
Jam kantor telah usai. Seperti biasa, Naiki berjalan bersama Sisi menuju lobby.
"Sisi, apa Panjul sudah memberimu sepeda motor?" Tanya Naiki sambil terus berjalan.
"Sudah, Nai." Sahut Sisi.
"Baguslah kalau begitu."
Mereka terus berjalan menuju pintu masuk. Tiba-tiba seorang wanita berjalan cepat ke arah mereka dan ingin menabrak Naiki, namun gagal karena Naiki menghindar.
Bruuukkk....
"Aaawww...brengsek!" Pekik orang itu saat terjatuh ke lantai.
Suaranya yang keras tentu saja menarik perhatian orang-orang di sekitar lobby. Sehingga ia langsung menjadi bahan tontonan para karyawan yang bersiap ingin pulang.
Naiki dan Sisi menoleh ke belakang lalu memandang dengan tatapan heran ke arah wanita itu. Ternyata Sonya. Naiki lalu menoleh ke arah Sisi seakan bertanya mengapa Sonya ingin menabraknya. Sisi langsung mengangkat bahu dan tangannya, mengisyaratkan bahwa ia tidak tahu apa-apa.
Karena merasa tidak penting dan bukan kesalahannya, Naiki melanjutkan langkahnya kembali dan diikuti oleh Sisi. Namun Sonya yang geram, kembali berteriak.
"KAUUUU...BERHENTIII!" Teriak Sonya. "BERHENTI KATAKU!"
Naiki tersenyum dingin dan menghentikan langkahnya. Ia lalu berbalik dan menatap ke arah Sonya yang masih terduduk di lantai beberapa meter darinya.
"Ada yang bisa dibantu, Nona Sonya?" Tanya Naiki.
"Gara-gara kau, aku terjatuh. Masih tidak minta maaf?" Ucap Sonya sambil berusaha untuk berdiri.
"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi. Banyak mata yang melihatnya. Kita juga bisa melihat rekaman CCTV biar lebih yakin." Ucap Naiki dengan wajah datar.
"Kau! Karyawan rendahan, berani mengajariku seperti itu?" Tunjuk Sonya. Naiki mundur selangkah. Ia tidak ingin jari Sonya menyentuh wajahnya.
Naiki tersenyum dingin lalu melipat tangannya di depan dada dan menatap Sonya dengan tajam.
"Nona Sonya yang terhormat, aku tidak akan meminta maaf pada orang lain jika aku tidak salah." Ucap Naiki. Sisi melotot melihat sikap Naiki.
"Jangan-jangan dia lupa statusnya di sini." Batin Sisi cemas.
"Satu lagi, apa kau tidak merasa malu sekarang?" Ucap Naiki. Tatapannya lalu beralih ke rok mini ketat yang dikenakan Sonya.
Tampak sebuah robekan yang memanjang secara vertikal di salah satu sisi rok mini Sonya, dan itu membuat penampilannya sangat kacau. Buru-buru ia tutup robekan roknya itu dengan tangannya.
Naiki tersenyum sinis, lalu berbalik badan meninggalkan Sonya yang malu sekaligus kesal. "Dasar bodoh!"
Sisi bergegas mengejar Naiki, berusaha menyejajarkan langkahnya. "Nai...Nai..." Panggil Sisi.
"Hmmm..." Naiki hanya berdehem.
"Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu?" Tanya Sisi.
"Melakukan apa?"
__ADS_1
"Memecatmu misalnya." Sahut Sisi. Naiki tertawa mendengarnya.
"Hahaha...kau ini Sisi... Hahaha..."
"Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Sisi heran.
"Jelas tertawalah. Kau kira aku mau lebih lama lagi di sini? Minggu ini kita selesaikan tugas kita sedikit lagi. Setelah itu, kita angkat kaki dari sini." Naiki menjawab pertanyaan Sisi dengan jelas. Sisi terpana mendengarnya.
"Baiklah." Ucap Sisi kemudian.
Naiki dan Sisi lalu berjalan beriringan hingga ke parkiran motor. Posisi Darel menunggu ternyata lebih dekat daripada posisi motor Sisi diparkirkan. Sisi lalu menyapa Darel terlebih dahulu sebelum berpamitan.
"Selamat sore, Tuan." Sapa Sisi.
"Selamat sore juga." Sahut Darel ramah.
"Kalau begitu saya pamit pulang lebih dulu, Tuan." Ucap Sisi kemudian.
Naiki diam dan hanya menatap heran ke Sisi. Ingin sekali ia tertawa mendengar cara bicara Sisi pada Darel. Namun ia tahan. Sisi lalu beranjak menuju parkiran motornya.
"Itu sekretaris pribadi yang baru kau rekrut, Nai?" Tanya Darel setelah Sisi menjauh. Naiki mengangguk.
"Ayo jalan! Aku mau nyiapin makan malam hari ini." Ucap Naiki sambil menepuk bahu Darel.
************
Naiki dan Darel telah tiba di rumah tiga puluh menit yang lalu. Sebelum mulai menyiapkan makan malam, Naiki mandi terlebih dahulu. Setelah itu ia lalu bergegas ke dapur mencari bahan-bahan makanan yang akan ia gunakan. Tiga orang pelayan yang bertugas menyiapkan makan malam hari ini tidak datang karena sudah dihubungi Darel.
"Dia bilang bisa makan apa saja, kan? Hhhmmm...ok baiklah." Gumam Naiki sambil memilih bahan makanan yang akan ia gunakan.
