Pewaris Asli

Pewaris Asli
62 Obsesi Grace


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu dan hari ini adalah kepulangan Naiki dan Darel dari perjalanan bulan madu mereka. Pasangan suami istri itu sudah berada di pekarangan rumah dengan Naiki yang terus menekuk wajahnya dan berjalan lebih dulu dari Darel.


"Sayang...Ayolah...! Aku kan sudah minta maaf berkali-kali padamu. Aku tidak mau dicuekin begini." Ujar Darel sambil terus berjalan mengejar Naiki.


"Kau katakan saja semuanya dengan tembok!" Ketus Naiki sambil berjalan cepat masuk ke kamar dan membanting pintu kamar dengan kuat.


"Huh...ini semua salahmu karena tidak bisa menahan diri. Dia sangat marah sekarang karena tidak puas liburan ke sana." Ucap Darel sambil melihat ke bawah, tempat pusakanya berada.


Ternyata, Naiki marah pada Darel karena waktunya di Santorini banyak dihabiskan di kamar hotel saja. Terlebih lagi saat Darel mendapatkan telepon dari Berry agar segera kembali sehari lebih awal dari jadwal sebelumnya karena ada meeting penting yang mengharuskan kehadiran Darel di sana. Naiki kesal, karena seharusnya pada hari keempat mereka akan jalan-jalan ke Kota Fira, ibukotanya Santorini.


Naiki merasa waktunya sangat sedikit di sana karena lebih banyak berada di hotel untuk melayani kegilaan Darel di ranjang daripada berkeliling ke tempat-tempat wisata. Dan ketika Naiki sudah siap untuk berangkat ke Fira pagi-pagi sekali, Darel pun mengatakan akan kembali ke Indonesia saat itu juga. Naiki pun diam dan tidak menggubris Darel selama di perjalanan pulang.


Darel merasa sangat lelah dengan perjalanannya yang memakan waktu lebih dari 15 jam itu. Ditambah lagi dengan perbedaan waktu yang membuat dirinya jet lag saat ini. Ia pun beristirahat sejenak di sofa. Setelah merasa cukup, Darel pun bergegas ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap-siap menuju perusahaannya.


**********


Naiki terbangun saat pagi sudah menjelang siang. Ia merasa tubuhnya sangat lelah. Naiki lalu melihat jam di dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul 10.30 wib. Ia pun memutuskan untuk bekerja di rumah saja. Naiki lalu turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang tidak sempat ia lakukan saat tiba tadi, karena merasa sangat lelah dan kesal bersamaan.


Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambutnya, Naiki pun mengambil laptop dan menghidupkannya. Kali ini Naiki lebih memilih untuk duduk di atas karpet depan TV di kamar.


"Selamat siang, Nona." Sahut Ivan saat Naiki memanggil kontaknya.


"Apa kau terus memantau Brata beberapa hari ini, Panjul?" Tanya Naiki sambil membagi otaknya untuk membaca laporan di emailnya.


"Saya sudah mengirim beberapa orang untuk terus mengikutinya, Nona. Dan sepertinya dia ada menyembunyikan sesuatu. Apabila anda ada urusan ke luar, mohon untuk berhati-hati Nona." Ucap Ivan.

__ADS_1


"Ok baiklah. Bagaimana dengan perusahaan? Apakah ada yang berjalan tidak lancar?" Tanya Naiki.


"Semuanya lancar, Nona. Ada Tuan besar yang membantu beberapa hari ini."


"Benarkah? Tidak biasanya dia rela meninggalkan taman bunganya lebih dari satu hari." Ucap Naiki. Ivan hanya tertawa kikuk.


"Terus, bagaimana dengan Sisi?"


"Dia bekerja dengan sangat baik, Nona. Kinerjanya semakin hari semakin membaik." Ujar Ivan.


"Ok baiklah. Kembalilah bekerja." Perintah Naiki lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Naiki lalu kembali membaca laporan-laporan yang menumpuk di emailnya. Banyak hal yang harus ditundanya karena bulan madu dadakan yang diatur suami dan kakeknya itu. Sehingga Naiki pun harus ekstra keras menyelesaikan semua itu dengan baik.


