Pewaris Asli

Pewaris Asli
54 Pulang


__ADS_3

Sebelum pukul 10.00 wib Darel dan Naiki telah tiba di markas besar pengawal khusus Gerandra. Kedatangan mereka disambut oleh beberapa pengawal yang memang bertugas pada jam itu. Darel dan Naiki lalu bergegas menuju ruang penyekapan Niko.


"Apa kau ingin menemuinya?" Tanya Darel sambil berjalan beriringan dengan Naiki.


"Hhhmmm...Apakah tidak berbahaya?" Sahut Naiki dengan pertanyaan juga.


"Hahaha...sejak kapan istriku yang badas ini takut dengan bahaya?" Kekeh Darel sembari merangkul bahu Naiki sambil terus berjalan.


"Hiiisssh...lepas Darel!" Sungut Naiki.


Mereka pun tiba di ruang monitor yang terhubung dengan ruangan Niko melalui cermin satu arah. Naiki memerhatikan Niko dengan seksama. Begitu pun dengan Darel.


"Apa dia sakit?" Tanya Naiki.


"Izin menjawab, Nyonya. Sejak kemarin sore dia terserang demam. Suhu tubuhnya mencapai 39 derajat." Sahut salah satu pengawal yang bertanggungjawab.


Naiki berdiri sambil melipat kedua tangannya dan Darel merangkul bahu istrinya. Nyonya muda itu terus berpikir apa yang harus dilakukan untuk Niko setelah ini. Dia lalu mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Darel yang lebih tinggi darinya.


"Apa aku boleh menemuinya sekarang?" Pinta Naiki.


Alis Darel bertaut, sedikit terkejut dengan kalimat yang Naiki lontarkan. Tidak biasanya istrinya yang dingin itu berbicara seolah meminta persetujuan dari dirinya.


"Pergilah! Hati-hati, karena dia sangat agresif sekarang." Ucap Darel sambil mengusap kepala istrinya.


Naiki pun mengangguk dan menuju ruangan tempat Niko disekap. Ia membuka pintu dengan sangat perlahan. Lalu melangkah dengan ringan di dalam ruangan itu. Tidak ada suara apa pun saat Naiki melangkah. Dilihatnya Niko masih diam tanpa pergerakan. Sepertinya ia tidak sadar dengan kedatangan Naiki.


Di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja dan dua buah kursi yang saling berhadapan. Naiki lalu duduk di salah satu kursi dan menaruh kakinya di atas meja.


Beberapa saat Naiki hanya diam, memerhatikan Niko dari tempatnya duduk. Naiki tersenyum, namun lebih seperti menyeringai. Wanita dingin itu lalu menarik sedikit salah satu kakinya kemudian menghentakkan kembali kakinya itu ke meja dengan sangat keras hingga meja itu terpental dan rusak menabrak tembok. Niko terlonjak dan histeris.


"TIDAAAAKKKK....JANGAN DEKATI AKUUUU...! PERGIIII!" Jerit Niko yang langsung beringsut ke sudut ruangan.


"Hahaha...Kau sangat lucu ternyata." Ucap Naiki sambil terus tertawa.


Ia lalu berdiri dan berjalan mendekati Niko. Wanita itu lalu berjongkok menghadap Niko. Niko semakin ketakutan, menaruh tangannya yang diikat itu ke dadanya dan menekuk kakinya. Tubuhnya gemetar. Luka lebam akibat kekerasan yang ia terima beberapa hari lalu masih tampak jelas di wajah dan tubuhnya. Naiki menatap dengan tajam, seakan tidak puas dan ingin mencabik-cabik Niko dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Hei, apa kau masih mengenaliku?" Ucap Naiki datar.


Tidak ada jawaban. Niko hanya gemetar ketakutan. Jika Naiki adalah seorang pria, mungkin Niko sudah menjerit dan berteriak histeris saat ini. Pelecehan yang ia terima tempo hari telah menghancurkan mentalnya.


"Tak ku sangka, ternyata kau lemah. Baru disiksa sedikit saja sudah seperti ini. Padahal aku masih ingin mengerjaimu beberapa kali lagi." Sinis Naiki.


Naiki lalu berdiri. Ia lalu merogoh kantong celana jeansnya dan mengambil sebuah sarung tangan di sana. Ia lalu mengenakan sarung tangan di tangan kanannya. Wanita dingin itu lalu mencengkeram leher Niko dengan tangan kanannya. Niko merintih menahan sakit.


"Sakit?" Tanya Naiki dengan ekspresi dingin dan mata yang menghujam tajam ke arah Niko.


Melihat Niko mulai merintih, Naiki semakin menguatkan cengkeramannya. Darel yang terus memerhatikan Naiki dari ruangan sebelah menelan salivanya kasar. Ia bergidik ngeri melihat tingkah laku istrinya saat ini.


