potongan-potongan ingatan masa kecilnya pun mulai terbayang lagi di pikirannya. Saat Darel datang mencari Naiki, namun penghinaan dan kekerasan fisik yang didapatkannya dari Brata kala itu.
"Apakah bisa kau tidak ikut campur dengan masalah kami, Tuan?" Ucap Brata lagi.
Darel menyeringai, sangat mengerikan. Ia menahan mulutnya untuk tidak mengatakan apapun. Darel lalu mulai melangkah, membawa Naiki dalam dekapannya dan berusaha keluar dari lingkaran orang-orang Brata. Namun, para orang kekar itu menghadang Darel dan Naiki, seolah tidak mengizinkan mereka pergi.
"Enyahlah!" Bentak Darel dengan keras.
Dalam sekejap Brata dan kawanannya dikepung dengan puluhan pengawal berseragam hitam. Mata mereka membesar, terbelalak melihat apa yang terjadi saat ini. Entah sejak kapan mereka telah dikepung seperti sekarang. Langkah kaki pun tidak terdengar oleh mereka sejak tadi. Padahal, begitu banyak orang yang mengepung saat ini.
"Darimana datangnya orang sebanyak ini?" Pikir mereka.
"Brengsek! Kenapa tiba-tiba ada pria itu di sini? Apa hubungan mereka? Dan siapa wanita itu sebenarnya?" Umpat Brata dalam hati.
__ADS_1
Brata akhirnya pasrah. Ia tahu kekuatannya. Ia lalu memberi perintah kepada para bawahannya untuk memberikan jalan pada Darel dan Naiki. Mereka pun pergi menuju mobil Naiki.
"Aku lepaskan kau sekarang. Tidak untuk lain waktu." Dendam Brata.
Darel membawa Naiki menuju parkiran mobil. Tubuh Naiki bergetar semakin hebat. Anak rambutnya sudah mulai basah oleh keringat.
"Tidak apa Sayang, ada aku di sini." Lirih Darel berkali-kali sambil terus mendekap tubuh Naiki hingga tiba di parkiran mobilnya.
Antony dan Jonathan yang melihat dari dalam mobil pun heran. Situasi apa yang terjadi di depan mereka? Apa hubungan Nona Rhea dan Brata? Dan mengapa Darel meninggalkan mereka berdua di dalam mobilnya? Antony dan Jonathan saling pandang.
"Jadi, mobilnya bagaimana?" Tanya Antony yang duduk di bangku belakang.
"Nanti saja kita kembalikan." Sahut Jonathan.
"Benar juga Jo, dipakai satu bulan jg tidak masalah pasti. Mobilnya kan banyak. Ganti mobil macam ganti kolor saja tuh bocah." Celoteh Antony yang memang paling cerewet di antara mereka bertiga.
Antony dan Jonathan lalu beranjak dari Cafe tersebut menuju ke cafe milik Jonathan. Sedangkan Darel, bergegas membawa Naiki masuk ke mobil dengan perlahan. Ia pun beralih masuk ke mobil melalui pintu satunya dan duduk di belakang setir.
"Tenanglah Sayang, ada aku di sini." Ucap Darel sambil menggenggam erat tangan Naiki.
Darel lalu melepas masker yang menutupi wajah istrinya. Dirapikannya rambut Naiki yang sedikit berantakan. Lalu ditariknya tubuh Naiki dalam pelukannya.
Ia lalu merenggangkan tubuhnya dari Naiki. Ditatapnya wajah cantik istrinya itu. Tampak airmata mulai mengalir dari sudut mata beningnya.
"Di bagian mana pria tua itu menyentuhmu? Di sini?" Tanya Darel sambil memegang rahang, pipi, dan dagu Naiki. Naiki tetap diam.
"Aku akan menghilangkan jejaknya untukmu." Ucap Darel lalu langsung mencium pipi, dagu, dan rahang Naiki dengan lembut.
"Apakah ini sakit?" Tanya Darel sambil menangkup wajah Naiki dengan kedua tangannya.
