
Niko dimasukkan ke sebuah ruangan yang sangat terang dan tertutup. Ia ditempatkan terpisah dari tiga orang yang lain. Niko ditinggalkan sendirian di sana dengan tangan dan kaki terikat, dan dibiarkan terduduk di atas lantai.
Mulutnya tidak dibekap. Karena ruangan itu sendiri adalah ruang kedap suara. Tidak akan ada yang mendengar suaranya dari luar, sekeras apa pun ia berteriak. Ruangan itu terhubung melalui cermin satu arah dengan ruangan lain yang berfungsi sebagai ruang monitoring.
Beberapa menit berlalu, Naiki dan Darel telah tiba di depan gedung misterius itu. Naiki menatap gedung itu dan Darel secara bergantian. "Ini..." Naiki tidak menyelesaikan perkataannya.
"Ini markas besar pengawal khusus Gerandra." Celetuk Darel.
Naiki masih terpukau melihat gedung di hadapannya. Gedung itu hanya memiliki 3 lantai, namun berukuran sangat luas. Lokasinya sedikit di pinggiran kota. Berada tidak jauh dari gudang penyimpanan milik Gerandra.
Darel lalu membawa Naiki masuk ke dalam gedung yang tingkat keamanannya setara dengan kantor pusat Gerandra Corp itu. Tidak banyak penjaga di pintu utama, karena mereka telah menggunakan teknologi tinggi untuk sistem keamanan markas mereka.
Darel dan Naiki lalu menuju ruang monitoring yang berada tepat di sebelah ruangan tempat Niko disekap. Dua orang pengawal lalu mengikuti mereka masuk ke ruang monitoring itu. Naiki tersenyum dingin saat melihat Niko sudah terdiam tidak berdaya di ruang yang tampak lebih terang itu.
Niko tidak menyadari keberadaan Naiki dan Darel di ruangan sebelah. Karena Darel dan Naiki menatap Niko melalui cermin satu arah.
"Aku akan ke sana." Ucap Naiki. Darel tidak menjawab. Dia tahu, Naiki bukan meminta izin, melainkan hanya memberitahu dirinya saja.
"Tapi sebelumnya, di mana keberadaan tiga orang lagi?" Tanya Naiki pada dua orang pengawal yang berdiri di belakang.
"Mereka di ruangan lain, Nyonya." Sahut salah satu pengawal.
"Berikan mereka minuman. Tapi sebelumnya, masukkan ini ke minuman mereka." Perintah Naiki sambil memberikan sesuatu kepada pengawal tersebut. "Lihat kode dariku, bawa mereka bertiga masuk ke ruangan itu, ketika aku sudah mengizinkan."
"Baik, Nyonya." Jawab pengawal tersebut.
"Bukankah aura Nyonya terasa lebih mengerikan dibandingkan dengan Tuan?" Batin pengawal yang lain.
Kedua pengawal itu lalu pergi meninggalkan ruangan.
"Apa yang kau berikan pada mereka, Sayang?" Tanya Darel penasaran.
"Oh, itu cuma bantuan agar mereka lebih panas saja nanti." Ucap Naiki dengan seringainya. "Predator seperti Niko ini harus diberi pelajaran yang setimpal, Darel."
"Ok baiklah. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku akan selalu mendukungmu." Ucap Darel lalu duduk di kursi yang terdapat di ruangan itu.
__ADS_1
Naiki lalu berjalan keluar, kemudian masuk ke ruangan tempat Niko berada, sedangkan Darel menatap cermin satu arah di depannya dengan serius.
Tap tap tap...
Langkah Naiki terdengar di telinga Niko yang sempat termenung di ruangan terang benderang itu. Niko pun menatap benci ke arah Naiki. Naiki tidak peduli. Ia terus saja berjalan mengelilingi ruangan sambil memegang senjata apinya. Tiba-tiba Naiki berbalik menghadap Niko, dan DOOORRR...
"AAAAAAHHHHH...." Jerit Niko ketakutan.
Satu tembakan Naiki arahkan ke arah Niko dan melesat di samping pelipis pria itu. Niko menjerit. Tubuhnya gemetar.
"Ah, aku sepertinya kurang latihan." Ucap Naiki dengan ekspresi mengejek.
"KAU! Dasar j4lang! Akan ku bunuh, Kau!" Maki Niko.
Naiki tertawa. Ia lalu berjalan mendekati Niko. Niko semakin ketakutan.
"Mau apa, Kau?" Ketus Niko.
Naiki menyeringai. Ia lalu menekan bahu Niko dengan sebelah kakinya. Niko mengerang kesakitan.
"Tidak usah takut, aku tidak akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Naiki lalu menurunkan kakinya dari bahu Niko.
"Seharusnya kau mati. Seharusnya paman dan ibuku membunuhmu sejak dulu. Dasar anak sial!" Hina Niko. Naiki geram, lalu ditendangnya tubuh Niko hingga terpental dan berguling di lantai.
