
Pagi menjelang, Naiki sudah bangun pagi-pagi sekali dan bersiap untuk berangkat ke Brata Corp. Begitu pun dengan Darel. Ia bangun pagi-pagi sekali karena ingin mengantar istrinya ke kantor. Darel juga harus menyiapkan keperluan mereka di rumah pribadinya nanti. Karena mulai malam ini, Darel dan Naiki akan tinggal di rumah mereka sendiri.
"Nai, aku antar, ya!" Ucap Darel saat mereka selesai sarapan bersama.
Hanya Darel dan Naiki yang sarapan, karena hari terbilang masih sangat pagi. Sehingga mama Vanya, kakek Gerandra, dan Killa belum nampak keluar dari kamarnya.
"Hhhmmm...oke." Jawab Naiki datar. Ia lalu bergegas mengambil tasnya di kamar, kemudian memakai sepatunya. Sedangkan Darel langsung berjalan menuju garasi.
Setelah mengambil tas, Naiki menuju halaman depan dan menunggu Darel. Beberapa saat kemudian Darel muncul dengan sepeda motornya. Ia mengenakan jaket kulit hitam, celana jeans hitam, sarung tangan kulit, masker, sepatu kets, dan helm bewarna hitam, senada dengan motor sportnya. Naiki diam menatap Darel yang tampak berbeda saat itu.
"Nih, pakai!" Ucap Darel sembari mengulurkan sebuah helm pada Naiki.
Naiki meraih helm tersebut sambil terus menatap Darel tanpa berkedip. "Wih...Keren!" Seru Naiki dalam hati. Ia lalu memakai helmnya.
"Ayo naik!" Ucap Darel kemudian.
Naiki lalu naik ke atas motor dan tampak menjaga jarak dari punggung suaminya itu. "Dia pikir ojol kali, ya?" Rutuk Darel dalam hati.
Darel lalu tersenyum nakal di balik masker. Ia lalu meraih tangan kiri Naiki dan menariknya hingga tubuh Naiki tersentak ke depan, menabrak punggung Darel. Naiki terkejut.
"Hei...hati-hati, Tuan!" Pekik Naiki sembari memukul bahu Darel pelan.
"Hahahaha..." Darel tertawa puas. Ia lalu melingkarkan tangan Naiki ke pinggang kokohnya.
"Begini harusnya kalau dibonceng suami." Ucap Darel kemudian.
"Hiiiss...iya iya..." Sahut Naiki malas.
Mereka lalu jalan menuju kantor Brata Corp. Tiga puluh menit berlalu, Naiki dan Darel telah tiba di Brata Corp. Darel menurunkan Naiki di parkiran motor agar Naiki tidak terlalu jauh berjalan nantinya.
__ADS_1
"Nanti aku jemput, ya!" Ucap Darel saat Naiki sedang melepas helmnya. Naiki lalu menjawab dengan anggukan.
Naiki kemudian berjalan menuju pintu masuk Brata Corp yang terlihat sudah cukup ramai dengan karyawan yang baru tiba. Darel belum beranjak dari tempatnya. Ia terus memerhatikan istrinya dari kejauhan. Darel baru pergi setelah Naiki benar-benar tidak terlihat oleh matanya lagi.
Naiki telah tiba di ruangannya. Ruang tim pemasaran yang hanya disekat sekedarnya saja. Sisi juga sudah duduk manis di kursinya dan menyalakan laptop di mejanya.
"Pagi Sisi." Sapa Naiki.
"Pagi juga, Nai." Balas Sisi kemudian.
"Ayo selesaikan pekerjaan kita hari ini dengan cepat, Sisi. Karena akan ada tugas lain yang menunggu kita. Jangan menghabiskan waktu berlama-lama di sini." Oceh Naiki sambil membuka laptop dan menyalakannya.
Beberapa hari setelah menerima pengajuan kerjasama Brata Corp, Naiki mulai berpikir ulang mengenai rencananya. Dia sempat merasa sia-sia sudah menyusup ke Brata Corp, karena tanpa diduga, Brata Corp sendiri yang datang padanya.
