
Jadwal Naiki pulang akan diundur besok pagi karena kondisinya yang belum stabil. Darel pun selalu menemani istrinya hingga ia ikut tertidur di ranjang rumah sakit itu. Hari sudah beranjak sore, Naiki terbangun dan melihat suaminya masih tertidur di sampingnya.
"Maaf merepotkanmu, kau pasti sebenarnya sangat sibuk." Batin Naiki.
Ia lalu mengubah posisinya menyamping, menghadap ke suaminya. Naiki terus memandangi Darel sambil tersenyum. Entah mengapa akhir-akhir ini dia sangat suka menatap wajah Darel yang sedang tertidur pulas itu.
"Apa kau begitu mencintaiku, Sayang?" Tanya Darel dengan mata masih terpejam. Naiki tersentak.
"Hah?" Ucap Naiki bingung.
"Kau terus menatapku dari tadi. Apa karena kau sangat mencintaiku?" Goda Darel sembari mengerlingkan matanya.
"Ya, Aku sangat mencintaimu." Ucap Naiki tanpa sadar.
Mata Darel membulat mendengar perkataan Naiki barusan. Itu adalah kalimat yang sangat ingin Darel dengar sejak dulu. Tiba-tiba Naiki tersadar, dan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Kenapa?" Tanya Darel sambil menahan senyumnya.
Naiki hanya menggeleng sambil terus menutup mulutnya dengan tangan. Ia tampak salah tingkah dan malu dengan kelakuannya sendiri. Darel terkekeh sambil mengusap kepala Naiki lalu menarik tubuh istrinya itu ke pelukannya.
"Terima kasih sudah mencintaiku." Lirih Darel. Naiki hanya diam, menyembunyikan wajahnya yang memerah di dalam pelukan suaminya itu. "Apa kau bisa memanggilku dengan panggilan 'Sayang' mulai sekarang?" Tanya Darel kemudian.
"Ck!" Naiki berdecak mendengar perkataan Darel.
"Ayolah, Sayang!" Rengek Darel.
Naiki tidak menolak, namun juga tidak mengiyakan permohonan Darel itu. Tiba-tiba, ponsel Darel berbunyi. Tampak nama Mike muncul di layar ponselnya. Darel pun turun dari ranjang dan mengangkat telepon dari Mike di depan jendela kamar.
"Ada apa?" Tanya Darel yang sudah kembali ke mode dinginnya.
"Kami sudah mendapatkan informasi keberadaan wanita itu, Tuan. Dia berada di sebuah Villa di daerah pegunungan." Ujar Mike.
"Kirim beberapa orang ke sana untuk menangkapnya. Jangan sampai dia lolos." Perintah Darel pada Mike.
"Siap, Tuan." Jawab Mike, lalu mematikan panggilannya.
Darel lalu kembali menemui istrinya yang sudah duduk bersandar di ranjang besarnya. Tidak seperti kamar pasien biasanya yang menggunakan brankar sebagai ranjang pasien, ranjang Naiki adalah ranjang besar yang sangat empuk dan nyaman.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Naiki penasaran.
"Oh, itu tadi Mike yang nelpon. Dia bilang pelakunya sudah ditemukan." Ujar Darel sembari naik ke ranjang dan duduk di samping Naiki.
__ADS_1
"Apakah dia Grace?" Tanya Naiki. Darel pun mengangguk.
"Bagaimana kau bisa menebaknya?"
"Aku hanya merasa momentnya terlalu pas. Sedangkan Brata, melihat dari sifatnya, tidak mungkin ia berani menyerangku di sarangku sendiri." Sahut Naiki. "Lalu, apa yang akan kau lakukan padanya?" Tanya Naiki.
"Ini masalah wanita, aku akan menyerahkannya padamu. Bagaimana menurutmu?"
"Hmmm...Ok baiklah. Aku akan mengurusnya setelah keluar dari sini." Ucap Naiki.
"Tidak, Sayang. Aku tidak mengizinkannya. Bukan setelah keluar dari sini, tapi setelah kau pulih." Tukas Darel sambil menggenggam tangan istrinya.
"Baiklah... Baiklah... Baiklah..." Jawab Naiki berulang kali.
Darel pun tersenyum mendengar jawaban dari Naiki. Ia lalu merebahkan dirinya dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Naiki.
"Aku dengar, tadi pagi banyak yang menjengukmu di sini." Ucap Darel. Naiki pun mengangguk.
"Entah kenapa mereka seperti sudah janjian sebelum datang ke sini." Ujar Naiki. "Oh ya, ada kabar gembira dari Elis dan kakakku."
"Kabar bahagia? Apa itu?" Tanya Darel.
"Aku, eh salah. Kita...iya kita. Kita akan segera dapat keponakan dari mereka." Ucap Naiki.
"Sepupu?" Naiki terkekeh mendengar kalimat Darel. "Apa kau ingin segera memberi keponakan kita sepupu, padahal dia sendiri saja belum lahir?"
