
Dua hari berlalu, Naiki kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Ia tampak semakin rajin mengunjungi perusahaannya akhir-akhir ini dengan pengawal yang selalu bersamanya walau tidak terlihat, dan dengan beberapa orang suruhan Steffanie yang selalu mengawasinya.
Di tengah kesibukannya itu, Naiki teringat bahwa ia sudah lama tidak mendapatkan pesan dari Wisnu. Naiki pun mencoba untuk mengirim pesan lebih dulu pada orang kepercayaan Mamanya itu
[Paman, apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja?]
Sepuluh menit berlalu, namun pesan Naiki tak kunjung dibalas oleh Wisnu. Dua puluh menit berlalu, namun tetap tidak tampak balasan pesan dari Wisnu. Naiki khawatir, apakah sesuatu yang buruk telah terjadi pada Wisnu? Naiki lalu mengalihkan pikirannya ke laptop di hadapannya. Ia teringat dengan alat perekam mini di ruangan Brata. Sudah lebih 24 jam Naiki tidak mengecek hasil rekaman tersebut. Ia pun langsung membuka ponselnya dan mengecek apakah ada percakapan baru di sana.
Brata : "Bagaimana? Apakah sudah mendapatkan informasi terbaru mengenai orang-orang di sekitarnya?"
Steffanie : "Menurut mata-mata kita yang mengamati kediaman Caraka, ada sosok pria dan wanita yang sering keluar masuk kediaman itu, Kak. Ini foto-fotonya."
Brata : "Apa mereka tidak tahu dua orang ini siapa?"
Steffanie : "Tidak. Sangat sulit untuk mengorek informasi mengenai keluarga itu."
Brata : "Mulai hari ini, perintahkan mereka untuk mengikuti wanita itu ke mana pun ia pergi. Lalu, bagaimana dengan lokasi lain?"
Steffanie : "Di kediaman Gerandra, tidak tampak ada orang dekat mereka yang berkunjung akhir-akhir ini. Darel memang memiliki saudara perempuan, tapi identitasnya juga disamarkan, Kak. Sedangkan di Caraka Corp, mereka melihat ada sosok wanita yang pernah beberapa kali terlihat bersama anak sial itu di sini."
Brata : "Ikuti juga wanita itu. Jika dia bersama di sini, dan di sana juga, berarti mereka cukup akrab."
Steffanie : "Ok, baik, Kak."
Brata : "Oh ya, pria ini sepertinya berusia 20-an tahun akhir. Kalau memang iya, kemungkinan besar dia adalah Rhean. Jadi, prioritaskan untuk mengikuti wanita di sisinya ini."
Steffanie : "Baik, Kak."
Naiki mengepalkan tangannya erat saat mendengar percakapan dua orang musuh terbesar dalam hidupnya itu. "Tua bangka b4jingan!" Rutuk Naiki.
Ia lalu melihat jam berapa pembicaraan Brata dan Steffanie itu direkam. Ternyata sudah lewat beberapa jam yang lalu. Dengan buru-buru dan sedikit panik, Naiki menelpon Rhean.
__ADS_1
"Ada apa, Nai?" Sahut Rhean yang sedang berada di perusahaannya.
"Kak, apa Elis ke rumah sakit hari ini? Bagaimana keamanannya? Apakah ada pengawal yang mengikutinya? Elis dalam bahaya, Kak." Ucap Naiki dengan panik.
"Tenangkan dirimu, Nai. Jelaskan pada Kakak, apa yang sudah terjadi?" Sahut Rhean dengan tenang.
Naiki lalu menyeritakan pada Rhean apa saja yang sudah dilaluinya, dan apa saja yang telah direncanakan oleh Brata. Rhean hanya menghela nafasnya saat mendengar penjelasan adiknya itu.
"Kau tenang saja, Elis akan aman bersamaku. Dia sepertinya tidak ke mana-mana hari ini karena tadi pagi dia mual dan muntah parah." Ucap Rhean.
