
Sehari berlalu setelah insiden penculikan Naiki yang digantikan oleh Daniela. Hari ini Naiki menarik kembali para pengawal yang berjaga di sekitar apartment Sisi dan juga beberapa pengawal lain yang ia tugaskan untuk menjaga orang-orang terdekatnya. Naiki menghembuskan nafas lega.
Hari ini ia memutuskan untuk tidak pergi ke perusahaan. Ia harus mencari tahu apa penyebab Brata tidak mengakui dirinya dan Rhean sebagai anak. Darel merasa khawatir pada istrinya itu. Karena sejak semalam, Naiki terlihat tidak nyenyak saat tidur.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Tanya Darel saat mereka sedang sarapan pagi.
Darel perhatikan, Naiki belum menyantap sarapannya satu sendok pun. Ia hanya mengaduk-aduk nasi goreng di depannya dengan sendok dan garpu yang ia pegang.
"Sayang..." Panggil Darel kembali, karena Naiki tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Hah? Ada apa?" Tanya Naiki.
"Apa kau baik-baik saja?" Ulang Darel.
"Iya, aku baik-baik saja."
"Lalu, apakah nasi gorengnya tidak sesuai seleramu?" Tanya Darel lagi.
"Ini enak. Tidak ada masalah dengan nasi gorengnya." Jawab Naiki.
"Kau bahkan belum memakannya sama sekali, Sayang." Tukas Darel.
"Oh, aku hanya sedikit tidak nafsu makan." Lirih Naiki.
Darel tidak memperpanjang ucapannya lagi. Ia segera mengambil sendok di tangan Naiki dan berusaha menyuapi istrinya. Tapi Naiki menggeleng dan menutup mulutnya rapat.
"Ayolah, Sayang... Kau bisa sakit nanti." Bujuk Darel. "Bagaimana dengan roti isi?"
Naiki kembali menggeleng, membuat Darel semakin khawatir. Ia lalu menaruh sendok yang dipegangnya tadi, kemudian merapatkan kursinya ke kursi Naiki.
"Katakan padaku, apa kau ada masalah?" Tanya Darel.
"Aku hanya penasaran, kenapa pria tua itu tidak pernah mengakui kami sebagai anaknya." Sahut Naiki pelan.
"Ayo kita ke markas hari ini untuk menanyakannya secara langsung." Ajak Darel. Naiki menoleh ke arah Darel dan menatap suaminya itu lekat.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau belum siap?"
Lagi-lagi Naiki tidak menjawab. Namun airmata mulai menggenang di kedua bola matanya. Dengan cepat Darel langsung meraih tubuh istrinya itu dan memeluknya.
"Tidak apa. Kita akan cari tahu terlebih dahulu masalah ini dan bisa menemuinya lain kali." Hibur Darel.
Darel dan Naiki akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Wisnu. Mereka menelpon Wisnu dan menanyakan alamat tempat tinggal Wisnu saat ini. Sebelum menuju ke vila pribadi Wisnu, Naiki dan Darel menjemput Rhean terlebih dahulu, karena ini menyangkut Naiki dan juga Rhean.
Mereka bertiga menempuh perjalanan lebih dari dua jam. Ternyata mencari alamat Wisnu tidaklah sulit. Karena vila Wisnu adalah satu-satunya vila mewah di daerah tempat tinggalnya.
Darel, Naiki, dan Rhean turun dari mobil dan disambut oleh beberapa pelayan, termasuk seorang pria muda, orang kepercayaan Wisnu yang dia ajak saat berkunjung ke kediaman Caraka.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Perkenalkan, saya Iam, asisten pribadi Tuan Wisnu. Silahkan masuk!" Ucap Pria muda itu.
Naiki, Rhean, dan Darel lalu mengikuti Iam dari belakang. Mereka bertiga takjub melihat vila Wisnu yang sangat mewah. Sebuah vila di tengah pegunungan dengan pemandangan yang sangat indah. Sungguh tempat yang sangat nyaman untuk melepas penat.
Mereka bertiga dibawa Iam menuju teras belakang vila. Terdapat kolam renang dengan pemandangan hutan di sisinya. Udara yang dihirup pun terasa sangat menyegarkan. Perlahan, beban di pikiran Naiki pun sirna.
"Apa kalian kesulitan mencari alamat di sini?" Tanya Wisnu sembari berjalan menuju tiga orang yang telah menunggunya sejak tadi.
