
"Kita akan menikah setelah kamu wisuda. Aku sudah menyetujui perjodohan itu". Begitulah akhirnya sang bos berbicara sambil melepaskan Rania. Dia pun membawa Rania untuk duduk di kursi sofa dengan baik, merapikan pakaian Rania dan menghapus air mata Rania.
Rania hanya bisa terdiam. Apa lagi yang bisa dilakukannya? bukankah dia telah selamat dari malapetaka yang hampir menimpanya.
" Ayo kuantar pulang. Hari ini tidak ada yang harus kamu kerjakan. " Kata sang bos. Rania pun akhirnya diantar pulang.
Sesampainya di apartemen, Rania langsung tidur. Hati dan jiwanya lelah memikirkan kejadian yag menimpanya dikantor. Tubuhnya menggigil mengingat sentuhan - sentuhan yang diberikan Jovan. Selama dia hidup, baru kali ini dia diperlakukan seperti ini oleh seorang pria. Jiwa polosnya belum bisa menerima kenyataan itu. Airmatanya pun ikut tumpah.
Dan, menikah...!
Hal yang belum pernah ia pikirkan. Akankah secepat itu. ?
*****
Pertama kali melihat Rania, Jovan sudah sangat tertarik. Gadis itu dengan kesederhanaannya, Sikap cueknya. Dia sudah berencana untuk pelan - pelan mendekati gadis itu .
Pembicaraan ayahnya tentang masalah perjodohan, membuat nalurinya sebagai seorang pria tersinggung. Dia merasa bahwa ayahnya sudah terlalu jauh memasuki kehidupan pribadinya. Dan Rania lah yang menjadi pelampiasan dari ketersinggungannya.
__ADS_1
*****
Keesokan paginya ....
Jovan menunggu Rania dengan harap-harap cemas. Dia sangat takut kalau nantinya Rania membencinya dan keluar dari perusahaan itu lagi.
Sudah lewat jam 9, yang ditunggu - tunggu tidak menampakan batang hidungnya. Jovan sudah menelpon Rania berulang kali. Tapi yang ditelpon pun tidak merespon sama sekali.
Akhirnya Jovan memutuskan untuk mengunjungi Rania ke apartemennya. Pintu apartemen di ketuk berulang - ulang. Dan akhirnya pintu pun terbuka. Dan orang yang membuka pintu langsung bergegas tidur kembali.
Dia bergegas keluar ke apotik terdekat untuk membeli obat pereda panas. Sekaligus singgah di salah satu tempat makan untuk membeli makanan.
Jovan menyuapi gadis itu makan. Meminumkan obat. Lalu duduk disamping gadis itu untuk menjaganya. Rasa berdosa menghantui pikiran Jovan. Mungkin saja perlakuannya terhadap gadis itu menimbulkan trauma yang amat dalam.
Demam gadis itu perlahan - lahan hilang. Tapi gadis itu tetap tertidur. Dia sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Jovan. Luka didalam hatinya begitu dalam.
"Maaf, maafkan aku. Aku telah melewati batasanku. " begitulah akhirnya Jovan membuka percakapan. Gadis itu tetap diam, Tapi Airmatanya meleleh melalui kedua kelopak matanya. Perlahan - lahan. Dan isak tangisnya pun mulai terdengar.
__ADS_1
Akhirnya Jovan hanya bisa memeluk gadis itu. Tapi gadis itu mendorong tubuhnya menjauh. Jovan hanya bisa pasrah melihat gadis itu.
Jovan menatap gadis itu dengan tatapan kecewa. Setelah itu dia pun keluar dati apartemen itu.
Merasa agak baikan akhirnya Rania bangun untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya ala kadarnya.
Dia berniat untuk keluar mencari makanan. Tetapi didepan pintu ia terpaku melihat keberadaan Jovan. Jovan masuk dan meletakan makanan yang tadi dibelinya.
Dia pun duduk dengan santainya sambil menghisap sebatang rokok. Rania melihatnya dengan perasaan was - was. Hari sudah mulai gelap dan dia berharap Jovan segera meninggalkan apartemen miliknya.
" Makanlah dan minum obatnya. Setelah itu kamu boleh istrahat. Aku akan menjagamu malam ini". Begitulah yang dikatakan Jovan.
Jantung Rania berdebar dengan kencangnya. Dalam hatinya bertanya, apa lagi yang akan terjadi padanya malam ini ?
****
🐾🐾🐾
__ADS_1