***********


"No, Baby! Kau tidak bisa menyinggung mereka. Terlebih lagi istrinya." Tukas Tuan Miller.


Grace menekuk wajahnya karena tidak senang mendengar perkataan ayahnya itu. Ia merasa, istri Darel Adelard Gerandra hanyalah wanita biasa tanpa latar belakang yang hebat.


"Dia hanya wanita miskin yang berhasil naik ke ranjang Tuan Muda keluarga kaya untuk kepentingan pribadinya. Aku yakin itu, Daddy." Cetus Grace.


"Hentikan, Grace! Kita memang tidak tahu siapa Nyonya Muda Gerandra. Tapi menurut orang yang Daddy tugaskan menyelidiki itu, kemungkinan besar dia adalah Rhea Caraka. Kau tahu dia? Bahkan dengan seluruh kekayaan kita ini, kita hanya seperti seekor semut di matanya." Sentak Miller yang semakin geregetan pada putrinya itu.


"Huh, tidak mungkin dia Rhea Caraka. Aku akan menyelidikinya sendiri." Ucap Grace lalu pergi meninggalkan Miller di ruang kerjanya.

__ADS_1


Miller mengusap wajahnya kasar. Ia tidak habis pikir, putrinya tumbuh menjadi gadis yang manja dan arogan seperti itu. Informasi samar yang ia dapatkan dari orang suruhannya membuat ia sadar bahwa perkataan Berry benar adanya. Miller atau pun Grace sama sekali tidak dapat menyentuh Nyonya Muda Gerandra walaupun statusnya bukan istri dari Darel Adelard Gerandra sekalipun.


Semua perkataan Berry bukan hanya terngiang di kepalanya, namun juga seolah terdengar langsung oleh telinga Miller kapan pun dan di mana pun. Miller menyerah dan mengaku salah, namun tidak dengan putrinya yang keras kepala dan manja itu. Dia sungguh menyimpan dendam pada sosok istri Tuan Muda Gerandra.


Sudah beberapa hari ini Grace terus menyelidiki Rhea Caraka. Ia sangat penasaran dengan wajah wanita itu. Grace pun membuka dokumentasi pesta ulang tahunnya. Dia berusaha mencari foto-foto Nyonya Muda Gerandra yang tertangkap kamera. Sepertinya Grace ingin membandingkan dengan foto Rhea Caraka yang ia dapatkan dari berbagai sumber. Yang pastinya hanya sebagian wajahnya saja yang terlihat.


"Kenapa memangnya kalau dia Rhea Caraka? Wajah di balik maskernya itu pasti tidak secantik yang orang-orang bayangkan." Umpatnya sambil terus mengklik mouse komputer di tangannya.


"Ini dia Si j4lang." Serunya saat menemukan foto Naiki yang sangat jelas di malam pesta itu.


Grace pun mengirimkan foto tersebut pada seseorang untuk diselidiki. Tampak senyum menyeringai di wajahnya. Di dalam pikirannya, Grace sungguh tidak sabar ingin mengetahui siapa sebenarnya istri Darel Adelard Gerandra. Pria yang sudah mencuri hatinya sejak ia melihat Darel di sebuah acara peresmian salah satu bisnis milik keluarga Miller satu tahun yang lalu.


Banyak rencana-rencana licik yang sudah dipikirkannya untuk menyingkirkan Naiki. Bahkan ia juga berencana menggoda Darel dengan cara yang licik. Sungguh, Grace tidak menggunakan logikanya dalam bertindak. Dia juga tidak mendengarkan nasihat apa pun yang diberikan orang tuanya. Obsesi untuk memiliki Darel dan menyingkirkan Naiki benar-benar sudah menutup pikiran sehatnya saat ini. Terlebih lagi saat mendapatkan kabar bahwa Tuan Muda Gerandra sedang pergi berbulan madu bersama istrinya.


**********


💙💙💙💙💙


Ganti cover nih 🤭


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...

__ADS_1


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2