Naiki lalu memberi kode ke arah cermin satu arah. Ia kemudian berjalan mendekati Niko kembali dan menginjak kepala Niko dengan kuat. Niko menjerit.
"AAAHHHH...Lepaskan aku, brengsek!" Teriak Niko.
"Nikmati malam panjangmu! Aku tahu kau akan menyukainya." Ucap Naiki sambil tersenyum licik lalu berjalan keluar dari ruang itu.
Darel dan pengawal yang melihat aksi Naiki dari balik cermin pun bergidik ngeri. Mereka tidak menyangka Naiki adalah sosok yang mengerikan. "Aku janji tidak akan pernah memprovokasi istriku ini." Gumam Darel dalam hati.
Naiki lalu kembali ke ruangan tempat Darel berada. Darel menyambut kedatangan Naiki dengan senyum kikuk.
"Ada apa denganmu, Rel?" Tanya Naiki datar.
__ADS_1
"Kau ternyata sangat menyeramkan, Sayang." Lirih Darel. Ia sebenarnya ragu mengucapkan kalimat itu. Namun ternyata Naiki tertawa.
"Hahaha...apa kau takut?" Goda Naiki.
"Heehm..." Darel hanya berdehem dan memutar bola matanya jengkel.
"Ayo kita pulang. Adegan selanjutnya tidak pantas untuk dilihat." Ucap Naiki lalu berbalik dan keluar dari ruangan itu disusul oleh Darel.
"Hei, jelaskan padaku, apa itu?" Tanya Darel penasaran.
Naiki hanya mengangkat bahunya, enggan menjawab. "Kau akan tahu nanti."
Beberapa saat setelah Naiki dan Darel pergi, empat orang pengawal datang membawa seorang pria tua dan dua orang pengawalnya lalu memasuki ruangan Niko. Tiga pria itu tampak sudah di luar kesadaran mereka karena dikendalikan oleh obat-obatan. Entah obat apa yang Naiki berikan hingga membuat ketiga pria itu tampak tidak normal seperti saat ini.
Niko dan ketiga pria tadi lalu ditinggalkan serta dikunci dalam satu ruangan. Sebelum keluar, salah satu pengawal melepaskan ikatan di kaki dan tangan Niko. Niko berusaha untuk kabur, namun segera dilumpuhkan kembali oleh pengawal tersebut.
Mereka berempat lalu ditinggalkan begitu saja di ruangan yang tidak terlalu luas itu. Para pengawal penasaran dengan rencana Nyonya mereka. Naiki juga berpesan agar jangan mematikan CCTV di ruangan Niko.
Lalu apa yang terjadi? Niko disiksa oleh ketiga pria tersebut secara s*ksual. Niko berteriak, mengumpat, dan akhirnya memohon ampun pada ketiga pria di depannya. Mereka sangat buas, bahkan tidak cukup sekali mereka menyiksa Niko dengan kejantanan mereka yang diluar akal sehat itu.
Para pengawal yang melihat kejadian itu merinding dan merasa jijik seketika. Untung saja mereka berada di pihak yang benar saat ini. Dan mereka berjanji, tidak akan pernah mengusik Nyonya mereka sampai kapan pun.
Beberapa jam berlalu. Efek obat yang diberikan Naiki pada ketiga pria itu pun perlahan mulai menghilang. Mereka tampak kelelahan dengan penampilan sangat memalukan. Begitu juga dengan Niko.
Ia duduk di sudut ruangan dengan ketakutan. Pakaiannya sudah terlempar entah ke mana. Ia kedinginan dan tertekan saat ini. Satu trauma mulai menghantui pikirannya.
Ia tidak menyangka akan mengalami hal menjijikkan seperti tadi. Biasanya, ia adalah pelaku yang dengan buas menggagahi setiap wanita yang diinginkannya. Namun sekarang, ia berada di posisi yang lebih mengerikan dan menjijikkan daripada itu.
Niko tidak pernah merasa dirinya kotor walaupun berkali-kali ia melakukan perbuatan tercela kepada para wanita. Entah sudah berapa wanita yang ditidurinya. Namun, hanya dalam hitungan jam, rasa gagah dan angkuh dalam dirinya seolah runtuh, berganti menjadi trauma yang dalam.
Menurut Naiki, orang seperti Niko memang harus diberi pelajaran yang setimpal. Naiki bisa saja langsung melenyapkan Niko dengan tangannya sendiri, atau bahkan meminta para pengawal untuk melakukannya. Namun, yang Naiki ingin adalah Niko menderita secara mental, merasa dirinya hina, tidak berani bersosialisasi lagi, kemudian mulai putus asa, dan mengakhiri hidupnya sendiri. Naiki akan selalu mengawasi gerak-gerik Niko melalui orang-orang kepercayaannya. Jika Niko tidak berakhir seperti yang Naiki inginkan, maka Naiki akan menghabisinya dengan cara lain.
********
💙💙💙💙💙
__ADS_1