
Wisnu hanya tersenyum. Naiki lalu mengecek satu per satu dokumen yang terdapat di dalam koper tersebut. Ternyata benar, itu adalah surat wasiat almarhumah mamanya beserta beberapa surat kepemilikan aset yang Alya miliki semasa dia hidup. Salah satu surat berharga itu adalah surat kepemilikan atas perusahaan yang bernama AP Company yang diklaim Brata adalah perusahaan miliknya dan telah diubahnya menjadi Brata Corp. Sedangkan dokumen lain di antaranya adalah surat kepemilikan atas panti asuhan, delapan lahan kosong yang luasnya minimal 500 Ha, beberapa properti, dan beberapa kepemilikan saham di perusahaan lain. Seluruh aset itu adalah hak milik Naiki dan Rhean.
"Ini berarti, aku bisa menuntut Brata karena sudah merampas dan mengubah nama perusahaan mama kan, Paman?" Tanya Naiki.
"Kau bebas ingin melakukan apa pun padanya, Nona kecil. Brata tidak berhak sedikit pun atas perusahaan itu." Sahut Wisnu.
Naiki hanya menarik nafas dan menghembuskannya. Darel pun mengusap punggung istrinya itu dengan lembut. Ia tahu, semua informasi yang diterima istrinya hari ini sungguh sangatlah berat. Begitupun dengan kakek Caraka dan Rhean. Mereka tidak bermaksud melakukan pembalasan atas kekejaman Brata, namun mereka akan selalu mendukung Naiki apa pun yang akan ia lakukan nanti.
Naiki lalu meraih sepucuk surat dengan kertas berbeda di dalam koper tersebut. Secarik kertas yang tampak sudah berubah warna kekuningan dengan garis-garis khas kertas catatan.
"Bacalah!" Ucap Rhean pada Naiki.
Dear Anak-anakku tersayang,
Rhean dan Nai,
Bila surat ini sampai di tangan kalian, itu berarti mama sudah tidak di dunia ini lagi. Maafkan mama.
Mama harap, kalian hidup dengan baik dan bahagia selama ini. Apa pun yang kalian alami karena masa kecil yang buruk itu, mama mohon maafkan mama.
Maafkan mama karena tidak bisa memberikan kalian masa kecil yang indah.
Maafkan mama karena tidak bisa memberikan keluarga yang bahagia.
Maafkan mama karena tidak bisa menemani kalian hingga dewasa.
Rhean,
Nai...
Hiduplah dengan bahagia.
Carilah pasangan yang baik, yang dapat menerima kalian apa adanya.
Cintai keluarga kalian dan besarkan anak-anak kalian dengan baik dan penuh kasih.
Anak-anak mama ingatlah...
__ADS_1
Harta bisa menjadi senjata pembunuh yang sangat kejam.
Satu-satunya harta yang berharga hanya keluarga.
Rhean, Nai...
Siapa pun di antara kalian,
Mama harap dapat mempertahankan AP Company, dan jadikan perusahaan itu sebagai salah satu jalan untuk menolong sesama. Mama yakin kalian mengerti hal itu.
Ingatlah, masih banyak orang di luar sana yang hidupnya lebih menyakitkan dibandingkan kita. Teruslah bersyukur.
Rhean, Nai...
Mama sayang kalian.
Hiduplah dengan bahagia.
Naiki dan Rhean meneteskan airmatanya saat membaca surat dari Alya. Sepucuk surat yang berisikan harapan terakhir mama mereka. Naiki lalu melipat kembali surat itu dan menyimpan kembali ke dalam koper. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.
"Nona kecil, Tuan muda, Tuan besar, apakah kalian ingin ziarah ke makam Nyonya? Aku akan mengantar kalian ke sana." Ucap Wisnu memecah keheningan.
Kakek Caraka lalu meminta Wilson untuk mengantarkan Wisnu beserta pengawalnya ke kamar tamu untuk beristirahat. Naiki, Rhean, dan Darel tetap di ruang tamu, sedangkan Kakek Caraka memilih masuk ke kamarnya untuk beristirahat hingga jam makan malam tiba.
"Kak, menurutmu apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya Naiki lirih.
