
Sore menjelang, Darel terbangun dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul lima sore. Ia mencari Naiki yang ternyata sudah terbangun satu jam sebelumnya. Darel lalu keluar dari kamar dan bertemu salah satu pelayan.
"Sore Tuan Muda." Sapa pelayan tersebut sambil menunduk.
"Sore juga. Apa kau melihat Nyonya Muda?" Tanya Darel pada pelayan itu.
"Nyonya Muda pergi bersama Nona Killa, Tuan." Jawab pelayan tadi.
"Ok baiklah. Terima kasih." Ucap Darel kemudian.
Darel kemudian menelpon Killa. Ia penasaran ke mana istri dan adiknya itu pergi. Beberapa kali mencoba, tetap tidak ada jawaban. Begitupun dengan Naiki. Darel lalu menghubungi pengawal bayangan yang ia tugaskan untuk menjaga istrinya.
"Di mana keberadaan istri dan adik saya sekarang?" Tanya Darel to the point saat teleponnya tersambung ke salah satu pengawal.
"Mereka sedang jogging di taman tidak jauh dari kediaman besar Tuan. Dan sekarang sedang beristirahat di sebuah bangku dekat air mancur.
"Oh, baiklah. Awasi terus orang-orang di sekitar mereka dan jangan sampai terlalu mencolok." Perintah Darel. Ia lalu menutup teleponnya.
Sementara itu di sebuah taman tempat Naiki dan Killa jogging, tampak Naiki sedang duduk beristirahat bersama Killa. Ada-ada saja ide Killa untuk memonopoli kakak iparnya dari Darel. Kalau hanya ingin olahraga, mereka bisa saja berolahraga di ruang gym yang terdapat di kediaman Gerandra. Namun, Killa merasa sangat bosan bila hanya di rumah saja. Jadi dia merengek pada Naiki untuk menemaninya jogging di taman.
Tiba-tiba ada tiga orang pria mendekati Naiki dan Killa. Naiki terkejut melihat salah satunya. Niko, yang tidak lain adalah sepupunya sekaligus atasannya di Brata Corp.
"Hai Killa! Sudah lama tidak bertemu." Sapa Niko.
Terlihat ekspresi tidak senang di wajah Syakilla saat itu. Niko pernah menjadi teman satu SMA dengan Killa. Ia tergila-gila karena paras Syakilla yang cantik dan kepintaran Syakilla. Namun, karena Kakek Gerandra tidak ingin cucu perempuannya terlibat masalah, maka identitas Syakilla pun dirahasiakan. Niko pun tidak tahu bahwa Syakilla berasal dari keluarga Gerandra.
Pandangan Niko beralih ke Naiki yang duduk di sebelah Killa. Terlihat seringai di wajah Niko, karena ia cukup hafal dengan wajah Naiki.
"Ternyata aku sangat beruntung sore ini, dapat bertemu dua orang wanita cantik." Ucap Niko angkuh.
__ADS_1
"Kak Nai, kita pulang saja yuk! Ada lalat pengganggu di sini." Sindir Killa.
Niko berdecak kesal. Namun ia tidak dapat melakukan apa pun di depan umum. Ingin sekali rasanya Niko menarik Killa dan membawanya pergi. Niko lalu berbalik badan menghadap dua orang pria yang selalu mengikutinya.
"Bawa mereka berdua bersama kita." Ucap Niko sambil berlalu meninggalkan Naiki, Killa, dan kedua temannya.
Niko berniat ingin memberi pelajaran kepada Killa. Dari dulu ia sangat ingin menyentuh gadis cantik itu. Namun, selalu saja gagal.
"Kalian mau jalan sendiri, atau kami tarik dengan paksa?" Ucap salah satu pria tadi dengan angkuh. Ia sangat mengerti kemauan Niko, teman namun lebih seperti majikan.
Naiki bergeming, ia memperhatikan gerak-gerik kedua pria tadi sambil melipat tangannya dan menyilangkan kakinya. Naiki lalu melirik ke arah adik iparnya yang sudah gemetaran namun berusaha terlihat berani.
"Ayolah gadis-gadis cantik. Tuan Niko sudah tidak sabar untuk bermain dengan kalian." Ucap pria satunya lagi dengan ekspresi menjijikkan.
