
Seharian Naiki terus memikirkan percakapan Brata dan Steffanie yang ia dengar hari ini. Naiki terus mengecek ulang ponselnya jika saja ada rekaman percakapan terbaru dari Brata dan Steffanie, ternyata nihil. Andai saja ia tahu siapa target Brata nanti, mungkin Naiki akan segera menyusun strategi untuk mengecoh Brata detik itu juga.
Untuk sementara, Naiki hanya bisa berjaga-jaga dengan memperketat keamanan orang-orang di sekitarnya. Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada mereka hanya karena masalah dirinya dengan Brata.
Identitas anggota keluarga Caraka sendiri pun sangat misterius, kecuali Tuan Besar Caraka. Semenjak Naiki dan Rhean dibesarkan olehnya, Tuan Besar Caraka dengan sangat ketat menjaga kedua cucunya. Naiki dan Rhean di sekolahkan dengan baik, dirahasiakan identitas asli mereka, bahkan nama belakang mereka pun dirahasiakan dan tidak pernah terekspos. Entah bagaimana caranya, hingga Naiki dan Rhean menyelesaikan studinya, tidak ada yang mengetahui jati diri mereka, bahkan teman-teman sekolahnya sekalipun.
Jadi, Naiki berpikir, kemungkinan Brata dapat melacak hubungannya dengan Elis hanya sekian persen saja. Sedangkan Sisi, Naiki selalu terlihat bersama Sisi selama menyamar menjadi karyawan di Brata Corp, namun Brata sendiri tidak mengetahui bahwa Sisi sebenarnya adalah sekretaris pribadi Naiki di Caraka Corp. Pria itu juga tidak dapat menyelidiki hubungan Naiki dan Sisi saat ini karena memang Naiki dan Sisi sudah jarang bertemu secara langsung.
Lalu, selain Elis dan Sisi, siapa lagi yang memiliki kemungkinan ditargetkan Brata? Naiki terus memikirkan masalah itu hingga Darel mengerucutkan bibirnya karena diabaikan Naiki hingga hari larut.
"Sayang, kau sedang memikirkan apa? Dari kita pulang tadi kau terus saja mengabaikanku. Kau bahkan tidak menyuapiku makan malam ini." Sungut Darel.
Mata Naiki melotot mendengar perkataan Darel. Mulutnya terbuka seakan tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar dari mulut Darel.
"Apa tidak ada kalimat yang lebih menggelikan dari itu, Tuan?" Ketus Naiki.
Bukannya menjadi normal, Darel malah bertingkah menjadi-jadi dan mengabaikan perkataan Naiki. Ia lalu berbaring di samping Naiki yang duduk bersandar di sandaran ranjang, kemudian memeluk pinggang istrinya itu dengan manja. Jari telunjuknya lalu menyentuh perut datar Naiki.
"Menurutmu, apakah dia sudah ada di sini sekarang?" Tanya Darel sambil terus menyentuh perut datar Naiki.
"Hhm?" Naiki tampak bingung.
"Apakah benihku sudah berkembang dengan baik di sini?" Ucap Darel, memperjelas pertanyaannya.
"Maksudmu, calon bayi kita?" Tanya Naiki. Darel mengangguk.
"Apa aku masih kurang cukup menebar benihku ke dalam sana?"
Naiki hanya menghela nafasnya saat mendengar perkataan Darel itu. Ia lalu membelai rambut Darel dengan lembut. Ia tahu, Darel sangat menginginkan kehadiran seorang bayi di antara mereka. Padahal pernikahan mereka seumur jagung pun belum.
"Dia pasti hadir saat kita sudah siap, Sayang." Ucap Naiki.
Darel tidak menjawab, ia hanya mempererat pelukannya di pinggang Naiki.
__ADS_1
"Sayang, apa kau tidak curiga dengan misteri meninggalnya Mama Alya?" Tanya Darel tiba-tiba.
Beberapa hari ini ia terus mencari tahu tentang kematian Alya, ibundanya Naiki dan Rhean. Darel curiga, Alya bukan meninggal karena sakit, melainkan telah dibunuh oleh Brata.
"Aku juga merasa ada yang aneh. Mamaku orang yang kuat dan cerdas. Jadi mama tidak mungkin dengan mudahnya depresi, sakit, lalu meninggal begitu saja." Ungkap Naiki.
