
Tuan dan Nyonya Muda Gerandra itu pulang ke rumah tanpa beban dan tanpa memikirkan keributan apa yang sedang terjadi di G-Hotel, tempat diadakannya pesta ulang tahun Grace, putri dari pemilik Pearl Company. Darel memerintahkan Berry untuk menyelesaikan masalah di sana. Ia juga sudah meminta para pengawalnya untuk mengamankan orang-orang yang terlibat dalam insiden tadi. Walaupun pada akhirnya istrinyalah yang telah menyakiti seseorang pada insiden tersebut.
Suasana pesta yang meriah seketika menjadi mencekam, hanya karena ulah bodoh beberapa orang di sana. Beberapa menit pun berlalu, Berry akhirnya tiba di lokasi dan langsung menemui Tuan Miller untuk menyelesaikan masalah, termasuk menyudahi rencana kerjasama Gerandra Corp dan Pearl Company.
Berry membawa Tuan Miller ke sebuah ruangan yang biasanya di sewa perusahaan untuk melakukan meeting dan lainnya. Tuan Miller seketika murka atas keputusan Tuan Muda Gerandra yang disampaikannya melalui Berry. Ia bahkan tidak terima saat anaknya dijadikan tersangka karena telah merencanakan kejahatan pada Nyonya Muda Gerandra. Termasuk pada saat para pengawal memberikan bukti-bukti yang jelas. Berupa satu buah kamera, rekaman CCTV, serta pengakuan sang Manager dan fotografer. Dia menganggap perbuatan anaknya hanyalah candaan semata.
"Kalau pun putri saya melakukan hal itu, pasti ada alasannya, Tuan Berry. Saya yakin, bukan dia yang memulai." Bela Tuan Miller. Dia benar-benar dibutakan dengan status anak dan orang tua. Di matanya, Naiki lah yang memulai, bukan anaknya.
"Jadi maksud anda?" Tanya Berry dengan mata memicing tajam. Ia mulai mendengus kesal mendengar kalimat Tuan Miller yang sangat tidak masuk akal.
"Bersikaplah profesional, Tuan Miller. Putri anda bahkan tetap tidak dapat menyinggung Nyonya muda kami, sekalipun dia bukanlah istri dari Tuan Muda Gerandra. Ingatlah hal itu, dan sampaikan pada putri anda!" Tukas Berry sembari berdiri dari duduknya. "Bila tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya pamit. Selamat malam." Ucap Berry dingin dan segera meninggalkan ruangan itu.
"Pembunuh bayaran saja bukan lawan Nyonya, apalagi putrimu, Tuan. Ck!" Umpat Berry sambil terus berjalan keluar dari hotel.
Berry tiba-tiba menghentikan gerakannya saat hendak membuka pintu mobil. Ia terpikir sesuatu saat ini.
"Ah, sial! Bukankah ini berarti keselamatan Nyonya semakin terancam? Musuhnya bertambah lagi mulai malam ini." Seru Berry sambil geleng-geleng kepala. Sungguh kehidupan orang kaya tidaklah tenang.
********
Naiki dan Darel telah tiba di kediaman mereka. Naiki bergegas turun dari mobil dengan bertelanjang kaki, dan menenteng heelsnya yang sudah ia lepas sejak masuk ke dalam mobil tadi. Wanita berparas dingin itu berjalan cepat menuju kamar tidur mereka. Ia sudah tidak nyaman dengan pakaiannya. Ia juga ingin membersihkan make up di wajahnya dan segera mencuci muka.
"Yang namanya pesta, pasti menyebalkan." Sungutnya sambil berusaha membuka gaun itu.
"Apa kau butuh bantuan?" Tanya Darel yang tiba-tiba muncul ke dalam ruang ganti pakaian itu.
Naiki kaget, lalu menoleh, dan menatap datar pada Darel. Ia menimbang-nimbang apakah membutuhkan bantuan dari Darel atau tidak. Akhirnya, Naiki memutuskan untuk menerima bantuan dari Darel. Toh, ini juga bukan pertama kalinya. Pria itu bahkan sudah pernah melihat tubuh polos dirinya, pikir Naiki.
Darel kemudian membantu Naiki membuka gaunnya dengan terus berusaha menelan salivanya yang seperti sulit untuk ditelan. Leher jenjang Naiki sangat menarik di mata Darel. Terlebih lagi punggung Naiki yang indah. Karena hobi olahraga, tubuh Naiki benar-benar terjaga. Lekuk tubuhnya terbentuk dengan sempurna.
__ADS_1
Tanpa sadar, Darel semakin mendekat dan mencium tengkuk Naiki dengan lembut sambil menghirup aroma Naiki yang ibarat candu baginya. Alis Naiki bertaut saat merasakan hembusan nafas Darel di belakangnya. Ia pun berbalik dan menarik hidung mancung Darel dengan gemas.
