Pewaris Asli

Pewaris Asli
37 Gerah


__ADS_3

Hari beranjak subuh, Naiki mulai terbangun dan merasakan Darel memeluknya. Wangi khas tubuh Darel yang maskulin menyeruak ke hidung Naiki. Naiki mencoba membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa berat. Saat pandangannya perlahan menjadi jelas, bola mata Naiki seolah membulat, terkejut melihat pemandangan beberapa centi dari wajahnya.


Darel tertidur dengan bertelanjang dada dan memeluk Naiki. Wajah Naiki tepat berada di dada bidang Darel saat ini.


"Apa aku bermimpi?" Batin Naiki. Ia lalu mengedip-ngedipkan matanya kembali.


"Sepertinya memang mimpi, wah...bisa-bisanya aku mimpi mesum begini." Kekeh Naiki dalam hati. "Kalau gitu, aku akan coba menyentuhnya."


Naiki lalu menusuk-nusuk perut sixpack Darel dengan telunjuknya. "Wah, ini terasa seperti nyata. Benar-benar kenyal."


Naiki terus-terusan memainkan jarinya di perut dan dada Darel. Hingga membuat siempunya terbangun, namun Naiki tidak sadar itu. Darel tersenyum melihat kelakuan istrinya.


"Apa kau tahu, menyentuh tubuhku itu tidak gratis, Sayang?" Ucap Darel yang langsung mengubah posisinya di atas Naiki dengan sangat cepat. Kedua tangannya bertumpu di kanan dan kiri kepala Naiki.


Naiki tersentak. Pandangan matanya seketika menjadi jelas. Ia tidak bisa bergerak ke mana pun karena terkungkung oleh tubuh tinggi Darel.


"Jadi, katakan padaku, dengan cara apa kau akan membayarnya?" Goda Darel, sambil memainkan rambut panjang Naiki dengan salah satu tangannya.


Wajah Naiki merona. Ia tidak berani menatap mata Darel yang terus menggodanya. "A-aku tidak sengaja. Bukankah kejahatan selalu muncul bila ada kesempatan?" Ucap Naiki asal.


Darel memicingkan matanya. "Kesempatan? Maksudmu?"


"Yaaahh....salah kau sendiri, kenapa tidur tidak pakai baju. Jelas-jelas dingin gini." Sahut Naiki sambil menatap ke arah lain.


Darel tersenyum mendengarnya. "Jadi kau mencoba mengambil kesempatan saat aku tidur?"


Naiki merasa terintimidasi dengan kalimat Darel. Dia tidak dapat menjawab pertanyaan suaminya itu. Bibirnya terasa kaku. Wajahnya semakin memerah.


"Kau tahu kenapa aku tidur tidak mengenakan baju?" Tanya Darel. Naiki menggeleng pelan.


"Karna aku gerah tidur di sampingmu, Sayang." Bisik Darel di telinga Naiki.


Naiki menggigit bibir bawahnya. Nafas Darel yang hangat terasa menggelitik di telinga dan lehernya. Darel menahan tawa melihat ekspresi Naiki saat ini.


"Sayang, menggangguku di pagi hari itu sangat berbahaya, paham?" Goda Darel sembari menarik dagu Naiki agar Naiki menatapnya.


Naiki mengedip-ngedipkan matanya. Jantungnya seakan terus berpacu saat menatap wajah Darel yang semakin mendekat. Tangan Darel yang semula memegang dagu Naiki, mulai berpindah memegang tengkuk Naiki. Sedangkan tangan satunya menahan bobot tubuhnya.

__ADS_1


Dengan lembut Darel mengecup bibir Naiki. Naiki terdiam, namun beberapa detik kemudian, Naiki memejamkan matanya, seakan menikmati sentuhan bibir Darel di bibir ranumnya. Tanpa sadar, Naiki pun membalas kecupan Darel. Darel semakin bergairah saat tahu Naiki membalas ciumannya. Namun tiba-tiba Naiki mendorong tubuh Darel. Darel tersentak.


"Aku tidak bisa bernafas, Darel." Cetus Naiki dengan nafas tersengal.


Darel tertawa kecil mendengar perkataan istrinya itu. Ia lalu mengecup kening Naiki. "Maafkan aku."


Darel lalu membanting tubuhnya ke sebelah Naiki kembali. "Kau benar-benar harus banyak berlatih, Sayang." Kekeh Darel. Dia sangat candu menggoda istri dinginnya itu.


"Latihan apa?" Tanya Naiki penasaran.


"Latihan pernafasan, Sayang...." Sahut Darel sembari memiringkan tubuhnya, menghadap Naiki. "Kau lupa, minggu depan kan kita akan pergi bulan madu." Darel mengedipkan sebelah matanya genit.


"Haaaah???" Naiki tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia merasa suaminya itu begitu "ajaib".


"Sana mandi! Kau akan telat kalau tidak segera mandi. Aku akan mandi di kamar mandi lain." Ucap Darel seraya turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar.


"Hisssh...sepertinya harus mandi air dingin." Rutuk Darel dalam hati dan bergegas ke kamar lain untuk mandi.


*********


Naiki menjalani aktifitasnya di kantor seperti biasa. Tanpa menyadari bahwa keselamatan dirinya makin hari makin terancam. Ia diincar banyak orang sekarang. Baik itu sebagai Naiki Rhea, atau pun sebagai Rhea Caraka.


