Pewaris Asli

Pewaris Asli
22 Kamar Pengantin (2)


__ADS_3

Darel tertawa mendengarnya. "Dia sungguh menggemaskan." Batin Darel. Ia lalu mendekati Naiki, memegang bahu Naiki lalu memutar badan istrinya itu hingga membelakanginya.


Tanpa diketahui Naiki, jantung Darel sebenarnya berdegup dengan kencang. Muka Darel mendadak merah. Sungguh Darel berusaha sekuatnya untuk menekan hasratnya saat itu. Terlebih ketika menatap pundak Naiki yang putih dan perlahan membuka resleting gaun Naiki hingga menampakkan punggung wanita itu.


"Tahan Darel tahan...istrimu belum siap. Hargai dia." Batin Darel seakan meronta.


"Hei...sudah belum?" Ucap Naiki. Ia memecah lamunan Darel.


"Eh i-iya sudah. Aku keluar sekarang." Sahut Darel terbata lalu bergegas keluar dengan langkah panjangnya. Darel tidak ingin Naiki melihat betapa merahnya wajahnya sekarang.


Naiki menatap ke arah pintu kamar mandi dengan heran. "Dasar aneh!" Umpat Naiki sambil menutup pintu kamar mandi.


Darel sudah kembali ke tempatnya semula. Namun ia hanya berdiri sambil memegangi pinggiran sofa. Dadanya terasa ingin meledak. Ia lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Diusap-usapnya dadanya yang berdegup tidak teratur sejak dari kamar mandi tadi.


"Jantung, tenanglah. Ok? Aku mohon tenanglah." Ucapnya pada dirinya sendiri.


"Dasar jiwa perjaka!" Darel mengumpat dirinya sendiri.


Ia lalu duduk di sofa, menumpukan kedua sikunya di atas paha dan meremas rambutnya. Sungguh sangat sulit bagi Darel. Seorang pria normal yang baru saja menikah, namun tetap tidak leluasa menyentuh istrinya sendiri. Bukan karena Naiki yang menolak, tapi karena keputusannya sendiri yang tidak ingin membuat istrinya tiba-tiba kambuh. Hal buruk bisa saja terjadi dan Darel tidak menginginkan itu.


Tiga puluh menit berlalu. Naiki akhirnya muncul dari balik pintu kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi dan handuk yang menggulung rambut panjangnya. Naiki melihat ke arah Darel yang tampak terlelap di sebuah sofa.


Naiki lalu menuju ruang ganti pakaian. Beberapa menit kemudian, Naiki keluar dan sudah mengenakan piyamanya. Piyama sutra bewarna navy yang sudah ada di lemari pakaian di ruang ganti kamar itu lengkap dengan pasangannya, satu setel piyama pria dengan warna senada.


Naiki lalu mendekati Darel. Tangannya terulur untuk mengambil komputer tablet yang masih dipegang Darel di atas dadanya. Diraihnya tangan Darel perlahan dan diambilnya benda gepeng itu. Namun saat Naiki sudah menaruh benda itu di atas meja di samping sofa, tiba-tiba Darel terbangun dan langsung menarik tangan Naiki.

__ADS_1


Bruuukkk....


Tubuh Naiki jatuh tepat di atas pangkuan Darel. Darel lalu tersenyum menatap Naiki yang berekspresi datar. Satu tangan Darel masih memegang tangan Naiki, dan satunya lagi memegang pinggang ramping Naiki. Naiki merona. Jarak mereka sungguh dekat saat ini. Hingga Naiki dapat merasakan detak jantung Darel dan hembusan nafasnya. Rambut basah Naiki terjuntai dan menyentuh sedikit wajah Darel.


"Kau akan sakit bila tidur dengan rambut basah, Nyonya Gerandra." Ucap Darel.


Tidak ada jawaban dari Naiki. Ia terdiam menatap wajah tampan Darel yang sangat dekat dengan wajahnya. Tangannya bertumpu pada bahu Darel yang tampak kokoh. "Dia sangat tampan, bahkan saat bangun tidur?" Pikir Naiki dalam hati.


"Kau tahu Nyonya, kau harus membayar bila ingin terus menatap wajah tampanku ini." Bisik Darel di telinga Naiki.


