
Naiki hanya tersenyum sinis setiap kali mendengar kalimat-kalimat hinaan dari mulut Steffanie, seakan ia sudah kenyang dengan kalimat yang dilontarkan oleh wanita itu. Naiki menarik sebuah kursi di ruangan tersebut kemudian duduk di hadapan Steffanie. Naiki menyilangkan kakinya dan duduk bersandar sambil menatap Steffanie dengan angkuh.
"Kau bilang mamaku j4lang? Heh!" Ucap Naiki sambil mengangkat dagu Steffanie dengan ujung kakinya yang masih mengenakan sepatu.
"Ya, Alya adalah j4lang yang mengkhianati kakakku. Dia bahkan memiliki anak dengan pria lain." Cetus Steffanie seolah menantang Naiki.
Naiki lalu mendorong bahu Steffanie dengan kakinya hingga Steffanie semakin tersungkur ke lantai. Wanita paruh baya itu terlihat semakin kesal dengan Naiki.
"Kenapa? Apa kau malu punya ibu seperti Alya?" Hardik Steffanie tak kenal takut padahal ia merasa sakit yang teramat sangat di tangannya yang diikat paksa padahal cidera sebelumnya belum sepenuhnya pulih.
"Kenapa aku harus malu? Kau saja yang sudah membunuh, memfitnah, dan merampas harta ibuku tidak memiliki rasa malu sedikit pun di hatimu." Cela Naiki.
"Dasar kau anak haram! Kau dan kakakmu adalah anak haram Alya! Bukan anak Brata!" Ucap Steffanie sambil menjerit kesal.
Naiki yang mendengar kalimat Steffanie merasa lucu dan tertawa sejadi-jadinya, membuat Steffanie heran bercampur kesal. Bahkan tidak ada ekspresi kecewa di wajahnya, karena berkat membaca diary Alya, Naiki tahu fakta sebenarnya.
"Steffanie...Steffanie...wajar saja kau diselingkuhi suamimu dan tidak pernah menikah kembali setelah itu. Ternyata kau benar-benar tolol Steffanie." Hina Naiki sambil mendorong kepala Steffanie dengan ujung jari telunjuknya. "Apa kau pikir aku tidak tahu fakta sebenarnya?"
Bibir Steffanie menjadi kaku. Ia seakan habis kata-kata untuk melawan Naiki. Gadis kecil yang dulu selalu disiksa dan diintimidasinya, bahkan pernah ditinggalkannya di sebuah taman kala itu, sekarang telah tumbuh dewasa dan berbalik menyerangnya saat ini.
"Kau terlalu meremehkan mamaku, Steffanie. Mamaku tidak bodoh sepertimu."
"Apa maksudmu?" Tanya Steffanie.
"Aku lebih berharap pria jahat itu bukan ayah kandungku. Tapi ternyata di tubuhku mengalir darahnya. Ah! Aku bahkan membenci darahnya yang mengalir di tubuhku. Andai saja dia bukan ayah kandungku, mungkin saat ini dia sudah tinggal nama." Ucap Naiki sambil memainkan kuku-kukunya.
Steffanie menggigit bibir bawahnya. Ia tidak menyangka Naiki mengetahui fakta sebenarnya. Bahkan Brata sendiri belum mengetahui kalau Naiki dan Rhean adalah anak kandungnya. Namun, siapa yang bisa menebak isi hati Brata. Menurut Naiki, pria itu bahkan tidak memiliki hati dan perasaan.
"Lalu, apa yang sebenarnya kau lakukan hingga ia percaya bahwa kami bukanlah anaknya?" Tanya Naiki kemudian.
__ADS_1
Steffanie tidak menjawab. Dia membuang wajahnya ke arah lain. Tubuhnya semakin menggigil dan pucat. "Aku tidak mungkin berkata bahwa aku telah memalsukan hasil test DNA mereka saat itu." Batin Steffanie.
"Ah, sudahlah. Aku juga tidak terlalu penasaran dengan jawabanmu." Tukas Naiki.
Naiki lalu memeriksa ponselnya. Ia lalu mengecek ramalan cuaca malam itu dan esok harinya. Ternyata benar, ada kemungkinan akan segera turun hujan malam itu. Naiki lalu tersenyum smirk kemudian menyimpan kembali ponselnya ke kantong celananya.
