Pewaris Asli

Pewaris Asli
43 Terjebak Rencana Sendiri


__ADS_3

Mobil Steffanie melaju dengan cepat menuju IGD terdekat. Mulutnya terus menerus mengucapkan kalimat yang sama.


"Bertahanlah. Ada ibu."


"Bertahanlah. Sedikit lagi kita akan tiba."


"Kau pasti hidup, yang seharusnya mati adalah anak sial itu." Ucap Steffanie seolah takdir ada di genggamannya. Ia sungguh naif. Menginginkan kematian orang lain, dan menolak jika anaknya sendiri yang mengalami kematian.


Mobil Steffanie pun memasuki sebuah klinik yang memiliki IGD yang buka 24 jam. Steffanie panik dan ia hanya menemukan klinik itu saat ini. Setidaknya Sonya mendapatkan pertolongan pertama walaupun peralatan di sana tidak selengkap peralatan di rumah sakit besar.


Steffanie menghentikan mobilnya tepat di depan pintu IGD klinik tersebut. Ia kemudian turun dan melapor pada petugas di sana. Beberapa saat kemudian beberapa petugas medis di klinik itu datang membawa sebuah brankar dorong. Mereka lalu mengangkat tubuh Sonya dengan hati-hati dan membawanya masuk ke IGD menggunakan brankar itu.


Steffanie menunggu dengan gelisah. Luka di tubuh Sonya sangat banyak. Steffanie pun bingung luka itu disebabkan oleh apa. Terlebih lagi saat merasakan tubuh Sonya yang sangat dingin dan pucat.


Satu jam berlalu, Steffanie akhirnya dipersilahkan masuk untuk melihat keadaan Sonya dan mendengar penjelasan dokter. Sonya ternyata harus segera dirujuk ke rumah sakit. Luka-luka Sonya apabila tidak ditangani dengan baik, akan mengakibatkan infeksi. Karena saat membersihkannya, dokter dan perawat melihat luka-luka tersebut dalam keadaan sangat kotor. Mungkin disebabkan oleh Sonya yang memaksa menyeret tubuhnya di basement untuk meraih tasnya. Namun, tak ada satu pun yang mengetahui hal itu.


Satu hal lagi yang membuat dokter itu khawatir adalah menurunnya sirkulasi darah di tubuh Sonya. Dokter juga mengecek kondisi vital Sonya yang mengisyaratkan adanya masalah pada jantung Sonya. Sonya mengalami syok yang sangat hebat beberapa waktu lalu. Tubuhnya kedinginan sehingga menyebabkan sirkulasi darahnya menjadi tidak lancar. Itulah yang menyebabkan tubuh Sonya pucat dan nyaris membiru.


Dokter menebak Sonya sempat disiram air dingin sehingga menyebabkan kondisinya seperti saat ini. Tubuhnya yang tidak siap, menyebabkan stress, dan mempengaruhi kinerja jantungnya. Kondisi medis yang dialami Sonya harus segera ditangani oleh beberapa dokter spesialis yang tidak dimiliki oleh klinik tersebut. Karena dikhawatirkan masalah sirkulasi darah tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada beberapa jaringan di tubuh Sonya.


Kaki Steffanie menjadi lemas. Ia terduduk di lantai, di samping brankar Sonya. Steffanie tidak menyangka kondisi Sonya akan separah ini. Putri kebanggaannya disiksa dengan sangat sadis lalu dibiarkan tetap hidup, namun kondisi tubuhnya belum tentu dapat sembuh dengan sempurna.


Steffanie menelepon Niko, namun tidak dijawab oleh Niko. Ia lalu menelepon Brata, namun juga tidak ada jawaban. Steffanie geram dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ia lalu bangkit dan menuju bagian administrasi untuk memroses rujukan Sonya ke sebuah rumah sakit.


Sementara itu di tempat lain. Di depan sebuah Bar yang bernama Qwerty, tampak Naiki dan Darel di dalam sebuah mobil.


"Kau serius ingin masuk?" Tanya Darel dengan tatapan khawatir. Naiki mengangguk.


"Ini sudah lewat dari jamnya. Aku harus segera ke sana. Aku ingin lihat, apa yang akan dia lakukan." Ucap Naiki sambil menyiapkan senjata apinya yang ia selipkan di sebuah sabuk yang melilit paha kanannya, dan menyelipkan pisau kecil di paha kirinya.


Naiki merias dirinya dengan sangat menawan. Ia mengenakan dress bewarna navy selutut dan sepatu kets putih di kakinya. Tidak lupa ia menyelipkan earphone pada telinga kirinya yang terhubung langsung pada Darel. Sebenarnya ia enggan melakukan itu, tapi ini salah satu syarat Darel agar ia diizinkan untuk pergi ke Bar Qwerty.

__ADS_1


Naiki mulai membuka pintu dan menurunkan kaki kirinya. Namun tiba-tiba Darel menarik tangan Naiki.


"Kau harus janji, jangan bertindak sendiri apabila tidak sanggup lagi." Ucap Darel.


"Iya aku janji." Sahut Naiki jengkel. Ia lalu bergegas keluar dari mobil Darel dan berjalan dengan anggun ke dalam bar. Tidak lupa ia menutupi telinga kirinya dengan rambut agar tidak tampak mencurigakan.


Naiki berhasil masuk dengan mulus tanpa adanya pemeriksaan. Ia lalu mencoba menghubungi Niko. Namun tidak diangkat. Tiba-tiba ada seorang pelayan mendekati Naiki.


