Pewaris Asli

Pewaris Asli
32 Kecurigaan Brata


__ADS_3

Meeting telah usai. Para karyawan dan pejabat yang menghadiri meeting triwulan pun sudah membubarkan diri. Ada yang kembali ke ruangan, namun ada juga yang lebih memilih makan siang.


Sementara itu di ruang Direktur Utama, tampak Steffanie dan Brata sedang duduk dalam satu ruangan namun hanya saling diam. Beberapa menit berlalu, mereka tetap larut dalam pikiran masing-masing.


"Panggil Sonya kemari!" Perintah Brata.


Steffanie bergegas mengambil handphonenya dan menghubungi Sonya. Tidak lupa ia meminta Sonya membawa berkas lamaran karyawan baru atas nama Naiki Rhea. Beberapa menit kemudian, Sonya mengetuk pintu dan masuk ke ruangan itu.


"Berikan berkas itu pada pamanmu." Perintah Steffanie sambil memainkan kuku-kuku palsunya.


Sonya menuruti perintah ibunya. Brata mengambil berkas itu lalu membukanya.


"Bagaimana bisa ada nama yang begitu mirip, bahkan wajahnya pun sangat familiar di mataku?" Gumam Brata.


Ia membolak-balikkan berkas di tangannya berkali-kali. Mencoba mencari persamaan dengan data yang ia ketahui. Namun nihil. Tidak ada yang sama kecuali nama. Brata semakin penasaran. Ia lalu menelepon seseorang.


"Cari tahu informasi tentang gadis bernama Naiki Rhea. Dia karyawan baru di sini." Perintah Brata pada orang kepercayaannya.


Setelah menutup teleponnya, Brata melempar berkas tadi ke atas meja di hadapannya. Matanya lalu tertuju ke Sonya.


"Di mana kau menemukannya?" Tanya Brata. Sonya diam sejenak, berpikir ke mana arah pertanyaan pamannya itu.


"Hhhmmm...dia lolos seleksi online, Paman. Dan....dan sebenarnya bukan aku yang merekrutnya langsung. Aku hanya mengatur penerimaan Justin saja. Sedangkan empat orang yang lainnya aku serahkan pada staff kepercayaanku." Ujar Sonya dengan penuh ketakutan. Ia sangat takut jika sampai melakukan kesalahan. Karena Sonya tahu, seberapa kejam Pamannya itu.


"Apa kau tidak pernah merasa dia sedikit familiar?" Tanya Brata lagi.


"Awal bertemu aku juga sempat curiga karena namanya sama, Paman. Tetapi setelah memerhatikannya, menurutku sangat tidak mungkin mereka orang yang sama." Sahut Sonya sambil tertunduk.


Brata memijat pelipisnya. Darah tingginya akan selalu kumat jika berpikir terlalu keras dan terlalu lelah.


"Kembalilah ke ruanganmu." Ucap Brata lalu meminum air mineral di mejanya.


Sonya bergegas keluar dari ruangan itu sebelum Brata berubah pikiran. Ia merasa tidak mampu menghadapi tempramen pamannya yang luar biasa itu. Di mata Sonya, pamannya tidak berbeda jauh dari psikopat. Anak kandungnya saja ia siksa, apalagi hanya keponakan. Sonya tidak berani membayangkannya.


"Bagaimana jika dia orang yang sama, Kak?" Tanya Steffanie tiba-tiba.


"Cih, aku tidak yakin. Anak-anak sial itu pasti sudah meninggal. Kau tahu kan, sudah berapa banyak uang yang kita habiskan untuk mencari mereka? Dan sampai berapa lama kita mencari tahu keberadaan mereka. Mereka tetap tidak ketemu." Cetus Brata.


"Tapi Kak, bila mereka memang sudah meninggal, kita pasti menemukan kuburannya." Bantah Steffanie. Brata menjadi geram.


"Apa kau kira semua gelandangan yang meninggal akan dikubur dengan batu nisan bernama?" Bentak Brata. "Dan lagi, mereka masih anak-anak waktu itu. Tidak ada tanda pengenal di tubuh mereka."


Steffanie hanya bisa menghela nafas panjang. Entah mengapa ia merasa bahwa Naiki si karyawan baru adalah Naiki yang telah lama mereka cari. Tentu saja dicari untuk disiksa, bukan sebaliknya.


**********

__ADS_1


Hari beranjak sore. Naiki dan Sisi sudah mengemas barang-barang mereka untuk dibawa pulang. Saat mereka hendak berjalan masuk lift, Justin menghadang mereka.


"Aku antar pulang ya, Nai." Tawar Justin.


Naiki dan Sisi saling menoleh. Naiki lalu memberi kode kepada Sisi untuk pulang lebih dulu darinya. Sisi pun menurut dan bergegas pergi meninggalkan Naiki dan Justin.


"Aku tahu kau pasti tidak akan menolak." Ucap Justin karena melihat Sisi sudah pergi meninggalkan mereka berdua atas permintaan Naiki.


Naiki tersenyum dingin. Kejadian di ruang meeting kembali terlintas di pikirannya. Naiki tetap bergeming. Ia tidak merespon apa pun yang dikatakan Justin, hingga pintu lift kembali terbuka. Naiki pun memasuki lift dan disusul oleh Justin. Beberapa karyawan lain yang ingin ikut masuk malah dicegah oleh Justin. Sikapnya menjadi arogan setelah pengumuman jabatan baru dirinya saat meeting triwulan.


