Pewaris Asli

Pewaris Asli
46 Penggoda yang Digoda


__ADS_3

Pagi menjelang, dan ini adalah hari sabtu. Hari di mana Naiki sudah berjanji pada Darel akan melakukan terapi untuk phobianya. Naiki sudah bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap-siap menuju kediaman Kakek Caraka. Naiki sudah berpakaian lengkap. Namun, Darel tidak kunjung bangun.


'Hiiisssh...jam berapa manusia es ini tidur sebenarnya?' Sungut Naiki dalam hati.


Naiki tidak berani membangunkan suaminya mengingat kebiasaan baru suaminya itu sekarang adalah menggoda dirinya hingga memerah seperti tomat. Ia mencoba membuka gorden yang menutupi jendela kamar itu. Mungkin Darel akan segera bangun saat terkena cahaya matahari pagi, pikirnya. Namun ternyata sia-sia.


Drrrttt....


Naiki tiba-tiba mendapatkan notifikasi pesan di ponselnya. Ternyata itu Ivan.


[Pagi Nona, anda harus segera membaca email yang saya kirimkan pagi ini. Ini benar-benar di luar dugaan.]


Naiki mengernyitkan dahinya. Ia sangat penasaran dengan email yang dimaksud Ivan. Naiki lalu berjalan ke sofa, lalu membuka email tersebut. Mata Naiki seketika membulat tidak percaya. Ia bergegas mencari kontak Ivan di ponselnya dan meneleponnya.


"Panjul! Itu benar yang ada diemail?" Ucap Naiki dengan nada tidak percaya.


"Iya benar, Nona. Saya juga belum mencaritahu lebih lanjut." Sahut Ivan.


"Jadi, saham yang mereka jual genap berjumlah 10%?" Tanya Naiki lagi.


"Benar, Nona. Kepemilikan saham 10% yang dimiliki beberapa orang itu, semuanya sekarang adalah milik Nona, dan sepertinya Tuan Brata belum mengetahui itu."


"Ok baiklah. Tutup rapat-rapat informasi itu. Jangan sampai bocor sebelum Brata menyerahkan 30% sahamnya kepadaku." Perintah Naiki.


"Baik, Nona." Sahut Ivan dan hendak mematikan panggilan. Namun tiba-tiba Naiki kembali bicara.


"Bentar bentar. Apakah kau tahu siapa yang mengatur orang-orang tersebut agar menjual sahamnya padaku?" Selidik Naiki.


"Maaf Nona, saya tidak tahu. Tapi..."


"Tapi apa?" Tanya Naiki cepat.


"Tapi saya sepertinya memikirkan seseorang. Hmmm... satu-satunya orang yang terpikir oleh saya hanyalah Tuan Muda Gerandra, Nona." Ujar Ivan.


Naiki tertegun mendengar penuturan asistennya itu. Memang cuma suaminya yang saat ini memiliki kekuasaan seperti itu. Ia bisa dengan mudah menekan orang-orang seperti mereka, para pemilik saham dengan persentase kecil.


"Nona...apakah ada yang lain?" Tanya Ivan karena tidak mendengar lagi suara CEO-nya itu.

__ADS_1


Naiki tersentak. "Tidak, terima kasih." Sahut Naiki lalu mematikan panggilannya dan langsung menoleh ke arah ranjang. Tempat di mana suaminya masih tertidur dengan pulas.


Naiki tersenyum. Ia lalu beranjak dari sofa dan berjalan ke arah ranjang. Naiki kemudian duduk di pinggir kasur tepat di sebelah Darel. Ia memaku, berpikir bagaimana cara membangunkan suaminya itu. Naiki lalu sedikit menunduk dan berbicara pada Darel yang masih tidur dengan nada dingin.


"Es batu, kalau kau tidak juga bangun, jangan salahkan aku jika nanti malam kau tidak boleh tidur di sini lagi." Ucap Naiki tepat di telinga Darel.


Darel menggeliat. Ia mengucek matanya dan berusaha menutupi wajahnya dari cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela. Tanpa ia sadari, Naiki bersembunyi di samping ranjang di sebelahnya. Naiki berjongkok dan menundukkan kepalanya agar tidak terlihat.


"Aku seperti mendengar suara seseorang yang sedang mengancamku tadi." Gumam Darel dengan suara seraknya. Matanya mencari-cari seseorang di kamar besar itu.


Naiki yang bersembunyi membekap mulut dengan tangannya karena menahan tawa. Ia tidak sadar kalau Darel telah berbalik dan menatap ke arahnya dengan senyuman nakal.


"Apa kau mau kena hukuman, Nyonya?" Ucap Darel yang mengejutkan Naiki.


"Hah?" Seru Naiki. Ia tersentak dan langsung terduduk di lantai. Matanya membesar karena kaget.


