Pewaris Asli

Pewaris Asli
74 Wisnu


__ADS_3

Satu jam berlalu, Naiki akhirnya tersadar kalau ia sedang menunggu pesan dari Wisnu. Ia lalu meraih ponsel yang ia letak di atas meja kerjanya. Benar saja, ternyata ada satu pesan dari Wisnu di ponselnya.


[Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja, Nona kecil. Aku harap bisa segera bertemu denganmu.]


Membaca bahwa Wisnu ingin bertemu dengannya, Naiki pun dengan cepat membalas pesan dari Wisnu.


[Aku harap juga seperti itu, Paman. Banyak sekali yang ingin aku tanyakan padamu.]


[Maafkan aku karena sudah membuatmu menunggu begitu lama, Nona kecil. Aku akan kembali menghubungimu nanti.]


[Baiklah, Paman.]


Naiki menghembuskan nafasnya kasar. Ia meletakkan kembali ponselnya di meja. Selama ini Wisnu memang sudah banyak membantunya. Termasuk memberikan informasi mengenai Brata Corp. Namun, bertahun-tahun berlalu, Wisnu tetap saja bungkam perihal Alya, ibunda Naiki dan Rhean. Bahkan ia tidak memberitahu Naiki di mana sebenarnya makam mamanya itu.


Sungguh, Naiki sangat merindukan sosok mamanya. Jika ia tahu di mana makam mamanya berada, mungkin hatinya akan merasa sedikit puas dan rindunya mungkin akan sedikit terobati. Namun, hingga detik ini pun, Naiki tetap tidak menemukan di mana makam mamanya. Hanya Wisnu harapannya satu-satunya.


"Hah, aku harap Paman Wisnu bisa bertemu denganku secepatnya dan memberitahuku semuanya" Gumam Naiki.


**********


Di sebuah villa yang jauh dari hiruk pikuk kota, tampak seorang pria paruh baya sedang duduk di sofa sambil menggenggam ponselnya. Wajahnya terlihat pias. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju sebuah brankas.


"Sesuai instruksimu, Nyonya. Inilah saatnya aku menyerahkan dan menyeritakan semua ini pada Nona kecil." Ucap pria paruh baya itu yang tidak lain adalah Wisnu.


Ia hanya mengelus bagian atas brankas yang berada di depannya tanpa membuka brankas itu. Bertahun-tahun Wisnu hidup di sebuah villa yang jauh dari kota. Ia memiliki lahan pertanian yang luas yang diberikan Alya saat ia bekerja sebagai orang kepercayaan putri Tuan Caraka itu. Karena hal itu lah Wisnu merasa berhutang budi pada Alya dan membantu Naiki dengan kemampuannya.


Wisnu mengolah lahan pertanian itu dengan sangat baik hingga berhasil memperluas lahan itu lagi. Dengan kekayaan yang ia miliki saat ini, Wisnu mengirim beberapa orang untuk menyusup masuk ke kediaman Brata dan ke dalam Brata Corp. Maka dari itu Wisnu dapat dengan cepat mengetahui rencana-rencana busuk Brata.


Wisnu sungguh orang yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Ia tetap setia pada Alya bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Wisnu adalah satu-satunya orang luar yang mengetahui seluruh kisah hidup Naiki, Rhean, dan Alya. Ia bersembunyi sangat baik selama ini, dan Brata tidak dapat mengetahui keberadaannya yang seperti bayangan bagi Alya.


Pria itu lalu berjalan ke balkon villanya yang mewah. Pandangannya menatap kosong ke arah hamparan permadani hijau di depannya. Sebuah pemandangan pegunungan di kejauhan dan hamparan lahan pertanian yang hijau di dekat villa. Wisnu menghembuskan nafasnya.


"Nona kecil sudah berhasil menguasai saham perusahaanmu, ini saatnya aku menyelesaikannya, Nyonya." Lirih Wisnu sambil menengadahkan kepalanya, menatap langit yang berangsur berubah warna menjadi jingga.


**************


Malam semakin larut, Naiki dan Darel sudah menyelesaikan makan malamnya dan memutuskan untuk duduk di gazebo belakang. Naiki duduk di pinggir gazebo dan membiarkan kakinya menyentuh air, sedangkan Darel duduk sambil memeluk Naiki dari belakang. Darel lalu menyandarkan dagunya di bahu Naiki.

