
Brata dan Steffanie sudah dibawa oleh para pengawal ke markas mereka. Tinggal Marco yang masih dihajar habis-habisan oleh Daniela. Wanita itu seakan melampiaskan kekesalannya akibat tindakan Marco pada dirinya tadi. Saat ini Marco sudah terkapar dengan muka penuh luka. Ia bahkan sudah sulit untuk melihat karena matanya yang bengkak dan luka akibat dihajar oleh Daniela. Naiki sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Begitu pun dengan Mike yang bari saja muncul setelah menyelesaikan tugasnya di luar gudang.
"Kau benar-benar pintar mencari pengawal pribadi, Sayang." Ucap Darel.
"Dia luar biasa, kan? Tapi tolong jangan kau rekrut untuk jadi rekannya Mike." Tukas Naiki. "Tapi kalau kau ingin menjodohkan mereka, aku setuju." Imbuhnya dan membuat mata Mike langsung membulat sempurna.
"Hahaha...Aku rasa opsi kedua harus kita coba, Sayang." Ucap Darel sambil merangkul bahu istrinya.
"Cukup, Ela. Kau bisa membunuhnya nanti." Teriak Naiki kemudian.
Daniela pun menoleh dan menghentikan siksaannya pada Marco. Ia kemudian berjalan menuju Naiki, Darel, dan Mike dan dengan sengaja menginjak jari Marco yang tergeletak di lantai.
"Aaaakkkhh..." Rintih Marco.
Mike yang melihat hanya menelan salivanya kasar. "Bagaimana bisa ada wanita seperti ini?" Batin Mike. Selama ini Mike berpikir bahwa Nyonya-nya lah wanita paling dingin dan berbahaya. Ternyata, ada wanita yang lebih berbahaya dari Nyonya Muda Gerandra dan dia adalah pengawal pribadi Nyonya Mudanya itu. Pada akhirnya, Mike pun tertarik pada sosok Daniela.
"Ela, kenalkan dia Mike, dia Pimpinan dari seluruh pengawal khusus Gerandra. Mike, dia Daniela, pengawal pribadiku dan juga Kepala Staff Keamanan di salah satu anak perusahaan Caraka." Ucap Naiki antusias.
Mike mengulurkan tangannya pada Daniela, namun Daniela tidak meresponnya. Ia hanya berdiri dengan tatapan dinginnya. Darel dan Naiki menahan tawa mereka karena melihat perkenalan Mike dan Daniela yang terbilang aneh namun semakin menarik bagi pasangan suami istri tersebut.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan pada pria itu?" Tanya Naiki sembari melempar pandangan pada Marco yang terkapar di lantai gudang.
"Mike, sebaiknya kau bawa dia ke markas dan masukkan ke ruangan yang berbeda dengan Brata." Perintah Darel. Mike pun mengangguk dan segera melaksanakan perintah Darel.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja, Ela?" Tanya Naiki kemudian.
"Baik, Nona." Jawab Daniela singkat.
"Terima kasih untuk hari ini." Ucap Naiki. Daniela pun mengangguk.
"Anda selalu menjadi prioritas saya, Nona." Ucap Daniela. Naiki tersenyum mendengarnya.
Daniela pun berpamitan untuk kembali ke rumahnya. Naiki dan Darel pun bergegas meninggalkan gudang tua tersebut dan kembali ke rumah mereka.
**********
Naiki baru saja selesai mandi dan duduk di ranjangnya. Ia memegang sebuah diary di tangannya. Diary milik Alya yang dia ambil dari dalam brankas di Panti Asuhan. Semenjak membawa diary tersebut ke rumah, Naiki belum sempat membacanya barang selembar pun. Namun malam ini, ia memutuskan untuk membacanya sedikit demi sedikit. Naiki berharap, mendapatkan beberapa informaso dari diary mendiang mamanya itu.