"Hahaha..." Darel pun tertawa. "Kau mengancamku tadi, kan? Apa kau mau dapat hukuman dariku?"


Naiki langsung menggeleng dengan cepat. "Tidak tidak. Baiklah, aku minta maaf kalau begitu." Ucap Naiki dan langsung berjalan cepat menuju ke sofa.


Darel tersenyum. Ia lalu duduk dan mengumpulkan kesadaran dirinya terlebih dahulu kemudian berdiri di samping ranjangnya.


"Apa kau mau membantuku mandi, Sayang?" Goda Darel.


Naiki menatap tajam ke arah Darel. "Kalau kau tidak juga pergi mandi, aku akan menyeretmu ke rumah kakek sekarang." Ancam Naiki. "Sudah jam berapa ini, Dareelll?" Teriak Naiki geregetan.


Darel cekikikan melihat sikap yang tidak biasa dari istrinya itu. "Ok ok baiklah, Nyonya."


Beberapa menit kemudian Darel sudah selesai mandi dan berpakaian. Ia lalu mendekati Naiki di sofa dan tiba-tiba mencium pipi Naiki.


"Heiii..." Naiki kaget sekaligus malu. Ia tidak menyadari kedatangan Darel karena fokus dengan ponselnya.


"Ciuman selamat pagi untuk istri tercinta." Kekeh Darel yang disambut senyuman dingin oleh Naiki.


Naiki lalu menarik kerah baju Darel hingga Darel terhuyung dan duduk di sebelahnya. Mata Darel membulat.


"Apa kau puas terus menggodaku seperti itu, Sayang?" Ucap Naiki sambil tersenyum namun lebih terlihat seperti akan menerkam Darel hidup-hidup.

__ADS_1


Darel terkekeh salah tingkah. Giliran wajah Darel yang merona saat ini. Naiki semakin tertarik ingin menggoda suaminya itu. Terlebih saat mengingat semua ucapan Darel yang ia dengar tadi malam ketika ia tidak sengaja terbangun dari tidurnya. Naiki lalu melepaskan cengkeramannya di kerah baju Darel dan menyentuh dada pria itu. Ia lalu tersenyum nakal.


"Sepertinya jantungmu berdetak lebih dari 90 kali per menit, Sayang." Goda Naiki sambil meraba dada bidang Darel dengan tangannya.


Darel menelan salivanya. Jakunnya terlihat naik turun karena gugup. "Hiisssh....kenapa tiba-tiba aku yang jadi kelinci dan dia serigalanya?" Batin Darel.


Naiki mendekatkan wajahnya ke wajah Darel seperti akan mencium pria yang telah menjadi suaminya itu. Namun tiba-tiba, Naiki mendorong tubuh Darel hingga pria itu bersandar ke sofa. Bruuukkk...


"Hahahah...kau lucu sekali Darel. Mukamu merah. Astagaaa...kau pakai blush on?" Ejek Naiki sambil terus tertawa.


Darel cemberut. Imajinasinya seakan terhempas jauh sekarang. Ia lalu memutar bola matanya jengkel. "Dia ternyata bukan serigala. Dia rubah betina. Cih!" Sungut Darel dalam hati.


"Awas kau, wanita licik!" Rutuk Darel. Naiki semakin tertawa mendengar perkataan suaminya barusan.


"Hahaha...awas apanya? Digoda sedikit saja jantungmu sudah mau copot." Ledek Naiki.


Darel merasa terpancing. Ia lalu memegang pinggang ramping Naiki dan menarik tubuh Naiki mendekat padanya.


"Apa aku perlu mengubah pagi yang tenang ini menjadi pagi yang bergairah, Sayang?" Darel mencoba memberikan serangan balik.


"Tidak tidak. Elis sudah menungguku sekarang." Sahut Naiki panik.


Darel melepaskan tubuh Naiki. "Ah iya. Aku baru ingat. Ayo kita pergi!" Ucap Darel tiba-tiba dan langsung berdiri.


Naiki heran, tidak menyangka jika Darel akan melepaskannya begitu mudah. Diam-diam, ada sedikit rasa kecewa di hatinya saat ini.


"Apa kau sudah sarapan, Sayang?" Tanya Darel.


Naiki menoleh, sedikit mengangkat kepalanya karena Darel yang berdiri. "Belum." Sahut Naiki singkat.


"Ayo kita sarapan dulu." Ajak Darel.


Mereka pun berjalan menuju ruang makan. Ternyata para pelayan sudah berada di sana dan sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Darel dan Naiki pun menikmati sarapan yang sudah tersedia sebelum berangkat menuju kediaman besar Caraka.


***********


💙💙💙💙💙

__ADS_1


__ADS_2