Dia sebenarnya sudah berkali-kali menasihati adiknya untuk melepaskan saja Brata. Namun sepertinya rasa sakit yang ditoreh Brata di hatinya sangatlah dalam. Naiki masih sangat kecil saat terpisah oleh mamanya. Mungkin karena itu lah dia lebih sulit untuk melupakan dibandingkan dengan Rhean.
"Nai, Kakak tidak melarangmu untuk membalas perlakuan mereka terhadap kita dulu. Tapi aku mohon, jika kau sudah tidak sanggup menghadapinya, katakan tidak sanggup. Jangan memaksakan dirimu." Ujar Rhean.
"Baik, Kak." Sahut Naiki.
Mereka lalu menyudahi obrolan itu. Naiki lalu memanggil Ivan dan Sisi melalui sambungan telepon kantornya. Sesaat kemudian, Ivan dan Sisi pun tiba di ruangan Naiki.
"Duduklah." Ucap Naiki datar.
"Sisi, aku mohon hari ini tinggal lah di apartemen yang sudah aku siapkan untuk sementara waktu. Bawa juga ibu dan adikmu." Ucap Naiki serius.
Sisi dan Ivan tersentak. Tidak biasanya CEO dingin mereka berkata seperti itu. Mereka berdua lalu saling melempar pandangan. Seolah bertanya satu sama lain apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Aku tahu, ibumu berat untuk meninggalkan rumah peninggalan ayahmu. Tapi ini hanya untuk sementara waktu. Aku mohon." Lanjut Naiki.
"Apa yang sudah terjadi, Nai?" Tanya Sisi.
"Aku takut, mereka akan mengincarmu atau pun keluargamu. Brata adalah orang yang kejam, Sisi. Mereka sudah bergerak dan mulai memata-mataimu. Aku mohon, tinggallah di apartment itu, setidaknya ada Ivan di sekitarmu." Ujar Naiki.
"Dan pastinya aku bisa memperketat keamanan di sana dengan mudah karena gedung apartment itu milik Gerandra." Batin Naiki.
__ADS_1
Sisi menarik nafasnya lalu menghembuskannya pelan. Ia menoleh ke arah Ivan yang memberi kode anggukan kepada Sisi.
"Ok baiklah. Kami akan pindah malam ini ke sana." Sahut Sisi.
Naiki pun tersenyum lega. Namun, sedetik kemudian ia mulai menatap Ivan dengan tajam.
"Kau Panjul! Jaga Sisi dan keluarganya baik-baik! Mulai hari ini pergi dan pulang kantor bersama dengannya! Bantu juga Sisi dan keluarganya pindah malam ini!" Perintah Naiki.
"Baik, Nona." Jawab Ivan.
"Bawa saja pakaian seadanya, Sisi. Aku sudah menyiapkan semua kebutuhan kalian di sana." Ucap Naiki yang seolah tahu dengan kebingungan di otak Sisi saat ini.
Jelas saja Sisi bingung. Perihal pindah rumah tidak semudah yang Sisi bayangkan. Banyak barang yang harus disiapkan. Sedangkan Sisi sendiri baru bisa pulang kerja lewat dari jam lima sore.
"Hmmm...ya sudah, kau pulang saja sekarang, Sisi." Ucap Naiki kemudian.
Sisi pun tersenyum sumringah. Naiki sungguh bisa membaca pikirannya, pikir Sisi. Ivan dan Sisi pun pamit untuk kembali ke meja kerja mereka masing-masing dan bersiap-siap untuk pulang.
Naiki kembali termenung di meja kerjanya. Terlalu banyak yang ia pikirkan beberapa hari ini. Terkadang ada perasaan bersalah di hatinya karena telah melibatkan banyak orang dalam masalahnya kali ini. Namun karena ia telah memilih untuk memulainya, mau tidak mau Naiki harus menyelesaikannya hingga tuntas.
Naiki lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Ia mengecek beberapa email yang belum sempat ia baca. Ia juga memeriksa beberapa laporan di atas meja kerjanya. Semua ia kerjakan dengan fokus. Hingga ia tidak sadar telah mengabaikan satu pesan masuk di ponselnya dan itu adalah pesan dari Wisnu.
**********
💙💙💙💙💙
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
__ADS_1
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