__ADS_1


"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Darel khawatir.


Ia merasa istrinya terlihat lebih diam dari biasanya. Darel semakin mengeratkan pelukannya.


"Ah, aku belum memberitahumu rekaman suara Brata dan Steffanie hari ini. Mereka sepertinya mengincar Elis dan juga Sisi, Sayang. Apa yang harus aku lakukan? Aku takut langkahku salah." Ujar Naiki.


"Tidak usah takut. Ceritakan semua padaku. Aku akan membantumu mencari jalan keluarnya nanti." Ucap Darel.


Naiki lalu menyeritakan semua yang dikatakan Brata dan Steffanie di dalam alat perekamnya hari ini. Ia juga memberitahu Darel bahwa Wisnu sepertinya berencana ingin bertemu dengannya. Darel pun tersentak. Ia tidak menyangka, orang yang dicari-carinya selama ini dengan sangat tiba-tiba datang sendiri pada mereka.


"Aku rasa keputusanmu sudah tepat, Sayang. Untuk urusan Sisi, serahkan keamanannya di sana pada pengawal kita. Bila perlu ia akan di antar jemput ke mana pun ia pergi."


"Ok Sayang. Terima kasih." Ucap Naiki kemudian.


Mereka terdiam untuk beberapa saat. Hingga Darel kembali mengajaknya berbicara.


"Sayang, pernahkah kau berpikir bahwa meninggalnya Mama Alya terlalu misterius?" Tanya Darel.


Naiki pun mengangguk perlahan. Ia lalu menendang-nendang air kolam dengan kakinya pelan.


Darel tidak berkomentar apa pun lagi setelah itu. Ia hanya mempererat pelukannya pada Naiki. Berharap pelukannya dapat menghangatkan dan mengurangi beban di hati istrinya saat ini.


"Bagaimana dengan Killa? Apakah dia aman di sana?" Tanya Naiki tiba-tiba.


"Tidak apa. Tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Dan aku juga sudah mengirim beberapa orang untuk mengawasinya di sana." Sahut Darel.


"Lalu Mama Vanya?" Naiki kembali bertanya.


"Tidak apa, Sayang. Mama Vanya jarang keluar dari kediaman Kakek." Jawab Darel.


"Lalu bagaimana dengan...."


Belum selesai Naiki bicara, Darel sudah menutup mulut Naiki dengan bibirnya. Ia mencium bibir istrinya itu dengan lembut lalu melepaskannya.


"Sekali lagi kau bertanya, aku tidak hanya akan menciummu di bibir, mengerti?" Ancam Darel sambil tersenyum nakal.


"Hiiisssh..." Sungut Naiki yang langsung mengerucutkan bibirnya ke depan.

__ADS_1


Darel tertawa melihat tingkah istrinya itu. Ia pun semakin gencar menggoda Naiki. Menjitak kepala Naiki, mengelitik tubuh wanita itu, dan juga menghujani Naiki dengan ciumannya. Lalu tiba-tiba, terdengar suara ponsel Naiki bergetar.


Drrrtt...


"Sudah Darel, cukup!" Pekik Naiki sembari meraih ponselnya di lantai gazebo itu.


"Siapa, Sayang?" Tanya Darel.


"Paman Wisnu." Ucap Naiki lalu membuka pesan tersebut.


[Nona kecil, aku ingin bertemu denganmu besok sore di kediaman besar Caraka.]


Darel memandang Naiki penuh tanya. Ia juga sangat penasaran apa isi pesan dari Wisnu tersebut.


"Dia ingin bertemu denganku besok, di kediaman kakek Caraka." Lirih Naiki.


Alis Darel naik, seakan mempertanyakan mengapa harus bertemu di kediaman Caraka? Naiki pun menjawab dengan bahu dan tangan yang diangkat. Ia pun mengetikkan pesan balasan untuk Wisnu.


[Baiklah, Paman. Sampai bertemu besok.]


**********


💙💙💙💙💙


Hayooo tebak, Mama Alya masih hidup atau engga???


🤭


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2