Pewaris Asli

Pewaris Asli
85 Makan Siang Di Caraka Corp


__ADS_3

Meeting yang berlangsung hingga dua jam itu akhirnya berakhir dan Naiki keluar lebih dulu dari ruangan meeting. Beberapa orang memuji kecerdasan dan ketegasan yang dimiliki Naiki, namun ada beberapa orang yang tampaknya kurang menyukai Naiki di sana.


"Kau lihat, wanita itu sangat sombong. Dia bahkan tidak tersenyum sedikit pun selama meeting berlangsung." Ucap salah satu manager.


"Dia hanya beruntung menjabat sebagai CEO perusahaan besar ini. Karena dia cucu dari Tuan Besar Caraka."


"Apa kalian tidak curiga kenapa selama ini dia menutupi wajahnya lalu tiba-tiba sekarang memperlihatkan wajahnya itu? Aku yakin ada masalah di wajahnya, lalu ia operasi plastik. Setelah wajahnya normal, ia pun berani memperlihatkan wajahnya kepada kita."


"Eheeem..." Salah satu Direktur Keuangan Caraka Corp berdehem karena mendengar sekelompok Manager yang bergosip saat orang-orang sudah mulai meninggalkan ruang meeting. Mereka pun terdiam dan bubar dengan teratur.


"Ada apa, Tuan?" Tanya Sang Sekretaris.


"Oh, tidak apa-apa. Hanya saja saya heran, kenapa bisa orang-orang seperti itu menjadi manager di perusahaan ini?" Ucap Direktur tersebut.


Sekretarisnya hanya tersenyum mendengar perkataan atasannya itu. Ia paham bahwa Tuannya itu sangat menghormati keluarga Caraka lebih dari yang orang-orang tahu. Tuan Steven, begitu orang-orang memanggilnya adalah sosok yang sangat dekat dengan Tuan Besar Caraka dan merupakan salah satu orang kepercayaan Tuan Besar Caraka. Karena sudah kenal cukup lama, tentu saja Tuan Steven sangat mengenal Naiki. Gadis kecil yang tiba-tiba hadir di antara Tuan dan Nyonya Besar Caraka, yang mengubah kehidupan mereka menjadi lebih berwarna.


**********


Desas-desus tentang Naiki yang akhirnya memperlihatkan wajah aslinya pada saat meeting pun masih terdengar di antara karyawan. Ada yang berpikiran positif, namun ada juga yang berpikir negatif. Tentu saja, di mana pun dan apa pun keadaan kita, pasti ada saja orang yang tidak menyukai kita. Sebaik apa pun kita, tetap saja buruk di mata orang yang tidak menyukai kita.


Waktu sudah menunjukkan jam makan siang di Caraka Corp. Para karyawan yang tampak turun ke bawah untuk menikmati makan siang mereka di Cafe Perusahaan, tiba-tiba menjadi sedikit berisik karena kedatangan seorang pria di kantor mereka. Pria tampan berekspresi dingin, dan sangat memikat hati wanita yang melihatnya.


"Bukankah itu Tuan Muda Gerandra?" Bisik salah satu karyawan wanita.


"Darel Adelard Gerandra?" Seru satu karyawan wanita lagi.


Darel terus berjalan dengan membawa sebuah bungkusan di tangannya. Ia tidak peduli dengan apa pun komentar yang terdengar dari kanan kiri depan dan belakangnya. Darel pun masuk ke lift khusus yang biasa Naiki gunakan. Entah bagaimana ia tahu yang mana yang merupakan lift khusus untuk menuju ruang CEO perusahaan itu.


Para karyawan yang melihat Tuan Muda Gerandra masuk ke lift khusus tersebut semakin bertanya-tanya. Apa yang akan pria itu lakukan di sana? Dan apa hubungannya dengan CEO mereka?


Pintu lift pun terbuka, dan Darel melangkah keluar. Ia pergi mencari Sisi yang notabene adalah sekretaris pribadi Naiki.


"Tuan? Se-selamat siang Tuan." Ucap Sisi tersentak karena Darel muncul dengan sangat tiba-tiba di depan mejanya.

__ADS_1


"Apa istriku ada?" Tanya Darel dingin.


"Ada, Tuan. Silahkan masuk." Sahut Sisi yang memang meja kerjanya tepat berada di depan ruangan Naiki.