"Kau tahu, kemarin paman tercintamu menekan rahangku seperti ini. Sakit, kan?" Naiki semakin mengintimidasi Niko yang tampak kesakitan. Matanya mulai memerah.


"Tapi apakah kau tahu rasa sakitnya bila yang menyakitimu sekarang adalah orang tuamu sendiri? Hah? Kau tidak akan pernah tahu itu, Brengsek!" Naiki mulai membentak Niko dan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, hingga tubuh Niko terjatuh ke lantai.


Naiki mendengus kesal. Ia menarik nafas dalam kemudian melepaskannya perlahan. Wanita itu mencoba menetralkan emosinya sebelum bertemu kembali dengan suaminya di sebelah. Naiki lalu berjalan keluar dan pergi menemui Darel.


Darel langsung menyambut Naiki dengan pelukan. Ia tahu, hati Naiki sakit. Darel mengerti, Naiki pasti mengingat siksaan dan penderitaannya dahulu bila berhadapan dengan orang-orang jahat dimasa lalunya. Darel mengusap punggung Naiki lembut dan membelai kepalanya.


Para pengawal langsung bergerak. Ada yang menyiapkan kendaraan, ada yang bergegas mengikat kaki Niko biar tidak kabur, dan ada pula yang bersiap membantu memboyong Niko keluar. Semua bekerja dengan cepat.


"Apa kau ingin beristirahat di rumah saja?" Tanya Darel sambil menggandeng tangan Naiki keluar dari markas.


"Tidak. Aku baik-baik saja. Ayo kita ketemu Killa! Dia akan kembali ke Jerman besok." Ucap Naiki. Darel tersenyum dan mengangguk setuju.


**********


Sejak kemarin suasana hati Brata sangat buruk. Ia kehilangan otoritasnya di perusahaannya sendiri. Bahkan sekarang ia hanyalah pemegang saham minoritas di sana. Sedangkan Rhea Caraka adalah pemegang saham mayoritas dengan 60% saham sudah menjadi miliknya.


Cepat atau lambat, Brata Corp akan dipimpin langsung oleh Rhea Caraka. Karena ia memiliki kewenangan di sana. Ia bahkan dapat mengganti Dewan Direksi, dan mengatur manajemen sesuai kehendaknya. Darah Brata semakin mendidih saat terpikir posisinya sudah genting saat ini. Pikirannya kalut dan hanya rencana jahat yang muncul di otaknya sekarang.


Tidak berbeda dengan Steffanie. Ia hanya memiliki 5% saham, putrinya sedang sekarat, dan putranya menghilang entah ke mana. Pikirannya kacau. Belum lagi selesai penyelidikannya pada Naiki, sekarang dia pun harus menyelidiki Nona Rhea Caraka.


Tiba-tiba seorang security berlari tergopoh-gopoh menemui Brata dan Steffanie. Ia tampak panik sehingga mengganggu Brata dan Steffanie yang memang sudah emosi sejak awal.

__ADS_1


Tok tok tok...


"Tuan... Nyonya..." Panggil security itu berkali-kali dan sangat berisik.


Brata lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya dengan keras. Ia lalu memukul security itu dengan kepalan tangannya.


"APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP, BRENGSEK?" Teriak Brata.


Security itu hanya menunduk dan memegang wajahnya yang lebam karena pukulan Brata. Tubuhnya gemetaran. Ia takut akan dipecat oleh majikannya itu.


"Ma-maaf Tuan, tapi di luar...." Ucap Security itu terbata.


"APA?" Bentak Brata lagi.


"Tu-Tuan Niko, Tuan." Sahut security itu tidak jelas.


"Ah, DASAR TOLOL!" Caci Brata sembari melangkahkan kaki ke luar.


Steffanie mengikutinya setengah berlari karena itu menyangkut putranya yang tidak ada kabar beberapa hari ini. Brata dan Steffanie terus berjalan hingga ke teras rumah. Matanya terbelalak melihat Niko yang tergeletak tidak berdaya dengan tangan dan kaki diikat kuat. Steffanie pun berteriak histeris.


"Nikoooo...apa yang terjadi? Katakan pada Ibu!" Jerit Steffanie sambil terus berusaha melepas ikatan di tangan dan kaki Niko.


Niko diam, tidak mengucapkan satu kata pun. Steffanie semakin panik saat menyentuh kulit Niko yang terasa panas.


"Kak, tolong anakku, kumohon!" Ucap Steffanie memelas.


Brata lalu memberi perintah pada dua orang security untuk melepas ikatan di tangan dan kaki Niko serta membawanya ke rumah sakit untuk diobati. Namun, baru saja mereka mendekat, Niko sudah berteriak histeris.


"TIDAKKKK....JANGAN SAKITI AKU! PERGIIIII!" Teriak Niko sambil terus menggeliat di lantai.


*********


💙💙💙💙💙


Makasih yaa sudah lanjut baca karya pertama author... Komen dan like-nya dong 🥰

__ADS_1


__ADS_2