Pria Yang Tak Diinginkan

Pria Yang Tak Diinginkan
Bab. 21. Bolos Kerja


__ADS_3

Rania bangun pagi sekali. Setelah sikat gigi dan membersihkan wajahnya seperlunya, dia lalu ke dapur untuk sarapan ala kadarnya. Setengah jam kemudian, sudah tersedia nasi dan telur ceplok.


Setelah itu, Rania segera membangunkan Erika untuk sarapan pagi. Erika segera bangun untuk membersihkan wajahnya. Setelah itu mereka berdua lalu duduk untuk sarapan pagi. Setelah selesai sarapan, Rania segera mandi untuk bersiap - siap ke kantor. Sedangkan Erika hanya duduk sambil menonton televisi.


Hari ini sebenarnya Rania tidak ada semangat untuk ke kantor. Berbagai tanda tanya masih bermunculan didalam kepalanya. Jovan yang begitu hangat dan menggebu - gebu, sepertinya ada menunjukan sikap yang berbeda. Ada sebersit kesedihan didalam hatinya karena merasa Jovan sudah mulai berkurang perhatian kepadanya. Sedangkan mereka baru berencana akan menikah. Bagaimana kalau sudah benar - benar menikah ?


Tetapi Rania tetap membulatkan tekatnya untuk pergi kekantor. Bukankah duduk diam saja tidak akan merubah keadaan yang terjadi ? begitu kata dalam hatinya. Untuk memotivasi dirinya sendiri, Rania hanya bisa berkata didalam hatinya bahwa mungkin saja ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Jovan. Rania akhirnya berangkat kekantor dengan wajah yang lesu.


Sementara itu, Erika akhirnya kembali ke apartemennya. Setelah meletakan beberapa barang yang dibelinya kemarin, dia lalu segera mandi. Merasa tidak ada yang harus dikerjakan, Erika lalu tidur - tiduran di kamarnya.

__ADS_1


Suasana kamar itu sangat berantakan. Barang - barang yang ia bawa dari Bali, masih tersimpan didalam tas nya. Pakaian - pakaian kotor tergeletak begitu saja dilantai kamar. Suasana hatinya yang berantakan membuat gadis itu malas melakukan apa - apa.


Rania duduk di ruang kerja nya dengan wajah yang lesu. Tiba - tiba Shinta datang dan memanggil Rania untuk segera ke ruangan bos. Rania melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Jovan dengan langkah gontai. Didalam ruangan itu sedang duduk sekertaris Joy. Sekertaris Joy menyambutnya dengan senyuman yang manis dan tatapan iba. Sedangkan Jovan menyambutnya dengan wajah murung penuh kesedihan.


Setelah sekertaris Joy berpamitan keluar dari ruangan, Jovan segera menghampiri Rania. Dia lalu memeluk Rania dengan pelukan yang hangat. Ada semacam perasaan aneh yang menghinggapi hati Rania. Rania merasakan bahwa pelukan itu adalah pelukan yang mewakili perasaan tidak ingin melepaskan dirinya. Ada terselip rasa haru dan bahagia didalam hati Rania. Haru dan bahagia karena pria yang ada di depannya sudah kembali sifatnya seperti biasanya. Hangat dan manis !


" Aku sangat lelah dan mengantuk. Bolehkah aku tidur sambil memeluk mu ? " lanjut Jovan.


Rania dengan cepat menganggukan kepalanya. Wajah pria didepannya itu sangat kusut. Mungkin semalam pria itu tidak cukup tidur karena banyak yang harus dikerjakan, pikir Rania.

__ADS_1


Rania segera kembali keruangannya dengan wajah gembira.


" aku akan keluar sebentar. " pamit Rania pada teman - temannya. Semua mata penghuni ruangan itu menatap nya dengan tatapan penuh tanda tanya. Rania tampak acuh tak acuk dengan segera mengambil tas nya dan keluar dari ruangan itu. Jovan menggandeng tangan Rania keluar dari ruangannya. Mereka pun akhirnya pergi ke apartemen Rania.


Setiba di apartemen nya, Tidak ada yang dibicarakan antara Jovan dengannya. Jovan lalu mengajak Rania untuk tidur seperti biasanya. Kali ini Jovan tidur sambil memeluk Rania dengan pelukan yang sangat erat.


****


🐾🐾🐾

__ADS_1


__ADS_2