Pewaris Asli

Pewaris Asli
38 Dooorrr...


__ADS_3

Sonya kembali ke ruangannya dengan emosi campur aduk. Ia membanting tubuhnya di kursi kerja lalu menarik nafas dalam. Sonya kemudian menenggak air putih di meja kerjanya. Ia lalu menelepon Steffanie.


"Ada apa, Sonya?" Sahut Steffanie di seberang.


"Ibu...di-dia, dia Naiki, Bu. Dia benar-benar Naiki." Ucap Sonya terbata.


"Apa maksudmu? Bicaralah dengan jelas."


"Ibu, karyawan baru yang bernama Naiki Rhea itu, ternyata benar-benar Naiki. Anak pembawa sial itu. Dia Naiki, Bu. Dia masih hidup. Dia kembali, Ibu." Ujar Sonya panik.


"Apa? Apa kau yakin itu dia?" Steffanie tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Anak sial itu tidak mungkin masih hidup."


"Dia tahu panggilanku sewaktu kecil bila bermain dengan Naiki. Aku suka memaksa Naiki untuk memanggilku Princess saat itu. Kalau dia bukan Naiki anak pembawa sial, dia tidak mungkin tahu panggilan itu, Ibu. Hanya dia yang aku paksa untuk memanggilku dengan sebutan Princess." Jelas Sonya panjang lebar. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kau harus segera bertindak, Ibu."


"Tenanglah. Ibu sudah mengatur semuanya." Sahut Steffanie lalu langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Apa maksudnya?" Gumam Sonya sambil menatap layar ponselnya yang meredup.


Beberapa saat kemudian ia menerima pesan teks dari Steffanie. Sonya segera membaca pesan dari ibunya itu.


"Oh, begitu ternyata." Gumam Sonya sambil menyeringai.


***********


Jam makan siang pun tiba. Naiki dan Sisi berjalan menuju kantin perusahaan. Seperti biasa mereka mengambil makan siang dengan mengantre bersama karyawan-karyawan yang lain. Setelah mendapatkan makan siang, Naiki dan Sisi mencari tempat yang kosong untuk menikmati makan siang mereka.


Naiki menikmati makan siang dengan santai. Sebenarnya menu di Brata Corp tidak terlalu cocok di lidahnya. Karena biaya untuk makan siang karyawan sedang diminimalisir saat ini. Sehingga menu yang disediakan pun tidak cukup menggugah selera.


Naiki menyelesaikan makan siangnya lebih dulu dari Sisi. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ternyata ada sebuah pesan dari Darel.


[Sayang, aku sedang di rumah kakek Gerandra sekarang. Mama dan Killa rindu padamu. Bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama mereka?]


Naiki tersenyum membaca pesan dari Darel. Ia lalu mengetikkan balasan pesan tersebut.


[Ok, baiklah. Aku juga merindukan mereka.]


Naiki lalu meletakkan ponselnya di meja. Ia lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya di atas meja. Naiki memikirkan sesuatu. Entah mengapa ia merasa keselamatannya sebagai Naiki anak yang hilang mulai terancam saat ini.


Naiki lalu mengambil ponselnya kembali. Ia lalu mengetikkan pesan kepada Ivan.


[Panjul, kirimkan aku G2 Premium Kaliber 9mm sore ini. Aku tunggu di parkiran motor Brata Corp jam 4 sore.]


[Baik, Nona.] Balas Ivan dengan cepat dan singkat.


Ivan tidak kaget mendapatkan pesan seperti itu dari Naiki. Ia tahu, Naiki pasti ada alasan jika meminta dikirimkan senjata api kepadanya. Naiki memang memiliki beberapa senjata api legal, karena Naiki sendiri sudah menguasai keterampilan menembak sejak ia masih remaja.


"Kau makan lama sekali, Sisi." Rutuk Naiki.

__ADS_1


"Bukan aku yang lama, tapi kau yang terlalu cepat, Nai." Protes Sisi sambil menyendok nasi di depannya.


"Hiisssh...Sekretaris macam apa kau ini. Makan saja lelet." Umpat Naiki. Ia merasa bosan menunggu Sisi makan.


Sisi hanya tersenyum mendengar ocehan Naiki. Karena ia tahu, Naiki tidak benar-benar mengejeknya dari hati. Sisi lalu menghabiskan makan siangnya dengan santai. Ia tidak peduli dengan apa pun yang keluar dari mulut Naiki.


Mereka lalu kembali menuju ruang kerja mereka. Menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Hingga tidak terasa hari mulai beranjak sore, sudah saatnya mereka pulang.


Naiki dan Sisi berjalan bersama menuju parkiran motor. Sisi lalu berpamitan dan bergegas menuju parkiran motornya. Sedangkan Naiki, seperti biasa menghampiri Darel yang datang menjemputnya. Tiba-tiba seseorang berpakaian hitam menghampiri Naiki dan memberikan Naiki sesuatu. Ternyata benda kiriman Ivan. Naiki langsung menaruh benda itu di pinggangnya.


Darel heran melihat transaksi yang baru saja terjadi. Terlebih lagi saat melihat Naiki menyimpan sesuatu di balik kemejanya yang menutupi pinggang.


