Pewaris Asli

Pewaris Asli
89 Kekhawatiran Darel


__ADS_3

Setelah menyusun rencana dengan baik, Brata lalu meminta Marco untuk memastikan asal usul Alya kembali. Ia sangat penasaran, apakah benar ia telah menikahi pewaris tunggal kerajaan bisnis Caraka dan tidak pernah mengetahui fakta itu setelah hampir 30 tahun? Brata merasa dirinya benar-benar bodoh dan melewatkan tambang berlian di depan matanya.


Hari beranjak malam. Naiki dan Darel baru saja selesai menyantap makan malamnya. Karena masih banyak pekerjaan, Naiki kembali ke kamar dan membuka laptopnya. Darel yang tidak ada pekerjaan terlihat sangat suntuk dan bersungut-sungut melihat istrinya yang terus saja bekerja padahal hari telah larut.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Naiki sambil terus menatap monitor laptopnya. Ia sadar, kalau sejak tadi Darel cemberut dan terus-terusan membuat suara berisik.


"Tidak apa." Sahut Darel kesal.


Naiki menyunggingkan senyumnya karena tingkah kekanakan Darel yang hanya diperlihatkan di depan dirinya. Naiki lalu meninggalkan laptop dan duduk mendekat ke arah Darel.


"Kau kesal padaku?" Tanya Naiki sembari memegang pipi Darel dan menariknya hingga menoleh ke arahnya.


Darel hanya menggeleng. Mana mungkin Darel bisa kesal bahkan marah pada istrinya itu. Ia hanya sedang bertingkah manja dan butuh perhatian dari Naiki. Itu saja. Naiki tampak menahan tawanya. Ia sungguh gemas melihat tingkah suaminya jika sedang manja seperti sekarang.


"Lalu kenapa diam saja?" Tanya Naiki lagi.


"Aku hanya mau mengobrol denganmu, tapi kau lebih memilih laptopmu itu daripada aku." Sungut Darel.


Naiki sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia merasa suaminya benar-benar sangat lucu. Dengan wajahnya yang selalu dingin pada orang lain itu, bagaimana bisa ia selalu berwajah dan bertingkah menggemaskan pada istrinya? Naiki lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Darel. Ia lalu menekan kedua pipi Darel hingga bibir suaminya mengerucut ke depan. Naiki lalu mengecup bibir suaminya itu sekilas.


"Kau sungguh menggemaskan, Sayang! Hahaha..." Seru Naiki sambil terus mencubit pipi suaminya itu.


Darel pasrah dan tidak protes saat Naiki mencubit pipinya. Ia lalu mengusap kepala Naiki dengan lembut. Benar saja, Darel memang tidak akan pernah bisa kesal atau pun marah pada istrinya itu.


"Selesaikanlah pekerjaanmu, aku akan menemanimu di sini hingga kau selesai." Ucap Darel.


Naiki pun mengangguk dan mengecup pipi Darel ringan. Ia lalu kembali ke depan laptopnya dan menyelesaikan pekerjaannya. Darel kemudian meraih ponselnya di atas sofa dan mengecek beberapa pesan yang belum sempat ia baca.


Pesan-pesan tersebut ternyata dari beberapa anggota Mike yang bertugas mengawasi Naiki dari kejauhan, mengawasi Brata dan Steffanie, serta bertugas mengamankan orang-orang yang Naiki minta diawasi. Yang paling menarik perhatian Darel adalah pesan dari pengawal yang mengawasi Naiki, Brata dan Steffanie.


[Lapor Tuan Muda, hari ini Nyonya berkunjung ke rumah sakit miliknya untuk melakukan kunjungan rutin. Ternyata wanita bernama Sonya dirawat di rumah sakit tersebut. Nyonya sempat berkunjung sebentar ke ruang rawatnya. Saat itu terdengar suara teriakan dari dalam kamar tersebut. Hingga Nyonya pergi meninggalkan kamar itu, teriakan tersebut tetap terdengar. Setelah diselidiki, ternyata wanita yang dirawat di sana mengalami goncangan jiwa dan kemungkinan besar akan dirujuk ke rumah sakit khusus kejiwaan yang dimiliki Caraka Corp.]


Darel membaca pesan tersebut sambil mengerutkan dahinya. Dia penasaran, apakah Sonya benar-benar kehilangan kewarasannya akibat kejadian tempo hari. Satu lagi yang dipikirkan Darel adalah Sonya akan dirujuk ke rumah sakit yang dipimpin oleh Elis, Kakak Ipar Naiki.