Mereka lalu bekerja dengan serius. Beberapa saat kemudian, tampak Niko berjalan masuk menuju ruang Tim Pemasaran. Matanya menelusuri ruangan tersebut mencari seseorang. Ternyata ia mencari Naiki.
"Kau! Ikut ke ruanganku sekarang." Ucap Niko dengan arogan.
"Di mana kedua temanku?" Tanya Niko. Ia langsung bertanya dengan keras saat Naiki sudah masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya kembali.
"Maksud Tuan?" Sahut Naiki dingin.
Niko tersenyum licik. Ia lalu berjalan mendekati Naiki dan ingin menyentuh pipi Naiki, namun Naiki menghindar.
"Heh, sok suci." Ucap Niko.
Pria itu lalu berbalik badan dan berjalan menuju kursinya. Saat itulah tangan Naiki bergerak cepat mengambil sesuatu di kantongnya dan menempelkan benda itu ke bawah kursi yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Naiki menempelkan sebuah alat perekam mini karena Naiki tahu, Sonya atau pun Steffanie cukup sering berkunjung ke ruangan Niko. Naiki bisa saja meretas CCTV Brata Corp dengan tangannya sendiri untuk memantau mereka. Namun ternyata, CCTV yang terpasang bukanlah yang disertai dengan perekam suara.
"Sekali lagi aku tanya, ke mana dua pria yang datang bersamaku ke taman kemarin sore?" Niko mengulang pertanyaannya dengan rahang yang mulai mengeras.
__ADS_1
Niko sungguh kesal. Bukan karena kehilangan teman, melainkan kehilangan uang. Kedua teman Niko yang dihajar Naiki dan dibawa pergi oleh pengawal khusus Gerandra kemarin ternyata memiliki hutang yang tidak sedikit kepada Niko. Maka dari itu mereka tampak seperti babu dan majikan. Niko benar-benar memanfaatkan kelemahan kedua pria kemarin dengan menjadikannya sebagai orang suruhan.
"Mereka dibawa orang-orang berseragam hitam dan saya tidak tahu siapa orang-orang itu." Jawab Naiki dengan datar. "Menurut Tuan, apakah karyawan rendahan seperti saya bisa memiliki koneksi dengan orang-orang misterius seperti mereka?"
Niko terdiam. Dia berpikir ada benarnya juga dengan yang dikatakan oleh Naiki. Wanita itu tidak mungkin berhubungan dengan orang besar yang memiliki ratusan pengawal seperti orang-orang berpakaian hitam itu.
"Mungkin saja teman-teman Tuan pernah menyinggung majikan pengawal misterius itu. Atau bisa jadi mereka memiliki hutang dan belum dibayar." Naiki menambahkan perkataannya.
Ekspresi wajah Niko tampak sedikit melunak. Ia tidak lagi mengeraskan rahangnya. Akhirnya, ia menyerah dan mengizinkan Naiki untuk kembali bekerja. Dengan santai dan tersenyum tipis, Naiki berjalan meninggalkan ruangan Niko dan kembali ke mejanya.
"Ada apa, Nai?" Sisi langsung saja bertanya saat Naiki duduk di kursinya.
"Habis nipu kecoa." Sahut Naiki santai.
Alis Sisi mengernyit heran. Ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Nonanya.
"Kenapa? Ayo cepat selesaikan pekerjaanmu! Hari ini kita harus mendapatkan posisi duduk yang tepat di kantin." Ucap Naiki sambil menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
"Apalagi sih ini? Kenapa juga kita harus memilih posisi duduk yang tepat?" Rutuk Sisi sambil menatap monitor di depannya.
"Kau berisik sekali, Sisi. Pokoknya, nanti kau juga akan tahu, aku akan melakukan apa di sana dengan ini." Sahut Naiki sambil menepuk pelan laptopnya dan memainkan alisnya naik turun.
"Hiiissh...ok ok baiklah Nona." Ucap Sisi sambil memutar bola matanya malas.
***********
Waaah...akhirnya bisa up walaupun tertatih 😅
Jangan lupa like, komen, dan vote yah...
__ADS_1
Terima kasih...