Pewaris Asli

Pewaris Asli
Special Chapter 01


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu sejak Brata diasingkan ke pulau terpencil dengan kondisi fisik yang mengkhawatirkan. Beberapa hari setelah Brata diasingkan di sana, Tuhan berkehendak lain. Nyawa Brata pun tidak selamat. Ia gagal untuk bertahan hidup dengan kondisi fisik terluka parah, dan tanpa ada apa pun di pulau tersebut.


Setelah menyelesaikan masalah Brata, Darel dan Naiki pun menjalani hari-hari mereka seperti biasa. Namun ada yang berbeda dengan Naiki beberapa hari ini. Nafsu makannya terlihat meningkat. Sikapnya yang dingin dan cenderung diam, mendadak berubah menjadi ceria dan manja, terlebih kepada Darel. Seperti siang ini di Gerandra Corp, saat Naiki dan Darel baru kembali dari makan siang disebuah restoran di sekitar perusahaan itu.


"Sayang, kau sudah makan tiga piring tadi. Apa perutmu tidak sakit kalau lanjut dengan makanan lain seperti ini?" Tanya Darel saat Naiki merengek minta dibelikan seporsi mie ayam.


"Tapi aku masih lapar, Sayang." Sahut Naiki dengan wajah menggemaskan.


Darel mengusap wajahnya. Ia sungguh tidak kuat menolak permintaan Naiki bila istrinya itu sudah memasang wajah menggemaskan seperti saat ini.


"Ok, baiklah. Akan aku pesan." Ucap Darel akhirnya. Darel pun menekan extension telepon di atas meja kerjanya.


"Berry, pesankan aku mie ayam saaa..."


"Dua porsi." Celetuk Naiki. Darel melotot. "Aku mau dua, Sayang..." Rengek Naiki kemudian.


"Dua porsi." Ucap Darel, meralat perkataannya di telepon dengan tidak ikhlas.


Darel lalu menutup teleponnya dan berjalan mendekati Naiki yang duduk di sofa. Ia lalu mengambil posisi di sebelah istrinya.


"Sayang, aku rasa ada yang aneh denganmu akhir-akhir ini." Ucap Darel.


"Kenapa? Apanya yang aneh?" Tanya Naiki.

__ADS_1


"Nafsu makanmu meningkat drastis. Sikapmu juga sedikit berubah." Ujar Darel. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Darel sambil menangkup kedua pipi Naiki.


Naiki langsung menepis kedua tangan Darel dari pipinya.


"Ih, apaan? Aku baik-baik saja, Sayang. Dan tidak ada yang berubah dariku." Tukas Naiki.


Entah mengapa Darel mendadak menjadi overthinking. Ia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Darel tampak memikirkan sesuatu.


"Ayo ikut aku!" Ucap Darel menggenggam tangan Naiki dan menarik istrinya itu pergi dari ruangan tersebut.


*********


"Bagaimana, Dok? Apakah ada masalah pada kesehatan istri saya?" Tanya Darel di ruangan serba putih dan berbau khas itu.


Darel ternyata membawa Naiki ke Rumah Sakit milik istrinya itu. Kekhawatirannya membuat dirinya memaksa Naiki untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.


Darel memandang dokter tersebut tanpa ekspresi. Ia lalu menoleh ke arah istrinya yang sama-sama berekspresi datar.


"Kenapa harus ke sana?" Tanya Darel bingung.


"Ada kemungkinan Nyonya sedang mengandung, Tuan." Ucap Dokter tersebut diiringi dengan senyuman lebar.


Tanpa pikir panjang, Darel langsung membawa Naiki menuju Poli Kebidanan untuk melakukan pemeriksaan kandungan. Naiki terlihat ogah-ogahan mengikuti langkah panjang suaminya yang terlihat sangat penasaran.

__ADS_1


"Apa kau bisa pelan-pelan, Tuan?" Tanya Naiki dengan wajah jengahnya.


"Aku tidak sabar ingin melihat calon anak kita, Sayang." Jawab Darel sambil terus melangkah.


"Tenanglah! Kita istirahat di ruanganku dulu. Aku akan meminta Ivan untuk mengatur jadwal konsul kita hari ini. Apa kau lupa sekarang jam berapa? Ini bukan jam buka praktik poli kandungan, Darel." Tukas Naiki yang mendadak menghentikan langkahnya dan menahan tangan Darel yang terus menggandengnya.


"Ah iya, maafkan aku." Lirih Darel.


Mereka lalu berjalan menuju sebuah ruangan yang biasa Naiki gunakan apabila ada kunjungan kerja ke rumah sakit. Naiki bergegas menelepon Ivan dan menyampaikan maksudnya. Hingga lima belas menit kemudian, Naiki dan Darel pun diminta menuju ke Poli Kebidanan.


"Darel, aku sedikit tidak nyaman karena pemeriksaan oleh dokter sebelumnya. Kau tahu kan, phobiaku belum sepenuhnya sembuh. Jadi aku mohon, genggam terus tanganku selama pemeriksaan nanti." Pinta Naiki sebelum memasuki ruang pemeriksaan. Darel mengangguk dan tersenyum.


Setibanya di ruang pemeriksaan, dokter langsung meminta Naiki untuk berbaring untuk di USG, dan Darel selalu setia di samping Naiki sambil menggenggam tangan istrinya tersebut dengan erat. Tampak senyum sumringah di wajah dokter wanita tersebut.


"Selamat ya, Tuan dan Nyonya. Kalian akan segera menjadi orang tua. Usia kandungan Nyonya sudah berjalan tiga minggu."


Darel menatap wajah Naiki dengan penuh haru. Ternyata kebiasaan-kebiasaan aneh yang dilakukan istrinya beberapa waktu ini karena sang istri sedang mengandung anak mereka. Seorang pewaris Gerandra Corp.


"Terima kasih, Sayang. Akhirnya kita akan menjadi orang tua. Dia pasti akan jadi seorang anak yang luar biasa nantinya." Ucap Darel.


"Maaf, Tuan. Bukan seorang, tapi dua orang." Celetuk dokter tersebut sambil tersenyum lebar.


Darel dan Naiki tersentak. Saling pandang seakan tidak percaya.

__ADS_1


"Apaaaa??? Dua???"


*********


__ADS_2