Naiki mulai memasak. Salah satu hobi yang nyaris tidak pernah ia lakukan bila tinggal di kediaman Caraka. Kali ini Naiki memilih masak makanan laut. Ia membuat udang tempura, cumi saos padang, dan ikan kakap yang ia panggang di dalam oven. Tidak lupa Naiki menyiapkan sayur-sayuran seperti capcay dan lalapan serta sambal kecap yang terbuat dari bawang, cabe rawit, dan tomat.
Naiki menyiapkan masakannya dengan cekatan dan selesai tepat waktu. Ia lalu memanggil Darel untuk makan malam bersama.
Mata Darel berbinar-binar menatap masakan yang sudah terhidang di atas meja makan. Ia tidak menyangka, istri dinginnya juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak. Naiki semakin sempurna di mata Darel sekarang.
Naiki lalu membantu Darel mengambil nasi.
"Habiskan semuanya ya, Suamiku." Ucap Naiki sambil tersenyum dingin dan terdengar menyeramkan di telinga Darel.
"I-iya. Pasti aku habiskan." Sahut Darel terbata.
Mereka lalu memulai makan malam dengan tenang. Diam-diam Naiki terus melirik ke arah Darel. Ia penasaran, apakah masakannya terasa enak atau tidak di lidah suaminya itu.
"Ehem..." Naiki pura-pura terbatuk. Darel pun menoleh.
"Kau tidak apa-apa, Nai?" Tanya Darel. Naiki menggeleng.
"Hhhmmm...Apa kau suka? Apakah enak?" Tanya Naiki ragu-ragu. Darel tersenyum dan mengangguk dengan cepat.
"Ini sangat enak, Sayang. Aku pasti menghabiskannya." Jawab Darel.
__ADS_1
Wajah Naiki langsung bersemu merah. Ia merasa sangat bahagia saat Darel memuji masakannya. Ia pun melanjutkan makannya sambil menahan senyum di bibirnya.
Beberapa menit berlalu. Naiki dan Darel akhirnya selesai menyantap makan malam mereka. Darel lalu membantu Naiki membereskan meja makan dan mencuci piring seperti hari sebelumnya. Setelah itu mereka duduk di gazebo belakang seperti biasa.
"Kau tadi ke rumah kakek Caraka, ya?" Tanya Naiki. Ia lalu berjalan ke pinggir gazebo yang berbatasan langsung dengan kolam renang. Naiki kemudian duduk dan menjulurkan kakinya ke dalam air.
"Iya. Aku menemani kakek main catur hari ini." Sahut Darel. Ia menyusul Naiki dan duduk di samping istrinya itu. "Aku juga berbicara dengan kakak iparmu tadi. Kebetulan dia sedang berada di rumah."
Naiki menoleh ke arah Darel yang sedang memandang ke arah kolam renang.
"Apa kau yakin aku bisa sembuh?" Lirih Naiki.
"Kau pasti sembuh, Nai. Aku yakin itu. Elis juga optimis kau bisa sembuh. Kita akan coba dengan perlahan. Aku juga akan membantumu." Ucap Darel dan diakhiri dengan kedipan sebelah matanya.
"Hah? Membantuku dengan cara apa?" Tanya Naiki memicingkan matanya.
"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan." Ucap Darel sembari mengusap puncak kepala Naiki. "Oh iya, jadi kapan terakhir kau bekerja di sana?"
"Maunya aku minggu ini. Atau paling lambat hari senin. Aku mau bermain-main sebentar dengan mereka." Ucap Naiki sambil menendang-nendang air kolam dengan kakinya.
"Kalau begitu hari selasa ikut aku, ya?"
"Ke mana?" Tanya Naiki penasaran.
"Honeymoon." Sahut Darel enteng.
"Hah? Ho-honeymoon?" Naiki terbata. Tubuhnya merinding mendengar satu kata itu. "Heiii...K-kau...kau bukannya hanya cuti satu minggu? Kau harus bekerja, Darel. Kepala Keluarga itu tugasnya mencari nafkah." Naiki memberikan alasan yang tidak masuk akal.
"Hahaha...hahaha..." Darel tertawa mendengar ucapan Naiki. "Aku punya istri kaya, untuk apa aku bekerja?" Ucapnya kemudian.
Naiki mencebikkan bibirnya kesal. Memang Naiki tidak pernah bisa menang bila sudah berdebat dengan Darel.
Apapun perkataan Naiki, pasti ada saja jawaban yang keluar dari mulut Darel.
"Hiiisssh kau ini. Aku mau ke kamar saja." Rutuk Naiki merajuk. Ia lalu bergegas berdiri dan berlari ke kamar.
Darel makin terkekeh melihat kelakuan istrinya itu. Gadis sedingin es, yang ternyata berhati hangat. Darel lalu mengecek email di handphonenya. Setelah lima belas menit, ia lalu menyimpan kembali handphone itu ke sakunya, lalu beranjak menuju kamar.
Setibanya di kamar, ia melihat Naiki sudah terlelap di kasur dengan lampu yang masih menyala. Darel lalu mendekatinya.
"Kau pasti lelah." Lirih Darel sambil mengusap kepala Naiki dengan lembut. Ia lalu mengecup bibir ranum Naiki.
Darel lalu berjalan ke sisi ranjang yang lain dan membaringkan tubuhnya di samping Naiki. Ia lalu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Aku akan menunggu hingga kau siap, Sayang. Istirahatlah." Lirih Darel lalu memejamkan matanya dan ikut terlelap bersama Naiki.
************
Makasih buat yang sudah baca..
terus dukung author yaa...
__ADS_1
💙💙💙💙💙