Yang sangat jelas adalah pergerakan Steffanie. Hari ini Steffanie tidak ke kantor. Ia menghubungi sebuah kelompok yang terbiasa mengambil job ilegal, seperti penyelundupan senjata, obat-obatan terlarang, pencurian, maupun pembunuhan. Steffanie menggelontorkan uang tidak sedikit untuk membayar orang-orang itu. Ia mau, keinginan putrinya terwujud dengan segera.


Orang suruhan yang diminta Steffanie kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Steffanie memang banyak memiliki link kelompok seperti itu. Termasuk yang ia kirim untuk menyerang Darel dan Naiki tempo hari. Entah sudah berapa banyak kejahatan yang dilakukan Steffanie melalui orang-orang suruhan seperti itu.


Tak tok tak tok tak tok...


Terdengar suara heels di atas lantai. Semakin lama terdengar semakin jelas. Ternyata itu Sonya. Ia datang ke ruang kerja Tim Pemasaran, dan mencari keberadaan Naiki. Sonya lalu melangkah mendekati Naiki yang sedang menatap serius ke laptopnya.


Sisi menyadari kedatangan Sonya. Ia lalu memanggil Naiki dengan lirih. "Nai...sepertinya ada yang mencarimu."


Naiki menoleh ke Sisi, lalu melempar pandangan langsung ke asal suara langkah kaki yang berisik. Ia lalu tersenyum dingin.


Brakkkk....


Sonya menggebrak meja kerja Naiki. Sisi terlonjak, begitu pun karyawan lain yang mejanya berada tidak jauh dari Naiki. Naiki mengangkat wajahnya dan menatap Sonya dengan tajam. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di kursi, menyilangkan kakinya, dan melipat tangannya di depan dada. Naiki seolah menantang keberanian Sonya.

__ADS_1


Para karyawan yang berada di ruangan itu pun mulai berbisik-bisik di tempat duduknya masing-masing. Mereka banyak yang mengasihani Naiki. Belum satu bulan bekerja, tapi sudah harus bermasalah dengan Nona Sonya. Manager HRD Brata Corp yang terkenal menyebalkan dan gila pujian.


"Ada apa Nona Sonya?" Tanya Naiki santai sambil memutar-mutarkan pulpen di jarinya.


"Kau! Akan segera aku pecat." Ancam Sonya sambil menunjuk wajah Naiki.


Naiki tidak takut. Ia bahkan tersenyum licik di kursinya. "Oh, hanya itu?" Tanya Naiki kemudian.


"Kau juga akan segera tahu, risiko telah berani menyinggungku." Cetus Sonya angkuh. Ia membusungkan dada palsunya, merasa memiliki derajat lebih tinggi daripada Naiki.


"Hahaha..." Naiki tertawa mendengar perkataan Sonya. Orang-orang yang melihat, terkejut dibuatnya. Tak terkecuali Sonya. "Kau serius?"


"Hei! Kau bahkan sangat sombong dengan statusmu ini. Sifatmu sama persis seperti orang yang kubenci. Bahkan namamu. Dasar rendahan!" Hina Sonya.


"Kau serius mau mencari masalah denganku? Kau akan menyesal nanti..." Ucap Naiki sembari berdiri dari duduknya dan mendekat ke samping Sonya. "Princess Sonya." Bisik Naiki, melanjutkan kalimatnya.


Sonya tersentak mendengar Naiki menyebut panggilan semasa kecilnya dahulu saat ia bermain dengan Naiki. Tubuh Sonya tiba-tiba gemetar. Logikanya menolak jika Naiki di dekatnya sekarang adalah orang yang sama dengan sepupunya yang menghilang.


Naiki lalu kembali ke duduk. Ia tetap menyunggingkan senyum licik di bibirnya. Naiki tahu, Sonya mulai ketakutan saat ini. Sonya mungkin merasa dihantui bayang-bayang Naiki kecil setelah mendengar perkataan Naiki tadi.


Naiki terus menatap Sonya, memerhatikan gerak-gerik wanita itu tanpa berkata apa pun. Begitu pun dengan Sonya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Sonya lalu membalikkan tubuhnya. Ia tidak berani menatap Naiki. Seperti ada ketakutan yang besar dalam dirinya saat ini. Ia lalu melangkah meninggalkan Naiki dengan pelan.


"Kau pasti akan mati hari ini, Nai. Aku yakin itu." Umpat Sonya dalam hati.


Dengan santai Naiki lalu melanjutkan pekerjaannya. Sisi pun heran melihat atasannya itu. Ia juga penasaran, kalimat apa yang dibisikkan Naiki pada Sonya tadi sehingga Sonya berhenti membuat keributan dengan Naiki.


"Sisi, kabarkan Panjul. Siapkan beberapa pengawal untukmu mulai hari ini. Aku yakin, Sonya pasti ada rencana lain untukku. Untuk berjaga-jaga, kau juga harus diberi pengawal. Karena setiap orang yang ada di dekatku pasti berisiko disakiti." Perintah Naiki. Sisi mengangguk dengan cepat.


"Baik, Nai." Jawab Sisi dan langsung mengetikkan pesan untuk Ivan, asisten Naiki di Caraka Corp.


***********


Besok lagi yaa... Ceritanya nggak putus kok...


Terima kasih sudah baca, ya...


💙💙💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2