"Apa kau kenal dekat dengan Paman Wisnu? Orang kepercayaan Mama Alya dahulu." Tanya Darel.
"Aku hanya berhubungan lewat pesan teks atau sambungan telepon dengannya." Jawab Naiki.
"Lalu, kapan terakhir kau bertemu langsung dengannya?" Selidik Darel.
"Saat aku berumur 10 tahun."
"Apa?" Seru Darel sambil mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap Naiki.
Darel berpikir, Wisnu pasti tahu sesuatu. Dia dan Naiki harus segera bertemu dengan Wisnu untuk menyelidiki apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu dan lima belas tahun yang lalu saat Mama Alya meninggal dunia. Wisnu pasti memiliki orang kepercayaan yang masih bekerja di dalam kediaman Brata. Kalau tidak, darimana Wisnu dapat dengan cepat memberikan informasi-informasi penting terkait keluarga Brata dan Steffanie kepada Naiki.
"Apa kau bisa mengajaknya untuk bertemu?" Tanya Darel.
Naiki menatap heran pada suaminya itu. Mengapa suaminya tiba-tiba sangat ingin bertemu dengan Wisnu?
"Sepertinya sulit. Dia selalu saja menghindar setiap aku mengajaknya untuk bertemu." Ucap Naiki. "Aku tidak tahu alasannya apa." Imbuhnya.
Darel jadi penasaran, siapa sebenarnya Wisnu, dan apa tujuannya. Apakah ia ada di pihak mendiang mertuanya, ataukah ada di pihak Brata? Darel sangat ingin tahu kebenarannya sekarang.
"Ya sudah, sudah malam. Istirahatlah." Ucap Darel akhirnya. Ia lalu mengecup kening Naiki dan membantu Naiki berbaring serta menyelimuti tubuh istrinya itu.
Darel memeluk Naiki dan mengusap punggung istrinya itu hingga tertidur pulas. Setelah memastikan nafas Naiki sudah berhembus teratur, Darel pun turun dari ranjang dan berjalan menuju ruang kerjanya dan menghubungi seseorang.
"Bagaimana?" Tanya Darel.
"Benar Tuan, mulai hari ini, ada dua orang pria tampak selalu muncul di sekitar kediaman Caraka dan Gerandra. Mereka sepertinya sedang menyelidiki sesuatu." Jelas Mike di seberang.
__ADS_1
"Biarkan saja mereka menjalankan tugasnya. Kita akan lihat apa yang ingin dilakukan Brata setelah mendapatkan informasi yang diinginkannya itu." Ucap Darel.
"Baik, Tuan." Sahut Mike.
"Lalu bagaimana penyelidikan tentang meninggalnya mertuaku?"
"Belum menemukan titik terang, Tuan. Orang kita yang berhasil menyusup sebagai pelayan di kediaman Brata belum mendapatkan informasi apa pun." Jawab Mike lagi.
"Baiklah, terus selidiki itu. Kabari aku apabila ada sesuatu yang berbahaya." Perintah Darel, lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Darel lalu menghembuskan nafasnya kasar. Dia lalu memegang kepalanya dengan siku yang bertumpu di meja kerja. Ia lalu membuka laptopnya dan membuka dokumen-dokumen penyelidikannya selama ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Mama Alya benar-benar sudah meninggal?" Tanya Darel pada dirinya sendiri.
Ia terus membaca ulang laporan penyelidikan tersebut. Terdapat beberapa foto di sana. Foto Alya, Naiki, Rhean, dan juga Wisnu. Tanpa ada informasi lebih lanjut tentang misteri kematian Alya, dan di mana makamnya. Serta sosok Wisnu yang menghilang secara misterius, namun dengan mudah menyelidiki pergerakan Brata dan keluarganya. Semuanya benar-benar membuat Darel penasaran.
"Aku yakin, ada yang tidak beres. Benar kata Naiki, Mama Alya tidak mungkin dengan mudahnya depresi, sakit, lalu meninggal seperti yang dikatakan Brata."
**********
💙💙💙💙💙
Makin pusing kan, ya? Sama, aku juga pusing mikirinnya. 😆😆😆😆😆
Buat yang udah baca, makasih yaa...
Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...
Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...
Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...
lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙
__ADS_1