Pewaris Asli

Pewaris Asli
06 Dia?


__ADS_3

Hari pertunangan Darel dan Naiki pun tiba. Semua pelayan di kediaman Caraka sudah sibuk sejak pagi hari. Padahal, acara pertunangan Darel dan Naiki akan dilaksanakan pada malam hari serta hanya dihadiri keluarga saja. Tuan besar Caraka mengerti dengan keadaan cucunya. Ia tidak ingin Naiki merasa risih dengan banyaknya orang yang tahu akan dirinya.


Ya, Naiki memang menutupi jati dirinya dari orang-orang terutama kolega bisnisnya. Naiki tidak ingin kebebasannya terganggu hanya karena bertemu orang-orang jenis penjilat ketika ia sedang beraktifitas di luar pekerjaannya sebagai CEO Caraka Corp. Akan sangat merepotkan untuk menyingkirkan penjilat-penjilat itu, pikir Naiki.


Waktu pertunangan sudah semakin dekat. Elis mulai panik dan mencari Naiki.


"Nai tidak bisa disentuh siapa pun, bagaimana ia merias dirinya kalau seperti ini?" Batin Elis yang terlihat berlari menuju kamar Naiki yang terletak di lantai 2.


Ceklek... Elis membuka pintu kamar Naiki tanpa permisi dan langsung nyerocos tanpa melihat situasi.


"NAAAAIII....bagaimana ini? Tamu akan segera datang, sedangkaaaan...." Elis tidak melanjutkan perkataannya. Ia tertegun melihat adik ipar sekaligus sahabatnya itu.


"Berisik Eliiissss. Apakah kau punya gangguan panik?" Umpat Naiki yang duduk manis di depan meja riasnya.


Elis tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Naiki sudah siap dengan tampilannya. Wajahnya sudah dirias dengan riasan yang simple namun terlihat sangat cantik. Rambutnya pun sudah ditata dengan sangat manis. Naiki menyanggul rambut pajangnya dengan penataan yang simple. Ia menyematkan aksesoris sederhana bertahtakan berlian yang sangat serasi dengan warna kebaya modern yang dikenakannya. Naiki mengenakan kebaya modern bewarna beige. Warna yang membuat kulit Naiki yang kuning langsat semakin terlihat bersih.


"Nai, siapa yang mendadani kamu secantik ini?" Usut Elis. Ia lalu jalan mendekat ke arah Naiki. Ia sangat penasaran tentang rahasia penampilan Naiki, karena beberapa saat yang lalu ia masih terlihat panik memikirkan Naiki.


"Menurut Nyonya?" Tanya Naiki sambil menaikkan bahunya.


"Daebakkkk...." Elis terkagum-kagum dengan sahabatnya. Dia benar-benar gadis yang serba bisa.


Naiki pernah mengikuti kursus merias diri dan menata rambut ketika ia masih kuliah di luar negri. Ia berpikir, hal itu akan sangat berguna untuknya suatu hari nanti. Terlebih lagi dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya untuk menjadi CEO dari Caraka Corp. Akan sangat berguna bagi Naiki jika ia menyempatkan diri untuk belajar make up dan menata rambut. Karena seorang CEO pasti akan sering menghadiri acara-acara besar seperti undangan perjamuan dari kolega bisnis.


Tok... tok... tok...


"Nona Naiki, apakah Nona sudah siap? Tamu sudah tiba Nona." Ucap salah seorang pelayan di balik pintu.


"Iya, aku sudah siap." Sahut Naiki dari dalam.


*************


Di ruangan tempat acara pertunangan akan berlangsung, tampak Darel, Tuan besar Gerandra, Vanya, 2 orang teman dekat Darel yang memaksa ikut, asisten pribadi Darel, beberapa orang pengawal, dan 1 orang pelayan pribadi Vanya telah datang. Mereka membawa bermacam-macam hadiah khusus untuk Naiki.


Tuan Caraka dan Rhean menyambut kedatangan mereka dengan bahagia. Tuan Caraka dan Tuan Gerandra berpelukan melepas rindu. Mereka berdua terlihat sangat bahagia karena berhasil menjodohkan cucu mereka. Sedangkan Darel disambut hangat oleh Rhean. Mereka lalu dipersilahkan duduk.


"Jadi kau bertunangan dengan cucu Tuan besar Caraka, Rel?" Tanya Antony tidak percaya.


"Tidak sia-sia kami memaksa ikut ke sini." Kekeh Jonathan, sahabat Darel yang baru pulang dari luar kota kemarin sore.

__ADS_1


"Penasaran banget kan Jo? Bisa-bisanya seorang Darel memutuskan untuk bertunangan lalu menikah." Bisik Anthony ke Jonathan. Mereka takut dimarah Darel apabila terlalu berisik.


"Eh, berarti dia Nona Rhea kan? CEO Caraka Corp yang misterius itu?" Selidik Jonathan. Anthony mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Akan kah seperti salju dan gunung es yang bertemu? Atau seperti es batu dengan es cendol?" Bisik Anthony sambil terkikik.


Ia pernah mendengar rumor tentang CEO Caraka Corp yang mengatakan bahwa CEO tersebut adalah wanita yang sangat dingin.


"Berisik." Ucap Darel kepada kedua sahabatnya itu. Anthony dan Jonathan menahan tawanya. Ada-ada saja tingkah mereka berdua.


Saat ini Darel terlihat tenang, namun siapa sangka jika jantungnya saat ini terasa mau jatuh dan berganti posisi menjadi ginjal. Sungguh Darel tidak sabar untuk menyematkan cincin di jari manis pujaan hatinya itu. Vanya yang melihat Darel, seketika tahu dengan apa yang dirasakan anaknya. Ia lalu menggenggam tangan kiri Darel.


