Pewaris Asli

Pewaris Asli
81 Menuju Kediaman Steffanie


__ADS_3

Setelah seluruh pintu dan gembok diganti, pengawal Gerandra juga sudah tiba, Naiki dan kedua pria tampan di sampingnya memutuskan untuk melanjutkan misi mereka ke kediaman Steffanie. Setelah Naiki periksa dengan jelas, kediaman Steffanie adalah salah satu rumah yang juga dimiliki oleh Alya, mamanya.


"Bagaimana kalau wanita tua itu sedang berada di rumahnya?" Tanya Rhean sambil terus menyetir, karena memang mereka dari awal memutuskan untuk pergi bertiga tanpa pengawal di samping mereka.


"Itu malah yang aku cari, Kak. Pasti seru." Ucap Naiki yang duduk di belakang, sedangkan Darel duduk di samping Rhean.


Mereka akhirnya tiba di kediaman Steffanie yang tidak kalah mewah dengan kediaman Brata. Ada dua orang security yang terlihat sedang bermain catur di gerbang masuknya.


Rhean menekan klakson mobilnya berkali-kali, namun tidak ada satu pun dari mereka yang tergerak untuk membuka pintu pagar atau sekedar menghampiri mobil Rhean untuk bertanya. Naiki lalu menepuk pundak Rhean dan melangkah turun dari mobil untuk menghampiri kedua security yang masih sibuk bermain catur dan pura-pura tidak mendengar ada yang datang. Naiki melihat ke arah pintu pagar yang ternyata tidak digembok. Ia pun membukanya selebar mungkin agar Rhean dan Darel dapat masuk.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" Teriak salah satu security.


Naiki tidak menjawab, ia hanya menoleh sebentar dengan wajah datarnya lalu berlalu pergi menyusul Darel dan Rhean yang sudah berada di depan pintu masuk. Security yang tidak diacuhkan Naiki tadi menjadi geram. Ia berusaha mengejar Naiki dan menghadang wanita itu untuk masuk tanpa izin darinya.


"Kau siapa, Nona? Main masuk rumah orang seenaknya." Hardik Security itu di hadapan Naiki.


"Aku pemilik rumah ini." Ucap Naiki lagi-lagi dengan wajah datarnya.


"Rumah ini milik Nyonya Steffanie. Bagaimana bisa tiba-tiba jadi milik Nona?" Tukas security tersebut.


Naiki hanya menatapnya dengan datar. Tidak ada kemarahan dari raut wajahnya. Ia mengerti, Steffanie pasti mengaku pada setiap orang kalau ini adalah rumah miliknya. Naiki juga tidak ingin mencari masalah dengan security tersebut. Jadi ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk rumah dan mengabaikan pria kekar di dekatnya.


"Nona, apa kau tidak mengerti perkataanku tadi?" Sarkas security itu.


Naiki tidak perduli dan terus saja melanjutkan langkahnya menuju Rhean dan Darel yang mulai tidak sabar menunggu. Namun tiba-tiba security itu menahan Naiki dengan memegang bahu kanan wanita itu. Naiki pun menghentikan langkahnya dan meraih tangan security itu, lalu memelintirnya ke belakang.


"Aaaarrrghhh..." Rintih Security itu.


"Apa kau tidak mengerti perkataanku tadi?" Tekan Naiki. Security itu semakin merintih karena Naiki semakin menarik tangannya dengan kuat.


"Akulah pemilik rumah ini, bukan Steffanie." Hardik Naiki. "Dan satu lagi, jangan sembarangan menyentuhku! Kau tahu kenapa?" Ucap Naiki sambil menekan tubuh security tersebut hingga berlutut ke aspal.


Security itu pun menggeleng. Wajahnya menyiratkan ia sudah tidak kuat menahan sakit di tangannya. Ingin rasanya meloloskan diri, namun ia tidak sanggup. Karena tubuh Naiki yang ramping menyimpan tenaga melebihi dirinya yang kekar.


"Karena kau akan terluka parah bahkan mati sia-sia di tanganku." Sarkas Naiki kemudian melepaskan jeratan tangannya lalu menendang punggung security itu hingga security itu tersungkur.

__ADS_1


Naiki lalu menepuk-nepuk kedua telapak tangannya yang sudah terbungkus sarung tangan sejak di mobil tadi. Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju Rhean dan Darel yang sejak tadi menonton aksi Naiki dengan santai. Di kejauhan, tampak satu security lagi tertegun melihat temannya tersungkur ke aspal. Ia juga merinding melihat gerakan wanita di depannya yang sangat lincah hingga dapat menumbangkan seorang security yang bertubuh lebih kekar darinya. Security itu lalu berlari ke arah temannya yang tersungkur. Ia kemudian menolong temannya itu untuk berdiri.