Saat pintu lift tertutup, tangan Justin berusaha merangkul bahu Naiki. Namun Naiki sadar dan langsung menghindar.


"Apa maumu?" Cetus Naiki dan menatap tajam ke Justin.


"Hei...Ayolah...kau pasti menyukaiku. Tawaranku saja tidak kau tolak." Ucap Justin percaya diri.


"Aku? Mau pulang denganmu? Hah? Otakmu rusak, Tuan." Cetus Naiki.


Justin geram. Entah rasa percaya diri berlebihan yang muncul dari mana membuat Justin yakin kalau Naiki menyukainya. Padahal selama ini Naiki juga tidak pernah dekat dengannya.


"Aku peringatkan, Justin. Jangan pernah mencoba untuk memprovokasiku. Kau akan menyesalinya nanti." Ancam Naiki dan selesai tepat saat pintu lift terbuka. Naiki pun langsung melangkah keluar dari lift itu.


Naiki terus berjalan dan mencari keberadaan Darel. Justin ternyata tetap mengikutinya beberapa meter di belakang dan Naiki sadar itu.


"K**au bukan tandinganku, Justin." Batin Naiki dingin.


"Cepat kita pergi dari sini, Rel. Sepertinya banyak yang mengikuti kita sekarang." Ucap Naiki sambil mengenakan helmnya.


"Lho? Kau habis ngapain, Nai?" Tanya Darel heran.


"Nanti aku cerita kalau sudah di rumah. Ayo jalan!" Sahut Naiki sambil menepuk pundak Darel.


Mereka pun melaju dengan kecepatan sedang. Sesuai dugaan Naiki, ada sebuah mobil dan motor yang mengikutinya dari belakang. Darel juga menyadari itu. Ia lalu menghubungi Kepala Pengawal Bayangan melalui handsfree-nya.


"Bereskan mereka!" Perintah Darel. Ia lalu menambah kecepatannya dan melesat sejauh mungkin dari orang-orang yang mengikuti mereka.


Naiki dan Darel tiba di kediaman mereka lebih cepat dari biasanya. Darel membuka helm dan maskernya tanpa turun dari sepeda motor.


"Kau berhutang penjelasan padaku, Gadis Tengil!" Ucapnya sembari menoleh ke belakang.


Naiki hanya memutar bola matanya. Ia lalu melepas helm, dan turun dari sepeda motor Darel. Dengan santai dan tanpa rasa cemas, ia berjalan masuk ke rumah dan meninggalkan Darel.


Naiki bergegas masuk ke kamar mandi. Ia sangat lelah hari ini. Emosinya seolah dibuat naik turun oleh kejadian-kejadian hari ini.


Tiga puluh menit berlalu, Naiki sudah menyelesaikan mandinya dan duduk di depan tv yang ada di kamar. Kali ini Naiki lebih memilih duduk di karpet tebal yang terbentang di depan tv.

__ADS_1


Ceklek...


Darel muncul dari balik pintu dengan sekantong roti isi di tangannya. Ia lalu berjalan mendekati Naiki.


"Ini cemilan untukmu." Ucap Darel sembari meletakkan kantong berisi roti tersebut di hadapan Naiki.


"Terima kasih." Ucap Naiki datar.


Darel lalu membaringkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di paha Naiki. Mata Naiki membulat. Ingin mengelak, tapi tidak tega.


"Jadi, apa yang sudah kau lakukan hari ini, Nyonya Gerandra?" Tanya Darel. Ia menusuk pipi Naiki dengan jari telunjuknya.


"Aku hanya menampakkan diri sebentar depan Brata dan Steffanie." Sahut Naiki cuek lalu melahap roti isinya.


"Setelah itu?" Selidik Darel.


"Aku menyebutkan namaku dan menyinggung masalah perusahaan yang sudah hampir bangkrut."


"Kau benar-benar tidak takut mati, Sayang." Celetuk Darel.


"Aku sudah mati dua puluh tahun yang lalu, Darel." Lirih Naiki. Wajahnya berubah pias.


Darel langsung mengangkat tubuhnya dan memeluk Naiki. "Kau tidak boleh berkata seperti itu. Aku sedih mendengarnya." Ucap Darel.


Naiki terkejut dengan kalimat Darel. "Mengapa ia mendadak menjadi manja?" Batin Naiki heran.


Naiki lalu menepuk-nepuk punggung Darel. "Tidak apa. Kau tahu kemampuanku, kan? Apa kau ingin mencobanya?"


Mendengar perkataan Naiki, Darel langsung melepaskan pelukannya. "Di mana? Di sana?" Tanya Darel sambil melempar pandangan ke arah ranjang.


Pletaaakkkk...


"Aawwww..." Pekik Darel. Satu sentilan mendarat di dahinya.


"Dasar mesum!" Semprot Naiki lalu beranjak pergi. Darel bergegas mengejar.


"Mau ke mana?" Tanya Darel sambil berlari mengejar Naiki.


"Ke halaman belakang. Ayo kita bertarung, Suamiku!" Ucap Naiki sambil tersenyum.


Darel tersipu mendengar Naiki memanggilnya dengan sebutan "Suamiku". Tapi apa itu? Bertarung? Darel geleng-geleng kepala dibuatnya.


************


Terus dukung author yaa... makasih

__ADS_1


💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙


__ADS_2