"Bukankah itu senjata?" Tanya Darel penasaran. Naiki mengangguk, lalu bergegas naik ke atas motor.


"Ada apa? Tidak biasanya kau membawanya." Tanya Darel lagi.


"Oh, aku hanya merasa ada yang mengincarku." Sahut Naiki.


"Kau pasti buat ulah lagi." Tebak Darel. Naiki tidak menjawab. Ia lalu menepuk pundak Darel memberi kode agar Darel segera memacu motornya.


"Suamiku, ayo kita coba adegan tembak-menembak seperti di film-film." Ucap Naiki sambil menyandarkan dagunya di bahu Darel.


Darel terkejut mendengarnya. "Kau tidak serius, kan?" Tanya Darel sambil terus melajukan sepeda motornya di jalan raya.


"Bisakah kau ambil jalan yang cukup sepi? Mereka pasti akan segera muncul." Ucap Naiki. Darel lalu membelokkan sepeda motornya kemudian berjalan di jalan lurus yang terbilang cukup sepi.


Darel melirik ke spionnya. Ia terkejut, ada tiga sepeda motor yang terus mengikuti mereka. Sangat mencurigakan menurut Darel.


"Kau tahu siapa mereka?" Tanya Darel.


"Tidak. Tapi pasti mereka mengincar nyawaku." Sahut Naiki lalu tersenyum dingin. Ia kemudian mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan memutar tubuhnya menghadap ke belakang. Naiki lalu menargetkan ketiga motor tadi.


Dooorrr....


Dooorrr....


Dooorrr....


Dengan cekatan Naiki menembak kaki ketiga pria yang mengendarai motor.


"Aaarrrrghhhh...." Pekik ketiga pengendara motor tadi, namun masih bertahan mengendarai motornya,


walau timah panas menembus kulitnya.


Ternyata, pria yang dibonceng juga memiliki senjata api di tangannya. Naiki meminta Darel memperlambat sedikit motornya. Ia lalu membidik tangan ketiga orang yang memegang senjata.


Doooorrrr....

__ADS_1


Satu tembakan nyaris mengenai Naiki dan Darel. Dengan cepat Naiki membalas tembakan tersebut.


"Hati-hati, Nai." Teriak Darel sambil terus fokus ke jalanan.


Dooorrr...


Dooorrr....


Dooorrr....


Naiki menembak tangan ketiga orang yang memegang senjata dengan sangat cepat. Senjata mereka pun terjatuh ke aspal. Naiki mendapatkan sumpah serapah dari mulut enam orang yang ingin menyerangnya tadi. Diam-diam Darel melihat aksi Naiki dari spionnya.


"Ok, cukup. Ayo kita ngebuuuuttt... Biarkan pengawal yang menyelesaikan mereka." Ucap Naiki bersemangat. Ia lalu menyimpan kembali senjata apinya.


Darel tertawa kecil mendengar perkataan istrinya itu. Ia lalu menghubungi Ketua Tim Pengawal melalui earphone.


"Bereskan mereka!" Perintah Darel.


"Siap, Tuan." Sahut orang yang di seberang.


Darel dan Naiki pun melesat dengan santai ke rumah Kakek Gerandra. Naiki sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Mama Vanya dan Killa. Entah mengapa, Naiki merasa mendapatkan keluarga baru yang tidak kalah dengan keluarga kandungnya. Ia merasa sangat menyayangi keluarga Gerandra, walaupun ia sebenarnya menikah karena terpaksa.


Setibanya di kediaman besar Gerandra, Naiki langsung berlari masuk ke dalam, disusul oleh Darel. Ia lalu menemukan sosok Vanya dan Killa di ruang keluarga.


"Mama, Killa, aku datang." Ucap Naiki.


Vanya dan Killa tersenyum lebar. Namun, Vanya yang jeli menatap heran ke arah kemeja Naiki. Ada sesuatu yang menyembul di balik kemeja itu. Naiki lalu mengikuti arah tatapan Vanya pada dirinya


"Mama penasaran dengan ini?" Tanya Naiki sambil memegang bagian kemeja yang menggelembung. Vanya lalu mengangguk.


Naiki lalu mengeluarkan senjata api itu dari pinggangnya. Sontak Vanya dan Killa tersentak.


"Kak Nai, untuk apa itu?" Tanya Killa sedikit takut. Tiba-tiba Darel datang dan mendekati istrinya.


"Untuk nembak lah." Ucap Darel enteng.


"Tapi kan, Kak Nai baru aja pulang dari kantor. Masa iya, ke kantor bawa-bawa senjata." Protes Killa.


Darel lalu mendekati Killa kemudian mengusap kepala adiknya itu.


"Mau tahu terlalu banyak itu tidak baik, Killa." Ucap Darel sambil terus mengusap kepala adiknya.


"Kakak....kusut ini." Gerutu Killa sambil berusaha menyingkirkan tangan Darel dari kepalanya.


Vanya, Naiki, dan Darel pun tertawa melihat tingkah Killa.


********

__ADS_1


__ADS_2