"Tidak, Paman." Sahut Rhean mewakilkan. "Apakah Paman sehat?" Tanya Rhean kemudian.
"Sangat sehat, Tuan Muda." Jawab Wisnu.
"Panggil saja namaku, Paman. Paman bahkan sudah seperti orang tua bagi kami." Ucap Rhean. Wisnu pun tersenyum.
"Bagaimana dengan kalian? Apakah sehat?" Wisnu bertanya balik.
"Sehat, Paman. Tidak usah khawatir." Jawab Naiki.
Mereka lalu mengobrol panjang lebar hingga tiba ke inti pertemuan hari ini. Naiki dan Darel lalu menyeritakan kepada Wisnu bagaimana mereka menangkap Brata dan Steffanie kemarin. Apa saja yang sudah mereka lakukan dan apa rencana mereka kemarin. Wisnu tidak tampak terkejut, karena ia sangat tahu betapa kejamnya dua kakak adik itu.
"Jadi Paman, bagaimana bisa pria itu mengira kami bukan anak kandungnya? Apakah dia benar-benar hanya menyukai harta mama saja?" Tanya Naiki.
__ADS_1
Wisnu menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.
"Kau benar, Nona kecil. Dia sama sekali tidak ada perasaan pada Nyonya Alya. Dia mendekati Nyonya hanya karena harta." Sahut Wisnu.
"Mereka menikah tanpa restu Tuan Besar Caraka. Dia bahkan tidak mencari tahu siapa mertuanya, karena menurutnya itu tidak penting dan lebih baik mereka memisahkan diri dari keluarga besar agar harta Nyonya dapat dikuasainya suatu hari nanti." Wisnu memulai ceritanya.
"Saat itu memang Nyonya sangat dekat dengan Paman. Nyonya selalu menghubungi Paman setiap ia memerlukan bantuan. Termasuk disaat ia menjalani kehamilannya yang tidak didukung Brata sama sekali. Karena kedekatan kami, Steffanie menghasut Brata dan mengatakan bahwa Nyonya telah berselingkuh dengan Paman. Ia juga mengatakan bahwa Rhean dan Nona kecil bukanlah anak kandung Brata, melainkan anak kandung kami berdua."
Naiki, Rhean, dan Darel mendengarkan cerita Wisnu dengan serius. Sesekali Wisnu menghela nafasnya. Ia juga sesekali menyeruput teh yang telah disajikan pelayan untuk mereka.
"Saat itu Paman memang memiliki perasaan pada Nyonya Alya. Namun, Paman sadar, perasaan Paman tidaklah baik jika diteruskan karena Nyonya sudah menjadi milik orang lain. Jadi, Paman memutuskan untuk membantu Nyonya sampai akhir, tanpa mengutarakan perasaan Paman." Lanjut Wisnu.
"Mungkin ini kesalahan Paman yang terlalu dekat dengan mama kalian saat itu, sehingga membuat Brata membenci kalian dan berpikir kalian adalah anak kami. Nyatanya bukan. Andai saat itu kami tidak terlalu dekat, mungkin masih ada harapan agar Brata menyayangi kalian."
"Tidak Paman. Jangan menyalahkan dirimu sendiri! Kau sama sekali tidak bersalah. Pria itu tidak mencintai mama kami, jadi dia juga pasti sangat tidak menginginkan kami. Di matanya, kami hanyalah sebuah kesalahan." Celetuk Rhean.
Mata Naiki tampak mulai berkaca-kaca. Sungguh ia tidak menyangka, ayah kandungnya akan setega itu pada mereka. Terlepas dihasut atau tidak oleh Steffanie, Brata tetap membenci Naiki dan Rhean. Dia bahkan tidak mencintai Alya sama sekali.
"Kau benar, Kak. Di matanya, kita hanya sebuah kesalahan. Kita bukanlah hasil dari cinta mereka berdua. Jadi tentu saja, Brata membenci kita dan tidak segan ingin membunuh kita." Ucap Naiki pelan. Airmatanya mulai mengalir. Darel dengan sigap langsung merangkul istrinya dan menyandarkan kepala Naiki ke dadanya.
"Paman, bolehkah kami memanggilmu Papa?" Tanya Naiki tiba-tiba.
**********
💙💙💙💙💙
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙
__ADS_1