"Tentu saja. Bukankah menyenangkan memiliki sepupu yang seumuran dengannya?" Tukas Darel sembari beranjak duduk kembali.
Naiki lalu menangkupkan tangannya di wajah Darel. Ia lalu menekan kedua pipi Darel hingga bibir tipis Darel mengerucut ke depan.
"Baiklah, aku akan memikirkannya." Sahut Naiki kemudian mengecup bibir Darel ringan. Darel tersipu dengan perlakuan istrinya itu.
"Hahaha...kau sangat lucu jika sedang tersipu seperti itu." Seru Naiki dan terus menertawai Darel yang masih tersipu dengan muka tomatnya.
**********
Lalu bagaimana dengan situasi di Villa tempat Grace menginap saat ini? Masih tenang dan sunyi seperti sebelumnya, karena tim yang dikirim Darel ke sana masih belum tiba.
Grace mondar-mandir sambil menatap layar ponselnya berulang kali. Ia penasaran dengan kabar dari pembunuh bayaran sewaannya. Beberapa kali Grace mencoba menghubungi pria yang menerima misi darinya. Namun, tidak pernah tersambung sejak terakhir kali pria itu meminta uang pada Grace.
"Sialaaaan...!" Teriak Grace yang mulai panik di kamar inapnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Grace mendapat telepon dari nomor tidak dikenal. Ia lalu segera mengangkat panggilan itu.
"Misi gagal. Mereka sedang mengincarmu sekarang. Kaburlah sejauh yang kau bisa!" Ucap seseorang di seberang sana lalu segera memutuskan panggilannya.
Grace tertegun. Kakinya tiba-tiba lemas. Ia pun terduduk di lantai villa yang dingin. Ia telah menghabiskan banyak uang untuk menyingkirkan istri Darel, namun apa yang diperolehnya sekarang? Semua kesialan berbalik mengejarnya.
Dengan panik Grace mencari tas dan kunci mobilnya. Ia bergegas keluar dari kamar tersebut, lalu menyelesaikan administrasi penginapannya. Setelah semua selesai, Grace bergegas berjalan menuju mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di wajahnya.
Wanita itu panik, tubuhnya bergetar dan berkeringat. Dengan rasa takut yang luar biasa, ia mencoba untuk menyetir mobilnya keluar dari villa. Namun, baru saja ia keluar, para pengawal yang ditugaskan Darel untuk menangkap Grace pun tiba. Mobil mereka berpapasan di pintu gerbang villa.
Bukan pengawal khusus namanya jika tidak mengetahui identitas Grace dengan lengkap hingga ke nomor polisi kendaraannya. Pengawal yang duduk di kursi depan mobil van itu segera menyadari jika mobil yang baru saja keluar adalah mobil milik Grace, target yang mereka incar. Mereka pun langsung memutar haluan dan mengikuti mobil Grace secepatnya.
Menyadari jika ia sedang dikejar, Grace semakin panik dan menginjak pedal gasnya hingga kecepatan tinggi. Ia tidak lagi peduli dengan keadaan jalanan yang berliku-liku karena berada di daerah pegunungan. Grace terus memacu mobilnya dengan cepat.
"Bro, bukankah dia sudah gila membawa mobil kebut-kebutan di jalanan seperti ini? Sebelah kiri kita jurang, Brooo." Salah satu pengawal di dalam mobil van berkomentar.
"Apakah tidak apa kita mengejarnya seperti ini? Lebih baik kita menjaga jarak sedikit. Ini terlalu berbahaya. Jika dia terjatuh karena kita mengejarnya, semua pasti kacau." Ucap pengawal satu lagi.
Pengawal yang bertugas menyetir mobil pun mengurangi kecepatannya, hingga jarak mereka dengan Grace sudah lumayan jauh dan mobil Grace sudah tidak tampak lagi di mata mereka karena jalanan yang berliku.
Sedangkan Grace, terus saja memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil terus menerus menatap spion dan menoleh ke belakang. Tangannya gemetar, kakinya pun ikut gemetar. Tiba-tiba saat akan melewati sebuah tikungan cukup tajam, Grace salah perhitungan dan telat memutar setirnya untuk belok. Ban mobil Grace pun tergelincir hingga badan mobil menabrak pembatas jalan dan membuat Grace pingsan seketika.
Karena mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi, pembatas jalan pun tidak cukup kuat untuk menahan mobil Grace. Mobil itu pun terbalik dan terjatuh ke dalam jurang.
DUAAARR...DUUAAARRR...
Para pengawal di mobil van pun mendengar suara ledakan mobil Grace dari kejauhan. Mereka saling pandang. Seakan memiliki firasat yang sama.
"Suara apa itu?" Seru salah satu pengawal.
"Ayo kita periksa! Sepertinya lokasi ledakan ada di depan sana." Sahut pengawal yang menyetir.
*********
💙💙💙💙💙
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
__ADS_1
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