"Tenangkan dirimu Darel." Ucap Vanya dengan lembut. Darel membalas genggaman Vanya dan tersenyum.


Deg...


Darel langsung terdiam, jantungnya benar-benar terasa mau copot kali ini. Matanya menangkap sosok yang diidamkannya. Seketika semua tamu di dalam ruangan tersebut berdiri, menyambut kedatangan Naiki.


Darel terpana melihat kecantikan Naiki. "Dia bukan hanya cantik." Gumamnya.


Anthony dan Jonathan pun sangat terpukau melihat Naiki.


Sedangkan Bery yang duduk di belakang Darel bengong melihat calon tunangan Tuannya. "Bukankah dia wanita badas itu? Ada apa ini sebenarnya?" Batin Berry.


Vanya tersenyum melihat sosok calon menantunya. Namun matanya terlihat berkaca-kaca.


"Dia sangat cantik seperti dirimu, Alya." Batin Vanya saat itu.


Naiki terus berjalan mendekat. Ia didampingi Elis yang berdiri di belakangnya. Naiki saat itu belum menyadari siapa saja yang berada di hadapannya hingga ia berdiri tepat di depan keluarga Garendra. Naiki terbelalak saat menangkap sosok Darel.


"Dia???" Lirih Naiki. Hampir saja ia berteriak karena sangat terkejut melihat sosok calon tunangannya.


"Jadi aku akan bertunangan dengan pria ini? Dia cucunya kakek Gerandra? Jadi, G-Mall benar-benar punya dia? Oh My God." Batin Naiki bertubi-tubi. Andai tidak kuat mental dan fisik, mungkin Naiki sudah pingsan karena terkejut saat ini.


"Elis, ini benar calon tunanganku?" Bisik Naiki ke Elis yang duduk di sampingnya.


"Lah iya Nai. Emang tunangan siapa lagi?" Jawab Elis malas.


Naiki menarik nafas dalam. Ia mencoba menenangkan hatinya.

__ADS_1


Acara pertunangan pun dimulai. Tiba saatnya Darel untuk menyematkan cincin ke jari manis Naiki. Elis, Rhean, dan Tuan Caraka terlihat gugup. Mereka takut Naiki menarik tangannya, atau menunjukkan gejala dari penyakitnya.


"Kamu harus tahan Nai." Batin mereka bertiga.


Darel dan Naiki kemudian berdiri berdampingan. Darel mengeluarkan sebuah kotak yang terdapat sepasang cincin yang sangat unik. Sepasang cincin yang saling melengkapi satu sama lain. Itu adalah cincin pasangan. Namun terdapat sebuah berlian pada salah satu cincin tersebut. Yang menandakan bahwa itu harus melingkari jari sang gadis. Darel kemudian mengulurkan tangannya dan meraih tangan Naiki.


"Kita bertemu lagi kan?" Lirih Darel sambil tersenyum ke arah Naiki.


Kedua sahabat Darel dan asisten pribadinya terkejut melihat ekspresi Darel yang tidak biasa. Darel tersenyum. Benar-benar senyuman yang tulus.


Naiki hanya diam. Ia juga tidak merespon apa pun ketika Darel meraih tangannya hingga cincin tersebut tersemat dengan indah dan sangat pas di jarinya. Naiki kemudian bergantian menyematkan cincin tersebut ke jari manis Darel.


Tidak terasa, acara pertunangan pun selesai. Keluarga Gerandra sudah kembali ke kediamannya. Naiki juga sudah kembali ke kamarnya. Elis tergopoh-gopoh menyusul Naiki. Ia khawatir, penyakit Naiki akan kambuh setelah beberapa sentuhan dari Darel ketika acara pertunangan tadi.


"Nai, apakah kamu baik-baik saja? Naaaaiiii..." Ucap Elis sambil menggedor-gedor pintu kamar Naiki. Ia sangat panik saat ini. Rhean yang melihat istrinya panik di depan pintu kamar Naiki, kemudian datang mendekatinya.


"Ada apa Sayang?" Tanya Rhean.


"Aku khawatir dengan keadaan Naiki, Rhe. Dia bisa saja kambuh setelah menerima sentuhan dari Darel." Jelas Elis.


Tiba-tiba pintu kamar Naiki terbuka. Kepala Naiki terlihat muncul dari balik pintu.


"Apa sih? Berisik malam-malam." Tukas Naiki. Elis dan Rhean bengong melihat Naiki yang terlihat baik-baik saja.


"Nai, kamu baik-baik saja? Penyakit kamu tidak kambuh Nai?" Tanya Elis.


Naiki terlihat berpikir. "Eh iya ya, kenapa tubuhku tidak ada reaksi apa pun?" Batin Naiki.


Naiki baru sadar bila ia baru saja bertukar cincin dengan Darel. Dan pasti tangannya disentuh beberapa kali oleh pria itu. Namun anehnya, Naiki tidak merasakan apa pun. Dia tidak merasakan penolakan dalam dirinya ketika disentuh Darel. Dia juga tidak menunjukkan gejala phobianya jika menerima sentuhan. Bari kali ini Naiki mengalaminya.


"Aku baik-baik saja." Jawab Naiki sekenanya.


Elis dan Rhean kaget sejadi-jadinya. Mereka tidak menyangka, Naiki akan baik-baik saja ketika disentuh oleh Darel.


"Apakah ini yang dinamakan takdir?" Pikir suami istri tersebut.


**********


Terus dukung author yaa guys...

__ADS_1


terima kasih...


__ADS_2