Pewaris Asli

Pewaris Asli
53 Kondisi Niko


__ADS_3

Darel lalu beralih mengambil boxernya dan mengenakannya. Ia kemudian mengambil selimut dan menutupi tubuh istrinya yang masih polos itu. Naiki hanya memerhatikan gerak-gerik suaminya itu dalam diam. Ada perasaan bersalah dalam hatinya. Ia tahu, sebesar apa pun rasa sayang Darel pada dirinya, pasti ada perasaan kecewa juga di hati pria itu saat ini.


"Darel." Panggil Naiki.


Darel pun menoleh, lalu mengulurkan tangannya kembali dan memeluk Naiki dengan erat. Seolah tidak rela jika ada yang mengambil Naiki darinya.


"Kau bisa mencobanya lagi kapan pun kau mau." Ucap Naiki tersipu.


Darel tersenyum mendengar perkataan istrinya. Diusapnya kepala Naiki dengan lembut lalu dirapatkannya tubuhnya itu dengan istrinya yang sudah terbungkus selimut.


"Aku tidak akan memaksa bila kau memang belum siap, Sayang." Ucap Darel. "Istirahatlah. Kau pasti lelah." Perintah Darel lembut.


Naiki lalu mengangguk dan menuruni ranjang dengan selimut yang membungkus tubuhnya yang polos. Darel terkikik melihatnya. Naiki memungut pakaiannya satu per satu dengan bibir mengerucut, membuat Darel semakin gemas dan terkekeh di atas kasur.


Naiki pun melirik dengan tatapan tajam ke arah Darel yang terus terkekeh.


"Apa perlu aku bantu mengenakannya, Sayang?" Goda Darel.


Mata Naiki semakin menatap dengan tajam ke arah Darel seperti memberikan peringatan. Ia lalu bergegas menuju ruang ganti pakaian dengan langkah yang cepat.


Beberapa saat kemudian Naiki kembali dengan piyama yang sudah menutupi tubuhnya, dan selimut di pelukannya. Ia berjalan perlahan menuju ranjang.


"Sini!" Ucap Darel yang berbaring memiringkan tubuhnya menghadap Naiki.


Naiki pun naik ke atas ranjang dan berbaring menghadap Darel. Pria itu lalu membelai wajah Naiki dengan punggung tangannya.


"Apakah ini sakit?" Tanya Darel ketika tangannya menyentuh rahang Naiki yang tampak memerah.


"Sedikit. Aku bahkan pernah merasakan yang lebih menyakitkan dari ini." Ujar Naiki dengan tatapan sendu.


Hati Darel terasa sakit saat mendengar perkataan Naiki barusan. Ditariknya tubuh istrinya itu ke pelukannya dan didekapnya dengan erat. Darel bukanlah tipe pria yang banyak bicara. Bukan pula pria yang dapat berkata romantis dan manis pada wanita. Dibelainya dengan lembut rambut panjang istrinya.


"Tidurlah." Ucap Darel dengan suara beratnya.


Naiki pun melingkarkan tangannya pada tubuh Darel, merapatkan tubuhnya, dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Ia lalu memejamkan matanya dan terlelap di dalam pelukan Darel.


**********

__ADS_1


Pagi menjelang. Hangatnya sinar mentari pagi mulai menyapa. Cahayanya memaksa masuk melalui celah yang tidak tertutupi gorden dengan sempurna. Naiki membuka matanya perlahan. Mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya.


Pinggangnya terasa berat, Naiki lalu melirik ke arah pinggangnya. Ternyata tangan Darel melingkar di tubuhnya. Naiki langsung teringat dengan kejadian tadi malam. Disaat ia dan Darel hampir menjadi pasangan seutuhnya, tiba-tiba gagal karena Naiki menendang suaminya.


"Astagaaa...bisa-bisanya aku menendang suamiku sendiri tadi malam." Gumam Naiki sambil menutup mulutnya.


"Kau sudah bangun, Sayang?" Tanya Darel dengan mata masih terpejam. Suaranya terdengar serak.


"Iya, aku mau olahraga sebentar." Sahut Naiki lalu mulai bergerak ingin menggeser tubuhnya ke pinggir kasur.


"Sebentar lagi, please!" Rengek Darel sembari memeluk tubuh Naiki dengan posesif.


Naiki hanya menghembus nafas kasar. Ia lalu pasrah dan membiarkan Darel memeluknya erat.


Beberapa menit berlalu, Darel akhirnya melepaskan pelukannya dan mengizinkan Naiki melakukan apa yang ingin ia lakukan pagi itu. Naiki pun beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyikat gigi dan cuci muka. Ia lalu mengganti piyamanya dengan pakaian olahraga. Naiki berniat olahraga ringan di rumah saja.


Ia berjalan menuju sebuah ruangan yang sengaja Darel siapkan untuk olahraga. Ruangan yang terdapat bermacam-macam alat olahraga seperti yang terdapat di kediaman Caraka. Naiki lalu melakukan pemanasan ringan.


Setelah merasa cukup panas, Naiki lalu memilih treadmill sebagai alat olahraganya pagi ini.


Tiga puluh menit telah berlalu. Naiki akhirnya menyudahi olahraganya pagi itu. Ia lalu mengelap wajahnya yang dipenuhi keringat dengan menggunakan handuk kecil yang ia bawa dari kamar. Wanita berparas dingin itu lalu berjalan keluar, menuju taman belakang hendak mendinginkan badan.


Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju halaman belakang yang tampak luas dan hijau. Terdapat sebuah kolam renang dengan gazebo di tepinya. Naiki terus melangkah hingga terdengar suara riak air dari arah kolam.


"Bukankah Si Tuan Es masih tidur tadi?" Gumamnya sambil terus melangkah dan memerhatikan seorang pria yang sedang berenang di kolam.


Pria itu berenang hingga ke tepi, kemudian membalikkan tubuhnya menghadap riakan air yang tampak biru. Ia bersandar di tepi kolam sambil menyugar rambutnya ke belakang. Kulit putihnya yang bersih, dan otot lengan serta otot perutnya terlihat sangat seksi saat ini. Naiki terus menatap tanpa berkedip.


"Dia sengaja. Pasti dia sengaja berpose seperti itu di depanku." Sungut Naiki dalam hati.


Naiki lalu membuka tutup botol air mineralnya kemudian mulai menenggaknya hingga tersisa setengah. Ia lalu mengatur nafasnya kembali. Naiki lalu berjalan menuju gazebo yang hampir separuh lantainya tampak berada di atas air kolam. Design gazebo itu sangat indah. Memanjakan mata dan membuat perasaan seketika menjadi tenang. Naiki lalu duduk di pinggir gazebo itu dan menurunkan kakinya ke dalam kolam.


Sadar karena wanita yang dicintainya berada di sana, Darel lalu berenang mendekati Naiki.


"Sudah olahraganya?" Tanya Darel dari dalam kolam.


"Iya." Sahut Naiki singkat.

__ADS_1


"Tidak mau renang?" Tanya Darel lagi. Naiki menggeleng.


"Apa kabar Si Niko? Apa dia sudah dipulangkan?" Tanya Naiki tiba-tiba.


"Rencananya akan mereka kembalikan ke Steffanie hari ini, Sayang. Apa kau ingin melihatnya?"


Naiki tampak berpikir. "Hhhmmm...Boleh juga. Setelah itu kita ketemu Killa, ya!"


"Ok, Sayang." Jawab Darel kemudian melanjutkan renangnya.


**********


Disaat yang sama, di gedung misterius tempat para pengawal Darel menginterogasi musuh, atau pun mengeksekusi mereka, tampak sosok pria sedang meringkuk di sudut ruangan. Wajahnya tampak pucat. Tatapannya kosong. Tubuhnya gemetaran seperti takut akan sesuatu hal.


Dia adalah Niko, putra sulung Steffanie. Pria arogan yang sangat suka mempermainkan wanita. Pria brengsek yang menyukai wanita hanya sebatas tubuh mereka saja. Pria jahat yang ternyata sudah menghabisi beberapa wanita yang menolak tidur dengannya. Baginya, wanita hanya mainan dan pemuas nafsu belaka. Kepribadiannya terlalu angkuh hanya dengan mengandalkan segelintir harta.


Dimasa kecilnya saja, ia sudah sangat pintar menyiksa teman seumurannya. Rhean selalu menjadi bulan-bulanan Niko saat masih kecil dahulu. Niko selalu merampas uang saku Rhean, mengambil mainan-mainan Rhean, bahkan ia juga suka menuduh Rhean apabila ia melakukan kesalahan. Naiki yang saat itu lebih muda darinya sangat membenci pria itu.


Niko terus berteriak histeris setiap pengawal masuk ke ruangannya, entah itu memberinya makan atau pun minuman. Niko selalu berteriak minta tolong dan berlari ke sudut ruangan. Ia seperti mendapatkan trauma yang mendalam semenjak kejadian tempo hari.


Hari ini, kondisi Niko semakin mengkhawatirkan. Ia tidak hanya menderita secara mental, namun ternyata fisiknya pun mulai sakit. Hal itu juga yang membuat para pengawal meminta persetujuan Darel untuk mengembalikan Niko pada Steffanie secepatnya.


"Tidaaakkk...jangan... Aku mohon jangan mendekat. Jangaaannnn!!!" Niko terus bergumam kalimat yang sama sejak kemarin sore.


Saat dicek, ternyata suhu badan Niko lumayan tinggi. Tubuhnya melemah dan gemetaran. Hal itulah yang menyebabkan Niko terus ngelindur dalam tidurnya.


"Hubungi Tuan Muda, kita harus mengirim pria ini kembali, sebelum jam 12 siang ini." Perintah salah satu pengawal yang bertanggungjawab atas Niko.


Pengawal yang diberi perintah pun langsung bergerak untuk melaksanakan perintah.


"Ada apa?" Sahut Darel yang baru saja menyudahi renangnya.


"Maaf Tuan, sepertinya kita harus mengembalikan pria ini sebelum jam 12 siang ini karena kondisinya sangat buruk sekarang." Ucap pengawal itu.


"Ok tunggulah! Aku akan segera tiba di sana." Darel lalu mematikan sambungan telepon beriringan dengan sebuah teriakan histeris dari Niko.


"SAKIIIITTTTTT...AAAARRGHHH....TIDAAKKKKK..."

__ADS_1


*********


💙💙💙💙💙


__ADS_2