Darel pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Sisi. Ia lalu beralih menuju pintu ruangan Naiki. Darel mengetuk pintu ruangan tersebut beberapa kali hingga Naiki menyahut dari dalam ruangannya.


"Masuk." Ucap Naiki datar. Ia masih sibuk dengan beberapa dokumen di mejanya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 13.00 wib.


"Aku yakin kau pasti belum makan siang." Ucap Darel yang sudah masuk tanpa Naiki sadari karena matanya terus tertuju pada dokumen di tangannya.


Naiki tersentak. Ia tidak menyangka, ia akan mendengar suara suaminya di ruangan itu. "Sepertinya aku terlalu lelah. Halusinasi macam apa ini?" Batin Naiki tanpa menoleh sedikit pun ke arah Darel yang sudah berdiri di depannya.


"Sayang... Apa kau tidak senang suamimu datang?" Ucap Darel, menyadarkan Naiki bahwa yang ia dengar bukanlah sebuah halusinasi.


"Darel?" Ucap Naiki tidak percaya. Wajahnya tersipu melihat suaminya memandangnya dengan sangat lekat.


"Menurutmu siapa lagi kalau bukan suamimu yang tampan ini?" Goda Darel lalu berjalan melingkari meja kerja Naiki dan mendekati Naiki yang masih terpaku di tempatnya.


"Apa kau tidak senang suamimu datang?" Bisik Darel lalu meniup telinga Naiki, membuat Naiki merinding.


"Dareeeellll...hiiiisssh..." Sungut Naiki sembari menjauh dari wajah suaminya.


Darel tertawa lalu mengecup pipi kiri Naiki dengan gemas. Ia lalu kembali ke kursi di seberang meja kerja Naiki.


"Ayo makan siang, Sayang. Aku sudah membawa makan siang kita ke sini." Ajak Darel sambil menunjukkan bungkusan yang ia bawa tadi.


Naiki lalu menuruti kata-kata Darel dan menghentikan pekerjaannya. Ia lalu mengajak Darel duduk di sofa yang terdapat di ruang kerjanya. Naiki pun membuka bungkusan yang Darel bawa dan menyiapkan makan siang mereka di meja.


"Hei, apa yang kau lihat?" Tanya Naiki saat melihat suaminya memandang ke seluruh ruang kerjanya seperti menscan sesuatu.


"Ruangan ini tampak nyaman, Sayang. Tapi..."


"Tapi apa?"

__ADS_1


"Di mana ruang istirahatnya?" Tanya Darel dengan wajah datarnya.


"Hah? Dasar mesum!" Cetus Naiki sambil menyubit pinggang Darel.


"Aaawww....ampun, Sayang. Aku serius. Ruanganmu harus direnovasi mulai sekarang. Bagaimana kalau nanti waktu anak-anak kita ingin berkunjung ke kantor Mamanya, tapi tidak ada tempat istirahat untuk mereka? Apa kau tega membiarkan mereka kelelahan lalu tertidur di sofa?" Alasan Darel.


Naiki menarik kembali tangannya dan tampak memikirkan perkataan Darel. "Ah, kenapa perkataan pria mesum ini ada benarnya, ya?" Pikir Naiki. Ia lalu melanjutkan menyiapkan makan siang tanpa mengomentari perkataan Darel sedikit pun.


"Ayo makan!" Ucap Naiki kemudian.


Mereka berdua pun menikmati makan siang sambil sesekali tertawa dengan candaan yang Darel lontarkan. Bahkan sesekali Darel meminta Naiki untuk menyuapinya. Tidak terasa makan siang mereka pun telah habis. Seperti biasa, Darel lah yang akan membereskan bekas makan mereka.


"Kau akan pulang jam berapa hari ini, Sayang?" Tanya Darel sambil membersihkan meja.


"Belum tahu. Mungkin sore. Banyak laporan yang datang karena meeting hari ini. Aku harus mengeceknya satu per satu." Jawab Naiki.


"Kalau begitu sampai ketemu di rumah nanti ya, Sayang." Ucap Darel, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut.


Darel pun pamit untuk kembali ke perusahaannya karena sejak tadi Berry terus menelponnya tanpa henti. "Akan ku beri kau pelajaran hari ini, Stroberi!" Umpat Darel dalam hati sambil terus berjalan memasuki lift.


**********


💙💙💙💙💙


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2