Pewaris Asli

Pewaris Asli
83 Reaksi Brata


__ADS_3

"Aakhh...Dasar anak sialan! Lihat saja kau nanti. Aku pastikan hidupmu tidak akan lama lagi." Maki Steffanie sambil menahan sakit di tangannya dan sambil membereskan barang-barangnya yang harus ia bawa keluar dari rumah itu.


Ia lalu teringat untuk menghubungi Brata, kakaknya. Yang sebenarnya memang belum mengetahui apa yang menimpanya dan Steffanie saat ini. Tidak ada satu pun pelayan atau pun security yang berani menghubungi Brata karena banyaknya pengawal Gerandra di kediaman itu.


"Kakak, tolong aku!" Pekik Steffanie saat Brata sudah mengangkat teleponnya.


"Ada apa?" Jawab Brata santai.


"Anak sial itu mematahkan tanganku. Aku sudah tidak kuat menahan sakitnya. Dia juga sudah mengusirku dari sini. Kau harus menjemputku, Kak! Aku tidak bisa mengendarai mobil saat ini." Ujar Steffanie penuh emosi.


"Kau naik saja taksi ke rumah sakit. Obati dulu tanganmu. Lalu temui aku di rumah. Aku akan segera pulang." Sahut Brata lalu langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Steffanie tertegun. Rasa kesal di hatinya mendadak menjadi berkali-kali lipat. Dengan hati penuh kebencian, Steffanie bergegas membereskan barang-barangnya dan membawa barang-barang itu keluar dari kamar. Ia lalu memanggil ART di rumahnya untuk membantunya membawa barang-barang itu turun ke bawah.


"Kau seharusnya tidak perlu membawa barangmu sekaligus seperti itu Steffanie. Aku akan mengirimkannya untukmu jika kau mau." Ucap Naiki seraya menatap ke lantai dua, tempat Steffanie berada.


Steffanie pura-pura tidak mendengar apa yang sudah Naiki katakan. Ia mempercepat gerakannya agar bisa segera mungkin tiba di rumah sakit untuk mengobati tangannya.


Beberapa saat yang lalu, Naiki baru saja menelepon Ivan kembali agar mengirim orang yang sama ke tempat tinggal Steffanie untuk mengganti seluruh kunci dan gembok di rumah itu. Ia juga meminta Darel untuk mengirim sedikit pengawal di rumah itu. Untuk berjaga-jaga jika saja Steffanie nekad untuk kembali ke sana.


Barang-barang Steffanie akhirnya sudah selesai di taruh di teras rumah itu. Ia juga sudah menelepon taksi untuk menjemputnya di sana. Tidak membutuhkan waktu lama, taksi itu pun tiba, dan Steffanie pergi dari rumah itu tanpa berpamitan dengan ketiga tamu tak diundangnya.


Setelah urusan di rumah itu beres, mereka bertiga lalu kembali ke kediaman Caraka. Menurut Naiki, untuk sementara ia akan diam dan menunggu pembalasan Brata serta Steffanie karena telah diusir dari tempat mereka tinggal selama ini. Setibanya di rumah Kakek Caraka, Naiki bergegas menuju kamarnya, disusul oleh Darel.


"Kenapa kau begitu terburu-buru ke kamar, Sayang?" Tanya Darel setelah tiba di dalam kamar.


Naiki yang sedang sibuk menghidupkan laptopnya menoleh sekilas ke arah Darel lalu tersenyum.

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin menonton pertunjukkan menarik live dari CCTV?" Tukas Naiki. "Tadi aku sudah meminta Ivan untuk mengirim orang agar mengganti perangkat CCTV di rumah itu dengan yang lebih canggih. Dan sekarang aku ingin mengetesnya."


Darel lalu berjalan mendekat dan duduk di samping Naiki. Ia ikut penasaran dengan tontonan yang Naiki maksud.


Sementara itu, Brata sudah tiba di kediaman yang diakuinya adalah miliknya. Ia terkejut, saat melihat beberapa orang mengenakan seragam hitam berjaga di setiap sudut rumah itu. Brata meminta supirnya untuk menglakson security di kediaman itu agar mereka membukakan gerbang untuk ia masuk. Namun, tidak ada satu pun yang bergerak untuk membukakan pintu.