"Apakah Nona mencari Tuan Niko?" Tanya pelayan itu. Naiki pun mengangguk.


Pelayan itu lalu menunjukkan jalan kepada Naiki. Niko ternyata berada di sebuah ruang VIP yang terdapat di lantai atas Bar tersebut. Naiki langsung mengetuk pintu saat tiba di depan ruang VIP tersebut. Seorang wanita penghibur lalu membukakan pintu untuknya.


"Aku pikir kau tidak akan datang." Ucap Niko dengan gaya arogannya.


Ada seorang wanita yang Naiki kenal sedang bergelayut manja di sisi Niko. Dia adalah Helen. Wanita yang selalu mencari masalah pada Sisi dan Naiki di Brata Corp. Naiki tersenyum dingin.


"Kau akan habis malam ini, Naiki!" Batin Helen sambil memandang rendah Naiki.


"Duduklah!" Ucap Niko kemudian. Naiki pun memilih duduk terpisah karena sofa di ruangan tersebut sangat banyak.


"Apakah ini orangnya? Wah...dia sangat murni." Pria tua itu mengomentari Naiki dengan ekspresi mesumnya.


Niko tertawa mendengar perkataan Pria tua itu yang tidak lain adalah rekan bisnis yang Niko kenal. Naiki yakin, orang itu bukanlah orang hebat dalam sebuah perusahaan besar. Karena ia sendiri tidak pernah melihat orang itu.


"Oh, jadi ini rencanamu, Niko?" Hardik Naiki dengan wajah datarnya. "Setelah ini kau pasti memberikanku minuman yang sudah dicampuri obat tertentu, bukan?"


"Heh, kau pikir aku masih punya hati untuk memberikanmu obat? Aku ingin kau merasakannya dengan kesadaran penuh, Sepupuku Sayang. Agar kau tidak pernah melupakannya." Ucap Niko sambil menyeringai. "Aku akan keluar, nikmatilah." Niko berdiri dan berjalan ke arah pintu dengan Helen di samping kiri, dan wanita lain di kanannya.


"Kau terlalu naif, Niko." Naiki berusaha menyinggung Niko. "Kau pikir aku tidak tahu niatmu yang sebenarnya?" Naiki berjalan mendekati Niko dan langsung menendang bagian pribadi Niko dengan sangat keras.


BUUUGHH...

__ADS_1


"ARRRRGHHH...." Jerit Niko. Kedua wanita di sampingnya langsung berlari keluar ruangan karena takut.


"Brengsek! Tuan, tolong aku!" Niko berusaha meminta tolong kepada pria tua tadi. Pria tua itu lalu memerintahkan kedua pengawalnya untuk menangkap Naiki dan membawa Naiki ke kamar yang sudah disewanya di Bar itu.


"Aku tidak ada urusan dengan kalian. Jadi jangan coba-coba untuk mendekat." Ancam Naiki.


Kedua pengawal itu malah menertawakan Naiki. Mereka lalu berusaha menangkap Naiki, namun dengan cepat Naiki menghindar dan tiba-tiba sudah berada di belakang kedua pria kekar itu.


Naiki menendang tengkuk salah satu pria dengan sangat keras, lalu menendang pinggang bagian belakang pria satu lagi hingga muncul bunyi "Kraaakkk..."


Dalam sekejap, kedua pria kekar itu tersungkur ke lantai, tepat di depan Niko. Niko gemetar. Ia yang masih menahan sakit di daerah pribadinya mendadak terduduk lemas di lantai.


Kedua pria tadi berusaha untuk bangun dan ingin membalas Naiki. Namun, Naiki sudah berada di belakang Tuan mereka, menodongkan pistol tepat di kepala pria tua mesum tadi. Naiki menyeringai. Ia lalu menghubungi Darel.


"Misi selesai, suruh mereka masuk." Ucap Naiki dingin. Darel merinding mendengarnya.


Beberapa detik kemudian masuklah sepuluh orang pengawal setia Naiki dan Darel yang telah menyamar sebagai pengunjung bar sejak tadi.


"Bawa mereka. Aku akan memberikan instruksi berikutnya nanti." Perintah Naiki.


Para pengawal tersebut lalu membawa Niko, pria tua, dan kedua pria kekar tadi keluar dari Bar tanpa dicurigai siapa pun. Mereka lalu dimasukkan ke sebuah mobil van hitam dan dibius hingga tidak sadarkan diri.


Naiki tersenyum puas, ia lalu berjalan menuju mobil Darel dengan langkah ringan. Ternyata Darel sudah menunggu Naiki dengan bersandar di pintu mobilnya yang tertutup. Tampak raut khawatir di wajah tampannya. Ia bergegas menarik tubuh Naiki ke pelukannya.


"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" Tanya Darel dengan nada panik.


Dilepasnya pelukannya, lalu ditatapnya wajah istrinya dalam. Ia juga melihat tubuh Naiki dari kepala hingga kaki, memastikan tidak ada cidera di tubuh istrinya itu. Naiki tertawa melihat tingkah Darel.


"Hahaha...aku baik-baik saja, Darel. Ayo kita susul mereka! Rencanaku belum tuntas." Ucap Naiki lalu berjalan masuk ke dalam mobil.


Darel pun setuju dan membawa Naiki ke gedung rahasia milik Gerandra. Tempat di mana para pengawalnya ditempa, dan para pembunuh bayaran kiriman pesaing bisnis Gerandra disiksa.

__ADS_1


*********


💙💙💙💙💙


__ADS_2