Naiki tersadar, wajahnya sungguh merah, ia salah tingkah kemudian bergerak asal-asalan lalu turun dari pangkuan Darel dan berlari menuju ranjang. Naiki sangat malu. Ia naik ke atas ranjang yang sudah ditata cantik dengan taburan mawar putih di atasnya. Naiki tidak peduli lagi dengan dekorasi romantis itu. Ia hanya ingin membenamkan tubuh dan mukanya di balik selimut tebal di atas ranjang itu.


Darel tersenyum melihat tingkah Naiki. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. "Sial, sepertinya aku harus mandi air dingin malam ini." Rutuk Darel dalam hati.


"Ma, kira-kira gimana ya kabarnya Kak Darel sama Kak Nai?" Kekeh Killa.


"Kau tau kan, kemampuan mamamu dalam mendesain pakaian?"


"Maksud mama?" Tanya Killa penasaran.


"Gaun yang dipakai Nai memang sangat mudah untuk dikenakan sendiri. Namun, tidak saat melepaskannya." Sahut Vanya sambil tersenyum nakal.


"Hahaha...ya ya ya Killa paham."


Mereka lalu tertawa bersama dengan pikiran masing-masing. Pikiran yang pada intinya berharap kalau sepasang pengantin itu benar-benar menikmati malam ini.

__ADS_1


Empat puluh menit berlalu, Darel akhirnya sudah selesai mandi dan telah mengenakan piyama navy-nya, sama seperti Naiki. Ia lalu naik ke atas ranjang di sisi lainnya. Naiki tampak sudah terlelap dengan wajah yang nyaris tertutup selimut seluruhnya.


Darel lalu merapikan selimut di atas tubuh Naiki dan ikut menutupi tubuhnya. Ia lalu membelai rambut Naiki yang ternyata sudah kering karena Naiki mengeringkannya dengan cepat saat Darel di kamar mandi. Darel lalu mengecup dahi istrinya.


"Selamat malam Sayang. Tidur yang nyenyak." Lirih Darel lalu berbaring di samping Naiki dan memejamkan matanya.


***********


Pagi menjelang. Namun kamar president suite tersebut masih tampak sunyi. Naiki dan Darel terlihat masih terlelap dengan posisi Naiki memeluk tubuh Darel seperti bantal guling.


Darel merasa ada sesuatu yang menindih tubuhnya. Perlahan ia membuka mata dan melihat Naiki yang masih tidur sambil memeluk dirinya. Berkali-kali Darel mengedip-ngedipkan matanya, mencoba memperjelas penglihatannya yang masih buram karena belum tersadar sepenuhnya.


Darel tersenyum lalu menoleh ke arah Naiki. Dipandangnya wajah istrinya yang masih terlelap itu. "Kau bahkan sangat cantik saat tertidur." Batinnya. Darel lalu menundukkan kepalanya perlahan dan mengecup dahi istrinya.


Melihat ada pergerakan dari Naiki setelah dicium olehnya, Darel kembali memejamkan matanya berpura-pura tidur. Beberapa detik kemudian, Naiki sungguh membuka matanya. Ia kaget dengan posisinya saat ini. Reflek ia melepaskan pelukannya dan hampir mendorong tubuh Darel dengan keras. Namun, ia segera tersadar saat tangannya telah menekan dada Darel dengan kuat, ingin mendorongnya.


"Astagaaaa....apa yang aku lakukan?" Gumam Naiki panik. Ia lalu duduk dan ingin turun dari ranjang, namun Darel tiba-tiba meraih tangannya dan menarik Naiki ke dalam pelukannya dengan mata terpejam.


"Tetaplah seperti ini, sebentar saja." Lirih Darel. Ia memeluk tubuh Naiki dari belakang dengan erat. Dagunya menempel di bahu Naiki. Membuat nafasnya yang hangat menyapu leher jenjang Naiki.


Naiki menuruti permintaan Darel. Ia menyadari sesuatu. Pelukan Darel terasa hangat dan membuatnya sungguh nyaman. Perlahan pikirannya yang berat terasa ringan. Naiki merasa beban di hatinya perlahan mulai berkurang.


************


Jangan lupa like, vote, dan komen yah.. Thanks

__ADS_1


__ADS_2