"Aaakkkhhh...ampun Sayang... ampuuuunnn..." Seru Darel merintih kesakitan sambil mengikuti arah tangan Naiki yang menarik hidungnya. Suaranya menjadi sengau, dan nafasnya sedikit tersengal karena hidungnya ditarik Naiki dengan kuat.
"Biar saja. Biar ini hidung berhenti macam-macam di belakang orang." Ketus Naiki.
"Mampuuuss!" Sesal Darel dalam hati. "Kumohon Sayang... Hidungku bisa patah." Bujuk Darel dengan suara sengaunya. Dia sungguh kesakitan saat ini.
Naiki pun melepaskan tangannya dari hidung Darel yang mulai memerah. Tatapannya masih saja tajam, seperti sedang mengamati musuhnya. Darel tentu saja mengerucutkan bibirnya dan mengusap-usap hidungnya yang memerah karena ulah Naiki.
"Syukurin!" Ejek Naiki sembari melepas gaunnya membelakangi Darel.
"Kau pasti sedang menggodaku kan?" Tukas Darel. "Apa kau menginginkan pria penghangat ranjangmu ini sekarang?" Imbuh Darel sambil berdiri melipat tangannya.
Naiki menyeringai dengan hanya mengenakan penutup terakhir di tubuhnya dan masih membelakangi Darel. Ia lalu berbalik dan berjalan mendekati Darel. Jari-jarinya mulai bermain di wajah hingga leher Darel dan berhenti di dada Darel yang bidang. Naiki lalu mendorong tubuh Darel dengan perlahan. Jantung Darel berdegub kencang. Kakinya lemas dan tanpa sadar ia pun mundur perlahan.
Glek...
Darel menelan salivanya dengan kasar. Pikirannya mulai melayang jauh. Tanpa sadar, ia pun sudah melangkah melewati pintu ruang ganti. Dan BRAKKKK... Naiki menutup dan mengunci pintu ruang ganti itu hingga membuat Darel tersadar dari lamunannya. Wanita itu lalu menyeringai puas.
"Gadis tengil!" Umpat Darel dari balik pintu.
Pria itu lalu meninggalkan kamar dan berjalan menuju ruang kerjanya. Ia ingin segera menghubungi balik Berry yang telah meneleponnya beberapa kali dari 10 menit yang lalu. Darel masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu ruang kerja itu kembali. Jarinya lalu mengusap ponsel dan memilih nomor Berry untuk segera ia hubungi.
"Selamat malam, Tuan." Sahut Berry di seberang.
"Bagaimana?" Tanya Darel.
"Saya sudah membatalkan rencana kerjasama kita pada Pearl Company, Tuan. Namun masalah putrinya, Tuan Miller tetap berpikir bahwa Nyonya lah yang memulai." Ujar Berry.
__ADS_1
Darel mengerti ucapan asistennya itu. Ia juga paham, Berry pasti sudah menunjukkan bukti-bukti kepada Tuan Miller, namun tetap saja Tuan Miller menolak untuk mengakui kesalahan putri kesayangannya.
"Ck! Dasar tua bangka keras kepala!" Darel mendengus kesal. "Awasi terus mereka! Terutama putrinya yang manja itu. Aku tidak ingin istriku disakiti." Perintah Darel kemudian.
"Sepertinya ada yang salah di kalimatmu, Tuan Muda. Sangat tidak mungkin Nyonya menjadi pihak yang tersakiti." Gumam Berry dalam hati sembari memutar bola matanya malas.
"Stroberi, apa kau mendengarku?" Sentak Darel.
"I-iya, Tuan. Baik, akan saya laksanakan." Sahut Berry cepat.
"Bagaimana dengan rencana bulan maduku besok? Apa kau sudah mengaturnya dengan baik?" Tanya Darel.
"Sudah, Tuan. Anda dan Nyonya akan berangkat besok siang. Seluruh keperluan sudah saya siapkan. Lokasi sesuai dengan pilihan Tuan Besar Caraka waktu itu." Jawab Berry dengan percaya diri.
"Ok baiklah. Aku titip kakek Gerandra padamu, Berry." Ucap Darel dengan nada mengejek, membuat Berry bersungut-sungut di seberang sana.
"Ya, Tuan." Ucap Berry pelan.
Darel pun memutuskan sambungan teleponnya kemudian berjalan kembali ke kamar yang letaknya bersebelahan dengan ruang kerjanya.
"Aku akan melepaskanmu malam ini, Gadis Tengil. Tapi tidak untuk lain kali." Ucap Darel tersenyum licik.
*********
💙💙💙💙💙
Jangan lupa like, komen, dan hadiahnya ya guys...
Terima kasih 🥰🥰🥰
__ADS_1