
Pagi menyapa, hari ini jadwal Naiki sedikit padat. Tidak seperti biasa, Naiki tampak sibuk sejak pagi-pagi sekali. Kesibukannya pun bertambah tatkala Darel yang merengek-rengek ingin mengantarnya ke kantor hari ini. Tidak tanggung-tanggung, Darel selalu bergelayut manja di lengan Naiki dan mengikuti istrinya itu ke mana pun. Hingga ke kamar mandi pun ia ikut.
"Sayang...tolonglaaaahhhh... Jangan manja seperti ini!" Protes Naiki yang mulai geregetan dengan tingkah suaminya.
Jelas saja Naiki geregetan, karena untuk melangkah pun ia kesulitan saat ini. Padahal waktu terus bergulir, dan jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.
"Ok baiklah, kau boleh mengantarku. Tapi hanya sebatas rumah Kakek saja. Aku akan mampir sebentar ke sana karena ada yang ingin ku ambil." Ujar Naiki.
Darel pun tersenyum dan bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian formal agar dapat langsung menuju kantornya. Ia bergerak dengan sangat cepat hingga membuat Naiki geleng-geleng kepala melihatnya.
Selagi Darel sibuk dengan aktifitasnya, Naiki pun dengan cepat merapikan penampilannya dan mengemasi laptopnya yang masih berada di atas meja depan sofa.
"Ayo, Sayang!" Ajak Darel saat muncul dari ruang ganti pakaian. Naiki pun tersenyum lalu membawa tasnya yang berisi laptop menuju garasi mobil.
Beberapa menit berlalu, mereka berdua pun tiba di kediaman Caraka. Naiki bergegas keluar dari mobil dan masuk ke kediaman kakeknya itu. Darel mengikutinya dari belakang.
Naiki terus melangkah, menaiki tangga, dan berjalan hingga ke ujung ruangan. Terdapat sebuah pintu yang dipasang smart door lock di sana. Naiki pun membuka ruangan tersebut dengan sebuah password. Darel mengernyitkan dahinya. Ia tidak menyangka ada ruangan seperti itu di kediaman Caraka dan dia tidak pernah memerhatikannya selama ini.
Naiki pun masuk dan memberi kode pada Darel agar ikut masuk dengannya. Darel tampak terkejut setelah masuk ke ruangan tersebut. Ruangan yang tampak kecil dari luar itu ternyata memiliki ukuran yang luas di bagian dalam.
Naiki lalu berjalan menuju sebuah lemari dan membukanya. Ternyata isinya adalah perlengkapan untuk Naiki latihan menembak. Mulai dari sabuk, kacamata, penutup telinga, dan sebagainya. Darel yang melihat beberapa langkah di belakang, hanya diam tidak berkomentar. Naiki lalu mengambil sebuah belly band holster, sabuk yang biasa ia gunakan untuk menyimpan senjata di bagian pinggangnya. Ia lalu mengenakan holster itu.
Kemudian, Naiki berbelok ke kiri, di mana terdapat beberapa senjata yang dipajang di dinding mau pun di rak-rak yang terdapat di ruangan itu. Mata Darel membulat. Ia tidak menyangka, Kakek Caraka memiliki ruangan seperti itu di rumahnya sendiri. Berbeda dengan Darel yang memiliki ruangan khusus penyimpanan senjata, namun terletak di gedung misteriusnya.
Naiki berjalan mendekati beberapa senjata api yang terpajang di dinding. Ia lalu mengambil senjata api jenis G2 Premium Kaliber 9mm dan menyelipkannya di holster yang ia kenakan tadi.
"Kau yakin akan membawa itu?" Tanya Darel kemudian.
"Ya. Aku akan melindungi diriku sebaik mungkin, tenang saja." Sahut Naiki.
"Ini semua koleksimu?" Tanya Darel sambil terus melihat beberapa senjata api di ruangan itu.
Tidak hanya itu, di sudut yang berlawanan ternyata terdapat beberapa senjata tajam seperti berbagai macam pisau, pedang, bahkan samurai. Hal itu membuat Darel tidak tahan untuk bertanya.
"Ini gabungan koleksiku, Rhean, dan Kakek. Beberapa hanya pajangan, tidak pernah digunakan karena memang kami tidak menyetok peluru dari setiap jenis yang ada di sini." Ujar Naiki.
"Lalu itu?" Tanya Darel sambil menunjuk ke arah pedang-pedang dan pisau yang terpajang rapi di dinding.
__ADS_1
"Aaahh...itu koleksiku." Jawab Naiki disertai cengiran.
"Ck, ada berapa banyak sebenarnya keahlian istriku ini?" Gumam Darel, namun didengar oleh Naiki.
Naiki hanya tersenyum kemudian merangkul Darel dan membawanya keluar dari ruangan itu. Mereka lalu pergi menyapa Kakek Caraka, mengobrol sebentar, lalu berpamitan karena hari mulai beranjak siang.
