
Setelah ziarah ke makam Alya, Wisnu membawa mereka menuju sebuah panti asuhan. Tempat terakhir Naiki dan Rhean melihat sosok mamanya. Mereka menempuh perjalanan cukup jauh. Namun, karena arah panti adalah menuju ke kota apabila dari pemakaman, maka tidak butuh waktu dua jam untuk mereka sampai di panti itu.
Naiki turun dari mobil dengan terus menggenggam tangan suaminya dengan erat. Hatinya sakit saat mengingat kejadian hari itu. Terlebih lagi saat ini ia berada di panti yang bangunannya tidak banyak berubah dari yang dulu. Selama mengurus panti itu, Wisnu sebisa mungkin mempertahankan bentuk asli panti, terlebih lagi pada bangunan aula yang memiliki ruang rahasia milik Alya. Walaupun tanpa renovasi yang mengubah bentuk, bangunan tersebut masih sangat terawat hingga saat ini.
"Saya harus bertemu Kepala Panti terlebih dahulu." Ucap Wisnu yang berjalan paling depan.
Pria paruh baya itu berjalan menuju sebuah ruangan di gedung utama yang merupakan kantor kepala panti asuhan. Ia lalu mengetuk pintu ruangan itu beberapa kali, dan keluarlah wanita yang tampak sudah berumur enam puluhan tahun dari balik pintu.
"Tuan Wisnu? Silahkan masuk." Ucap Ibu Kepala Panti. Ia juga mempersilahkan rombongan Naiki untuk masuk ke ruangannya.
"Ada yang bisa dibantu, Tuan?" Tanya Ibu Kepala Panti yang bernama Ibu Ajeng.
"Saya mau membawa Nona Naiki dan Tuan Muda Rhean ke aula panti. Apakah boleh, Bu Ajeng?" Tanya Wisnu yang direspon dengan ekspresi penuh tanya oleh Ibu Ajeng.
"Oh, saya lupa memperkenalkan mereka. Mereka adalah keluarga kandung Nyonya Alya, Bu." Ujar Wisnu.
Ekspresi Ibu Ajeng seketika berubah. Matanya terlihat berkaca-kaca saat melihat Naiki dan Rhean yang sudah dewasa.
"Tidak apa, Tuan Wisnu. Bawalah mereka ke sana." Ucap Ibu Ajeng sambil tersenyum.
Wisnu dan yang lainnya pun pergi menuju aula panti. Hingga akhirnya langkah Wisnu berhenti di depan salah satu pintu. Ia pun masuk ke ruangan kecil tersebut diikuti Naiki dan Rhean di belakangnya. Wisnu lalu menarik salah satu rak, dan tampaklah sebuah pintu rahasia di balik rak tersebut. Naiki dan Rhean sedikit takjub melihat pintu tersebut. Wisnu pun membuka pintu rahasia itu dengan scan retina mata dan sidik jarinya. Tiiitt... Pintu pun terbuka.
"Masuklah." Ucap Wisnu pada Rhean dan Naiki.
Dengan ragu, Naiki dan Rhean pun melangkah ke ruangan di balik pintu berbahan metal tersebut. Wisnu menyalakan lampu, dan tampaklah sebuah ruangan yang di luar dugaan mereka. Ruangan yang terlihat seperti sebuah ruang kerja, namun dengan desain yang sangat modern dan dilengkapi dengan teknologi tinggi. Naiki dan Rhean tidak menyangka, mama mereka memiliki ruangan seperti itu pada dua puluh tahun yang lalu.
__ADS_1
Terdapat sebuah monitor berukuran besar di ruangan itu, satu set komputer, sebuah brankas berukuran besar, dan satu lemari dengan beberapa pintu. Wisnu lalu menyalakan monitor besar itu dan menyalakan komputer. Ia lalu memutar sebuah video untuk Naiki dan Rhean. Video yang memperlihatkan keceriaan mereka saat bermain dengan Alya. Naiki dan Rhean menitikkan airmatanya. Sungguh, mereka rindu dengan suasana saat itu.