Rhean menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, menatap ke langit-langit rumah.
"Karena mama menginginkan kita menjaga perusahaan itu, aku rasa kau harus mempercepat pekerjaanmu, Nai." Ucap Rhean santai.
"Bukankah kau selalu melarangku dan memintaku untuk melupakan semuanya?" Hardik Naiki.
"Sekarang aku berubah pikiran." Tukas Rhean sembari berdiri dari duduknya. "Bergeraklah. Aku akan selalu mendukungmu. Katakan padaku jika kau membutuhkan bantuan." Ucap Rhean sambil melirik ke arah Darel. "Ah, sepertinya kau lebih membutuhkan suamimu sekarang daripada kakakmu yang tampan ini."
Bughh...
Satu bantal sofa mendarat di kepala Rhean. Pria itu hanya tertawa, menunjukkan deretan gigi putihnya lalu mengedipkan sebelah matanya dan berlalu pergi.
__ADS_1
"Hhhmmm...Sayang, ayo kita kembali ke kamar." Ucap Darel ragu-ragu. Ia takut satu bantal juga melayang ke kepalanya.
"Ok." Jawab Naiki singkat.
**********
Hari berganti. Pagi-pagi sekali Kakek Caraka, Naiki, Rhean, Darel, Wisnu, dan pengawalnya sudah siap untuk berziarah ke makam Alya. Elis tidak ikut karena morning sickness yang dialaminya.
Karena mata-mata Brata selalu mengawasi dari kejauhan, jadi mereka memutuskan untuk menaiki mobil van yang sengaja digunakan Wisnu ke sana dengan pertimbangan kaca mobil yang gelap. Jadi, mata-mata tersebut tidak akan dapat mengetahui siapa saja yang berada di dalam mobil tersebut.
Tepat pukul 08.00 wib, mereka berangkat menuju pemakaman yang terletak di sebuah bukit yang indah di dekat pegunungan dan jauh dari kota. Setelah hampir dua jam, mereka akhirnya tiba di lokasi. Naiki menatap takjub komplek pemakaman di depannya. Sebuah pemakaman yang sangat indah, tidak tampak menyeramkan, dan tertata dengan sangat rapi. Seluruh makam terlihat sama. Dengan batu nisan di atasnya dan rumput hijau yang menyelimuti gundukan tanahnya.
Udara di sekitar pemakaman itu juga sangat sejuk. Pemandangan yang tampak dari atas bukit pemakaman itu pun sangat indah. Mereka lalu berjalan kurang lebih lima puluh meter ke atas bukit dan tibalah mereka di depan makam Alya. Tidak ada lagi kesedihan di wajah mereka.
'Tempat istirahat terakhirmu sangat indah, Ma.' Batin Naiki sambil tersenyum.
Naiki lalu meletakkan buket bunga mawar putih di atas nisan mamanya. Ia duduk sambil mengusap nisan mamanya itu. 'Mama, ini suamiku. Dia tampan, kan? Dia adalah anak mama Vanya, sahabat mama.' Batin Naiki kembali.
"Terima kasih kau telah memakamkan putriku di tempat yang indah seperti ini, Wisnu." Ucap Kakek Caraka. Ia pun ikut berjongkok di samping Darel dan Naiki. Sedangkan Rhean berjongkok di sisi lain makam.
Wisnu hanya tersenyum mendengar perkataan Kakek Caraka. Ia lalu ikut berjongkok bersama keluarga itu dan turut memanjatkan doa untuk Alya.
'Ma, sebentar lagi kau akan memiliki cucu. Aku janji akan membesarkannya dengan penuh kasih sayang seperti perintahmu. Istirahatlah dengan tenang.' Batin Rhean.
Setelah memanjatkan doa, mereka lalu berdiri dan meninggalkan makam Alya, kecuali Naiki dan Darel yang tampak masih betah berdiri di samping makam Alya.
"Ma, aku akan mewujudkan semua keinginanmu." Lirih Naiki sembari menggenggam erat tangan Darel lalu berjalan menyusul yang lain untuk kembali ke kediaman Caraka.
**********
💙💙💙💙💙
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
__ADS_1
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