Brata akhirnya turun dari mobilnya dan berjalan pelan ke pintu gerbang. Muncul kecurigaan di hati Brata. Ia lalu mengecek kunci gerbang tersebut, ternyata ada sebuah gembok besar tergantung di sana. Brata heran, mengapa gerbang rumah itu tergembok padahal hari belum malam. Ia lalu mencari-cari securitynya dan berteriak.


"Apa yang kalian lakukan di sana? Buka gerbang ini, cepat!" Teriak Brata. Namun lagi-lagi security itu diam dan tidak tergerak sama sekali.


"APA KAU TULI?" Teriak Brata lagi.


Akhirnya salah satu dari orang yang berseragam hitam maju ke depan gerbang dan berbicara dengan Brata.


"Selamat sore, Tuan Brata. Rumah ini sudah diambil alih oleh Nyonya Naiki dan Tuan Rhean. Maafkan kami karena anda dilarang untuk masuk ke sini. Sebagian barangmu sudah kami taruh di sisi kiri gerbang bagian luar. Anda bisa mengeceknya. Sisanya akan segera kami kirimkan asalkan anda meninggalkan alamat baru anda kepada kami secepatnya. Terima kasih." Ujar pengawal tersebut.


Brata terpaku dan menatap nanar ke dalam pekarangan rumah yang sudah ia tinggali puluhan tahun itu. Tangannya lalu memukul-mukul pintu gerbang tersebut dan mengguncang-guncangnya.


Ia terlihat sangat murka kali ini. Bisa-bisanya ia terusir dari rumah yang jelas-jelas sudah bersertifikat atas nama dirinya, walau pun itu palsu. Ia lalu menatap ke arah barang-barangnya di samping kiri pagar yang sukses membuat emosinya semakin meledak. Ia lalu teringat dengan Steffanie yang meneleponnya beberapa waktu yang lalu. Brata bergegas mengambil ponselnya di saku jas yang ia kenakan.


"Steffanie! Mereka memblokir rumahku. Bagaimana bisa ini semua terjadi?" Murkanya. Tidak ada jawaban daro Steffanie di seberang sana.


"Temui aku cepat! Aku akan pergi ke hotel XX setelah ini." Ucap Brata lalu mematikan teleponnya.


Brata terpaksa menuju hotel untuk ia tempati sementara waktu ini karena Brata sudah tidak memiliki rumah lagi yang tersisa di dalam kota. Seluruh rumah yang ia miliki telah ia jual untuk membantu keuangan perusahaan yang sedang terpuruk akhir-akhir ini. Ia hanya menyisakan satu buah villa yang letaknya sangat jauh dari kota. Sekitar tiga jam perjalanan. Sangat tidak mungkin Brata akan tinggal di sana saat ini.


Naiki yang mengamati Brata dari layar laptopnya hanya tersenyum sinis. Akhirnya ia berhasil mengusir Brata dari rumah milik almarhum mamanya itu. Naiki belum tahu akan ia apakan rumah itu nanti. Rumah yang terlalu banyak menyimpan kenangan pahit dirinya dan Rhean semasa mereka kecil.

__ADS_1


"Ah, harusnya ada Steffanie datang ke sana. Biar dramanya semakin seru." Komentar Naiki tiba-tiba.


Darel hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan istrinya itu. Matanya terus saja memerhatikan pergerakan Brata yang mulai meminta supirnya untuk membawa barang-barang tersebut masuk ke dalam mobil.


"Mau ke mana dia, Sayang?" Tanya Darel.


"Kau tidak dengar? Dia mau ke hotel XX." Sahut Naiki. "Hhhmm...sepertinya dia akan menyusun rencana bersama Steffanie di sana." Imbuhnya.


"Lalu, bagaimana bila rencana mereka akan membahayakanmu?" Tanya Darel yang mulai khawatir.


"Apa kau pernah melihat aku pernah terbebas dari bahaya selama aku mengenal mereka?" Tukas Naiki.


"Tapi kan..."


"Tenang saja. Percayakan padaku!" Celetuk Naiki lalu membungkam bibir Darel dengan bibirnya.


**********


💙💙💙💙💙


Wah, ngantuk banget. Kalo ada typo, besok aku revisi deh!


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...

__ADS_1


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2