Naiki terus membaca diary tersebut lembar demi lembar. Ia seakan merasakan apa yang dirasakan oleh Alya kala itu. Diary tersebut mengurai kisah Alya dengan sangat baik. Karena memang Alya adalah wanita cerdas yang menyukai menulis dan membaca. Tentu saja diary yang ia tulis akan tersaji dengan sangat baik.
Pada saat itu, pihak Universitas mengucapkan terima kasih kepada Alya yang telah menyumbangkan banyak sekali buku untuk digunakan oleh para mahasiswa dengan cara mengadakan acara yang cukup besar. Dari situlah Brata tahu bahwa Alya memiliki perusahaan penerbitan buku yang cukup besar. Brata yang dulunya hanya seorang Staff perpustakaan pun mencari cara agar mendapatkan hati Alya.
Singkat cerita, karena Alya berkunjung ke perpustakaan cukup sering, mereka berdua pun jadi semakin dekat. Saat itu Alya masih belum mengetahui niat busuk dari Brata mengapa mendekatinya. Brata yang memang memiliki paras tampan, sedikit demi sedikit mencuri hati Alya. Mata Alya dibutakan oleh cintanya pada Brata. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah tanpa restu dari keluarga Caraka yang jelas-jelas menentang pernikahan itu.
Tiga tahun berlalu, Alya dan Brata sudah memiliki seorang putra dan Alya juga sedang mengandung anak kedua mereka. Namun, tidak ada kebahagiaan selama pernikahan mereka. Brata hanya membutuhkan Alya ketika hasrat bercumb*nya sedang tiba. Terlebih lagi ketika Alya memutuskan merawat anak-anaknya sendiri, dan Brata yang menggantikannya sementara di perusahaan. Tingkah Brata semakin kasar dan entah mengapa dia curiga pada hubungan Alya dan Wisnu yang terlihat sangat dekat. Hingga ia mengatakan bahwa Alya telah berselingkuh dengan Wisnu dan memiliki anak dari pria itu.
Keributan demi keributan pun terjadi yang akhirnya berimbas pada kedua anak mereka, Rhean dan Naiki. Alya pun berusaha dengan sebaik mungkin agar Brata tidak dapat menguasai seluruh hartanya. Ia menyusun rencana demi rencana dan tentu saja dibantu oleh Wisnu kala itu. Hingga akhirnya hari di mana Naiki dan Rhean dibawa pergi ke kediaman Caraka pun tiba.
__ADS_1
Aku berhutang banyak pada Wisnu. Aku sungguh beruntung dapat kenal dengan pria baik sepertinya. Semoga ia mendapatkan kebahagiaannya suatu hari nanti.
To : Naiki dan Rhean
Mungkin suatu hari nanti kalian akan mendengar bahwa Papa kalian tidak mengakui kalian sebagai anak mereka. Namun percayalah, Mama tidak pernah mengkhianati papa kalian seperti yang ia katakan. Jadi, diam-diam mama melakukan tes DNA terhadap kalian bertiga. Hasil tes tersebut mama selipkan di dalam kulit diary ini.
Naiki telah membaca separuh dari isi diary Alya. Ia lalu menutup diary tersebut dan memutuskan untuk membacanya kembali esok hari. Sebelum meletakkan diary tersebut ke atas nakas, Naiki mencoba membuka kulit diary tersebut dengan perlahan dan mendapatkan dua lembar kertas yang terlipat di balik kulit diary tersebut.
"Apa itu, Sayang?" Tanya Darel yang baru selesai mandi dan duduk di atas ranjang, di samping Naiki.
"Ini hasil tes DNA aku, Rhean, dan Brata yang disembunyikan mama." Sahut Naiki.
Ia lalu membuka kertas itu dan membacanya. Ternyata benar, Brata adalah ayah kandung mereka. "Lalu, kenapa dia tidak mengakui kami selama ini?" Batin Naiki.
**********
💙💙💙💙💙
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
__ADS_1
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