Pewaris Asli

Pewaris Asli
64 Terluka


__ADS_3

Naiki terus berlindung di balik pohon yang sudah rusak separuh dahannya karena ledakan besar itu. Ia menahan perih di punggung dan tangannya yang terluka karena melindungi kepalanya dari serpihan-serpihan ledakan. Darah mulai mengalir dari goresan-goresan luka Naiki dan mengotori pakaiannya, terutama punggungnya yang jelas-jelas terluka parah karena terhantam serpihan logam dari ledakan mobil tersebut.


Para pengawal yang terdiri dari pengawal khusus Gerandra dan Caraka itu bekerjasama menghadapi situasi tersebut. Separuh dari mereka segera memburu tiga orang pembunuh bayaran yang kabur dan akan mereka bawa ke markas baik itu dalam kondisi hidup atau pun mati.


"Nyonya tidak ada di mobilnya. Cari Nyonya dan selamatkan dia!" Teriak Mike, Ketua Tim dari pengawal bayangan Gerandra di tengah-tengah suara ledakan yang masih terdengar.


Ia yakin, Nyonya Mudanya sudah keluar dari mobil sebelum ledakan terjadi. Para pengawal tersebut sempat menyesal karena tidak bergerak dengan cepat dan dari jarak dekat hingga terjadi ledakan besar seperti ini. Jarak mereka terlalu jauh dan sulit untuk mencegah ledakan itu terjadi.


Disela kepanikannya mencari keberadaan Naiki, Mike berusaha menghubungi Darel melalui earphone yang ia pakai. Mike terus berlari sambil berbicara dengan nafas tersengal.


"Tuan...." Ucap Mike sambil berusaha bernafas dengan normal. "Nyonya dalam bahaya." Imbuhnya.


"Katakan di mana lokasinya?" Tanya Darel dingin.


"Di Jalan Cendrawasih, Tuan." Sahut Mike. Telepon pun terputus.


Mike melanjutkan pencariannya dengan keringat yang mulai bercucuran di wajahnya. Ia terus mencari Naiki dengan dibantu beberapa pengawal yang sudah berpencar. Mike merasa bersalah tidak mengabari Tuan Mudanya sejak mereka menyadari Naiki dibuntuti orang tidak dikenal. Ia tidak menyangka kali ini yang menyerang Nonya Mudanya benar-benar nekad dan berani melakukan ini. Mike pun curiga dengan identitas para pembunuh bayaran kali ini. Beberapa nama kelompok pembunuh bayaran kelas kakap pun terpikir di benaknya.


Mike dan beberapa pengawal terus berlari ke sana ke mari mencari Naiki. Hingga akhirnya Mike menemukan Naiki yang berjongkok sambil menutupi kepalanya dengan tangan di balik pohon besar.


"Nyonya." Panggil Mike dan langsung berlari mendekati Naiki.


Naiki menoleh ke arah Mike yang memanggilnya. Merasa keadaan sudah mulai tenang dan suara ledakan sudah tidak terdengar, Naiki pun menurunkan tangannya dan berdiri sambil membersihkan pakaiannya.


"Anda terluka, Nyonya. Mari saya antar anda ke rumah sakit." Ucap Mike dengan hormat.


"Nanti saja. Di mana bajingan-bajing4n itu sekarang?" Tanya Naiki dengan wajah dinginnya.


"Sebentar, Nyonya." Sahut Mike lalu berusaha menghubungi pengawal yang bertugas menangkap tiga orang pembunuh tadi.


Mike pun berbicara pada anggotanya melalui earphone yang selalu ia pakai. Beberapa saat setelah itu, Mike mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


"Mereka sudah berhasil dilumpuhkan, Nyonya. Saat ini sedang dalam perjalanan menuju mobil van kita." Ujar Mike. Naiki hanya mengangguk paham. Ia lalu berjalan menuju tempat yang Mike maksud.


"Banyak luka di tangan dan punggungnya. Apa dia sungguh baik-baik saja?" Batin Mike sambil mengikuti Naiki dari belakang.


Saat Naiki dan Mike tiba di depan mobil van yang biasa digunakan para pengawal, tiga orang pembunuh bayaran yang setengah sadar itu pun tiba. Tampak sebuah luka tembak di salah satu kaki mereka. Tangan mereka pun diikat dengan kuat oleh para pengawal yang berjumlah tujuh orang itu.