Wisnu lalu mengganti video yang ia putar dengan video-video yang merekam keseharian Naiki, Rhean, dan Alya di rumah. Video itu adalah hasil rekaman CCTV kediaman Alya saat itu. CCTV yang ia pasang dengan letak yang sedikit tersembunyi dan Brata tidak menyadari hal itu. Namun, video yang diputar Wisnu telah diedit dan digabung menjadi satu dan dikhususkan untuk memperlihatkan kekejaman Brata dan adiknya terhadap Alya, Naiki, dan Rhean.
Wisnu langsung mematikan rekaman video tersebut. Ia takut, video itu dapat menguak kembali luka lama Naiki dan Rhean.
"Maaf, Tuan muda, Nona kecil. Saya tidak bermaksud mengingatkan kalian akan kejadian beberapa tahun lalu itu. Namun, saya hanya ingin Tuan dan Nona tahu, bahwa semua bukti kejahatan Brata ada di sini. Baik itu video, foto, maupun berkas-berkas yang dipalsukan Brata." Ucap Wisnu. "Silahkan melihat semua yang kalian inginkan. Kode brankas itu adalah tanggal dan bulan lahir kalian berdua." Imbuh Wisnu lalu pergi meninggalkan Naiki dan Rhean.
Kakak adik itu hanya saling pandang. Naiki penasaran ada apa sebenarnya di dalam brankas yang besar itu. Naiki pun mencoba membuka brankas dengan kode yang diberitahukan oleh Wisnu, dan brankas pun berhasil terbuka.
Naiki dan Rhean melihat logam mulia dan berlian berkilauan di balik pintu brankas. Namun, hal itu tidak dapat menyilaukan mata keduanya. Naiki dan Rhean terfokus pada beberapa diary, buku catatan, dan album foto di dalam sana. Mereka merasa, benda itu lah yang sangat penting, hingga Alya menyimpannya di dalam sebuah brankas.
Naiki meraih album foto yang hanya terdapat satu. Ia lalu membuka album tersebut, ternyata isinya adalah foto Naiki dan Rhean saat bayi serta Alya yang terlihat bahagia. Namun, tidak ada satu pun foto Brata di sana.
Naiki lalu menutup album tersebut dan beralih pada beberapa buah diary lalu mengambil diary yang paling atas. Ia pun membuka diary tersebut kemudian membacanya sedikit. Begitupun dengan buku catatan yang Alya tinggalkan di sana. Naiki hanya membacanya sedikit. Dia memutuskan untuk membawa pulang diary dan buku catatan tersebut karena merasa ada hal penting yang Alya tuliskan di sana.
Setelah puas melihat isi ruangan tersebut, Naiki dan Rhean pun keluar dan menemui Wisnu.
"Paman, ada yang ingin aku tanyakan." Ucap Naiki.
"Silahkan, Nona."
"Apakah aku boleh membawa diary dan catatan ini ke rumahku?" Tanya Naiki.
"Semua benda di dalam sana adalah milikmu dan Tuan muda, Nona kecil. Jadi, Nona kecil dan Tuan muda dapat dengan leluasa mengambilnya." Sahut Wisnu.
__ADS_1
"Satu lagi Paman. Apakah di antara surat kepemilikan asset kemarin terdapat surat kepemilikan kediaman Brata dan Steffanie?" Tanya Naiki lagi.
Wisnu diam lalu tersenyum. Ia tahu, apa yang ingin Nona kecilnya lakukan sekarang.
"Benar sekali, Nona. Kediaman Brata dan Steffanie adalah properti milik Nyonya Alya. Dan sesuai surat wasiat Nyonya, semua asset milik Nyonya Alya akan menjadi milik Nona dan Tuan muda sepenuhnya." Ujar Wisnu dengan tenang.
"Ayo kita pulang sekarang, Paman. Aku ingin mengambil bukti itu lalu menendang Brata dan Steffanie keluar dari rumah mamaku." Ucap Naiki sambil tersenyum smirk.
"Nai, Kakak ikut." Tukas Rhean yang dipandang heran oleh Naiki.
"Serius?" Tanya Naiki.
"Apa kau ingin bersenang-senang seorang diri? Aku juga mau, Gadis Tengil!" Hardik Rhean yang langsung merangkul Naiki dan berjalan keluar menemui Darel serta Kakek Caraka di aula.
**********
💙💙💙💙💙
Kita mulai penyiksaannya dari sini aja. Tapi slow yaa guys... ðŸ¤
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
__ADS_1
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