"Sudah lama kita tidak bermain permainan menyenangkan kan, Steffanie? Apa kau ingat, dulu para pelayan sangat suka memukul telapak tangan dan tubuhku?" Tanya Naiki. "Aku tahu, selain Brata, kau juga suka memerintah mereka untuk menyakitiku, kan?"
Naiki lalu berdiri dan keluar dari ruangan itu. Bukannya tenang, Steffanie malah semakin ketakutan. Menurutnya, Naiki pasti akan segera kembali dengan sesuatu yang dapat menyakitinya.
Benar saja, beberapa saat kemudian, Naiki kembali dengan sebuah besi tipis yang berukuran panjang 75 cm. Ia melangkah dengan santai, dan kembali duduk di kursinya sambil memain-mainkan besi itu di tangannya.
"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Steffanie ketakutan.
"Hahaha...kan sudah aku katakan, aku ingin bermain denganmu, Tanteku tersayang."
Steffanie yang sudah menggigil dan pucat, menggekiat di lantai, berusaha menghindar dari Naiki yang ingin memangsanya. Naiki pun berdiri dan semakin mendekati Steffanie. Ia lalu melepas ikatan di tangan dan kaki Steffanie. Naiki lalu menunjuk salah satu tangan Steffanie dengan besi tipisnya.
Steffanie diam, tidak menjawab. Naiki lalu memecut punggung tangan Steffanie dengan besinya hingga Steffanie menjerit kesakitan.
"Apa mulut itu yang kau gunakan untuk memfitnah mamaku?" Hardik Naiki lagi.
Steffanie menggeleng-gelengkan kepalanya ketakutan sambil terus menghindari Naiki sebisa mungkin.
BUUUGHHH...
Satu pukulan keras mendarat di wajah Steffanie dan melukai bibirnya. Naiki lalu mengibas-ngibaskan tangannya yang baru saja memukul Naiki. Steffanie menangis sejadi-jadinya.
"Lalu, apakah kaki ini yang kau pakai untuk menginjak-injak kami dahulu?"
__ADS_1
Steffanie semakin menjerit histeris. Naiki pun memecut kedua kaki Steffanie dengan sangat keras.
"Aaaakkkhhh....sakit brengsek! Sialan kau, Naiki!" Caci Steffanie.
"Dan pastinya seluruh anggota tubuhmu yang sudah merencanakan pembunuhan mamaku saat itu. Kau benar-benar jahat, Steffanie. Kau harus merasakan apa yang sudah kami rasakan." Ucap Naiki sambil memecut tubuh Steffanie bertubi-tubi.
Naiki lalu berhenti karena Steffanie sudah hampir tidak sadarkan diri. Tubuhnya yang menggigil dan pucat sekarang sudah dipenuhi oleh luka dan memar di mana-mana. Naiki menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya. Ia lalu memberi kode ke arah CCTV di ruangan tersebut untuk memanggil Mike ke sana. Beberapa saat kemudian, Mike pun masuk.
"Ada yang bisa dibantu, Nyonya?" Ucap Mike.
"Aku mau kau membuangnya ke belakang gedung ini. Jangan ada tempat untuk ia bisa berteduh dari hujan atau pun panas. Buang dia malam ini juga. Ikat kembali tangan dan kakinya agar ia tidak bisa menyelamatkan dirinya. Awasi terus dia! Biar dia merasakan bagaimana rasanya dibiarkan di tengah hujan dan dijemur di bawah terik matahari." Perintah Naiki.
Mike lu mengangguk dan pamit undur diri. Naiki lalu sedikit menunduk dan berbisik pada Steffanie.
"Aku harap umurmu sedikit lebih panjang, Steffanie. Agar kita bisa bermain lagi di lain hari." Ucap Naiki dengan seringai di wajahnya.
Steffanie tidak menyahut. Matanya mulai meredup. Sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhnya dan rasa dingin di kulitnya, benar-benar telah meruntuhkan pertahanan fisiknya saat ini. Namun, hanya kebencian yang ada di hati Steffanie. Dia bahkan tetap tidak menyesal atas perbuatan kejinya pada Naiki, Rhean, dan Alya dahulu. Menurutnya, apa yang ia lakukan adalah bentuk usahanya untuk hidup mewah. Perlahan tapi pasti, Steffanie pun kehilangan kesadarannya.
**********
💙💙💙💙💙
Hampir tamat deh kayanya! 🤔
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
__ADS_1
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