"Bukankah ini kebetulan yang sangat mencurigakan? Terlepas dari Sonya waras atau tidak, Elis benar-benar dalam kondisi bahaya. Aku harus mengatur agar Sonya tidak dirujuk ke sana, melainkan dirujuk ke rumah sakit yang sama dengan kakaknya." Pikir Darel dalam hati.

__ADS_1


Lalu Darel membaca pesan berikutnya. Sebuah pesan dari pengawal yang mengawasi pergerakan Brata dan Steffanie.


[Lapor Tuan Muda, hari ini Brata dan Steffanie sudah menempati apartment milik mereka. Namun, sore tadi tampaknya Brata menerima beberapa orang tamu. Di antaranya adalah orang kepercayaannya yang bernama Marco, dan Steffanie. Saya belum tahu apa yang mereka rencanakan. Namun, melihat dari gelagat mereka, akan ada pergerakan dalam beberapa hari ini.]


Darel menyugar rambutnya ke belakang dengan sebelah tangannya. Ia tampak khawatir dengan keselamatan istrinya saat ini.


"Ini pasti karena mereka sadar, Nai tidak diikuti banyak pengawal lagi saat ini. Dasar Brata, Brengsek!" Umpat Darel sambil mengepalkan tangannya.


Darel lalu memberi perintah kepada Mike agar menambah personilnya untuk mengawasi orang yang bernama Marco. Ia sudah terlanjur janji pada istrinya agar tidak membiarkan pengawal lebih dua orang untuk mengawasinya. Jadi, satu-satunya jalan adalah, mengawasi orang yang bernama Marco dari kejauhan.


Karena kurang puas, Darel lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar untuk menelepon Mike. Ia memilih halaman belakang untuk menelepon Mike.


"Selamat malam, Tuan Muda." Sahut Mike di seberang.


"Apa kau sudah menerima pesan dariku?" Tanya Darel.


"Iya, Tuan. Apakah ada sesuatu lagi?"


"Selidiki orang yang bernama Marco itu. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya. Kenapa dia bisa bekerja untuk Brata dan menjadi orang kepercayaan pria itu." Perintah Darel.


Darel lalu memutuskan panggilannya. Saat ia berbalik dan akan kembali ke kamar, ternyata Naiki sudah berada di depannya. Darel tersentak.


"Sayaaang... Kau mengagetkanku!" Seru darel sambil mengusap-usap dadanya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Naiki penasaran.


"Aku barusan menghubungi Mike." Sahut Darel. Naiki memicingkan matanya. "Ayolah, Sayang! Apa yang kau pikirkan?" Bujuk Darel.


"Kau tidak sedang berusaha menambah pengawal untukku secara diam-diam kan, Tuan Muda Gerandra?" Selidik Naiki.


Darel tersenyum, lalu berjalan mendekati Naiki dan menggandeng tangannya. Ia mengajak istrinya itu kembali ke kamar karena cuaca cukup berangin di luar.


"Aku tidak mungkin mengingkari janjiku, Sayang. Sesuai kesepakatan, aku hanya menempatkan dua orang pengawal untukmu. Itu juga tidak akan kau sadari." Ucap Darel sambil terus berjalan bergandengan tangan dengan Naiki menuju kamar.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Darel setibanya mereka di kamar.

__ADS_1


"Iya sudah. Apa kau sudah mengantuk?" Tanya Naiki sembari duduk di pinggir ranjang.


"Belum sama sekali. Kenapa? Apa kau ingin olahraga malam?" Goda Darel.


Plaaakkkk....


Satu pukulan mendarat di lengan Darel dan membuat Darel terkekeh. Naiki lalu menatap Darel dengan serius.


"Duduklah di sini!" Pinta Naiki. Ia menepuk-nepuk kasur di sampingnya.


"Kenapa?" Tanya Darel yang sudah duduk manis di samping istrinya.


"Apa kau akan sedih jika aku terluka?" Tanya Naiki tiba-tiba. Darel menaikkan satu alisnya heran.


"Aku hanya takut salah langkah karena telah memintamu untuk menarik para pengawal dari sisiku." Ujar Naiki. "Jadiiii...."


"Jadi apa?"


"Aku harap kau jangan menyalahi diri sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi padaku suatu hari nanti." Lanjut Naiki. "Karena tidak adanya pengawal adalah permintaanku. Jadi, apa pun yang akan terjadi, itu bukan kesalahanmu, paham?"


Darel terdiam. Bagaimana bisa Naiki tiba-tiba berkata seperti itu padanya? Hatinya benar-benar tidak tenang saat ini. Firasat buruk pun tiba-tiba muncul dan menghantui pikirannya malam itu.


"Aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri, Nai. Tapi aku akan mengejar Brata hingga ke liang kuburnya." Gumam Darel dalam hati.


**********


💙💙💙💙💙


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...

__ADS_1


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2