"Kau yakin, tidak mau aku antar sampai kantor?" Tanya Darel.
"Iya, Sayang. Pergilah, kau akan terlambat nanti. Aku yakin Berry akan meneleponmu sebentar lagi." Ucap Naiki.
Baru saja Naiki selesai bicara, ponsel Darel pun berbunyi. Naiki pun tertawa, ditambah lagi melihat ekspresi suaminya yang berubah dingin seketika. Darel pun mengangkat panggilan dari Berry.
"Iya, sebentar lagi aku tiba." Ucap Darel ketus lalu langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Sayang, aku berangkat, ya! Hati-hati! Jangan lupa mengabariku!" Pamit Darel dari atas mobil. Naiki pun melambaikan tangannya.
Setelah mobil Darel tidak terlihat lagi, Naiki pun berjalan menuju garasi mobil dan memilih mobil yang akan digunakannya. Kali ini, Naiki memilih mobil sport milik Rhean. Mobil yang baru saja Rhean beli saat Naiki pergi berbulan madu ke Santorini.
Naiki pun melajukan mobil itu dengan gembira. Ia tidak peduli kalau nantinya Rhean akan heboh karena melihat mobil barunya sudah menghilang dari garasi rumah besar itu.
Naiki menempuh waktu tiga puluh menit lebih untuk sampai ke kantornya. Ia lalu turun dari mobil tersebut dengan sangat elegan. Semua orang terpana melihat sosoknya yang turun dari mobil mewah.
Para karyawan mengatakan, Naiki sangat cantik dan anggun seperti Dewi. Namun, jika saja mereka tau kebadasan CEO mereka itu, mungkin mereka lebih memilih untuk mengibaratkan Naiki seperti seorang Srikandi.
Naiki langsung menuju ruangannya yang terletak di lantai teratas dari gedung pencakar langit itu. Ivan dan Sisi menyambut kedatangan CEO mereka dengan wajah yang terlihat lega. Jadwal Naiki sangat padat. Ia semestinya sudah memulai kegiatannya dari setengah jam yang lalu. Namun, Naiki tidak kunjung tiba, membuat Ivan dan Sisi gelisah.
"Kenapa dengan wajah kalian?" Tanya Naiki seakan tidak ada salah. Sisi dan Ivan hanya saling pandang dengan ekspresi yang sedikit aneh.
"Nona, Anda telah ditunggu oleh Tuan Danish di 123 Resto dari setengah jam yang lalu." Ucap Ivan. Naiki mengerutkan dahinya.
"Kenapa dia menungguku?" Tanya Naiki dengan wajah datarnya.
"Nona, hari ini kan jadwal anda untuk meeting bersama Tuan Danish." Jawab Ivan yang masih berusaha sabar.
__ADS_1
"Terus, Tuan Danish itu siapa? Aku tidak mengenalnya." Jawab Naiki.
Sisi yang mendengar perkataan Naiki malah menepuk jidatnya. Ia tidak habis pikir, atasannya tersebut bisa juga mengalami hal seperti itu dalam hidupnya.
"Kau lihat? Ini karena setiap ada meeting dia selalu mengirimku, dan dia malah asyik liburan ke luar negeri hingga berbulan-bulan lamanya." Bisik Ivan pada Sisi. Sisi hanya mengangguk-angguk mengerti. Mereka tidak sadar, Naiki terus memerhatikan gerak-gerik mereka sejak tadi.
"Kalian menjelekkan aku?" Ucap Naiki tiba-tiba dan membuat Ivan serta Sisi tersentak.
"Ti-tidak, Nona." Jawab Ivan.
"Aku rasa penghasilan kalian akhir-akhir ini sudah terlalu besar. Bonus kalian juga sudah melebihi standar. Hmmm...sepertinya aku harus memangkasnya." Ucap Naiki sambil berlalu memasuki ruangannya.
"Nona..."
"Nai..."
Teriak Ivan dan Sisi bersamaan. Naiki lalu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, lalu berbalik. Ivan dan Sisi tampak sedikit lega, karena Naiki mendengar teriakan mereka. Namun ternyata Naiki tidak peduli, ia malah memberi perintah baru kepada Ivan.
"Panjul, coba kau hubungi Daniela. Minta ia menemuiku siang ini di sini." Perintah Naiki kemudian masuk ke ruangannya.
"Daniela? Siapa dia?" Tanya Sisi penasaran.
"Dia pengawal khusus Nona yang memiliki keterampilan bertarung melebihi Nona. Aku tidak tahu, kenapa Nona tiba-tiba meminta wanita itu datang. Padahal Daniela sudah lama tidak aktif mengawalnya." Ujar Ivan.
**********
💙💙💙💙💙
Ada yang nungguin adegan baku tembak? Sabar...sabar...bulan puasa harus banyak sabar guys ðŸ¤
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
__ADS_1
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