Rahang dan pipi Naiki memang terlihat sedikit memerah karena cengkeraman kuat Brata. 'Ini pasti sangat menyakitkan', pikir Darel. Ingin sekali rasanya Darel menghabisi Brata detik itu juga. Namun, Darel tahu, Naiki tidak akan menerima itu.
"Kita pulang, ya!" Ucap Darel, lalu mengecup kening Naiki. Ia lalu menyandarkan tubuh istrinya di jok mobil dan memasangkan sabuk pengaman padanya. Mereka pun melaju menuju kediaman pribadi mereka.
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang di jalanan yang semakin gelap namun beberapa bagian diterangi lampu-lampu di kanan dan kirinya. Sesekali Darel menoleh ke istrinya yang mulai tenang dan tertidur di bangkunya.
__ADS_1
"Aku tahu kau pasti bisa mengontrol dirimu, Nai." Ucap Darel lirih.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah. Darel lalu menggendong Naiki masuk ke rumah dan merebahkan tubuh istrinya itu di kasur. Ia lalu melepaskan sepatu yang Naiki pakai.
"Kau pasti tidak nyaman tidur dengan pakaianmu sekarang." Ucap Darel sambil memegangi dagunya dan berdiri menatap Naiki yang sudah terlelap di atas kasur.
Darel lalu menuju lemari pakaian dan mengambil piyama Naiki. Ia juga mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan cahaya redup dari ruang ganti pakaian. Darel kemudian mengganti pakaian yang Naiki kenakan dengan hati-hati.
"Tenang saja, aku tidak akan mengintip." Ucap Darel sambil menutup matanya. Tangannya terus bergerak dengan hati-hati melepas pakaian yang Naiki kenakan.
Darel berhasil melepas pakaian Naiki tanpa mengganggu tidur istrinya itu sama sekali. Darel lalu memakaikan piyama pada tubuh Naiki. Memakaikan celana pendek katun, lalu beralih memakaikan piyama bagian atas. Darel merasa lega saat berhasil memakaikan piyama tersebut, dan tinggal mengancingkannya.
"Sepertinya aku tidak bisa mengancingkannya bila sambil menutup mata, Sayang." Ucap Darel cengengesan dan masih membuang muka dari tubuh Naiki.
"Anggap saja ini rejeki." Ucap Darel lalu dengan perlahan menghadap Naiki dan menurunkan tatapannya ke bagian dada Naiki.
Glek...
Darel menelan salivanya saat menatap tubuh bagian atas Naiki yang memiliki celah sedikit karena belum dikancing. "Ini namanya bukan rejeki, tapi cobaan. Kuatkanlah hamba yaa Tuhan..." Gumam Darel dalam hati.
Ia lalu mengulurkan tangannya dan memegang tepi piyama Naiki yang kiri dan kanan, lalu mengancingkannya. Satu kancing berhasil, Darel menghela nafasnya. Ia lalu beralih ke kancing kedua yang berada tepat di atas gundukan kembar milik Naiki. Darel menelan salivanya lagi.
"Kalau yang satu ini sudah tertutup, pasti akan aman sepenuhnya." Batin Darel.
Darel lalu mengancingkan piyama itu dengan perlahan. Pelipisnya mulai berkeringat. Tiba-tiba....
Grep...
Tangan Darel ditangkap dan dicengkeram kuat oleh Naiki yang terbangun namun masih setengah sadar. Darel terdiam, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Naiki dan tersenyum kikuk.
"Ini aku, Sayang." Ucap Darel salah tingkah.
Beberapa detik mereka saling pandang dan terdiam. Darel mengedip-ngedipkan matanya, begitu pun dengan Naiki. Ia masih mencerna apa yang terjadi saat ini. Namun kemudian ia mendorong tubuh Darel dan duduk sambil menutupi bagian dadanya. Darel tersentak.
"DAAAREEEELLL..." Teriak Naiki sekerasnya.
__ADS_1
**********
💙💙💙💙💙