Pewaris Asli

Pewaris Asli
18 Gedung yang Luar Biasa


__ADS_3

Jam kantor telah usai. Naiki dan Sisi sedang bersiap-siap untuk pulang. Namun tiba-tiba Naiki berubah pikiran.


"Sisi, coba kau hubungi Panjul, minta seseorang mengambil motorku di sini. Kita berdua akan naik taksi menuju sana." Perintah Naiki pada Sisi yang sedang membereskan mejanya. "Oh ya, jangan lupa memesan taksi online juga."


"Baik Nai. Eh, tapi ke sana itu maksudnya ke mana Nai?" Sahut Sisi.


"Ke kantormu. Setidaknya kau harus mencoba bertukar udara di sana. Kau tahu, udara di sana lebih segar daripada di sini." Ucap Naiki angkuh. Ia tersenyum tipis.


Sisi segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ivan. Ia lalu menyusul Naiki yang telah duluan berjalan ke luar ruangan. Mereka kemudian masuk ke lift dan turun menuju lobby.


Tak tuk tak tuk...


Terdengar suara heels dari seorang wanita yang Naiki kenal. Salah satu wanita yang sudah merebut kebahagiaan darinya, Rhean, dan Mamanya. Wanita yang suka menyiksa Naiki dan Rhean ketika mereka masih kecil. Mata Naiki terus mengikuti arah langkah Steffanie, pemilik heels yang mengetuk lantai lobby dengan lumayan keras tadi. Ujung matanya menyipit. Ingin sekali rasanya Naiki menarik Steffanie dan membunuhnya detik itu juga.


"Tidak, bukan sekarang waktunya. Akan terlalu ringan jika kau langsung mati tanpa merasakan penderitaan, wanita jahat." Batin Naiki. Giginya gemerutuk. Rahangnya mengeras. Matanya terus menatap nanar.


Sisi menyadari itu. Ia sudah tahu, siapa Steffanie sebenarnya. Sisi juga paham, betapa Naiki membenci manusia jahat satu itu. Sisi lalu menyadarkan Naiki yang larut dalam pikirannya.


"Naiii...taksi yang kita pesan sepertinya sudah di depan." Ucap Sisi lembut. Naiki lalu menoleh ke arah Sisi dan mengusap mukanya.


"Ah brengs3k." Umpat Naiki kemudian. Sisi terdiam.


"Maaf Sisi, bukan kau yang brengs3k. Tapi wanita jahat itu." Naiki segera meralat perkataannya saat melihat wajah Sisi yang terlihat pias.

__ADS_1


Mereka lalu berjalan ke luar dan mencari keberadaan taksi online yang mereka pesan. Sebenarnya bisa saja Naiki meminta seseorang mengantarkan mobilnya atau pun menjemputnya di Brata Corp dengan cepat. Namun, ia tidak ingin identitasnya terbongkar lebih cepat karena fasilitas-fasilitas kelas atas semacam itu.


Dua puluh menit berjalan, Naiki dan Sisi pun tiba di Caraka Corp. Mereka berhenti tepat di depan gedung yang menjulang tinggi itu. Lebih besar berkali-kali lipat dibandingkan Brata Corp. Sebelum turun dari taksi, tidak lupa Naiki menggunakan masker dan kacamata hitamnya. Sisi yang sudah lebih dulu keluar, menatap gedung tinggi di depannya dengan tatapan takjub.


"Benarkah aku bekerja di sini Tuhan?" Batin Sisi. Ia sangat terharu. Semangat hidupnya seakan-akan kembali berkobar. Terlebih lagi mengingat impian-impiannya yang akan segera terwujud.


"Ibuuuu...nasib anakmu luar biasa ternyata." Lirihnya sambil mengusap setitik airmata yang muncul di ujung matanya.


Naiki memperhatikan Sisi. Ia turut senang melihat ekspresi Sisi yang terlihat sangat bahagia itu. Naiki lalu berjalan memasuki perusahaannya.


"Ayo jalan!" Ucap Naiki sambil melewati Sisi yang .asih menatap takjub gedung tinggi itu.


Sisi lalu mengejar Naiki. Caraka Corp saat ini terlihat mulai sepi, karena jam kantor sudah berakhir setengah jam yang lalu. Naiki selalu mengutamakan kenyamanan dan semangat kerja karyawannya. Maka dari itu, ia tidak menganjurkan para karyawan untuk bekerja lembur. Menurutnya, dengan jam kerja yang sesuai aturan, kesehatan dan motivasi kerja para karyawan itu juga akan terjaga dengan baik.


"Selamat sore Nona Rhea." Ucap para staff itu bergantian.


Lagi lagi Sisi dibuat takjub. Naiki benar-benar memiliki aura seorang pemimpin yang luar biasa walaupun ia hanya wanita muda. Setiap karyawan yang dilewati Naiki, akan menunduk hormat pada Naiki.


Naiki dan Sisi lalu memasuki lift khusus dan menuju lantai paling atas. Tempat di mana ruang kerja Naiki berada. "Siapkan jantungmu." Lirih Naiki tiba-tiba. Sisi bingung mendengarnya.


"Maksudnya?" Tanya Sisi serentak dengan suara pintu lift terbuka.


Ting...

__ADS_1


"Eh kaget..." Seru Sisi kemudian.


"Hahaha....sudah aku katakan, siapkan jantungmu." Kekeh Naiki sambil berlalu keluar dari lift.


Ternyata seperti biasa, Ivan sudah berdiri di depan pintu lift. Suatu kebiasaannya setiap kali Naiki berkunjung ke kantor. Sisi dibuat terkejut oleh sosok Ivan yang tiba-tiba muncul dengan wajah datar. Ingin sekali rasanya Sisi melempar sosok itu dengan tas tangannya. Namun Sisi hanya bisa menghela nafasnya panjang lalu menyusul Naiki yang sudah duluan keluar dari lift.


"Apa kau menyukai kantor barumu Sisi?" Tanya Naiki sambil melepas masker dan kacamatanya. Ia kemudian berjalan menuju kursi kebesarannya. Sisi mengangguk cepat.


"Aku benar-benar terasa seperti mimpi Nai. Ini semua sangat luar biasa." Ucap Sisi dengan mata yang berbinar.


Sisi lalu berjalan mendekati dinding kaca. Ia menatap pemandangan kota yang terlihat mengecil bila dilihat dari tempat ia berdiri sekarang.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu, dan Ivan pun muncul. Ia menawarkan minuman untuk Naiki dan Sisi. Namun Naiki dan Sisi menolaknya.


"Panjul, bawalah Sisi untuk melihat ruang kerjanya." Perintah Naiki kemudian. Sisi dan Ivan pun keluar dari ruangan.


Naiki lalu membuka laptop di meja kerjanya. Ia berniat untuk membaca dan mempelajari isi dokumen Brata Corp. Beberapa menit kemudian ia tersenyum miring. Naiki seperti mendapat ide bagaimana ia akan memulai permainannya.


"Mari kita mulai bermain, Brata." Lirihnya sambil menyeringai.


***********

__ADS_1


Jangan lupa dukung author terus yaa... thanks


__ADS_2