"Kau tidak apa?" Tanya security yang baru tiba.


"Tidak apa kepalamu! Dia bukan wanita, dia monster." Semprot security yang terluka.


Temannya lalu membantunya berdiri dengan menarik tangan security itu. Namun, yang ditolong malah merasakan sakit di tangannya.


"Aaarrggghhh... Dia mematahkan jari tengahku, Brengsek!" Jerit security yang terluka.


"Maaf maaf, aku tidak sengaja." Ucap security yang menolong. Dengan penuh drama, akhirnya mereka berdua pun kembali ke pos.


Sementara itu, saat Naiki telah tiba di teras rumah dan berkumpul kembali dengan suami serta kakaknya, ia disambut Darel dengan wajah dingin. Suaminya yang mendadak bertingkah posesif itu menghampirinya dan langsung menyapu-nyapu bahu Naiki dengan tangannya.


Naiki menatap heran ke Darel, lalu melempar pandangan ke Rhean seolah bertanya ada apa dengan pria dingin ini.


"Ok, sudah bersih." Ucap Darel kemudian.


"Apanya yang sudah bersih?" Tanya Naiki.


"Hahahah...dasar bocah konslet!" Ledek Rhean pada Darel yang langsung mendapat sorotan mata tajam dari Darel.


"Ayo masuk!" Ucap Rhean mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Rhean lalu menekan bel di pinggir pintu rumah itu beberapa kali, hingga seorang ART yang berusia 20-an keluar dan menyapa mereka dengan wajah malu-malu. Naiki menatap jengah ke arah ART itu karena tingkahnya yang cari-cari perhatian pada Darel dan Rhean. Karena kesal, Naiki langsung menyerobot masuk tanpa permisi.


"Nai..." Panggil Rhean.


"Di rumah sendiri harusnya bebas, kan?" Cetus Naiki yang terus saja masuk hingga ruang tengah sambil melihat-lihat ke sekelilingnya.


Rhean dan Darel pun ikut masuk tanpa menghiraukan ART yang senyum-senyum sendiri di samping pintu. Mereka menyusul Naiki hingga ruang tengah. Ternyata Naiki sudah duduk di salah satu sofa di ruang tengah rumah itu. Tiba-tiba satu ART yang lebih tua muncul dari arah dapur.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu, Tuan, Nona?" Tanya ART itu sopan.


"Apa Steffanie ada?" Tanya Naiki.

__ADS_1


"A-ada, baru saja pulang, mungkin ada di kamarnya, Nona." Jawab ART tersebut sedikit takut karena wajah dingin Naiki.


"Tolong panggilkan dia sekarang ya, Bi!" Pinta Naiki yang melembutkan cara bicaranya karena sadar ART itu takut padanya.


ART tersebut bergegas naik ke lantai dua dan mencari Steffanie. Saking paniknya, ia sampai lupa bertanya siapa sebenarnya Naiki. ART itu lalu mengetuk pintu kamar Steffanie.


"Nyonya, ada tamu di bawah." Ucap ART itu.


"Ya, tunggu sebentar." Sahut Steffanie dari dalam kamarnya.


Steffanie pun muncul dari balik pintu kamar. Ia lalu bertanya pada ART-nya siapakah tamu yang dimaksud itu.


"Saya lupa bertanya, Nyonya. Maaf." Sahut ART itu tertunduk takut.


"Ya sudah, sana kembali ke dapur." Perintah Steffanie sambil berjalan menuju tangga dan menuruninya.


Saat Steffanie sudah berada di tengah anak tangga, ia pun terkejut melihat ketiga orang yang berada di ruang tengahnya. Steffanie pun tertegun beberapa saat hingga suara Naiki menyadarkannya.


"Apa kau terkejut melihat kedatangan kami, Nyonya Steffanie?" Ucap Naiki dengan senyum smirknya.


**********


💙💙💙💙💙


Hari minggu kmrn aku ngga up 🤭 Ketiduran soalnya. Entah kenapa tiap weekend susah banget mau up. Padahal pengen cepat-cepat tamatin ni novel. Dahlah, authornya mageran banget emang orangnya. Angan-angannya tinggi, tapi ngga ada usaha 😂


Ada yang gitu juga ngga? Satu server dong kita 🤭🤭


Buat yang udah baca, makasih yaa...


Buat yang udah vote, makasih banyak yaa...


Buat yang udah favoritin novel ini, makasih juga...


Buat yang udah like dan kasih bunga, kopi, dsb, thanks a lot guys...

__ADS_1


lope lope buat kalian semua 💙💙💙💙💙


__ADS_2