"Bawa saja ke markas." Perintah Naiki.


"Baik, Nyonya." Sahut para pengawal tersebut serentak.


"Heh, dasar wanita lemah yang memiliki nasib baik. Beraninya bersembunyi di belakang orang lain." Hina salah satu pembunuh bayaran.


Naiki tersenyum sinis pada pembunuh itu. Ia lalu berjalan beberapa langkah mendekati pembunuh bayaran itu sambil mengambil sarung tangan di sakunya dan mengenakan sarung tangan itu. Ia lalu mencengkeram leher pria yang menghinanya dengan kuat.


"Aku tidak akan menyakiti orang yang sudah tidak berdaya seperti kalian. Kau tahu karena apa? Karena sepuluh orang sehat saja bukanlah lawanku, apalagi hanya satu orang tidak berdaya sepertimu." Ucap Naiki dengan nada dingin. Wajah pria itu memerah dan perlahan mulai berubah warna kebiruan karena mulai kehabisan oksigen. Naiki lalu melepaskan cengkeramnya di leher pria itu dengan sedikit dorongan.


"Aaaakkh..." Rintih pria pembunuh bayaran itu. "Uhuk... uhuk... Aku yakin kau hanya membual. Kau pasti tidak ada bedanya dengan para wanita kaya dan manja seperti mereka."


Pria itu menjerit dan memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Giginya rontok beberapa karena tendangan Naiki yang sangat keras. Beberapa detik kemudian, pria itu pun ambruk ke tanah dan tidak sadarkan diri lagi.


"Siapa wanita ini sebenarnya?"


"Dia bukan wanita. Dia monster."


Dua orang pembunuh bayaran yang tersisa pun hanyut dengan pikirannya masing-masing. Mereka tidak menyangka, satu tendangan Naiki dapat melumpuhkan rekannya hingga jatuh pingsan seperti saat ini. Itu berarti, apabila mereka memilih serangan fisik secara langsung untuk menyerang Naiki, kesempatan mereka akan berhasil hanya berkisar 1% saja, tidak lebih.


Kedua pembunuh bayaran itu pun menelan salivanya dengan kasar. Mulut mereka pun seketika terbungkam. Naiki pun mempersilahkan para pengawal membawa tiga orang pembunuh bayaran itu untuk dimasukkan ke dalam mobil van dan segera membawa mereka ke markas Gerandra.


"Nai..." Teriak Darel yang tiba di lokasi penyerangan tepat setelah mobil van hitam milik pengawal Gerandra berlalu.


Naiki menoleh dan menatap Darel dengan wajah datarnya. Darel berlari dengan perasaan khawatir, terlebih lagi saat melihat pakaian Naiki yang banyak terdapat noda darah.

__ADS_1


Para pengawal yang tersisa langsung menundukkan kepala mereka saat Darel tiba. Tuan Muda Gerandra itu langsung menarik tubuh Naiki ke pelukannya.


"Aaaaww..." Rintih Naiki.


"Maaf Sayang. Apakah aku menyakitimu?" Ucap Darel yang langsung meregangkan tubuhnya dari Naiki.


Wanita dingin itu tidak menjawab, karena memang dia masih merasa jengkel dengan suaminya itu.


"Apa kau masih marah padaku?" Tanya Darel. Naiki tetap diam. "Ya sudah kalau begitu. Ayo kita ke rumah sakit sekarang!" Tukas Darel sambil mengangkat tubuh Naiki dan membawanya masuk ke mobil.


Malu? Tentu saja Naiki sangat malu karena adegan manis itu disaksikan beberapa orang pengawal yang masih berada di lokasi. Beberapa di antara mereka hanya bisa menahan senyum melihat tingkah Tuan Mudanya yang tidak biasa itu.


"Kenapa wajahmu merona, Sayang?" Goda Darel.


"Hiiisssh..." Rutuk Naiki dengan bibir mengerucut.


"Sudah jangan marah-marah lagi. Kita obati dulu lukamu, ya! Baru setelah itu lanjutkanlah amarahmu lagi." Ucap Darel sambil mengusap puncak kepala Naiki dengan lembut.


**********


💙💙💙💙💙


Author tu suka typo Gerandra jadi Garendra guys. Untung gk typo jadi nama partai 🤭🤭


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...

__ADS_1


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2