Naiki makin geram. Ia lalu berdiri dan menyembunyikan Killa di belakangnya.
"Kak, bagaimana ini?" Lirih Killa.
Kedua pria tadi tertawa melihat keberanian Naiki. Mereka sungguh meremehkan wanita dingin di depan mereka saat ini.
Naiki lalu maju beberapa langkah menjauhi Killa, memutar badannya, melompat, lalu menendang kepala satu pria dengan sangat keras.
Buuuukkkk....
"Arrrggghhh..." Teriak pria itu kesakitan. Tampak darah menyembur dari mulutnya. Entah karena lidah yang tergigit atau gigi yang patah.
"Brengsek!!!" Umpat satu pria lagi dan ingin melayangkan pukulan ke arah Naiki, namun gagal. Naiki langsung menghindar. Ia lalu menarik rambut pria itu kemudian menghentakkan lututnya ke wajah pria sial itu.
"Arrrghhhh..." Terdengar satu jeritan lagi dan Naiki berhenti menghajar mereka berdua karena merasa sudah menjadi tontonan umum.
__ADS_1
Killa terdiam melihat kakak iparnya. Ia tidak menyangka memiliki kakak ipar yang anggun dan kejam seperti Naiki. Mulutnya sedikit terbuka. Ia tidak bisa berkata apa-apa saking terkejutnya.
Naiki lalu berjalan mendekati Killa yang terpaku di bangku taman. Bersamaan dengan itu, tampak beberapa pengawal muncul dari persembunyian dan penyamarannya. Mereka bertugas untuk membersihkan bukti-bukti, termasuk membersihkan ponsel-ponsel pengunjung taman yang sempat merekam kejadian tersebut. Sekejap, seluruh taman pun diblokir oleh ratusan pengawal yang langsung muncul entah dari mana.
Naiki mengulurkan tangannya ke arah Killa. Killa memperhatikan tangan mulus Naiki dengan lekat. "Kenapa tangan Kak Nai gemetar gitu?" Batin Killa. Ia lalu meraih tangan Naiki.
"Apa kau baik-baik saja Killa?" Tanya Naiki. Ia khawatir melihat adik iparnya. Killa mengangguk pelan. Terlihat airmata sudah menggenang di manik matanya.
"Ayo kita pulang!"
"Kakak tidak apa? Apakah kakak baik-baik saja?" Killa mencemaskan kondisi Naiki. Ia teringat dengan perkataan Darel sebelum pernikahan berlangsung.
Tangan Naiki yang gemetar semakin terasa oleh Killa. Dilihatnya wajah kakak iparnya, ternyata sudah dipenuhi oleh keringat yang bercucuran. Ia lalu mendudukkan Naiki kembali di sebelahnya dan memberikan Naiki sebotol air mineral. Killa sangat cemas melihat kondisi kakak iparnya. Untung saja Darel segera tiba di sana.
Darel memang pernah berpesan pada ketua pengawal bayangannya agar segera mengabari apabila terjadi perkelahian antara Naiki dengan orang tak dikenal. Hati Darel sakit melihat kondisi Naiki saat ini. Ia lalu mendekat dan duduk di samping Naiki. Diraihnya tubuh istrinya dan dipeluknya erat.
"Aku di sini. Aku di sini, Sayang." Lirih Darel menenangkan Naiki.
"Aku mohon, mulai sekarang biarkan aku yang melindungimu." Ucap Darel kemudian.
Perlahan Naiki mulai tenang. Tangannya mulai bergerak untuk membalas pelukan hangat Darel.
"Terima kasih Darel." Lirihnya dalam pelukan suaminya.
Killa terharu melihat adegan kakak dan kakak iparnya. Sekarang Killa mengerti, yang dikatakan Darel benar. Naiki mengidap Haphephobia. Namun ia penasaran, mengapa Darel dapat menenangkan Naiki hanya dengan sebuah pelukan? Apakah Naiki hanya dapat disentuh oleh kakaknya saja? Killa terus bertanya-tanya dalam hatinya.
**********
Weekend nih, maaf yah kalau up-nya lama.
__ADS_1
Terima kasih buat yang sudah baca. Jangan lupa vote author yah...